Kita tentu sudah sering mendengar tentang TQM (Total Quality Management). Sebuah pendekatan manajemen yang menitikberatkan pada kesempurnaan kualitas. Salah satu dimensi kesempurnaan kualitas adalah kesempurnaan proses produksi. Proses produksi yang sempurna menurut TQM adalah proses produksi yang tidak membuat kesalahan. TQM tidak mentolelir adanya produk cacat. Mengadopsi TQM berarti berkomitmen penuh dengan zero-defects.

Pandangan ini telah merevolusi keyakinan manajemen terdahulu. Dalam kurun waktu yang cukup panjang, telah terpatri di hati dan kepala manajer bahwa adanya sebuah acceptable tolerance dalam proses produksi. Dengan keyakinan ini para manajer beranggapan bahwa, “yaah.. wajarlah kalo ada produk reject. Dari satu juta produk mosok nggak ada yang cacat.” Sebuah keyakinan yang masih memiliki penganut sampai saat ini.

Di era persaingan gila-gilaan ini, kompetisi telah menuntut adanya suatu diskrepansi nilai yang signifikan di antara produk-produk yang beredar. Para manajer pun berlomba-lomba mengejar keunggulan. Salah satu inovasi terbesar dalam perkembangan ilmu manajemen di era 1990-2000 adalah dikembangkannya konsep TQM. Para manajer tidak cukup lagi berasumsi bahwa ada sedikit produk cacat adalah hal yang wajar. Proses penciptaan nilai bagi produk digenjot pol mulai dari pabrik. Produk cacat tidak hanya menandakan proses produksi yang berjalan telah gagal dalam mengolah seluruh bahan baku, namun juga menunjukkan ada sesuatu yang salah pada perencanaan produksi. Apa bisa dikatakan masuk akal bila perusahaan merencanakan untuk gagal?
more…

Syahdan di suatu akhir pekan, keluarga kami menghabiskan waktu di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika waktu sholat tiba, kami pun menuju ke musholla. Nah, di sini lah petualangan berburu lalat dimulai…

Musholla di mall itu memiliki AC, sehingga ruangannya jadi dingiiin sekali. Di musholla ini, Abbas dan Yasmin bisa berburu lalat sepuasnya. Lalat-lalat di musholla ini mudah sekali ditangkap. Yasmin, yang berumur dua tahun saja, bisa lho menangkap lalat di mushola ini. Lho kok bisa?

Ternyata, lalat termasuk binatang berdarah dingin. Abbas sudah belajar mengenai binatang berdarah panas dan berdarah dingin. Binatang yang berdarah panas, suhu tubuhnya tetap, tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Sementara binatang berdarah dingin, suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan di sekitarnya. Contoh binatang berdarah dingin adalah kadal dan lalat.

Nah, hewan yang berdarah dingin jika berada di tempat yang dingin, suhu tubuhnya akan turut menjadi dingin pula. Jika suhu tubuhnya terlalu rendah, hewan berdarah dingin menjadi sulit bergerak karena tubuhnya kaku kedinginan. Itulah sebabnya, kadal sering kita jumpai sedang berjemur di atas batu. Karena jika kadal kedinginan, tubuhnya akan menjadi kaku dan tidak bisa bergerak. Kalau kadal tidak bisa bergerak, ia dengan mudah dapat ditangkap oleh pemangsanya.

Demikian pula dengan lalat. Lalat-lalat yang berada di musholla yang dingin itu, tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa terbang. Abbas dan Yasmin dapat dengan mudah menangkap lalat-lalat yang sedang kedinginan di sana. Wah, Abbas bisa menangkap sampai sepuluh ekor lalat lho! Lalat-lalat itu digenggam kuat-kuat. Karena ketika lalat yang kedinginan itu bersentuhan dengan tangan kita yang hangat, ia bisa bergerak dan terbang lagi!

Boleh deh Abbas dan Yasmin berburu lalat sambil menunggu Ayah dan Ummi melaksanakan sholat. Tapi nanti setelah selesai berburu lalat, jangan lupa cuci tangan yang bersih ya.. supaya kuman dan kotoran yang dibawa lalat tidak masuk ke dalam tubuh kita.

Begitulah keseharian anak Homeschooling, bisa belajar tentang apa saja di mana saja. Belajar jadi mengasyikkan dan mudah dipahami. Eksperimen biologi tidak harus dilakukan di dalam laboratorium yang mahal, tapi bisa dilakukan di mana saja. Topik-topik yang sudah dipelajari tidak menguap terlupakan begitu saja, tapi dicari aplikasinya di kehidupan di sekitar kita.

Untuk teman-teman pembaca, selamat berburu lalat juga!

Fasilitas mail merge sudah kita kenal pada Microsoft Words. Fasilitas ini memungkinkan kita untuk mencetak sekumpulan dokumen yang memiliki format yang sama, dengan data yang berbeda-beda. Contoh penggunaan mail merge yang sering kita temui adalah ketika kita mencetak amplop dengan tujuan yang berbeda-beda. Biasanya, format dokumen mail merge diletakkan di sebuah file Words, dan data-datanya diambil dari file Microsoft Excel.

Namun, terkadang kita memerlukan fasilitas mail merge ini pada Microsoft Excel. Saya dan rekan-rekan di kantor telah lama mendambakan keberadaan fasilitas ini di Microsoft Excel. Di kantor saya, banyak pekerjaan yang dikerjakan menggunakan Excel. Bahkan Excel sudah menjadi aplikasi andalan untuk segala kondisi. Pernahkah Anda menemui sebuah aplikasi penilaian proyek sebesar 300 triliun menggunakan Excel? Hehehe.. di kantor saya, ada yang demikian itu. (Padahal di kantor-kantor swasta untuk menangani proyek di atas 5 M saja sudah menggunakan aplikasi taylor-made senilai puluhan sampai ratusan juta).

Dengan bantuan VLOOKUP, Spin Button dan sebaris script VBA kita sudah dapat membuat mail merge di Microsoft Excel 2007.
more…

Pernah dengar profesi Sindhen? Pernah mengrenyitkan kening ketika ada seseorang yang memilih jalan hidup sebagai pesinden? Pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi anak seorang sinden?

Hidden Side of A Sindhen

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditemukan di buku ini. Sebuah roman yang menceritakan jalan hidup seorang sinden. Sebuah profesi yang sering dipandang miring oleh masyarakat.

Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Bahkan yang membuat buku ini sangat istimewa, adalah bahwa ia ditulis oleh anak dari tokoh utama buku ini. Ya, buku ini ditulis oleh anak seorang sindhen. more…

Di Koran Tempo edisi Senin, Hari Pahlawan 10 November 2008, ada iklan yang saya anggap nendang banget. Iklan tersebut dimuat oleh KPK. KPK menggugah semangat Hari Pahlawan untuk melawan korupsi. Saya juga sadar, perdjoeangan melawan korupsi itu hampir sama berat dengan perdjoeangan revolusi fisik jaman orang-orang tua kita dulu.

Penggunaan profil Bung Tomo dalam iklan ini juga sangat relevan, khususnya karena Bung Tomo dianugerahi gelar Pahlawan pada tahun 2008 ini.

Perjuangan Bung Tomo Belum Berakhir, Masih ada perjuangan melawan Korupsi!

Perjuangan Bung Tomo Belum Berakhir, Masih ada perjuangan melawan Korupsi!

Satu lagi yang saya suka dari poster ini, nggak ada gambar makhluk hidupnya :D Sayangnya di web KPK sendiri, poster ini tidak tersedia untuk diunduh. Padahal kan keren kalo dibuat wallpaper..

[+] Poster anti Korupsi lainnya yang bisa saya temukan:

(Bukan) Surat Kaleng karya mas Lodhi Thurnasel

(Bukan) Surat Kaleng karya mas Lodhi Thurnasel

Bongkar Korupsi karya ICW

Bongkar Korupsi karya ICW

Ingin Pendidikan Murah, Ayo Dukung Transparansi

Ingin Pendidikan Murah, Ayo Dukung Transparansi

Whistleblower karya thesigeet

Whistleblower karya thesigeet

KPK Harus Mati karya thesigeet

KPK Harus Mati karya thesigeet

Category: Komunika  5 Comments

Category: Komunika  3 Comments

Punya uang seribu rupiah? Oow.. tenang aja. Saya bukannya mau minta duit. Bukan.. bukan itu permintaan saya. Saya ingin Anda memperhatikan gambar pada uang seribu rupiah yang sedang Anda pegang. Lihatlah pada gambar dua buah pulau yang berada di latar sebuah perahu nelayan. Ada keterangan di sudut kiri atas. Bunyinya, “Pulau Maitara dan Tidore”. Nah, selama tiga hari yang lalu, saya berkesempatan berada di pulau yang muncul sebagai ilustrasi pada alat tukar keluaran Bank Indonesia itu.

Uang Seribu Rupiah
Image courtesy Fiona Angelina (c)

Tapi dari tempat saya menginap di Ternate, pandangan pada posisi pulau-pulau tersebut terbalik. Pulau Maitara di sebelah kanan, dan Pulau Tidore di sebelah kiri. Saya sempat mendiskusikannya bersama teman perjalanan. Kesimpulan kami, gambar di uang tersebut diambil dari laut lepas, bukan dari daratan Ternate. Dugaan ini dikuatkan juga dengan foto yang saya lihat di indahnesia.com, superbayek@MP serta pengakuan Pak Yoanes. Posisi pulau Maitara dan Tidore pada foto itu sudah hampir mirip dengan uang seribu rupiah, tapi untuk mendapatkan persepsi yang sesuai sepertinya memang harus dilihat dari sisi laut lepas.

Maitara dan Tidore
Image courtesy Yoanes Bandung (c)

Sayang, Bang Pay yang babu negara seperti saya itu , sudah pindah penempatan ke Manado. Padahal dari orang yang sudah tinggal selama 3 tahun di Ternate, saya mengharapkan cerita pengalaman dan guide ke tempat-tempat yang menarik. Ah cukuplah blog-blogmu itu menceritakan duka dan kesedihanmu bang.. hehehe..
more…

Category: Turis Dinas  Tags: ,  7 Comments

Hey, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang tidur di kelas? Pernahkah kamu tidur saat mengikuti KBM?

Jujur saja, dulu waktu di SMA saya sering tidur di kelas. Dan saya tidak sendirian. Ada beberapa kawan lain yang punya kendala yang sama. Tapi jangan salah sangka dulu. saya tidur bukan karena malas atau tidak menghormati guru. Harap maklum karena SMA saya punya kegiatan seabreg yang kebanyakan menggunakan kekuatan fisik.

Bangun pagi-pagi langsung menuju ke lapangan. Untuk mengikuti latihan halang rintang. (ini sebenarnya syair yang dinyanyikan saat lari pagi). Dua kali seminggu, kami dijadwalkan lari pagi kira-kira sejauh 4 atau 5 kilometer. Ada pula latihan baris-berbaris, latihansenam militer, latihan senam balok kayu, dll. Ada juga latihan membaca peta topografi atau peta militer, tapi sambil mengikuti jalur yang tertera di peta. Ya lumayan, dengan berjalan kaki rute yang ditempuh bisa mencapai sekitar 10-15 kilometer. Plus melewati kontur yang tak tentu naik-turunnya.

Belum lagi acara-acara occasional yang lumayan besar seperti Latihan PraHulu Balang dan Hulu Balang. Hulu Balang sendiri dilaksanakan selama 3 hari di tengah hutan dengan kegiatan-kegiatan yang menguji berbagai keterampilan survival personal dan kelompok.

Jadi maklum saja kalau banyak siswa yang kelelahan saat mengikuti kelas formal. Masih nggak percaya? Tanya saja rekan se-angkatan saya, Rohmad. Atau anaknya SBY, yang mantunya pak Aulia Pohan itu.

Kenapa saya mengkambinghitamkan kegiatan fisik yang menyebabkan saya tertidur di kelas? Karena nyatanya kebiasaan itu tidak terbawa saat saya kuliah. Yaa.. memang terkadang kuliah itu membosankan. Tapi tidak sampai membuat saya jatuh tertidur. Apalagi waktu kuliah D-IV, saya malah bergairah mengikuti kegiatan perkuliahan yang memberikan pengalaman sangat berharga bagi kehidupan profesional saya.

Di beberapa negara di dunia, siswa yang tertidur di kelas dianggap wajar. Misalnya di Finlandia dan di Jepang. Justru kalau ada guru yang membangunkan siswa dengan cara yang tidak mendidik, dia bisa dituntut. Seperti kejadian di Danbury.

Ada juga kasus yang terbalik, sang guru yang malah tidur di kelas! Hehehe itu mah ngaco. Tapi seorang kawan pernah benar-benar merasakan pengalaman itu. Sebagai guru privat, ternyata anak didiknya bandel setengah mati. Kalau diajak belajar, sang anak didik justru main PS atau menghindar dengan alasan nggak jelas lainnya. Padahal sudah kelas 3 SMA mendekati ujian nasional dan ujian masuk PT. Akhirnya demi memenuhi kuota daftar hadir, sang guru pun numpang tidur di kamar sang anak didik. Sambil titip pesan, “Kalau sudah jam 6, bangunin gw yah!” Hehehe…

Seorang ustadz saya punya solusi yang bijak dan masuk akal kala melihat jamaahnya yang tertidur. Nasehat beliau, kalau ingin belajar di majelis taklim, ya harus mempersiapkan diri dengan baik. Termasuk dengan tidur yang cukup dan kesiapan fisik yang baik. Kalau memang lelah karena sebab-sebab tertentu (lembur, kejar setoran, sakit) lebih baik tidur di rumah. Kan lebih nyaman daripada tidur di pengajian. No offence gitu loh.

Tapi kalo tetep kantuk tak tertahan namun kita segan pada guru yang mengajar, bisa coba tips dari Lestian Atmopawiro.

Tidur dalam suatu forum memang harus ditanggapi dengan bijak. Kalau memang forum yang mendidik seperti di Finlandia, Jepang dan majelis taklim ustadz bijak itu ya gak masalah. Tapi kalau di forum yang penting dan diikuti action plan, ya nggak pantes dong. Kalau nggak percaya, tanya aja sama peserta Lemhanas yang bobo manis saat SBY berbicara.

Dan terjaga di forum pun belum cukup, jangan-jangan hatinya sedang tidur. Untuk itu, kata Bu Guru Tia, perlu dibangunkan supaya mata hatinya terbuka.

Category: Persepsi  11 Comments

Masih ingat kan salah satu adegan di film Austin Powers? Waktu itu si penjahat yang baru saja lolos dari penjara es membuat makar baru terhadap dunia. Karena berasal dari masa lalu, dia minta tebusannya cuman satu juta dollar. Para pemimpin dunia yang jadi korban pemerasan pada bingung, kok mintanya dikit amat?

Yah, kata-kata satu juta dollar memang seksi. Jumlah itu menjadi satu parameter jumlah yang sangat besar. Walaupun saat ini karena inflasi nilainya tak lagi sebesar satu juta dollar jaman dulu, tapi bagaimanapun juga satu juta dollar terlanjur mewakili batas pengakuan kaum kaya.

Untuk mendapatkan efek fenomenal ini pulalah kita dulu mengenal ada film berjudul The Six Million Dollar Man. Enam kali satu juta dollar! Bayangkan teknologi apa saja yang bisa ditanamkan dalam tubuh manusia, dengan investasi sedemikian besar.

Nah, ternyata wewenang memegang kekuasaan atas satu juta dollar itu akhirnya mampir ke saya juga. Lho? Gimana tuh ceritanya? Gini boss. Sejak bendahara penerima iuran Dana Reboisasi membuka rekening valas, semua wajib bayar kehutanan sekarang diwajibkan menyetor iuran Dana Reboisasi menggunakan valas. Dulu kan dikurskan dulu ke rupiah baru disetor.

Uang valas tersebut ujung-ujungnya mampir ke kantor saya. Tentunya dalam bentuk Bagian Daerah untuk Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Kehutanan. Nah, jumlah valas yang akan dibagikan itu sudah melebihi satu juta dollar.

Hehehe, percaya atau tidak, waktu saya membaca surat dari Dephut yang isinya menyerahkan (sebenarnya menyerahkan bukan istilah yang tepat ya, wong tidak disertai dengan penyerahan uang, tapi wewenangnya memang berpindah. mungkin lebih tepatnya mengusulkan) uang satu juta dollar (+lebih) itu ke kantor saya, saya ingin memegang surat itu tinggi-tinggi sambil berteriak histeris, “Satu juta dollar! Satu juta dollar! Satu juta dollar, man!”. Hehehe norak.

Yah maklum lah. Wong Mister Krab aja gelo kecewa waktu dollar pertamanya hilang. Itu kan menandakan penghargaannya terhadap uang. Bukan uang sendiri kok bangga sih? Ya gitu deh saya kalo lagi kumat noraknya. Harap maklum ya..

Category: Persepsi  2 Comments

Kalau membicarakan Keuangan Negara, pastilah tak lepas dari menyoroti APBN. Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi, APBN sering dipandang sebagai indikator sekaligus solusi. Walaupun besarnya bahkan tidak mencapai separuh dari jumlah konsumsi sektor privat, APBN dianggap memiliki multiplier effect karena bermain di area publik yang strategis.

Banyak pengamat yang memperkirakan tahun 2008 ini adalah tahun terburuk dalam sejarah perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi 1998. Beberapa peristiwa keuangan dunia tak hanya menyebabkan hantaman krisis di Amerika, namun juga menebar ancaman di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan perekonomian Indonesia.

Hal itu dibenarkan dengan adanya instruksi penghematan anggaran oleh Menteri Keuangan. Tidak tanggung-tanggung, surat edaran Menkeu itu dikeluarkan dengan nomor surat satu. Jadi logikanya, perintah pertama Menkeu di tahun 2008 ini adalah penghematan. Jauh-jauh hari Bu Menkeu sebenarnya sudah mewaspadai mengamuknya badai krisi ini sejak tahun lalu. Hanya saja waktu itu Bu Anik (nama kecil Menkeu) masih optimis, “Krisis kali ini berbeda dengan krisis moneter 1998.” Beliau juga berkeyakinan Indonesia tidak akan banyak terpengaruh.

Enam Masalah APBN 2008

Namun kenyataan harus berkata lain. APBN digoyang berbagai isu yang melambungkan defisit. Tidak hanya itu, tidak tercapainya target pajak 2007 juga mengancam kekosongan uang kas negara. Birokrat di Depkeu pun segera mengidentifikasi masalah. Ada 6 masalah yang menjadi ancaman dan tantangan bagi APBN.

Enam masalah itu mencakup:

  1. Krisis subprime mortgage di Amerika;
  2. Kenaikan harga minyak dunia;
  3. Meningkatnya harga pangan dunia;
  4. Melemahnya nilai tukar rupiah;
  5. Tidak tercapainya produksi minyak Indonesia;
  6. Adanya Paket Kebijakan Stabilisasi Harga Pangan (PKSH) yang terhantam kenaikan komoditas pangan (minyak goreng, dkk) .

Meleset dari perkiraan Bu Anik, krisis perkreditan Amerika mau tak mau membuat Indonesia meradang juga.

Berbeda dengan kenaikan harga minyak dunia tahun 1980-an, waktu itu Indonesia sebagai net eksportir masih merasakan manisnya surplus anggaran. Kebijakan surplus itu pula yang banyak dikritisi. Waktu itu Indonesia masih menggunakan anggaran dinamis dan berimbang. Artinya, setiap defisit pengeluaran harus dicarikan pembiayaannya. Seharusnya ketika penerimaan berlebih, harus segera spending dalam pembangunan. Namun Menkeu waktu itu (mungkin atas perintah Pak Harto) justru memilih saving sebagai penampung lebihan dana.

Kenaikan harga minyak tahun 2008 ini justru membuat Indonesia meradang. Kenaikan harga minyak tidak diikuti dengan kenaikan penerimaan. Pertama, karena Indonesia sudah menjadi net importir. Dari kebutuhan 1,3 juta barel per hari, produksi minyak Indonesia hanya dipatok 1,034 juta barel di APBN 2008. Target itu pun tidak tercapai. Hanya 980 ribu barel yang dapat dicapai. Alasan kedua, Indonesia tidak memiliki skema windfall profit tax (pajak durian runtuh). Pajak ini dikenakan ketika sebuah keadaan luar biasa membuat suatu pihak mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Windfall profit tax sudah umum diterapkan di negara-negara produsen minyak, seperti Aljazair. Alasan ketiga datang dari kontraktor, kenaikan harga minyak juga membuat biaya produksi membengkak. Entah bagaimana rasionalisasinya, yang pasti Cost Recovery dan faktor pengurang yang menjadi tanggungan pemerintah membuat penerimaan bersih dari minyak bumi tidak sebesar kenaikan harganya.

Efek dari kenaikan harga minyak lainnya adalah membuat beban subsidi makin besar.

Sembilan Langkah Pengamanan APBN

Untuk menjawab enam masalah di atas, dirumuskanlah langkah-langkah yang dipercaya bisa mengamankan APBN. Pemilihan istilah ‘pengamanan’ juga membuat orang mengira-ira, apakah kondisi APBN sudah sedemikian gawat? Kesembilan langkah tersebut meliputi:

  1. Optimalisasi penerimaan negara, dari Pajak, PNBP dan dividen BUMN;
  2. Penggunaan dana cadangan (contingency policy measures);
  3. Penghematan dan penajaman prioritas belanja KL;
  4. Perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik;
  5. Efisiensi di Pertamina dan PLN;
  6. Pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang;
  7. Penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program;
  8. Pengurangan beban pajak atas dan bea masuk atas komoditas pangan strategis;
  9. Penambahan subsidi pangan.

Sembilan langkah ini dipercaya bisa memperlambat laju kehancuran ekonomi.

Pembahasan selanjutnya nanti kita lanjutkan lagi. Yang jelas, hari Rabu (9 April 2008) lalu, APBN-P sudah disepakati.

Category: Isi Kepala  5 Comments