Alasan Menolak Pemain Naturalisasi

Di koran tempo hari ini (Jumat, 13 Juli 2007) halaman A21, SMS dukungan saya ke Timnas PSSI ditampilkan. 😀

“Pertahankan keaslian sepakbola Indonesia! Tanpa pemain naturalisasi pun kita bisa! Terbukti!”

Kira2 begitu bunyinya. Ditampilkan sebagai sms terakhir.

Dari awal saya memang sudah su’udzon dengan rencana PSSI menggunakan jalur naturalisasi untuk mendongkrak prestasi. Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat saya berpendirian demikian:

  1. Bagaimanakah loyalitas pemain naturalisasi? Jelas dari sisi nasionalisme tidak bisa diharapkan. Secara kasat mata, tentu dia akan loyal terhadap uang dan kesempatan bermain sebagai tim nasional. Berbeda dengan Qatar sebagai negara petro-dollar yang kekuatan finansialnya tidak diragukan, Indonesia kalah jauh dalam hal ini. Jangankan untuk menggaji pemain, untuk mengelola liga saja masih belum mencerminkan sikap profesional. Daripada nanti terjadi kasus yang memalukan seperti pemain naturalisasi menolak bermain dengan alasan finansial.
  2. Bagaimana dampak perkembangan mentalitas pemain asli? Salah satu alasan adanya pembatasan pemain asing di suatu liga adalah untuk memberi ruang dan kesempatan berkembang bagi pemain lokal. Nah, apalagi kalau ada pemain naturalisasi. Tentu mustinya jauh lebih preventif dan dipikirkan dampak jangka panjangnya. Bagi seorang pemain lokal, setelah dia berjuang menorehkan dan mempertahankan prestasi, tiba-tiba tertutup kesempatannya untuk masuk ke dalam timnas karena tergeser oleh pemain naturalisasi. Ingat! Satu pemain naturalisasi di tubuh timnas pun sudah mengurangi jatah dan potensi sekian ribu pemain lokal.
  3. Bagaimanakah komitmen PSSI sebagai alat pembinaan sepakbola nasional? Perlu dipikirkan bahwa penggunaan pemain naturalisasi berarti membunuh pembinaan sepakbola nasional. Dana, tenaga, pikiran dan waktu yang dikerahkan untuk menyemai bibit-bibit sepakbola nasional hanya akan disia-siakan. Dalam hal ini, kompas setuju dengan pendapat saya. Bagaimana seharusnya pemain naturalisasi ditempatkan? Sebagai pendongkrak prestasikah? Sebagai partner pembimbingkah?
  4. Dulu bangsa kita meraih kemerdekaan bermodalkan kepercayaan diri yang sangat kuat, bahwa kita bukanlah bangsa bermental tempe. Dulu kita sangat bangga, menjadi bangsa yang merdeka tanpa bantuan asing, walaupun Jepang masih mengaku memberikan kemerdekaan. Dengan menampilkan permainan terbaik, Indonesia sudah bisa membusungkan dada tanpa harus menggunakan pemain naturalisasi.

Memang jurus menggunakan pemain naturalisasi menurut saya bukanlah hal yang haram. Hanya saja ide ini sangat sangat sensitif, sehingga perlu pemikiran yang visioner, perenungan yang mendalam dan kata hati yang jernih untuk memutuskan. Mudah-mudahan keputusan semacam ini tidak dipengaruhi oleh memburuknya prestasi Indonesia, besarnya bonus kemenangan bagi pengurus, upaya mempertahankan jabatan dengan meningkatkan prestasi jangka pendek, dll. Dengan resiko yang sedemikian besar, mas bondan pun meragukannya.
Keterbatasan fisik bangsa Melayu tidak bisa dijadikan alasan mutlak dalam hal ini. Buktinya banyak pemain keturunan Indonesia yang mampu berprestasi di liga asing, seperti Liga Belanda. Apa yang membuat hasil prestasi mereka berbeda? Sama-sama melayu, yang satu dibina ala Eropa, satunya lagi dibina ala PSSI.

Pemupukan rasa nasionalisme memang tidak terbatas di sepakbola. Sama seperti prinsip Kwik Kian Gie dalam kasus Exxon di Blok Cepu, mengutip pesan Bung Karno, “Kita simpan sumur-sumur minyak kita sampai insinyur-insinyur kita bisa mengelola sendiri untuk bangsa kita sendiri.” Lebih baik kita asah sendiri mutiara-mutiara jamrud khatulistiwa sepakbola kita.

Titik cerah pembinaan bisa dilihat juga dari prestasi timnas mengalahkan Bahrain. Ramuan 433 Kolev yang khusus didesain untuk menutupi kelemahan postur Indonesia, terbukti mampu meredam gedoran Bahrain yang memiliki postur lebih tinggi. Bicara soal postur, Mexico yang jadi semifinalis Copa America 2007 (bahkan sempat mengalahkan Brazil di penyisihan) sebenernya tidak jauh berbeda dengan Indonesia.
Di Piala Asia 2007 ini saja saya mencatat ada beberapa negara menggunakan pemain naturalisasi. Namun karena saya tidak puas dengan daftar pemain Asia kelahiran asing di Wikipedia, saya coba gali sendiri informasi dari situs AFC:

  1. Sebastian Quintana: Pemain Qatar kelahiran Uruguay.
  2. Jaycee John Akwani: Pemain Bahrain kelahiran Nigeria.
  3. Abdulla Fatadi: Pemain Bahrain kelahiran Nigeria.

Anyway, melihat lawan selanjutnya yang sangat berat, saya hanya bisa mendukung timnas PSSI untuk tampil sebaik mungkin melawan Arab Saudi dan Korea Selatan.

Good job!

Categories: Persepsi