Perjalanan Nekad ke Ketapang

Perjalanan ke Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi perjalanan yang begitu mengkhawatirkan dan penuh ketidakpastian bagi saya. Alasan terbesar mengapa saya selalu menyiapkan segala sesuatunya dalam sebuah perjalanan sampai-sampai saya bisa memvisualisasikannya bahkan sebelum berangkat ke tujuan, adalah saya tidak ingin terlunta-lunta tak terurus di tempat yang saya tidak tahu harus meminta tolong ke mana. Apalagi kebanyakan daerah tujuan dinas saya adalah daerah-daerah pemekaran yang miskin fasilitas dan belum memiliki infrastruktur yang memadai.

Masalah tiket pulang, contact person, penginapan dan hal-hal lain yang menimbulkan ketidakpastian “bagaimana nanti di tujuan” sedikit tertolong karena daerah tujuan perjalanan kali ini rupanya adalah sebuah kota yang sudah matang. Artinya, saya ternyata tidak perlu kesulitan mencari ATM, mendapatkan penginapan yang bersih, kemudahan mencapai daerah tertentu, dan menghubungi keluarga di rumah. 

Branwir menyambut gagal mesin

Kendala perjalanan dinas ke Ketapang, Kalimantan Barat kali ini sudah terasa sejak awal. Sampai dengan H-2, contact person di tujuan belum didapat. Akhirnya dengan bantuan orang Pemprov Kalteng, saya memantapkan diri untuk berangkat. Nekad lah..

Selepas mendarat di bandara Supadio, Pontianak, saya dijemput pak Ade dan pak Alfian dari Pemprov. Kabar buruk yang pertama langsung saya dapatkan. Sore ini saya belum bisa melanjutkan perjalanan ke Ketapang. Pasalnya pesawat Kalstar yang seharusnya sore ini mengantarkan saya ke Ketapang mengalami pecah kaca jendela pilot 2 hari lalu. Akibatnya semua penumpang sejak dua hari lalu menumpuk menunggu penerbangan yang tertunda. Sementara pesawat Indonesia Air Transport (IAT) yang juga melayani rute perintis ke Ketapang tidak terbang hari ini. Mungkin karena ada charteran. Saya terpaksa melewatkan satu malam di Pontianak.

Kabar buruk kedua, ternyata perjalanan dinas saya kali ini berbarengan dengan kedatangan Presiden SBY ke Pontianak. Beliau dijadwalkan meresmikan penggunaan jembatan Kapuas II. Tidak hanya itu, Bapak Presiden juga dijadwalkan membuka Rakernas APPSI. Artinya selama 3 hari ini seluruh gubernur se-Indonesia berkumpul di Pontianak. Saya khawatir, penerbangan pulang ke Jakarta bisa terganggu. Bayangkan, jika satu orang gubernur saja membawa 5 staf, maka bisa diramalkan jika nanti tiket penerbangan akan ludes terpesan. Belum lagi dengan jadwal penerbangan yang akan terganggu oleh penerbangan Presiden. Yang saya dengar dari pak Ade, Presiden SBY membawa seluruh perlengkapan kunjungan dari Istana. Furniture, mobil dan bengkelnya, semua dibawa menggunakan Hercules dari Jakarta.

Suasana pengamanan di dalam kota pun terasa lebih dibanding biasanya. Kami sempat makan siang di sebuah rumah makan di seberang kantor gubernur. Di halaman restoran, banyak orang-orang tegap gondrong berkumpul. “Mereka itu Intel”, kata pak Ade. Kantor gubernur memang menjadi home base Presiden SBY selama di Pontianak. Jadi, sedari tadi kami sebenarnya sudah diawasi karena masuk ke daerah Ring 1.

Keesokan harinya, saya meninggalkan Pontianak menuju Ketapang. Ketika menuju ke bandara, kami melihat pesawat Hercules yang take-off. Di bandara, untuk penerbangan Kalstar ke Ketapang ada yang berbeda dari pengalaman saya menggunakan Kalstar rute Semarang-Pangkalan Bun. Kami tidak ditimbang badan seperti pengalaman saya yang lalu. Setelah boarding saya menyempatkan bertanya kepada pramugari mengenai jenis pesawat yang saya tumpangi ini.

Pesawat Kalstar ini berjenis ATR-42 buatan perusahaan patungan Perancis-Italia berkapasitas 42 penumpang. Pesawat ini sejenis dengan yang digunakan Indonesia Air Transport, hanya saja di pesawat IAT ada 2 kursi bagian belakang yang dimodifikasi menjadi dipan untuk mengangkut orang sakit. Harga tiket kedua maskapai tersebut tidak jauh berbeda. Kebanyakan penumpang yang sudah sering menggunakan jasa penerbanangan perintis, biasanya lebih memilih menggunakan Kalstar. Alasannya karena Kalstar lebih pasti dalam menepati jadwal penerbangannnya. Kabarnya, IAT sering tidak membuka penerbangan umum ketika pesawatnya sedang di-charter. “Hari ini terbang, tapi besok belum tentu”, demikian komentar seorang penumpang.

Kesibukan persiapan take-off di pesawat Kalstar yang menunggu di pinggir landasan pacu terbuyarkan oleh suara sirine ambulans dan pemadam kebakaran. Apalagi persiapan kendaraan-kendaraan darurat itu dilakukan di samping pesawat kami. Seorang teknisi Kalstar yang ikut terbang di dalam kabin sempat mendengar kabar dari radio menara pengawas. Ternyata pesawat Hercules yang tadi saya lihat sedang take-off mengalami kerusakan mesin yang menyebabkan satu mesin mati. Mumpung memang belum diperintahkan mematikan ponsel, saya menyempatkan mengabadikan beberapa momen ‘penyambutan’ pesawat yang mengalami peristiwa darurat.

 

Tanpa menunggu lagi, begitu pesawat Hercules menjejakkan roda-roda pendaratan di ujung landasan pacu, mobil pemadam, ambulans dan otoritas Angkasapura langsung mengejar pesawat ke ujung landasan. Sigap sekali. Mudah-mudahan respon seperti ini juga dipraktikkan di seluruh bandara di Indonesia. Tidak hanya tanggap darurat, tapi juga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, petugas harus sudah tahu harus melakukan apa. Tidak seperti peristiwa jatuhnya Garuda di bandara Adisucipto, Yogyakarta. Petugas provoost yang tertangkap kamera hanya bisa semprat-semprit peluit tanpa membantu proses evakuasi.

Hercules Gagal Mesin digelandang ke Hangar

Setelah kondisi terkendali, pesawat Hercules segera digelandang ke hanggar pangkalan udara TNI AU yg terletak di sisi bandara Supadio.

Perjalanan udara ke Ketapang hanya memakan waktu setengah jam. Jarak yang tidak terlalu jauh sebenarnya. Namun melihat medan yang dilewati, pantas saja bila alternatif perjalanan darat ataupun air ke Ketapang bisa memakan waktu lebih dari 6 jam. Kondisi alam yang saya lihat dari atas pesawat benar-benar tidak bersahabat untuk perjalanan darat. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan hijau hutan yang lebat. Sungai berkelok-kelok membelah daratan. Indah sekali.

Untung saya tidak memilih menggunakan kapal. Bisa mabok saya. Kelokan-kelokan tajam aliran sungai mengalahkan tajamnya kelokan sirkuit Formula-1 ataupun Moto GP. Bisa dikatakan tidak ada jalur lurus melebihi satu kilometer. Setiap jalur lurus yang pendek, langsung disambung kelokan tajam berbalik arah 180 derajat. Di beberapa ujung kelokan ada juga orang yang membangun rumah ataupun dermaga kecil. Sayang kamera digital saya rusak, sementara memotret menggunakan kamera ponsel seperti yang saya lakukan ketika memotret Hercules tidak mungkin dilakukan.

Mendekati pendaratan di bandara Rahadi Osman, Ketapang, saya melihat bentuk-bentuk benda yang disusun berbentuk anak panah di dalam sungai. Setelah melihat dengan teliti ternyata itu adalah karamba.

Nama kota Ketapang sudah sering saya dengar, tapi ini adalah perjalanan pertama saya ke kota ini. Di pelajaran SD tahun

Kota Ketapang tidak terlalu besar. Tapi tertata rapi, bersih dan teratur. Semua sudut kota dapat dijangkau dalam hitungan menit. Orangnya pun ramah. Etnis Kalimantan, Tionghoa, Melayu dan Jawa berbaur dengan alami.

Saya menginap di Hotel Perdana yang direkomendasikan teman sebagai hotel terbaik di sini. Di seberang hotel ada rumah walet yang berisik sekali. Di hotel ini sinyal Indosat tidak begitu bagus. Sampai-sampai saya kehilangan kontak dengan istri di Jakarta dan juga contact person di Ketapang. Akhirnya saya melewatkan waktu dengan menonton Indonesia vs Bahrain di putaran penyisihan piala Asia. Larut malam, saya kelaparan.

Paginya, saya ke Dispenda dan Distamben. Urusan kantor pun diselesaikan. Kekhawatiran saya di awal perjalanan ini, susah pulang karena kebahisan tiket, segera direspon rekan-rekan di Distamben. Tiket pulang Ketapang-Pontianak didapat dengan menggunakan jatah kursi BRI. Kalstar-BRI memang memiliki kerjasama khusus dalam urusan jatah tiket. Kebetulan istri salah seorang pejabat Distamben adalah pejabat di BRI Ketapang.

Tiket Pontianak-Jakarta juga sukses diamankan oleh salah seorang staf Distamben. Rupanya adik beliau bekerja di salah satu maskapai penerbangan. Perjalanan pulang jadi jauh lebih nyaman daripada ketika berangkat. Keberangkatan ke Ketapang yang molor dua hari dapat disingkat dalam kepulangan ke Jakarta yang hanya membutuhkan waktu setengah hari.

Siang itu sebelum kembali ke hotel untuk persiapan pulang, saya menyempatkan diri dolan ke KPPN Ketapang. Ya sekalian nyebar-nyebar isu kenaikan TC lah. Berita gemira kan harus dibagi-bagi, apalagi sama orang yang jauh dari rumah. Hahahahaha…

Sop Pontianak, Segar benar!

Setelah itu saya menyempatkan diri makan siang. Bang Ibul yang setia mengantarkan saya selama di Ketapang merekomendasikan sebuah tempat makan khas Ketapang. Sop Pontianak, demikian tulisan yang terpampang di spanduk warung tersebut. Menu utamanya sop kambing. Setelah dijajal, wah segar benar! Terimakasih sarannya Bang Ibul!

Di perjalanan ke bandara Ketapang, sebenarnya ada pemandangan yang sudah menggelitik saya ketika pertama menginjakkan kaki di kota ini, yaitu banyak sekali bertebaran iklan rokok Bheta! Hehehe.. mungkin saya yang bukan perokok ini nggak terlalu kenal merk-merk rokok ya, tapi saya masih tetep geli senyum-senyum sendiri di dalam hati. Soalnya merk rokok Bheta itu mirip banget sama nama seorang teman. Sama nama saya juga mirip sih.. cuman nggak ada Hotel-nya aja. Iklan rokok Bheta bertebaran dimana-mana, mulai dari spanduk yang biasa digelar di depan warung dan toko, mural di dinding-dinding ruko, neon box, baliho hiburan dangdut, sampai tempat sampah di bandara semua mencantumkan nama Bheta. Wah terkenal kowe mbah, Betha!

 

Di Bandara Rahadi Osman, saya datang terlalu cepat. Seisi bandara masih lengang. Pintu ke ruang tunggu pun masih terkunci rapat. Di tengah kesepian itu saya justru tertarik pada tulisan berpigura yang menjelaskan sejarah tokoh Rahadi Osman sehingga diambil namanya sebagai nama bandara di Ketapang. Beliau adalah tokoh perjuangan dari golongan pemuda. Ketika Proklamasi, Rahadi Osman memimpin ekspedisi infiltrasi ke Kalimantan Barat melalui perjalanan laut ke Ketapang. Di sini rombongan ekspedisi terpergok oleh patroli Belanda. Akhirnya Rahadi Osman gugur, sebuah resiko yang sejak awal dia pahami betul, dalam misinya tersebut.

Satu quote yang saya sampai merinding membacanya adalah kata-kata beliau, “Kuburkan aku di tempat darahku menetes terakhir kali.”

Mendekati jam keberangkatan, bandara Rahadi Osman mulai ramai didatangi penumpang. Sesama penumpang, seorang wanita tua etnis Tionghoa, dengan ramah melayani pembicaraan ringan seputar pelayanan transportasi. Beliau menceritakan kepada saya suka dukanya menggunakan perjalanan laut untuk jalur Ketapang-Pontianak. Pernah suatu kali perjalanan molor sampai 8 jam karena kondisi perairan yan kurang bersahabat. Pembicaraan semakin seru ketika seorang ibu lain ikut bergabung.

Pembicaraan terpotong ketika kedua ibu tersebut harus boarding karena pesawat mereka sudah tersedia. Kedua tempat duduk di samping saya digantikan oleh sebuah keluarga yang mengantarkan anaknya. Dilihat dari seragamnya, sang anak adalah siswa Taruna Bumi Khatulistiwa. Saya pun memperkenalkan diri sebagai alumni SMA Taruna Nusantara. Pembicaraan segera berlanjut lancar.

Satu hal penting yang saya tanyakan adalah mengenai kiprah Almarhum Kolonel Marinir Abdul Karim Usman, mantan Wakasek Kesiswaan SMA TN yang menjadi Kasek di Taruna Bumi Khatulistiwa. Pengalaman saya di bawah bimbingan beliau memang tidak terlupakan.

Melanjutkan perjalanan dari Pontianak ke Jakarta, saya masih harus menghadapi penundaan penerbangan. Waduh.. Capek juga. Menunggu benar-benar pekerjaan yang menguji ketahanan mental dan fisik. Singkatnya, penerbangan ke Jakarta berlangsung lancar setelah menunggu lebih dari empat jam.

Sesampainya di Jakarta pun, saya sudah kehabisan Rotiboy di Terminal 1B. Wah padahal mertua suka banget sama buns beraroma khas kopi ini. Maklum saya mendarat di Jakarta sudah jam 9 malam lebih.

Sneakpeak Profil Keuangan Daerah Kabupaten Ketapang

Ketapang adalah kabupaten tua. Maksudnya, berbeda dengan daerah-daerah tujuan dinas saya lainnya yang biasanya adalah daerah pemekaran, Kabupaten Ketapang telah berbentuk Afdeling sejak tahun 1936.

Di wilayah kabupaten Ketapang yang mencapai luas 35.809 km2, terdapat beberapa Sumber Daya Alam yang cukup signifikan menopang keuangan daerah ini. Menurut Peraturan Menteri Keuangan nomor 14/PMK.07/2007 tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Pertambangan Umum, Ketapang direncanakan memperoleh Bagi Hasil sebesar Rp 3,2 Miliar. Pertambangan di daerah ini didominasi oleh pertambangan bauksit. Istimewanya, pertambangan di Ketapang tidak ada yang berijin Kontrak Karya (KK). Semuanya Kuasa Pertambangan (KP). Tentu hal ini menguntungkan Pemda setempat. Karena pengelolaan KP berada di tangan Dinas Pertambangan Pemda, sehingga Pemkab dapat lebih mengendalikan KP dibanding KK yang pengelolaannya berada di Dinas Provinsi. Apalagi jika ada PKP2B yang lebih rumit lagi.

Geliat ekonomi di daerah Ketapang rupanya cukup baik dalam menyokong keuangan daerah. Terlihat dari proporsi antara Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam dibandingkan denganDBH Pajak. Ketergantungan APBD terhadap DBH SDA sebenarnya sangat riskan. Karakteristik penerimaan SDA yang sangat bergantung pada banyak variabel membuat tingkat kepastian penerimaannya sangat rendah. Apalagi jika dilihat dari perusahaan eksplorasi SDA yang biasanya adalah perusahaan asing. DBH Pajak lebih menyiratkan adanya kegiatan ekonomi di daerah tersebut. Sehingga ketahanan dan stabilitas keuangan daerah lebih mudah diramalkan melalui DBH Pajak.

Mirip dengan DBH SDA, Dana Dekonsentrasi pun sebenarnya memiliki keriskanan tersendiri bagi daerah. Pertama, penetapan Dana Dekon adalah wewenang Departemen Teknis. Penetapan besaran dana pun berada di luar wewenang daerah. Walaupun tentunya daerah masih bisa memberikan argumen melalui dinas, dengan menyuplai data dasar penetapan Dana Dekon. Alasan kedua, penggunaan Dana Dekon telah diatur oleh Departemen Teknis. Pemda tidak dapat lagi mengubah peruntukan dana dekon seperti pada Pendapatan Asli Daerah. Dalam penggunaan DBH SDA dan DBH Pajak, daerah memiliki keleluasaan yang luar biasa sama seperti penggunaan Dana Alokasi Umum (DAU).

 

18 Thoughts on “Perjalanan Nekad ke Ketapang

  1. Salam Kenal mas, thx udh bikin postingan ttg Ketapang :D btw, jgn jera untuk main2 ke sini lagi yah..Kalo nginep di Hotel perdana lagi, jgn lupa ‘senggol2′ saya, Rumahku deket2 situ :D

    Rgrds,
    -Ad0n-

  2. Terimakasih mas! Mudah2an ada rejeki lagi main ke Ketapang. Great city..

  3. wah saya org ptk blm pernah ke ketapang, thanks blognya ttg ketapang memang bagus sekali…kalo bisa imlek ini ke ptk bos krn ada show naga satu miliar…lengkapnya ada disini…http://mantugaul.wordpress.com/

  4. Lusi on April 22, 2008 at 08:21 said:

    Mas Beta, menarik sekali informasi perjalanan ke Ketapang. Kebetulan saat ini saya sedang mempertimbangkan untuk dinas ke daerah ini. Btw airlinesnya masih adakah saat ini? Apakah jadwal terbangnya daily? Selain KAL apa lagikah yang terbang dari PTK ke Ketapang? Terus hotelnya sendiri apakah ber AC (he he he avonturir nanggung soalnya)…. And adakah mobil sewaan di sana? Ditunggu kabarnya ya….

  5. @Lusi

    Update info ttg penerbangan mungkin bisa langsung ditanyakan ke IAT (Official Contact) atau KALSTAR (Daftar Alamat Kantor Perwakilan). Setahu saya utk KAL ada penerbangan tiap hari.

    Pengalaman menginap di Hotel Perdana sih ada ACnya tapi tetep aja panas :D

    Kebetulan waktu itu saya nggak nyewa mobil, bu. Rasa2nya sih ada. Ibu mau tugas ke instansi mana?

  6. ario on April 26, 2008 at 03:47 said:

    Salam kenal

    saya dari jogja, ada rencana juga mau ke ketapang
    nannya ttg harga tiket waktu itu mas berangkat berapaan yach ?? n jam berapa TO-nya ?
    pernah naek speed gak dari pontianak ke ketapang ?? kalo pernah berapaan tiketnya, pake perusahaan apa dan jam berapaan

    thx banget

    muh_ario@yahoo.com

  7. Salam kenal mas Ario,

    waktu itu saya berangkat dengan pesawat Kalstar, tapi harga tiket tidak tahu karena dibayarin. Berangkat dari Pontianak sekitar pukul 09.00. Untuk update jadwal penerbangan dan harga tiket silahkan tanyakan ke Kantor Perwakilan Kalstar.

    Waktu di Ketapang sempat ngobrol dengan seorang ibu, info dari si ibu itu kalau naik speed Pontianak-Ketapang sekitar 4-6 jam. Kalau cuaca buruk bisa sampai 8 jam.

  8. enak ya jalan2 terus

  9. TOTOK on August 9, 2008 at 14:32 said:

    Salam kenal….
    Rencana aku tanggal 21 Agustu 2008 mau ke Ketapang kebetulan ada pelatihan disana.
    Setelah aku buka2 Web hoiiiii……. ?????? seribu kali bagimana kala kesasar.
    Mudah2 an dengan perkenalan ini aku bisa dikasih informasi khususnya dari Pontianak – Ketapang.

    tks

  10. Thank’s for coming and exspose Ketapang on line. Catatan perjalanan yang lumayan informatif. Salam kenal.

  11. mksh mas da mampir dikota kecilku ketapang,wlpun skrg saya udah lama tinggalin kota kelahiranku itu,tp semua kenangan indah disana tetap tersimpan dihati

  12. adhiek on March 5, 2009 at 15:24 said:

    maksih banget info ketapangnya…
    saya rencana mo dinas di sana tuk 1 taon ke depan…
    sempet kawatir&was2 sih…
    tapi agak legaan abis baca tulisan anda
    thanks..

  13. Saya dari surabaya mau ke ketapang..ada info naik pesawat apa aja…?? selain batavia airlines.Pls Infonya thks

  14. sri endah on July 17, 2009 at 07:00 said:

    sekarang di Ketapang sudah ada Aston International bisa reservasi lewat Aston Int’l Head Quarter 21 831 8800 dan penerbanagan ke Ketapang pun sudah mulai terschedule dengan baik. Tahun ini aku sudah 2 kali ke Ketapang dan Alhamdulillah lancar semuanya

  15. abi aini on October 29, 2009 at 15:00 said:

    menarik sekali catatan perjalanannya, saya sangat terbantu utk mendapatkan gambaran ttg ketapang, soalnya istri ane alhamdulillah tahun ini diangkat jadi cpns BMKG di ketapang, btw sempat ke jalan Patimura nggak? oyya suhu di daerah ketapang dingin apa panas sih? trims

  16. ahmad on July 29, 2013 at 10:20 said:

    saya mau tanya dari pangkalanbun ke ketapang naik apa ya? ada ga travel langsung / angkutan yg menuju kesana?? kalau ada mohon diinfokan, butuh sekali, makasih

  17. Hеya i am foг the first time here. I found this board
    anԁ I to ind It really helpful & it helped me out a lot.

    I hope to present one thing again andd aaid others such as ʏou helped me.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Post Navigation