Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi satu-satunya daerah tujuan dinas yang saya mencapainya tanpa melalui ibukota Provinsi. Mari kita bandingkan dengan rute perjalanan lainnya: Untuk ke Pasir saya terbang ke Balikpapan dulu, ke Tanah Bumbu via Banjarmasin, dan ke Ketapang melalui Pontianak. Namun perjalanan ke Pangkalan Bun ini justru saya tempuh melalui rute Jakarta – Semarang – Pangkalan Bun.Dari Semarang, saya menggunakan Kalstar atau juga dikenal dengan nama Trigana. Ini merupakan pengalaman pertama saya menggunakan pesawat perintis. Benar saja, ada beberapa kejadian yang tidak biasa saya temui seperti di penerbangan komersial biasa.
Hal pertama yang berbeda dari penerbangan yang biasa saya temui adalah selain barang yang masuk bagasi, penumpang juga perlu ditimbang. Saya pikir ini kebiasaan yang baik, yang mustinya juga diberlakukan pada penerbangan komersial umumnya. Mungkin juga karena pesawat ATR-42 bermesin baling-baling yang digunakan memiliki batas daya tolak yang tidak sekuat pesawat bermesin jet.
Yang kedua adalah bentuk boarding pass yang seperti kartu penitipan barang. Ketika boarding, boarding pass ini ditarik dari penumpang di gate. Mungkin ini bentuk penghematan maskapai perintis.

Hal ketiga yang menambah keheranan saya adalah penumpang tidak mendapat nomor tempat duduk. Artinya, begitu sampai ke pesawat, penumpang bebas memilih kursi. Saya memilih kursi yang tidak jauh dari pintu masuk. Alasannya sederhana, nanti ketika mendarat lebih cepat keluar dari pesawat.
Perjalanan Semarang-Pangkalan Bun saya tempuh dalam waktu 1 jam. Cuaca cukup cerah. Kesan penerbangan dengan pesawat bermesin baling-baling memang berbeda dibanding dengan pesawat bermesin jet. Soal kenyamanan, pesawat jet jelas lebih unggul. Tapi pesawat berbaling-baling (propeler) memiliki hentakan yang lebih terukur. Kita tahu kapan pesawat akan menambah kecepatan atau sebaliknya. Di pesawat jet, situasi yang paling tidak nyaman bagi saya adalah saat-saat menjelang mendarat. Saya harus berkali-kali menyeimbangkan tekanan di telinga dengan cara memencet hidung dan menghembuskan nafas. Saya juga paham, bahwa landing adalah saat-saat paling sulit bagi seorang pilot. Bagaimana menghentikan pesawat yang berbobot puluhan ton dan berkecepatan tinggi hanya dengan sarana landasan pacu yang panjangnya beberapa ratus meter.
Mendarat di bandara Pangkalan Bun, hujan sore hari langsung menyambut kedatangan saya. Untungnya rekan-rekan dari Pemda setempat telah menjemput. Saya pun diantar ke penginapan untuk beristirahat. Besok masih ada pekerjaan yang menunggu.

Makanan di Pangkalan Bun didominasi ikan.Atau setidaknya bercita rasa ikan. Ketika sudah bosan dengan ikan, saya memesan nasi goreng. Ternyata aromanya ikan juga!

Kota Pangkalan Bun tidak terlalu besar. Komplek perkantoran Pemda terpusat di salah satu sudut kota. Ruang kota yang lain diisi dengan hotel, ksatrian TNI, pusat perbelanjaan (yang sudah tutup sore hari), masjid, dan rumah penduduk. Ada satu dua warnet. Saya sudah mencoba keduanya
Angkutan umum tersedia mengelilingi kota. Tersedia sampai malam hari. Sopirnya ada yang bersuku Jawa. Rekan Pemda yang menerima saya sempat berpromosi, “Di sini mau cari mobil plat apa aja ada Pak. Dari Jawa biasanya B, L, N, M, AD, AB, H, banyak. Dari Kalimantan bisa dipastikan lengkap, DA, KT, KB, KH. Dari Sumatra pun ada, BK!” Kota Pangkalan Bun memang menyimpan daya tarik industri pertambangan yang mampu menarik orang-orang dari seluruh penjuru Nusantara. Bahkan dari mancanegara.
Di tengah kota, berdiri Istana Kuning. Saya masih kekurangan informasi ttg hal ini. Rekan dari Pemda juga tidak memberikan informasi yang memuaskan. Hanya sekedar, “warisan dari kerajaan jaman dahulu”. Hanya saja beliau mengabarkan bahwa masih ada keturunan bangsawan sampai saat ini. Bahkan ada yang berkarir di Pemda. Mungkin sejarah tentang bangunan ini kita tanyakan saja ke rekan yang berasal dari sana.

Saya menginap di Hotel [lupa namanya], apa ya? Letaknya di samping Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP-PBB), tapi karena nggak mampir, saya cuman mengabadikannya lewat foto aja

Sayang sekali jadwal kedatangan saya bertepatan dengan training ESQ untuk para pejabat Pemda Kotawaringin Barat. Saya pun hanya bisa menemui beberapa pejabat yang tersisa di lingkungan kantor Pemda. Untungnya, data yang diinginkan bisa didapat.
Hari terakhir berada di kota ini, saya menyempatkan diri membeli sebilah Mandaw titipan teman (halo Papanya Alfando), juga membeli beberapa perhiasan berhiaskan batu-batuan untuk istri tercinta. Namanya juga dinas, nggak sempat ada waktu tersisa untuk senang-senang. Padahal Taman Nasional Tanjung Puting sebenarnya menarik juga untuk dikunjungi.
Dari hotel, saya pun diantar taksi ke bandara. Rute perjalanan pulang tidak berubah, transit di Semarang lalu disambung penerbangan ke Jakarta. Oh ya, pemesanan tiket Semarang-Jakarta saya dibantu oleh Pak Hiens. Nah, waktu memesan tiket ke Jakarta ada kesalahpahaman sehingga beliau membelikan saya dua tiket. Yang namanya rejeki nggak lari kemana, ada seorang ibu muda yang satu pesawat dari Pangkalan Bun, ternyata belum mendapat tiket ke Jakarta. Padahal saat itu peak season. Tiket-tiket habis terjual. Si ibu ini akhirnya menggunakan kelebihan tiket hasil pesanan saya. Alhamdulillah..







Kapan-kapan singgah lagi ke Pangkalan Bun mas, saya juga udah kangen nih.
Sejak 1999 kuliah dan kerja di Semarang, pulang ke Pangkalan Bun juga setahun sekali…
Oh ya, waktu kesana udah nyoba sambal ‘tempuyak’ belum??? hehehe…
Salam kenal juga.
Bener tuh!, tempuyak disana memang uenak sekali..
wah, jadi kangen nih ama tempuyaknya…
Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari Afrika Barat
————–
PS: Ohya, Warung yang lama ini akhirnya kembali di buka, setelah lama di tinggal mudik.
wah, liat web nya keren. btw saya datang kesini karena tempuyak nya
salam kenal
Saya juga pernah ke Pangkalan Bun, memang untuk dapat bisa kesana kita harus melalui rute jakarta semarang. saya berangkat menggunakan jalur laut dari tanjung emas ke pelabuhan kumai, pulangnya saya baru naik KalStar atau trigana air
sempat gak lihat sungai arut nya pangkalan bun? salam kenal dari saya lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil di tengah hutan bolong pulau kalimantan Pangkalan Bun
februari 2007 aku sempat main (dinas kerja) ke pangkalan bun.kota yg rapi n bersih.aku juga sempat liat istana kuning c.bagus bgt.sebenarnya pengen bgt menginap di hotel blue kecubung x, tp gak boleh ama kantor.jd nginap di dinas kesehatan x aja deh.(gratisan, hihihi..)yg lebih nyesal lagi aku gak bisa mampir ke taman nasioanl tanjung puting…hiks….
Wah sekarang udah enak, ada Linus Airways. Rute langsung JKT-Pangkalan Bun. Pesawatnya juga boeing 727-200 kalo gak salah. Landasan di airport Iskandar memang sudah diperpanjang menjadi 1800m, ini bukti kesungguhan pemda.
Terima kasih dengan adanya tulisan mengenai kota Pangkalan Bun, sungguh berguna buat saya dang teman-teman dari Jakarta. Sayang kita sudah 5 hari di sini belum ketemu kepiting. Tapi kota ini memang nyaman dan pasti bikin kangen orang yang udah pernah ke sini.
Emmmm q jd kgn liyat fto2 p.bun…… Pdhl q g asli nak p.bun lho cm dl SMP n SMAx smpt d p.bun ikut BoNyok pndh krja…. Nyh skrg q kliyah d Smarang… P.Bun…. I mizzz U so MuCH,,,,,,,
Pangkalan Bun…
Saya kecil hidup di pangkalan bun…
walaupun saya tidak lahir di pangkalan bun,
tapi hati saya telah jatuh di kota manis itu…
sekarang saya kuliah…
pergi menuntut ilmu…
dan saya akan kembali lagi…
untuk kota manis pangkalan bun…
saya lahir di pbun, kul aja gak di pbun……kota kecil ku sudah berubah tempatku lahir sudah jadi sarang walet menyedihkan.bupatinya gak peka ma kenangan masa kecilnya dia malah ngancurin tempat masa kecilnya………
Bagi warga Pangkalan Bun dimana saja berada yang rindu akan kota kecil kita, bahasa kita, dan ingin tau lebih banyak mengenai Pangkalan Bun silahkan mengunjungi http://www.banuamandiri.co.cc atau ikut berdiskusi di http://www.banuamandiri.co.cc/forum
pangkalan bun kota berdarah apalagi daerah transmigrasinya sp 6 kota waringin barat. banyak mayat tiap minggu.
mantapp neeh…dah ada pesaawat ke pbun…mo pulkam jd ueenaaak…
wahh…thx nih info nya ttg p.bun… lg mo ksana nih minggu depan………….
Aku punya suami asal Pangkalan Bun. Tapi dia ga pernah ngajak aku ke kotanya. Malu kalee karena ga ada yang bagus selain tempuyaknya aza.
aduh….. kangen bngt sama kota manis, karena udah 13 tahun gue tinggalin bersama kenangan asam manisnya. tapi….. suatu saat gue pasti datang ke p.bun lagi.
aduh…. kangen banget sama kota manis tercinta…. udah 13 thn gue tinggalin…. banyak sekali asam manisnya kenangan. tapi…. suatu saat gue akan kembali lagi….
udh ada tuh Jakarta – pbun..
pake Linus..
posisi aku deket makam raja..
pangkalan bun im in love….
secepatnya pgn pulang n perkenalin pbun kdunia
julia robert aja mampir
knp orang indonesia belum????
so lets seeing my home town:)
Delapan tahun pernah tugas di Pangkalan Bun menjadikan diriku Pangkalan Bun jadi kota kedua setelah kota asalku….APalagi bila ingat ikan mas bakar Yuli…Hem……
Yang jelas Pangkalan Bun kota yang paling cantik, bersih..buktinya dapat piala adipura kan..hehehehe!
Kalo aku sih asli P.Bun…cuman kebetulan kerja di Jakarta! Habis putra daerah susah juga cari kerja di Pangkalan Bun…banyak orang luar tuchhhh!
Padahal putra daerah gak kalah pintarnya ama orang luar…Ntar kita buktiin….!!!
Walau jauh aku tetap berusaha keras untuk kemajuan Pangkalan Bun…hidup Pangkalan bun……My Blog :www.rynpribadi.blogspot.com
wah..kangen sekali nih sama pangkalanbun…..kepengen lihat lagi …. euy
wewewewe..
bangga am ulun jadi rang pangkalan bun…
pangkalan bun kota manis…
salam ja lah buat bupati kita…
hehehehehe…
sama kaya sida ikam semua, aku sudah meninggalkan pbun dari smp sampai kuliah s2 ni, mungkin rezekinya ditempat orang he e..e! tapi aku bulik ke pbun kadang setahun sekali, waduh bujur2 medbuat kangen tuuuh pbun, apalagi mancing undangnya kada tahan nah, sampai kepikiran di jogja taruuus.
Pangkalan Bun tempatku lahir, aku kangen pingin pulang…gimana kabarmu sekarang… sudah hampir bertahun2 ga pulang…. misal pulang pun cuma 1 thn sekali…
Katanya STQ di Pbun rame ya … Horeee, area THR potential economic-nya nambah…
Aku tumbuh besar di pangkalan bun. Tapi sekarang lagi kuliah di undip semarang.
Salam kenal buat semua yang cinta pangkalan bun..!
aku juga punya postingan tentang pangkalan bun. kunjungi blogku arsyil.blogspot.com klik di sini
=Arsyil=
Huh..Pangkalan Bun tempat tumpah darahku 42 tahun yang lalu,Pangkut,Balai Riam,Nanga Bulik,Kumai…..pernah kusinggahi..bahkan lulus SD di SDN Kotawaringin Hulu…(jadi biak udik )
trus SMP 1 P.Bun lulus ‘83 .Sekarang aku tinggal di Jakarta..Insya Allah waktu dekat ini aku mau berkunjung ke kota Manis itu..Pangkalan Bun…
pangkalan bun kota maniz kota dg kenangan sangat maniz dalam hidup ku, masa sma kuhabiskan dikota ini tepatnya dr th 1991-93 sudah lebih dr 16 th aku meninggal kan kota ini entah kapan kesana lg, oh….pangkalan bun aku sangat… merindukan mu
PANGKALAN BUN “Kota waringin barat”..kota kaya akan keanekaragaman budaya dan ramah tamah yang di tunjukin masyarakat sana, serta SDM yang memadai bukan kota tertinggal, kota Pangkalan bun memiliki segalanya dari segi tata kota yang memadai, segi transportasi pangkalan bun memiliki bandara, pelabuhan, yang di lihat dari segi batas wilayahnya pangkalan bun lah yang paling dekat dengan pulau jawa dan memudah kan orang2 untuk bisa kemana2…Pangkalan bun juga memiliki Taman nasional yang di beri nama Tanjung Puting “KEREN” banget… masih ada kerajaan yang ada di kota pangkalan bun yang mana istana tersebut di beri nama ISTANA KUNING.,,di kota Pangkalan bun terdapat “museum pesawat “meseum palagan sambi” …. tidak heran Pangkalan bun lah seharusnya yang jadi icon KalTeng… datang lah Ke pangkalan bun SUKSESkan KOTA MANIS kami…
AKU BANGGA JADI BAGIAN KOTA MANIS…
i mizz Pangkalan bun City
Duuh … aku jadi kangen kota pangkalan bun neh, aku mau pulang ah … ke pbun,so aku sekarang kuliah di palangka raya,kota pangkalan bun,,, emang kota manis,orang-orang juga manis seperti aku’ hehehe.
I love you Pangkalan Bun, kota manis,,, tempat tinggalku yang aku cintai.
eh katanya linus dah gag operasi..
beneran gag ya???
trus pesawat yang masih beroperasi apa aja ya??
thanks..
aku juga orang pangkalan bun
lahir dan besar di sana tapi sekarang dah kerja d surabaya jadi kangen ama tempat kelahiran nih
pernah coba makan coto menggala blom?? ueeenak loh. apa lagi makan coto manggala lauknya ikan koring…. uuuuh gk kebayang sedapnya ampe ngiler ne bayanginnya. apa lg klo ditambah tempuyak….
oh iya,, sekalian promosi, kunjungin donk toko bukuku di Jl. P.R.A. Kesuma Yudha X11/30 mendawai Pangkalan Bun namanya “TB.ALMA” promosi ne hohohohoho menjual berbagai macam buku. wah jadi iklan ne…. maaf ya. Ramaikan Pangkalan Bun kota MANIS tercinta Kita!!!
Wah..ceritanya pada tempuyak semua nch..bikin ingin pulang kampung halaman…hehehee..mas uliansyah mantap bro…moga tambah maju pangkalan bun….sip….jangan khawatir ntar aku akan pulang kampung untuk majuin P.Bunku tercinta….insyaAllah..
Ayo wujudkan Pangkalan Bun menjadi kota tujuan wisatawan domestic dan mancanegara pada tahun 2010.
Maju terus Pangkalan Bun…sekarang posisiku di Kaltim nch…so..untuk anak Pangkalan Bun harus lebih kreatif..jangan kalah ama daerah lain…semangat