Bacaan: Bank Kaum Miskin

Bank Kaum Miskin

Beberapa waktu lalu, saya sudah mendengar tentang Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya. Saya membaca berita di koran, beliau memenangkan Nobel Perdamaian 2006. Guru saya juga pernah sedikit menyebut2 tentang beliau kala kami berdiskusi. Namun, baru dari buku yang diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri inilah saya bisa menyerap pelajaran dari pengalaman beliau mendirikan Grameen Bank.

Sayangnya, ketika membaca pengantar dari Robert Lawang, ilmu dan otak saya nggak sampai untuk bisa mencerna apa yang beliau tulis. Begitulah beda pemahaman seorang guru besar dengan anak kecil kemarin sore yang baru mulai belajar. Istilah seorang kawan dari Medan, “Buang air pun kau belum lurus!”

Latar belakang Muhammad Yunus diulas pada dua bab pertama buku ini. Beliau dilahirkan di sebuah kota kumuh bernama Chittagong. Semasa kuliah dengan beasiswa Fullbright di Amerika, Yunus muda aktif dalam gerakan mendukung kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan. Kembali ke Bangladesh, Prof. Yunus memilih menjadi dosen ekonomi di Universitas Chittagong. Masa-masa itu Bangladesh dilanda kemiskinan yang sangat parah. Prof. Yunus melihat kontradiksi yang hanya dibatasi dengan dinding kampus. Di kelas diajarkan teori-teori ekonomi yang kabarnya mampu mengangkat harkat hidup manusia. Namun ketika menginjakkan kaki keluar kampus, Prof. Yunus melihat banyak nyawa manusia yang dipertaruhkan akibat kemiskinan.

Buku ini sedemikian menarik perhatian saya. Kepiawaian Alan Jolis membuat cerita ini mengalir. Kata-katanya mudah dicerna dan sedemikian inspiratif. Tapi tetap membumi, menyadarkan saya bahwa semua yang saya baca bukanlah dongeng belaka. Dan saya tinggal mencomot mutiara-mutiara hikmah dari susunan kereta kata-kata yang melaju melewati stasiun pikiran.

Sebagai seorang pembelajar, tentu banyak pelajaran yang bisa saya dapat dari buku ini. Apalagi tentunya dengan latar belakang ekonomi, otak saya sudah terlalu bebal disesaki teori-teori kuno, langitan, dan tidak cocok dengan kondisi negara berkembang. Sebenarnya sudah sejak kuliah saya menyadari hal itu, tapi karena saya terlalu pengecut untuk mengorbankan nilai, mau tak mau teori dari pak dosen pun terpaksa ditelan. (Untuk beberapa dosen yang berpikiran terbuka, saya masih mau berdebat. Tapi untuk dosen bergaya setengah dewa, percuma).

Pelajaran pertama: perlu dicari solusi baru untuk mengatasi kemiskinan. Program yang ditawarkan oleh donor asing biasanya hanya menyasar pada golongan yang relatif tidak miskin. Sehingga golongan ini menggeser golongan miskin mutlak dari program pengentasan kemiskinan. Belum lagi yang namanya capacity building. Program ini biasanya justru mengembalikan dana pinjaman atau hibah kepada tenaga ahli yang berasal dari negara donor.

Saya akui, dari beberapa proyek pelatihan, konsultasi, rehabilitasi, restrukturisasi atau apapun namanya yang pernah saya pantau, sedikit sekali yang menyentuh sasaran akar rumput. Coba perhatikan program-progam dari Bank Dunia, Uni Eropa, dan donor-donor lain. Dari sisi topik memang oke, tapi coba lihat implementasinya. Setidaknya baca laporan hasil pelaksanaannya. Tanyakan ke hati nurani Anda, apakah kaum miskin memerlukan bantuan program itu? Kapan kaum miskin bisa menikmati hasil program itu? Padahal mereka membutuhkan hasilnya segera.

Guru saya kerap menekankan bahwa permasalahan itu kompleks, namun sumberdaya untuk mengatasinya terbatas. Kita harus mencari kunci permasalahan dan menyelesaikannya. Teori inilah yang saya lihat praktiknya pada kasus Grameen Bank. Akar permasalahannya adalah kemiskinan, dan Grameen Bank mencurahkan segala upaya untuk fokus pada hal itu.

Pelajaran kedua: untuk dapat merumuskan solusi yang tepat, perlu mempelajari perilaku sasaran masalah. Inilah yang disebut-sebut sebagai pendekatan mata cacing. Pendekatan yang selama ini dilakukan lebih banyak menangkap gambaran dengan helicopter view. Kelaparan digambarkan dengan inflasi dan tingkat kematian. Kemiskinan dipandang sebagai elemen HDI, Pendapatan per Kapita, dan indeks kemiskinan yang menghebohkan itu. Seluruh omong kosong mengenai tinggal landas hanya akan berujung pada jatuhnya korban dari kalangan marjinal. Seluruh elemen kehidupan digeneralisir menjadi faktor pengungkit indikator. Manusia hanya dilihat dari angka. Kita telah kehilangan arti hakiki dari kehidupan dan nilai nyawa manusia. Menyedihkan sekali..

Metodologi yang diambil Muhammad Yunus dalam pengentasan kemiskinan ini mengguncang kalangan ahli di seluruh dunia. Profesor Yunus membuktikan bahwa solusi mikro mampu menjungkalkan analisis makro. Saya pikir ini hanyalah buah perjuangan saja. Prof. Yunus paham arti kehidupan. Prof. Yunus sangat menghargai nyawa manusia. Untuk itulah dia berjuang. Kemiskinan adalah hal kongkrit yang ada di depan mata. Bagaimana mungkin hal itu dipandang sebagai penghambat?

Hasil dari metodologi mata cacing ala Prof. Yunus , bisa dikatakan menjungkalkan mitos yang selama ini ada di kalangan ahli ekonomi dan pembangunan. Diantaranya:

  1. Orang menjadi miskin karena tidak terampil, karena itu orang miskin memerlukan pelatihan. Nyatanya, kaum miskin justru lebih kreatif dalam mempertahankan hidup. Mereka telah mengalami kondisi seberat apapun yang pernah kita bayangkan. Bedanya, mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan faktor atau modal produksi. Satu-satunya jalan adalah dengan memberi mereka kredit. Tanpa kredit, mereka hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga demi keuntungan pemilik faktor produksi. Dan mereka tidak akan pernah keluar dari kemiskinan selamanya. (halaman 136, paragraf 2)
  2. Untuk mendirikan sebuah bank, perlu waktu yang lama. Faktanya, usaha untuk memberantas kemiskinan bisa dimulai secepatnya. Ketika Prof. Yunus diundang Bill Clinton (waktu itu Gubernur Arkansas) untuk membiarakan program mengatasi masalah kemiskinan, Clinton mengeluhkan waktu yang lama untuk mendirikan bank bagi kaum miskin. Prof. Yunus menawarkan solusi, “Saya bisa mulai besok pagi.” (halaman 169)

Pelajaran ketiga: desa adalah asal sumber daya penopang negara. Dari desalah cerita tentang kemiskinan bermula. Desa adalah penampung populasi terbesar, dengan wilayah terbesar, memiliki sumber daya yang besar pula. Namun, perputaran ekonomi justru berpusat di kota. Uang mengalir dari tangan-tangan juragan faktor produksi ke saku-saku penguasa. Dibelanjakan sebagian ke luar negeri. Desa yang menopang akibat itu semua. Ambruk karena tak didukung money velocity dan dihambat jalur distribusi. Menyebabkan banyak kejatuhan dan pengangguran. Lalu melonjakkan arus urbanisasi. Penyebabnya cuma satu, lapar.

Replikasi Grameen Bank di Dunia

Konsep kredit mikro telah menarik hati masyarakat dunia sebagai cara alternatif pengentasan kemiskinan. Grameen Bank pun telah menyiapkan dukungan replikasi di negara lain. Memang di awal ada banyak keraguan. Para bankir dan ahli ekonomi menilai kesuksesan Grameen Bank lebih disebabkan oleh figur Muhammad Yunus dan budaya Bangladesh. Tapi ternyata, perilaku dasar kaum miskin di seluruh negara di dunia pada dasarnya sama. Mereka lebih membutuhkan kredit mikro ketimbang pelatihan.

Program replikasi Grameen Bank dijalankan dibawah proyek bertajuk Grameen Bank Replication Program (GRBP). Program ini telah berhasil dilaksanakan di lebih dari 40 negara termasuk Malaysia, Kanada, dan Australia. Bahkan di Amerika, terdapat beberapa jenis program replikasi yang berjalan. Di Indonesia pun telah ada program yang terinspirasi Grameen Bank. Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT) meluncurkan Microfinance Syariah berbasis Masyarakat (Misykat) dalam rangka pemberdayaan umat berbasis zakat, infak dan shoaqoh. Program ini menjaring anggota melalui masjid dan musholla di Jawa Barat yang kemudian telah diperluas hingga ke Aceh.

Kritik Bagi Grameen Bank

Saya mengekor banyak kritikus lain, bahwa sistem perbankan Grameen Bank belum mengadopsi sistem perbankan syariah. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk bergama Islam, alangkah baiknya bila Grameen Bank beroperasi atas dasar prinsip-prinsip syariah. Sayangnya, prinsip ini belum diakomodasi dalam konversi metode operasi menjadi Grameen Generalised System (GGS) atau lebih dikenal dengan Grameen Bank II. Tampaknya, Prof. Yunus lebih berpegang pada teori perbankan yang ia dapatkan di Barat.

Kritikan ini terungkap salah satunya oleh M. A. Mannan di acara First International Conference on Inclusive Islamic Financial Sector Development yang dilaksanakan di Brunei Darussalam, April 2007 lalu. Melalui pemaparannya yang berjudul, “Alternative Micro-Credit Models in Bangladesh: A Comparative Analysis between Grameen Bank and Social Investment Bank Ltd.: Myths and Realities”, Mannan mengkritisi kredit mikro sebagai bentuk baru ekonomi feodal.
Namun saya ada permintaan bagi para kritikus itu, “Tolong carikan solusi syariah dengan pendekatan yang setara dengan Grameen Bank”. Dari daftar pemapar di acara konferensi ahli-ahli keuangan syariah tersebut, memang hampir seluruh pemapar mengangkat tema mikro kredit dan kemiskinan. Sayangnya, saya belum mendapatkan publikasi dari hasil konferensi tersebut.

Next: Pelajaran yang bisa diambil Ekonomi Syariah dari Grameen Bank.

Isi buku bisa diintip di sini.

Categories: Persepsi

  • Bambang

    Berawal jalan – jalan di gramedia , saya melihat buku tersebut , kemudian saya mulai baca pengantarnya , saya jadi semakin tertarik , saya mulai baca pada hari sabtu kemaren tanggal 17 Nopember 2007 ,tak terasa sudah seharian saya baca walaupun terganggu anak yang mengajak bermain , saya selalu berusaha membacanya setiap ada kesempatan . Saya baca lembar demi lembar karena rasa haus untuk segera mengetahui tulisan – tulisan berikutnya . Pada hari minggu saya mempunyai waktu cukup banyak karena istri dan pergi jalan – jalan , segera saya lahap lembar demi lembar sampai selesai . Maaf atas komentar saya yang panjang lebar, tulisan saya diatas sebagai ungkapan perasaan saya yang memperoleh banyak sekali pelajaran dari pengalaman beliau mendirikan Grameen Bank .

  • gak nyangka ternyata telah diresumkan, waktu mbaca buku ini ada kisah dibalik layar yang belum terangkat ke permukaan. kayaknya setiap orang yang benar-benar beegelut di bidang microfinance perlu membaca buku ini. kebetulan di jurusan saya baru di buka mata kuliah microfinance, dan buku ini memberikan gambaran yang mendetail tentang microfinance yang sebenarnya, thanx y

  • anggie

    atas rekomendasi dosen,saya telah membeli buku ini sbg bhn rekomendasi dalam penyusunan skripsi saya (tnt slh satu replikator GB di Indonesia)
    saya jd penasaran apakah benar kritik yg disajikan itu???
    bukunya memang mantaB,,penuh perjuangan..

  • Kritik itu sebenarnya tanda cinta dan perhatian lho. Artinya ada beberapa pihak yang merasa konsep Grammen Bank itu masih ada kelemahan, sehingga perlu ditingkatkan.

    Kritik juga muncul dari hasil persepsi yang berbeda. Semakin baik suatu konsep/prinsip menghadapi kritik, maka semakin teruji pula ketangguhan prinsip tersebut. Bandingkan dengan kasus Kiyosaki yang tidak mampu memberikan argumen balasan terhadap John T. Reed. Larinya malah jadi debat kusir.

    Beda dengan kasus Grameen ini.

    Nah, saya tunggu juga hasil kajian Anda tentang kritik Grameen Bank.

  • Salut abis buat Kang Yunus yang punya ide cemerlang ini. Sekilas saya sangat tertarik dengan konsep Bank Kaum Miskin tersebut. Mo cari bukunya nih, tapi kok rada sulit ya….? Udah cari di toko buku online, eh, stoknya kosong tuh. Trus nyari di toko buku terdekat juga abis. Wah, teman2 tolongin dong saya. Pasalnya saya juga bermimpi bisa menerapkan ilmunya Kang Yunus nih. Trus gitu, sapa yang tahu gimana caranya saya supaya bisa mengontact langsung ke Kang Yunus Ya? kalo yang tau website-nya juga gak papa. Butuh banget nih. Pleaseeeee dech, Makasih banyak atas infonya. tolong dong dikasih tau via email. yaitu sbr-hmnk@sby.centrin.net.id atau fpni_jatim@yahoo.com

  • Mas Sugesti yang bersemangat,

    info mengenai Grameen Bank bisa didapat dimulai dari Situs Grameen Bank dan Situs Pribadi Muhammad Yunus. Profil Grammen Bank dan profil Muhammad Yunus juga tersedia di wikipedia.

    Untuk menghubungi Muhammad Yunus bisa melalui email email Muhammad Yunus.

  • bengbeng

    Yup, congrat to Mr. Yunus yang sedikitnya telah mengangkat posisi kaum papa…program- programnya juga termasuk bagus, tapi lebih bagusnyanya lagi jika dipadukan dengan sistem syariah, yang gitu ja bagus palagi jika dipadukan oleh sistem syariah, pasti jauh lebih okey…jadi buat kaum kritikus jangan asal ceplas ceplos, mending ngonceki sistem grameen bank, dan kemudian muncul sistem baru yang lebih friendly bagi masyarakat yang pastinya bebas dari unusr MAGHRIB.

  • Pingback: Bacaan: One World Schoolhouse | Uliansyah.Or.Id()