Seminar Psikologi Anak: Pola Asuh

Sabtu lalu (8/12/2007), sekolah anakku mengadakan seminar. Temanya “Hubungan Pola Asuh dengan Perkembangan Emosi dan Intelegensi Anak”. Pembicaranya pak Mugito, psikolog yang menjadi konsuler di Citra Consulting.

Saya menjadi satu-satunya peserta pria di acara itu. Mayoritas peserta adalah ibu dari anak yang bersekolah di TK Al Muhajirin Pondok Pucung. Sebelumnya istriku sempat berdebat panjang denganku. Topiknya apa lagi kalau bukan peran Ayah dalam keluarga. Istriku merasa, peranku sebagai ayah masih kurang dan cenderung kontra-produktif. Khususnya di bidang kesehatan, pendidikan dan pola asuh.
Awal ceritanya, istriku kemarin sempat mengikuti seminar PESAT (Program Edukasi Kesehatan
Anak untuk Orangtua) III
. Sebenarnya kami berdua sudah lama bergabung dalam milis sehat. Saya sendiri sudah cukup paham isu-isu seperti: rational use of drugs (khususnya antibiotik), polyfarmasi, imunisasi, grafik tumbuh kembang dan beberapa isu kesehatan lainnya. Saya pun sudah menerima solusi yang benar seputar masalah demam, panas, pilek dan gejala-gejala kesehatan lainnya. Tidak perlu buru-buru menggunakan obat, namun ada threatment yang bisa dilakukan di rumah sepanjang belum memasuki status darurat.

Sepulang dari seminar PESAT II (terima kasih dokter Wati dan dokter2 lainnya..), istriku segera menularkan ilmu yang didapat dari acara itu. Salah satunya tentang penggunaan disinfektan di dalam rumah. Kata dokter Wati, demikian istriku menyampaikan. Sebaiknya tidak menggunakan disinfektan di dalam rumah, karena sebenarnya di dalam rumah itu banyak bakteri baik. Dengan menggunakan disinfektan, justru akan didapat efek imun pada bakteri-bakteri jahat. Bisa dikatakan menggunakan disinfektan seperti pembersih lantai malah menciptakan bakteri-bakteri jahat yang lebih kuat.

Waktu itu saya nyeletuk iseng, “Kalau begitu bakteri baiknya juga bermutasi dong, menjadi lebih tahan dan lebih kuat setelah terkena disinfektan.” 😀 Karena istriku merasa tidak bisa mentransfer knowledge kepada suaminya, ia menganjurkan supaya saya ikut mendengar langsung dari ahlinya dalam acara-acara seminar selanjutnya.

“Aku memang nggak bisa menyampaikan apa yang kudapat dengan baik, karena itu kamu ikut aja sendiri acara-acara itu”, dalihnya. Jadilah saya mengikuti (sebisanya, menyesuaikan dengan waktu yang ada) untuk mengikuti acara-acara kesehatan, pendidikan dan pola asuh. Seperti pada hari Sabtu itu. Bahkan nanti dilanjut juga dengan seminar homeschooling di UI hari Jumat (14 Desember 2007) dan PESAT Tangerang Sesi IV di BSD 10 Januari 2008 (kalau masih dapat tempat).

Untung juga sih, ikut acara seperti ini. Saya yang memang dasarnya ingin tahu, jadi berkesempatan mendapat ilmu langsung dari ahlinya. Biasanya kalau cuma baca buku, penyakitnya ada dua. Tidak lengkap membaca karena waktu dan kesempatan yang terbatas. Dan penafsiran yang melenceng dari maksud si penulis.

Di seminar pola asuh ini, saya diajarkan menggunakan psikologi dalam pembentukan pola asuh yang tepat bagi anak. Karena psikologi adalah ilmu tentang jiwa yang tidak kasat mata, maka perlu ada indikator atau parameter (istilah yang tepat apa sih?) untuk meng-empiriskan fenomena kejiwaan. Pak Mugito menyebutkan tiga hal: sifat (nature), sikap (attitude) dan tingkah laku (habbits). Istilah bahasa inggrisnya, hasil saya nebak-nebak.

Kemudian, perlu dikenal adanya 4 jenis permasalahan pada anak yang berkaitan dengan pembentukan pola asuh. Yaitu:
1. Tidak taat aturan.
2. Kebiasaan Buruk.
3. Penyimpangan Perilaku.
4. Post-playing delay.

Tidak taat aturan contohnya suka berdiri di meja, makan menggunakan tangan kiri, sulit dikendalikan, dll. Kebiasaan buruk misalnya suka memukul, suka merebut, berkata kotor, dll. Contoh Penyimpangan Perilaku adalah anak masih ngompol pada saat seharusnya sudah bisa buang air sendiri (belum lulus toilet training), dll. Tiga permasalahan ini biasanya selalu ada pada anak-anak kita. Tiga permasalahan ini Jamak ditemui, namun pada umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Hanya saja harus segera dicari solusinya secara mental.

Sedangkan permasalahan yang keempat adalah hilangnya masa bermain anak. Usia 0-6 pada anak adalah usia bermain. Di rentang usia inilah anak memuaskan diri bermain. Kalau pun ada pelajaran yang disampaikan, maka bentuknya adalah disisipkan dalam bentuk permainan. Gawatnya, kalau anak kehilangan masa bermain, maka anak dapat mengalami post-playing delay ini. Post-playing delay adalah timbulnya masa bermain di usia dewasa. Dicontohkan oleh pak Mugito di sini misalnya muncul saat usia SD, maka anak itu ketika di kelas akan kehilangan motivasi belajar. Maunya main terus. POst playing delay bisa juga muncul di usia SMA. Contoh yang diberikan: sudah SMA masih suka main gundu. Atau yang paling parah adalah munculnya post-playing delay ini di usia dewasa. Ciri-cirinya: suka berantem, suka mencari sensasi dan cari perhatian. Ini semua muncul karena di masa anak-anak, orang tersebut kehilangan masa bermainnya.

Dalam pembentukan pola asuh, ada 3 permasalahan yang terletak pada orang dewasa (orangtua), yaitu:
1. unexperienced syndrom. keadaan tanpa pengalaman menyebabkan orangtua tidak tahu harus berbuat apa dan tidak tahu menghadapi apa. Seperti yang dikutip dari seorang psikolog (celinoit), bahwa kelahiran seorang anak membawa dua sisi: kebahagiaan dan permasalahan. Jika orangtua tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi permasalahan yang dibawa oleh kehadiran anak.
2. unexpected action. Dalam menghadapi anak, terkadang ada tindakan orangtua yang tidak konsisten atau menyalahi keinginan sebenarnya. Misalnya: kita menyuapi anak tujuannya agar anak kelak mampu untuk makan sendiri. Namun dengan menyuapi terus akan mengakibatkan anak tergantung pada suapan kita untuk makan. Ciri-cirinya anak tidak mau makan kalau tidak disuapi.
3. accidental crime. Emosi yang meledak dalam menghadapi kekacauan yang dibuat oleh anak bisa memicu kejahatan kepada anak. Misalnya: ketika anak belajar minum, gelas mahal yang dipegangnya meleset dari tangan sehingga jatuh dan pecah. Sang orangtua langsung menanggapinya baik dengan komentar maupun dengan kekerasan fisik.

Benturan antara dua sisi permasalahan ini dapat mengakibatkan sebuah kebingungan alamiah.

Jika dalam menanggapi kebingungan ini terdapat kesalahan pengelolaan, maka dapat menimbulkan malapetaka yaitu manipulasi pola asuh. Bentuk manipulasi pola asuh yang dihasilkan dari kebingungan alamiah ini cenderung memilih pola asuh yang vertikal atau otoriter. Pola asuh satu arah (orangtua selalu benar) ini biasanya menggunakan kekerasan verbal dan non-verbal. Orangtua yang tidak ingin dibantah menggunakan cara-cara otoriter. Pola asuh ini juga menempatkan orangtua
yang berpotensi besar menimbulkan penderitaan psikis.

Akibat buruk dari penderitaan psikis dapat menimbulkan kompensasi. Pada orang dewasa, kompensasi atas suatu masalah biasanya dilampiaskan pada:
1. Makan
2. Bekerja
3. Hiburan
4. Madat (minum atau drug)
Sementara, kompensasi (pelarian) atas suatu masalah pada anak-anak, akan berpengaruh pada:
1. Ke luar: kenakalan.
2. Ke dalam: Menurunnya taraf intelegensi, kehilangan daya juang dan motivasi, kurangnya kecerdasan emosi dan gangguan psikomotorik.

Anehnya, menurut perkiraan para ahli, 30% dari anak-anak cocok dalam menggunakan pola asuh otoriter. Sementara untuk 70% lainnya harus menggunakan pola asuh yang berbeda (tidak dijelaskan). Untuk itu perlu adanya tes psikologi yang hasilnya akan menunjukkan karakteristik psikologis anak tersebut. Dari titik ini, setiap anak adalah unik. Dan orangtua perlu mengenal lebih lanjut karakteristik psikologis masing-masing anak untuk menemukan/memformulasikan pola asuh yang cocok. (Pinter juga pak Mugito jualan jasa konsultasi psikologi keluarga).

Pak Mugito sendiri mengaku tidak tahu pola asuh yang bagaimana yang tepat diterapkan untuk anak kita. Yagn jelas, paparnya, ciri pola asuh yang tepat adalah pola asuh yang memberikan keseimbangan pada kontrol dan kasih sayang.

Anak-anak saya belum pernah menjalani tes psikologi. Kabarnya, setiap anak yang sudah mampu memegang pensil dengan benar dan mencoret-coret kertas, sudah dapat menjalani tes ini. Tes seperti ini akan mengukur IQ dan EQ anak. IQ mewakili tingkat kecerdasannya, dan EQ mewakili kecerdasan emosinya.

Di Sesi Tanya Jawab terkuak permasalahan-permasalahan yang sering muncul dalam pengasuhan anak, diantaranya:
1. Kapan mulai mendisiplinkan anak?
2. Bagaimana orangtua bersikap dalam menghadapi perselisihan antarsaudara?
3. Bagaiamana sebaiknya orangtua yang berbeda pendapat dalam metode pengasuhan? (Ayah cenderung permisif, ibu cenderung keras)
4. Kesulitan mendekati anak yang tertutup.

1. Dalam mengenalkan kedisiplinan pada anak, dikenal adanya metode V. Yaitu metode yang lebih banyak menerapkan kebiasaan pada usia dini. Kemudian ketika anak memasuki usia remaja, anak diberi keleluasaan dalam memilih dan berperilaku. Kebiasaan yang sering ditemui adalah kebalikannya. Yaitu permisif di usia dini, dan represif di usia remaja. Pendekatan ini memiliki dua kelemahan. Pertama, permisif di usia dini mengakibatkan anak tidak mengenal kebiasaan/habit yang baik. Memang seringkali orangtua beranggapan anaknya belum siap menerima suatu pengajaran kebiasaan. Padahal justru di masa dini inilah orangtua bisa memperkenalkan kebiasaan yang baik karena anak masih lebih mudah menerima perubahan. Kelemahan kedua, represif pada anak usia remaja hanya akan menjadikan anak menjadi pemberontak. Memang pendekatan yang baik adalah mengenalkan kebiasaan-kebiasaan yang diinginkan di usia dini. Misalnya: makan dengan tangan kanan, berjabat tangan, mandi di pagi dan sore hari, tidur pada waktunya, dll. Mengijak usia yang memungkinkan anak memiliki pilihan sendiri, orangtua berperan sebagai teman. Artinya, orangtua mampu mendengarkan keinginan anak. Misal: kenapa anak suka buku Harry Potter? Contoh reaksi represif orangtua, “Kenapa kamu baca novel melulu! Lebih baik belajar!” Contoh reaksi mendengarkan, “Kamu suka bagian mana dalam buku Harry Potter? Kenapa suka bagian itu? Kalo Ayah lebih suka saat George dan Fred keluar dari sekolah dan mendirikan toko sihir. Menurutmu bagaimana?”. Dst sehingga kita mampu menerka jalan pikiran anak.

2. Perselisihan antarsaudara adalah hal yang wajar. Justru ketika tidak ada perselisihan, maka orangtua harus waspada. Misalnya: ada pihak yang selalu mengalah. HUbungan abang-adik yang demikian justru tidak sehat. Adik selalu menuruti apa kata kakaknya. Atau kakak dituntut untuk selalu mengalah pada setiap masalah. Untuk mengantisipasi perselisihan, orangtua dapat menanamkan nilai-nilai dasar hubungan yang sehat antarmanusia. Misalnya mengenalkan konsep kepemilikan. Barang milik adik jika akan digunakan kakak harus seijin dan sepersetujuan adik. Keberpihakan orangtua juga bukan atas dasar usia, tetapi lebih ke arah permasalahan yang sedang dihadapi. Jika adik yang menjadi penyebab awal kesalahan pada perselisihan itu, maka adik keinginan adik tidak bisa dilaksanakan. Dst.

3. Perbedaan pendapat pada orangtua memang sebaiknya tidak diumbar di depan anak-anak. Perbedaan pendapat yang diumbar di depan anak-anak dapat mengakibatkan efek buruk khususnya pada anak. Anak melihat orangtua yang tidak kompak dalam memutuskan suatu masalah. Apalagi jika masalah itu menyangkut pola asuh perkembangan anak. Pengalaman saya sendiri menunjukkan fenomena yang sama. Anak-anak saya dikitari oleh seorang nenek yang memanjakan, seorang ayah yang permisif, dan seorang ibu yang disiplin. Akibatnya jika anak sedang minta dimanja dia akan lari ke neneknya, jika menginginkan sesuatu akan meminta pada ayahnya, dan cenderung menghindari ibunya karena tidak ingin repot dilarang ini dan itu. Namun, tidak semua perbedaan pendapat orangtua harus disembunyikan. Pada hal-hal tertentu, bagus juga bila kita mengajarkan pada anak bahwa tidak semua orang memiliki pendapat yang sama. Dan mengajarkan pada anak, cara-cara mengatasi perbedaan pendapat secara bijak.

4. Anak yang tertutup tidak mau berbagi atau bercerita tentang kesehariannya kepada orangtua. Akibatnya, orangtua tidak dapat mengetahui apa yang dialami sang anak sehari-hari. Lebih jauh lagi, orangtua tidak dapat memahami jalan pikiran dan keinginan yang sedang dialami oleh sang anak. Mengendalikan anak yang tertutup bisa diawali dengan observasi pada anak. Khususnya pada area-area dimana anak berada di luar pengawasan orangtua. Bertanya pada guru dapat memberikan gambaran sikap sang anak di dalam kelas. Jika ingin mengetahui peran anak dalam pergaulan, kita dapat bertanya pada teman-teman sepermainannya. Bertanya pada anak-anak memerlukan tips khusus. Misalnya dengan mengajak ngobrol anak tsb. Di dalam obrolan diselipkan pertanyaan2 seputar anak kita. Usahakan teman anak tidak mengetahui bahwa dirinya menjadi sumber data. Hal ini untuk menghindari jawaban yang bukan jawaban sebenarnya, tetapi jawaban normatif. Yaitu jawaban yang diinginkan oleh penanya, bukan jawaban dari keadaan sebenarnya.

Nah, dari penjabaran pak Mugito tersebut, kita telah mengenal pentingnya mengenal aspek mental seorang anak. Selanjutnya, saya dan istri pastinya akan belajar lebih lagi untuk dapat menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak saya. Bagaimana pengalaman dalam keluarga Anda?

Categories: Ngemong

  • nia

    maaf ibu, mungkin ini tidak ada hubungannya dengan artikel yang ibu tulis di atas, saya hanya ingin bertanya, apakah tahu dimana (internet) ada tanya jawab mengenai psikologi anak ? terima kasih

  • @ry

    Kalau psikologi anak saya kurang tahu, tapi sharing tentang pendidikan anak saya banyak mendapatkan manfaatnya dari http://sekolahrumah.com/ dan mbak bisa juga gabung di milisnya.

  • Iya tuh mbak Nia, bagus diskusinya di sekolahrumah.com. Fokusnya sih di pendidikan. Tapi pasti sedikit banyak menyinggung tentang psikologi anak secara umum.

    Tulisannya Ummu Abbas juga sempat masuk di web sekolahrumah.com.

  • monika prihastuti

    Wah abbu abbas,asyik juga punya banyak waktu buat ikutan seminar2,eh mungkin anak2ku jg perlu di tes psikotes biar tau apa pola asuh yg cocok bt masing2 anak, soalnya anakku yg perempuan cendrung pemarah dan tidak nurut jk diberitahu, sedang anakku yg lelaki,gak banyak omong,namun terlalu lincah berekplorasi, shg semua barang2 dirusaknya,pusing jg py anak yah?

  • alfi

    menarik

  • alfi

    rasanya menyenangkan sekali jika kita milai tergerak umtuk mengaplikasikan pola asuh yang tepat untuk anak demi menghasilkan anak bangsa yang berkwalitas dunia akhirat, saat ini saya sedang skripsi dan tertarik dengan dunia anak usia dini, dan ingin bereksperiment apakah parental support dapat meningkatkan kwalitas pola asuh orang tua.

  • lestari

    asik juga melihat ulasan ttg pola asuh…bisa membuat kita jadi ortu lebih bijak dalam memghadapi anak-anak……….

  • yulihatin

    cukup menarik, tetapi kurang fokus tuh

  • nungky

    aku mau nanya gmn yah ada anak temanku umur 6 tahun,laki2,dia liat iklan di tv dan nanya ibunya mama kalau sakit datang bulan itu apa?duh gmn jelasinnya krn itu anak penasaran banget. please balasnya ke emailku ya

  • nungky

    emailku:nungkynung@hotmail.com,siapa aja bolh jawab jd byk info

  • artikel ni bermanfaat bgd bwt aqyu, makaciih

  • jasmine

    menarik sekali, adakah tips atau saran untuk menghadapi anak yang mogok sekolah?

  • Ema Prastya Kustanti

    Tks Abu Abbas, sudah menularkan ilmu yang di dapat dari seminar sedemikian rinci. semoga jadi amal jariah anda dan keluarga. Amin.

  • Nuri Kde Devasahira

    saluut…and thanks sharingnya…