Pelajaran yang bisa Diambil Perbankan Syariah dari Grameen Bank


Sekembalinya dari AS, Profesor Yunus menjadi dosen ekonomi di Chittagong University. Dari posisi inilah beliau menjawab kegelisahannya melihat kemiskinan yang akut dan menggejala di negerinya. Beliau pun mulai mencari akar permasalahan walaupun harus meninggalkan semua teori ekonomi yang dipelajarinya selama ini. Dimulai dari Program Tiga Pertanian, beliau masih belum puas dengan hasilnya. Diawali dengan pinjaman sebesar $27 ke pengrajin bambu di desa Jobra, sampai akhirnya beliau mencetuskan Grameen Bank, sebuah bank untuk kaum miskin.

Metodologi yang dikembangkan Prof. Yunus telah memandunya kepada pendekatan yang membuka mata hati dan intelektualitasnya. Sebuah metodologi yang tidak lazim digunakan peneliti manapun di dunia ini. Sebuah pendekatan yang dinamainya, “mata cacing”. Sebegitu dekatnya dengan obyek penelitian, sehingga sang peneliti menyatu menjadi bagian dari yang diamatinya. Mampu mendengarkan jeritan terdalam yang tak terucapkan. Mampu merasakan kesengsaraan obyek. Dan mampu melihat solusi terdekat dari masalah-masalah komplikatif yang ada.

Pelajaran bagi Perbankan Syariah

Menyimak kisah di atas, saya melihat ada banyak pelajaran yang bisa diambil bagi perkembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Pelajaran pertama: Produk perbankan syariah di Indonesia masih belum menjadi kebutuhan bagi konsumen. Murobahah, mudhorobah dan musyarokah baru dikenal sebagai teori dari langit yang tidak menjawab kebutuhan. Sangat diakui, peran perbankan syariah dalam mengkampanyekan kesadaran hidup bersyariah sudah membawa masyarakat Indonesia ke dalam babak baru kehidupan ekonomi kita. Namun paradoks yang ada membuktikan perkembangan nasabah tidak mengalami lonjakan yang berarti. Perbankan syariah hanya mampu meraup pangsa pasar 1,5% (Oktober 2006) dari total industri perbankan nasional. Kredit yang dikucurkan pun baru mencapai 2,4 % (Oktober 2006) dari total kredit perbankan nasional. Fakta ini membuat gerah pimpinan Bank Muamalat sebagai pelopor bank syariah, M. Riawan Amin. Komentar beliau yang terkenal, “Kalau memang Bank Syariah dianggap belum halal kenapa masih bertahan dengan bank konvensional yang jelas-jelas haram?”

Jawaban dari kegemasan Riawan Amin tersebut terletak pada produk bank syariah itu sendiri. Produk-produk bank syariah masih belum dikemas menjadi killing product yang dibutuhkan masyarakat luas. Bandingkan dengan Grameen Bank. Dari awal bank ini memiliki visi yang jelas. Dari visi tersebut dapat diturunkan sasaran nasabah yang kongkrit, yaitu kaum miskin. Kemudian, dari golongan ini dipelajarilah sifat-sifat inheren seperti demografi dan perilaku ekonomi. Hingga akhirnya dicarilah bentuk dan mekanisme pembiayaan yang paling cocok. Dengan metodologi yang disebut oleh Yunus sebagai metodologi mata cacing ini, produk Grameen Bank mampu menjawab kebutuhan nasabah. Produk ini mampu menggandakan jumlah kucuran kredit dari 333 juta dollar menjadi 608 juta dollar hanya dalam waktu 10 tahun saja (1995-2005).

Pelajaran Kedua: Pengendalian Nasabah

Selain itu, Grameen Bank juga mendesain suatu pengendalian internal yang aplikatif dengan membentuk kelompok peminjam yang terdiri dari 5 orang. Pengendalian yang berjalan pun lebih ke arah kekeluargaan. Artinya, keberlangsungan kredit akan terus terjaga sepanjang mereka mampu menjaga disiplin, berkompetisi dan bekerja sama sesama anggota. Jika seorang anggota kelompok sakit atau mengalami musibah yang membuatnya tidak mampu mengembalikan pinjaman, maka ditawarkan kredit dari tabungan kelompok dan penjadwalan ulang pinjaman lama.

Keberadaan kelompok peminjam ini sebenarnya adalah suatu alat pengendalian yang disesuaikan dengan kondisi nasabah. Namun, dalam praktiknya, dikembangkan juga sikap-sikap positif yang mampu menyebarkan prinsip enterpreneurship, kerjasama, dukungan sosial, dan semua nilai-nilai yang ingin ditekankan Grameen kepada para nasabah. Sejatinya, penyampaian pesan seperti ini sudah jauh lebih dulu digunakan di bisnis MLM.

Pelajaran Ketiga: Segmentasi Nasabah, Cerdik Melihat Peluang dengan Semangat Sosial

Kaum miskin Bangladesh menjadi golongan marjinal dalam pelayanan perbankan konvensional. Mereka tidak dilirik karena mereka buta huruf dan tidak dapat mengisi formulir aplikasi kredit. Mereka juga tidak memiliki agunan yang dianggap bernilai. Karena border inilah kekuatan ekonomis mereka tidak teraba oleh bank. Walhasil, mereka menjadi kue konsumsi yang lezat bagi para rentenir dan lintah darat.

Grameen Bank telah mengubah hidup mereka bukan semata-mata karena pinjaman yang diberikan. Tapi juga karena Grameen mampu memahami perilaku ekonomi golongan ini. Dengan menyediakan produk yang cocok dengan perilaku ekonomi mereka, Grameen telah mengubah kaum miskin menjadi kekuatan ekonomi baru.

Di Indonesia, jumlah nasabah beragama Islam sangat besar. Tapi mereka yang memiliki kesadaran menggunakan produk bank syariah masih minim. Apakah fenomena ini seluruhnya ditimpakan pada masyarakat muslim tersebut? Saya tawarkan untuk menjawab tidak. Suatu produk pasti akan menjadi pilihan ketika ia dibutuhkan. Saat ini, tawaran kehalalan dan keberkahan bank syariah masih belum menjadi perhatian utama para nasabah muslim. Ketika bank syariah menyadari hal itu, sudah sepatutnya bank syariah berinovasi untuk menciptakan produk yang tidak hanya berorientasi halal dan berkah, namun juga dibutuhkan oleh konsumen. Untuk dapat menciptakan produk seperti itu, bank syariah harus memperhitungkan segmentasi dan perilaku konsumen dengan baik.

Ambil contoh begini. Ceruk konsumen mana yang belum tergarap oleh bank syariah. Kita sebut saja pedesaan. Populasi pedesaan mencapai 58% dari penduduk Indonesia. Ironisnya, pedesaan juga menyumbang 68.5% dari penduduk miskin nasional. Saya yakin mayoritas penduduk pedesaan adalah muslim.

Saya mengangankan suatu saat ada bank syariah yang mau melirik komunitas pedesaan. Bukan semata-mata karena motif pengentasan kemiskinan, tapi juga mau memandang pedesaan sebagai sebuah poteni ekonomi yang belum tergali. Sama seperti kasus kaum miskin di Bangladesh, komunitas pedesaan Indonesia pada hakikatnya hanyalah memiliki karakteristik perilaku ekonomi yang perlu dipahami oleh bank syariah.

Pelajaran Keempat: Fleksibilitas terhadap Masalah (dan Musibah)

Bangladesh adalah negara termenderita sedunia. Dalam setahun saja mereka bisa mendapat sampai 5 kali musibah besar. Banjir sudah langganan, gempa bumi tak segan datang, kelaparan dan longsor. (Kok saya jadi bersyukur ya tinggal di Indonesia, walaupun di Jakarta juga banjir; gempa dan longsor di mana-mana). Dalam menghadapi musibah, Grameen Bank tidak melarikan diri. Grameen justru segera menawarkan pinjaman baru dengan menjadwalkan ulang pinjaman lama. Tawaran ini sudah pasti didasari rasa percaya. Sebaliknya di Indonesia, pelanggan kartu kredit justru dikejar-kejar untuk melunasi cicilan. Penjadwalan ulang adalah barang eksklusif bagi mereka. Padahal mereka bukan orang miskin. Praktik ini mencerminkan rasa ketidakpercayaan bank atas pelanggannya.

Di Indonesia, kehidupan ekonomi masyarakat lebih sering terganggu akibat kenaikan BBM, kenaikan Tarif Dasar Listrik, kenaikan tarif telepon, kenaikan tarif tol, dan kenaikan-kenaikan penyesuaian-penyesuaian lain tapi tidak diikuti kenaikan mutu produk dan pelayanan. Sejauh mana perbankan syariah menempatkan diri dalam memperkuat umat menghadapi tantangan ekonomi yang terus menggempur? Seberapa peka bank syariah menangkap peluang ekonomi dan peluang barokah dibalik hikmah musibah?

Empat pelajaran (dan pelajaran-pelajaran lain yang tidak tertangkap dalam intelektualitas saya) dari Grameen Bank ini, bukanlah tuntutan perbaikan dari seorang nasabah. Tapi lebih pada suara keprihatinan seorang muslim yang membutuhkan solusi dalam kehidupan ekonominya. Dengan adanya masukan ini, mudah-mudahan bank syariah dapat memperkaya dan memperkuat diri. Kaya pengetahuan dan kuat ilmu syariah.

Sedikit Kritik atas Mutu Pelayanan Front Office

Tidak lengkap rasanya berbicara tentang bank syariah jika tidak mengulas mengenai mutu pelayanan. Layanan di front office akan mewakili image seluruh perusahaan. Di titik inilah seorang nasabah akan mengalami experience yang akan tercetak di benaknya sebagai persepsi gambaran seluruh perusahaan. Mereka yang kecewa akan melancarkan black campaign. Sementara yang puas tak segan untuk menjadi konsumen loyal dan bahkan menjadi penganjur. Senang, sedih, kecewa, jijik, menyanjung, marah, apatis, puas, dongkol. Semuanya adalah sifat wajar sosok seorang manusia.

Dalam hal mutu pelayanan front office, saat ini silahkan berkiblat ke Bank Mandiri dan adiknya, Bank Syariah Mandiri. Hampir seluruh pelayanan personal dapat diselesaikan di meja pelayanan front office. Jauh berbeda dengan BRI, BNI atau Muamalat sekalipun. Untuk membuat kartu ATM saja, bank-bank tersebut membutuhkan waktu berhari-hari. Belum lagi menghadapi klaim penarikan ATM atau kasus-kasus lainnya.

Sementara itu, Muamalat akan tertinggal jauh kalau tidak segera mempraktikkan Celestial Management yang mereka dengungkan. Konsep Zikr, Pikr dan Mikr belum sepenuhnya dirasakan oleh nasabah. Padahal konsep ini adalah konsep pelopor di bidang pelayanan perbankan syariah. Apa dan siapa yang salah? Bukannya ingin mencari kambing hitam atas rendahnya kualitas pelayanan Muamalat. Tapi pandangan dari saya sebagai orang luar yang tak paham konflik internal Muamalat, menyimpulkan (dengan semena-mena tentunya) bahwa:

  1. Bisa jadi top management Muamalat lupa, bahwa pada dasarnya pegawai mereka adalah pegawai bank. Bukan santri yang paham fiqh.
  2. Bisa jadi middle manager Muamalat kurang dapat menyampaikan shared value dari pimpinan.
  3. Bisa jadi tidak memadainya pengendalian Zikr, Pikr, Mikr itu. Mungkin jika poin pelayanan berbasis Zikr, Pikr, Mikr bisa dikonversi ke bonus tahunan, akan lebih banyak karyawan Muamalat yang terpacu untuk mengaplikasikannya di lapangan. :D (Amin. Mudah-mudahan pilihan ini yang ditempuh).

Saya yakin Muamalat punya program internal yang mendukung konsep Celestial Management ini. Entah berbentuk program pengembangan pegawai, pengajian pegawai atau lainnya.

Geliat Bank Syariah

Meskipun masih banyak PR yang harus diselesaikan, usaha pengembangan bank syariah patut diacungi jempol. Ada yang berinovasi di produk, ada pula yang memperkuat layanan fasilitas.

Inovasi produk syariah terpopuler tentulah jatuh ke tangan Shar-E. Konsep tabungan syariah prabayar yang dapat diisi ulang dijajakan dengan jaringan terluas di Indonesia.

Dalam hal image pelayanan, BSM mendapat BSM terus mengembangkan jaringan layanan salah satunya dengan menyediakan BSM Net Banking. Dengan adanya BSM Net Banking, para nasabah bisa menggunakan BSM sebagai platform pembayaran online. Saya pun mengenal layanan ini dari testimoni seorang nasabah.

Selain memosisikan lini produk layanan, bank syariah memang perlu memperkaya diri dengan fitur dan fasilitas. Entah berbentuk SMS Banking, Net Banking, call center, layanan cepat dan lengkap di kantor kas, dll. Penguatan ini tentunya berorientasi pada nasabah.

Strategi baru pun harus segera disusun. Baik mengejar market share maupun mengejar keberkahan. Apalagi ditunjang pertumbuhan yang menjanjikan. Pihak yang ingin ikut meramaikan tak perlu buru-buru menjadi Bank Umum Syariah. Unit Usaha Syariah dengan office channeling (apakah sama dengan istilah syariah windows di Malaysia?) juga masih dimungkinkan.

Penutup

Perkembangan bank syariah di Indonesia perlu didukung oleh pihak manapun demi terwujudnya solusi kehidupan sadar syariah yang barokah. Bank syariah juga perlu belajar dari berbagai kasus untuk dapat memperbaiki diri. Mudah-mudahan dengan sedikit sumbangan pikiran keluh kesah ini, perkembangan bank syariah dapat terus semakin membaik menuju keberkahan yang hakiki.

-o0o-

5 Thoughts on “Pelajaran yang bisa Diambil Perbankan Syariah dari Grameen Bank

  1. Iya…setuju kalimat2 terakhir…
    perlu dukungan banyak pihak untuk memajukan bank syariah…
    selama ini, menurut saya, baru BI -di tataran birokrat- yang concern terhadap perkembangan bank syariah… depkeu sepertinya belum

  2. Ya maklum aja, pemerintah kan bertugas sebagai regulator bukan inovator.

    Tapi kalo bisa disebut sebagai prestasi, dukungan Depkeu di bidang ekonomi syariah diantaranya:

    1. Memfasilitasi tersedianya Jakarta Syariah Index (sejak tahun 2000) yang diatur oleh Bapepam sebuah SRO di bawah Depkeu; (apa itu JII)
    2. Mengatur pembatasan investasi perusahaan asuransi dengan sistem syariah; (ini mendukung atau menghambat ya?)
    3. Menelurkan paket regulasi penerapan prinsip syariah pada Pasar Modal, yang salah satu hasilnya adalah terbitnya 20 Efek Syariah akhir tahun 2007 lalu;
    4. Saat ini tersedia berbagai macam produk syariah yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia;

    Sementara PR pemerintah juga tak kalah besar, yaitu meng-gol-kan RUU Obligasi Syariah atau Sukuk dan menghapus pajak berganda atas transaksi pembiayaan syariah yang bersifat jual-beli. Instrumen Sukuk sendiri diharapkan dapat menarik dana dari Timur Tengah yang sedang berlebih karena booming harga minyak. Sulitnya, untuk menetapkan RUU ini diperlukan amandemen atas UU Surat Utang Negara. Saya akui, ini sebuah pekerjaan yang tidak mudah.

    Berbagai usul juga dilayangkan ke pemerintah, seperti:

    1. Mengkonversi Bank BUMN menjadi Bank Syariah;
    2. Menggunakan Bank Syariah sebagai penyimpan dana-dana pemerintah;

    Bagus juga usulnya.

  3. Indah Suhartati Raihana on October 30, 2008 at 16:01 said:

    artikel ini sangat membantu saya. karena saya ingin membuat skripsi dengan judul bank kaum miskin. dan ingin menganalisa. apakah bank grameen itu bisa di sebut sebagai bank syariah atau tidak?
    dari mana saya bisa mendapat info? terutama data-data mengenai data kuantitatif?
    terima kasih

  4. Grameen Bank jelas-jelas bukan bank syariah.

    Untuk mendapat data2 grameen bank, di http://www.grameen-info.org/ ada menu “Data and Reports”. Saya sarankan lakukan kontak dengan pengelola http://www.grameen-info.org/. Emailnya di grameen.bank@grameen.net. Mungkin dari situ, bisa dicari kontak replikasi grameen di Indonesia.

    Selamat menulis skripsi!

  5. Denny Edison Sitohang on February 15, 2010 at 22:54 said:

    Menurut ane pribadi semua bank syariah harus bersatu padu melawan bank konvensional baik dalam sistem dan segalanya. Kalaupun ada bank syariah yang bapaknya masih konvensional seperti Bank Syariah Mandiri (BSM), BNI Syariah,BRI Syariah, dll, itu sama aja munafik and pengadu domba sesama bank syariah. Cocok bagi anda pegawai Bank Syariah adalah “Kemunafikan Dibalik Kesholehan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Post Navigation