Manajemen Asal-Asalan

Hari Jumat (2/2/08) saat air kembali permisi-numpang-lewat di Jakarta, perjalanan kereta api komuter dibatalkan. Pun demikian beberapa minggu yang lalu di suatu sore kereta ngadat. Lagi. Sudah beberapa kali kereta jurusan Tanah Abang – Serpong bermasalah bulan tahun ini. Kereta yang diharapkan oleh ribuan penumpang itu terlambat, terganggu, atau bahkan dibatalkan perjalanannya. Kalau sudah demikian kejadiannya, orang-orang hanya bisa pasrah, gondok, menggerutu, mengutuk, dan akhirnya menyesal.

Jalur Kereta Jepang

Kebutuhan akan transportasi komuter makin hari makin bertambah. Kabarnya untuk jurusan Tanah Abang – Serpong saja ada 300 ribu penumpang yang harus dilayani setiap harinya. Bahkan sejak dioperasikannya kereta AC jurusan Serpong, penumpang berdasi pun berhasil digaet PT. KAI. Prestasi ini juga ditunjang dengan aman dan nyamannya pelayanan parkir di stasiun pemberangkatan. Jangan sampai di masa datang PT. KAI mengambil langkah blunder yang mengorbankan pelanggan yang mereka bidik sendiri.

Saya nggak ngerti bagaimana manajemen kereta seharusnya direncanakan dan dilaksanakan. Saya bukan ahli perkeretaapian. Pengalaman mengatur kereta paling-paling didapat dari main game Subway Scramble. Tapi yang saya tahu pasti, ada yang salah dalam pengelolaan kereta api.

Selama ini manajemen kereta api terkesan asal-asalan. Asal jalan, asal berangkat. Asal terlambat, asal batal. Asal nyampe tujuan, asal tidak manusiawi. Asal angkut (manusia dan kambing), asal . Kalau semua asal-asal itu terpenuhi berarti Anda nggak nyasar. Anda benar-benar menggunakan kereta di Indonesia!

Seandainya kereta api ini di anggap sebagai progam prioritas yang strategis, tentu konsekuensinya adalah dukungan finansial yang memadai. Tapi dari bisik-bisik kawan, rencana perpanjangan jalur KRL sampai Parung Panjang belum bisa diakomodasi dalam APBN 2008.

Pernah suatu kali saya bertemu sebuah tim terdiri dari 3 orang melakukan wawancara dengan penumpang di atas kereta komuter. Mereka mengaku ditugaskan oleh suatu elemen di DPR. Seorang wanita yang membawa microphone, seorang pria muda yang menenteng kamera video, dan seorang pria setengah umur dengan pin lambang DPR di jaketnya. Mereka mengulik informasi mengenai tingkat kepuasan atas layanan saat ini dan harapan penumpang atas layanan di masa depan.

Banyak penumpang yang menginginkan agar kereta tepat waktu, tidak ada pembatalan, aman, cepat, nyaman, dst. Saya sendiri nggak diberi kesempatan ditanya. Seandainya ditanya saya akan jawab, kereta butuh paradigma baru. Paradigma baru hanya bisa dimulai dengan shared vision dari pimpinan teratas. Yang visioner dan paham konsep MRT. Paradigma baru itu juga harus di-deliver oleh middle management. Mungkin bisa dibantu dengan tools pengendalian. Di level bawah, para pegawai perlu di-standar-kompetensi-kan. Training, diklat, capacity building, kode etik, mekanisme reward and punishment disediakan untuk mereka yang berada di tingkat ini.

Saya tahu nggak semudah itu. Saya nggak tahu ada konflik internal, vertikal, horizontal apa di KAI-Dephub-Depkeu-Panitia Anggaran DPR. Sebagai penumpang, saya cuman menuntut kualitas layanan. Hayooo, apa ada yang udah capek prihatin?

Categories: Persepsi