Ketika Anak Menyadari Ketidaktelitian Ibunya (2)
Alkisah, Ummi dan Abbas di suatu siang. Seperti biasa, Ummi sedang mengurusi usaha di rumah. Usaha jahitan gamisnya memang sedang banyak pesanan. Ummi sibuk sekali. Sesekali ia mondar-mandir dari ruang depan, ke ruang aktivitas, dan juga ke dapur.
Sementara itu, Abbas sedang bermain komputer di ruang aktivitas. Ummi sudah membukakan sebuah halaman web untuknya. Halaman web itu bagus sekali. Isinya tentang pelajaran mengenal huruf abjad bagi balita. Judulnya adalah ABC Zoo. Sebuah animasi yang menarik menampilkan deretan huruf disertai gambar binatang yang namanya diawali dengan huruf abjad tersebut.
Sesampainya di suatu abjad. “Mi, ini apa?”, tanya Abbas sambil menunjuk sebuah gambar hewan bulat besar.
Ummi yang hanya sempat menatap sekilas dengan yakinnya menjawab, “Itu Badak!”. Ow la la, rupanya Ummi tidak memperhatikan tulisan Hippopotamus dibawah gambar tersebut.
Abbas terdiam sejenak. Lalu ia berkomentar, “Bukan Mi, ini kuda nil. Kalau Badak itu yang punya cula.”
Ah, masak sih aku salah, kata Ummi dalam hati. Sambil masih dipenuhi rasa tidak percaya, Ummi mendekati monitor. “O, Iya ‘Abbas benar. Itu kuda Nil.”
Ummi pun melanjutkan aktivitasnysa sambil masih menyimpan rasa tidak percaya bahwa dirinya sudah salah jawab.
Animasi di layar komputer pun silih berganti menampilkan binatang-bintang lucu dengan awalan nama yang sesuai urutan huruf abjad.
tidak berapa lama….
“Nah ini baru Badak”, kata Abbas penuh kemenangan sambil menunjuk sebuah bentuk hewan di layar monitor. Huruf yang diperkenalkan adalah huruf R, dengan tulisan Rhinoceros di bawah gambar badak.
Ummi : Hiks…
—
PS: Di halaman web fisher-price.com masih ada beberapa permainan lain yang menarik untuk dimainkan bagi anak-anak.
Ketika Anak Menyadari Ketidaktelitian Ibunya
Dirumah, pada suatu senja. ‘Abbas dan Ummi sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Sampai suatu ketika…
‘Abbas : “Mi, ini apa?” sambil menunjuk gambar dari http://www.fisher-
price.com/us/fun/games/abczoo/default.asp
Ummi : Sibuk, lihat gambar sebentar, “Itu Badak!” tanpa perhatikan tulisan dibawahnya (Hippopotamus)
‘Abbas : Diam sebentar, terus komentar “Bukan, ini kuda nil. Kalau Badak yang punya cula Mi.”
Ummi : Nggak percaya, mendekati monitor. “O, Iya ‘Abbas benar. Itu kuda Nil.” masih nggak percaya sudah salah jawab.
tidak berapa lama….
‘Abbas : “Nah ini baru Badak”. (Rhinoceros)
Ummi : Hiks…
Manajemen Asal-Asalan
Hari Jumat (2/2/08) saat air kembali permisi-numpang-lewat di Jakarta, perjalanan kereta api komuter dibatalkan. Pun demikian beberapa minggu yang lalu di suatu sore kereta ngadat. Lagi. Sudah beberapa kali kereta jurusan Tanah Abang – Serpong bermasalah bulan tahun ini. Kereta yang diharapkan oleh ribuan penumpang itu terlambat, terganggu, atau bahkan dibatalkan perjalanannya. Kalau sudah demikian kejadiannya, orang-orang hanya bisa pasrah, gondok, menggerutu, mengutuk, dan akhirnya menyesal.
Mendongeng: Tiga Babi Kecil ala Anak Jaman Sekarang
DIAKUI atau tidak, anak jaman sekarang memang memiliki lingkungan dan tantangan global yang berbeda dari yang pernah kita hadapi. Dan entah mengapa pula, pengaruh itu justru membentuk anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang unik. Bahkan koran tempo hari ini mengenalkan istilah generasi layar.
Salah satu keajaiban yang ditunjukkan oleh anak saya yang berumur 4 tahun Februari ini, adalah kemampuannya menyambung-nyambungkan suatu kejadian dengan kejadian lain. Mungkin mirip dengan iklan susu formula mengenai Triptofan yang digembar-gemborkan dapat meningkatkan kecerdasan anak dalam mengolah informasi. Padahal anak saya anak ASI, dan sekarang minum susu UHT.
Suatu hari, saya membacakan dongeng tentang Tiga Babi Kecil. Sebenarnya dongeng ini sudah sering dibacakan menemani Si Sulung tidur malam atau tidur-tiduran di siang hari, atau sekedar bercerita tanpa ada kaitannya dengan tidur. Si Sulung Abbas pun sudah mafhum rupanya dengan apa yang diceritakan Ayahnya. Namun tetap saja matanya akan membesar, mendengar kisah yang disampaikan, tentu saja bila disampaikan dengan cara yang bombastis, menarik dan diselingi kreativitas yang membuatnya berbeda di tiap kesempatan membacakan dongeng.
Sampai suatu kali..
Ayah: Tiga Babi Kecil. Ada tiga babi kecil. Babi yang pertama membangun rumah dari jerami. Babi yang kedua membangun rumah dari kayu. Dan Babi ketiga membangun rumah dari batu. Lalu ada serigala datang dan berkata, “Hrmmmhh.. (menggeram). Aku ingin makan babi. Di mana aku bisa menemukan babi ya?”
Abbas: (cuek, main sini main sana, tapi tak mau jauh dari Ayahnya, telinga tetap mendengarkan)
Ayah: Lalu serigala datang ke rumah Babi pertama. (singkat cerita) Lalu rumah babi pertama yang terbuat dari jerami ditiup oleh serigala. Babi pertama lari ke rumah babi kedua. Lalu rumah babi kedua ditipu oleh serigala. Babi pertama dan Babi kedua lari ke rumah babi ketiga. Karena terbuat dari batu, serigala tidak bisa meniup rumah babi ketiga.
Abbas: (memotong cerita) Lalu Serigalanya menjadi besar! Seperti monster di Power Rangers, terus rumahnya ditiup deh. Babinya dimakan. (menyeringai puas)
Ayah: (*speechless*)
Kok logikanya nyambung ya? Make sense gituh..
Anak itu..
Pagi ini saya berebut naik ke kereta listrik bersama ratusan penumpang lainnya. Di tengah siraman gerimis hujan, saya melihat ada satu pintu gerbong kereta yang amat sepi. Ketika saya masuk ke pintu itu, MASYA ALLAH, saya melihat pemandangan yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya.
Di bangku samping pintu, duduk seorang anak dalam keadaan yang menyedihkan. Tangan kirinya buntung. Tidak ada sisa sedikitpun tulang lengan kiri, benar-benar buntung sampai bahu. Kepalanya dibalut perban kotor. Bekas darah mengering tersebar di kepala dan badannya.

Pantas saja sudut gerbong ini begitu sepi. Orang-orang menjauhinya. Mungkin jijik. Tak sedikit yang kasihan. Tapi lebih banyak yang tak peduli. Tidak ada penumpang yang mau duduk di dekatnya. Mereka lebih suka berdesak-desakan di sisi lain gerbong itu.
Aduh nak. Engkau duduk tanpa merasakan tusukan pandangan mata orang-orang. Pandangan matamu kosong. Menatap ke luar jendela tak berkaca. Punggungmu dipenuhi kotoran manusia. Bahkan untuk membersihkan diri pun kau tak mampu.
Tapi anak itu tak peduli. Rupanya ia lebih suka menikmati pemandangan di luar jendela. Mungkin bertanya pada dunia, salahku apa?
Ya Allah..
Baru kemarin saya mengeluh mengenai kemungkinan turun gaji. Baru tadi malam mata saya sulit terpicing memikirkan strategi pengembangan karir. Namun itu semua sirna dalam sekejap. Kekhawatiran saya tak sebanding dengan penderitaannya.
Beruntunglah saya. Beruntunglah Anda. Beruntunglah kita. Kita masih memiliki tempat yang disebut rumah. Kita masih memiliki orang-orang terkasih di sekitar kita.
Melihat anak itu tanpa kewarasan, saya pun bingung harus bagaimana? Memberinya uang pun tak menjadi solusi.
Oh lihat.. ekspresi anak itu sedikit berubah. Mulutnya membulat. Dia tersenyum. Oh, dia tersenyum! Entah apa yang membuatnya senang. Mungkin ia terbayang sedang bermain di tengah keluarganya. Mungkin ia ingat saat-saat indah dibelai bunda. Mungkin ia terbayang ayah menepuk pundaknya dengan bangga. Mungkin ia mengangankan sedang bermain bersama saudara-saudarinya.
Mata ini mulai berkaca-kaca. Saya mencoba menundukkan kepala sekedar menghalau rasa trenyuh luar biasa di dada.
Anak itu.. telah kehilangan lengannya. Anak itu.. telah kehilangan masa kecilnya. Anak itu.. telah kehilangan ayah bundanya. Anak itu.. telah kehilangan masa depannya. Anak itu telah kehilangan kehidupannya, bahkan sebelum nafasnya meninggalkan tubuhnya.
Mungkin hanya doa yang bisa saya sumbangkan padanya. Ya Allah, ampunilah ia di kehidupan akhirat nanti. Amin.
Google Penyelamat Dunia
MEMATENKAN APLIKASI PEMBACAAN TEKS DI IMAGE DAN VIDEO
Udah pernah baca novel Digital Fortress-nya Dan Brown kan? Ya, Dan Brown si penulis Da Vinci Codes itu. Kalau belum, begini ringkasannya. Seorang kriptografer ternama mantan agen NSA mengancam akan menyebarkan sebuah algoritma enkripsi baru yang tidak dapat ditembus. Algoritma berjuluk Benteng Digital tersebut menjadi rebutan banyak pihak, karena siapa yang memegangnya akan memiliki keamanan enkripsi yang tidak dapat dipecahkan oleh siapa pun di dunia saat ini. Pihak yang menguasainya akan menjadi pihak yang powerful, karena rahasianya tidak akan mungkin tercuri pihak lain.
Kejadiannya mirip seperti yang dialami Google. Seperti dilansir PCWorld dan ComputerWorld, Google telah mematenkan aplikasi pembacaan teks yang berada di dalam image dan video.
Apa yang dilakukan oleh aplikasi buatan Google tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang telah berusaha dipecahkan para hacker pada tahun-tahun belakangan ini, yaitu mematahkan CAPTCHA. Memang ada beberapa pihak yang telah mengklaim mampu membaca CAPTCHA, seperti PWNtcha, EZ-Gimpy, aicaptcha, gocr (a never meant to be captcha decoder), dll. Namun belum ada pihak yang merilis kode yang digunakannya. Dengan algoritma yang dipatenkan tersebut, Google dapat mematahkan CAPTCHA keycode. Walaupun demikian, Google hanya akan menggunakannya untuk memperluas layanan pencarian ke gambar tetap dan bergerak.
Dengan mematenkan aplikasi pembaca teks dalam image tersebut, Google telah memperpanjang nafas keamanaan dunia internet. Bayangkan bila algoritma pembaca CAPTCA terpecahkan. Botnet yang hari ini saja sudah sangat merepotkan itu, akan merajalela membuat kekacauan dengan menembus pertahanan CAPTCHA situs-situs web seluruh dunia.
PS: Kayaknya salah posting nih.. mustinya di blog kurang kerjaan.
Pelajaran yang bisa Diambil Perbankan Syariah dari Grameen Bank
Membaca perjuangan Muhammad Yunus mengentaskan kemiskinan di Bangladesh melalui Grameen Bank, mengilhami banyak hal yang dapat disumbangkan bagi perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia.
Muhammad Yunus adalah pemenang Nobel Perdamaian 2006. Nobel itu tentu tidak diberikan begitu saja tanpa prestasi yang diraihnya bersama Grameen Bank. Muhammad Yunus adalah seorang muslim Bangladesh yang lahir di Chittagong. Beliau berasal dari keluarga yang berkecukupan. Dengan kepandaiannya, Yunus muda mampu bersekolah tinggi dan mendapatkan beasiswa Fullbright dari Ford Foundation untuk belajar di Amerika. Di masa jauh dari tanah airnya ini, beliau aktif mendukung kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan tahun 1971.
Ndherek Bela Sungkawa
Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afiihi wa’fuanhu.
Hak Jalan Raya
Hak-hak Pengguna Jalan
Hari senin dan selasa kemarin saya benar2 dibuat kesal oleh kemacetan jalan disekitar BSD. Bayangkan jalan2 BSD yang besar2 dan lancar itu tiba2 jadi macet oleh suatu kegiatan, pawai pemilihan bupati daerah! Saya tidak tahu apakah ada peraturan yang mengatur tentang jalannya pawai sehingga tidak menghalangi pengguna jalan lain, atau sudah ada peraturannya, tapi seperti biasa peraturan dibuat untuk untuk dilanggar :p yha terlepas dari itu semua pawai tetap berlangsung dan kendaraan yang saya tumpangi terjebak pasrah dibelakangnya ditambah saya yang sedang bersungut2 didalamnya. Amboi…
Hari kamis, lain lagi cerita. Ketika saya menyebrang jalan, tiba2 ada pengemudi motor melawan arus dari arah yang berlawanan. Dan… Brak! jadilah tangan dan bahu saya sebelah kiri tersambar. Astagfirullah! Refleks ucapan yang keluar dari mulut saya, yang benar2 tak menyangka akan ada kendaraan dari arah sebaliknya. Tidak berapa lama kemudian otak mulai mencerna apa yang terjadi, ketika sadar dan mau melancarkan protes, sudah terlambat… Pengemudi motor sudah pergi dengan tenang meninggalkan korbannya yang bengong keheranan, “kok bisa2nya ada motor dari arah sana.” Pikir saya. (mau protes sama siapa thoh de!?). Saya yakin pengemudi motor tsb tahu saya tersenggol motornya, wong kedua anak-anak dalam boncengannya langsung menoleh pada saya. huh! Pelajaran yang buruk bagi anak2 tsb. Jangan di tiru yha nak..
Sudah sering saya melihat kekacauan di jalan-jalan. Kekacauan biasanya terjadi ketika semua orang merasa berhak menggunakan fasilitas umum ini dengan tanpa memperhatikan hak orang lain yang juga sebagai pengguna. Alangkah baiknya jika masing2 dari kita, MULAI DARI DIRI SENDIRI memperhatikan hak2 pengguna jalan lain. Apa saja sih hak pengguna jalan itu menurut Islam? Ternyata ada pensyariatannya di peraturan Negara Brunei Darusalam Bo!

Untuk menjamin jalan raya itu selamat dan selesa digunakan oleh semua pengguna, sama ada kenderaan bermotor atau pejalan kaki, kerajaan telah memperuntukkan peraturan dan undang-undang bagi pengguna jalan raya. Ia hendaklah dipatuhi. Mana-mana pengguna yang menyalahinya akan dikenakan tindakan menurut undang-undang.
Daripada Abu Sa‘id al-Khudri Radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

Artinya: “Jangan kamu duduk-duduk di jalan-jalan! Sahabat bertanya: “Kami susah meninggalkannya dan di sana kami hanya duduk-duduk bercerita” Baginda bersabda: “Jikalau begitu, apabila kamu pergi juga ke tempat kamu bercerita itu, kamu berikanlah hak-hak jalan raya”. Mereka bertanya lagi: “Apakah dia hak-hak jalan raya itu? Baginda menjawab: “Memelihara pandangan, membuang yang menyakitkan, menjawab salam dan membuat kebaikan serta menghalang kejahatan”. (Al-Bukhari & Muslim)
Tentang Soeharto

Selama ini belum ada pendapat yang benar-benar mewakili isi hati saya tentang Soeharto. Baru tulisan K.H Mustofa Bisri di Koran Tempo (16/1/2008) inilah yang dirasa paling mengena.
Rabu, 16 Januari 2008
OpiniPak Hartoku, Pak Hartomu, Pak Harto Kita
A. Mustofa Bisri, Kolumnis, Penyair, dan Pengasuh Pesantren
Ketika para petinggi di atas kelihatan bingung, mau melengserkan Pak
Harto, kok, tidak sopan, apalagi kelihatannya Pak Harto masih segar
dan mau, saya menulis di sebuah harian terkenal dengan judul
“Seandainya Pak Harto Kerso”. Tulisan saya itu mengusulkan agar Pak
Harto kerso, mau, jadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat saja.
Maksud saya, dengan menjadi Ketua MPR, Pak Harto tidak turun pangkat,
tapi malah naik: dari mandataris MPR menjadi Ketua MPR, pemberi
mandat. Sekaligus siapa tahu Pak Harto, yang diyakini banyak orang
merupakan tokoh terkuat Indonesia, dapat menularkan kekuatannya kepada
wakil-wakil rakyat yang diyakini banyak orang sangat lemah. Lagi pula,
sebagai Ketua MPR, Pak Harto masih bisa “mengatur”.Tapi, boleh jadi Pak Harto lupa–sebagaimana umumnya orang–bahwa MPR
ketika itu adalah lembaga tertinggi negara atau ia merasa enggan
menduduki kursi yang bekas diduduki kacungnya. Atau–ini yang lebih
mungkin–Pak Harto tidak membaca tulisan saya. Seandainya Pak Harto
benar-benar mau menjadi Ketua MPR, dan ini sangat mudah merekayasanya
waktu itu, mungkin sampai sekarang masih selamat. Tidak dijadikan
bulan-bulanan dan hujatan, termasuk oleh mereka yang kemarin bergelung
nikmat di balik ketiak kekuasaannya.Allahu Akbar! Wolak-walik-nya zaman! Rasanya baru kemarin orang-orang
berteriak hanya untuk mendukung atau diam karena takut. Wakil rakyat
tidak mewakili rakyat, tapi pemerintah (baca Pak Harto); digaji besar
untuk hanya mengatakan “ya” atawa diam. Pers pun semuanya tiarap.
Bahkan membela sesama tidak punya nyali, apalagi membela kepentingan
orang banyak.Allah Mahabesar! Reformasi telah membalik semuanya. Semuanya kini
berbalik. Mereka yang dulu sakit gigi, kini mendadak sembuh dan setiap
hari memamerkan gigi-gigi mereka. Mereka yang kemarin tiarap, kini
seperti sudah lama bangkit. Bahkan ada yang berbalik pada detik paling
akhir; dari menjilat Pak Harto berbalik–sedetik
kemudian–meludahinya.***
Di atas itu adalah pandangan saya di awal-awal reformasi, ketika
“burung baru saja terlepas dari sangkar”, ketika euforia keterbukaan
melanda negeri, dan pers nasional seperti kemaruk setelah sekian lama
tiarap.Kini pers dan murid-murid Pak Harto kembali “membangunkan”-nya justru
dari rumah sakit tempat jenderal besar itu terkapar. Saat ini
seolah-olah Pak Harto masih presiden dan yang lain, seperti di zaman
kejayaannya, hanyalah boneka gagu yang tidak punya pekerjaan kecuali
menunggu sabdanya. Diamnya pembina Golkar itu saat ini mungkin dikira
sama dengan diamnya dulu waktu masih berkuasa. Diam yang membuat orang
sekelilingnya deg-degan dan ketar-ketir.Untuk meramaikan suasana “kebangkitan” arsitek Orde Baru itu, dagelan
soal status hukumnya pun diwacanakan lagi. Terus diadili atau
dimaafkan. Seolah-olah bangsa ini memang serius menegakkan keadilan.
Seolah-olah di negeri ini, hukum masih sangat dihormati. Seolah-olah
kita semua bukan santri teladan Hadhratussyeikh Haji Muhammad
Soeharto.Orang lupa kepada falsafah Jawa yang sangat diagungkan oleh pemimpin
agung kita itu: mikul dhuwur mendhem jero, mengangkat martabat orang
tua setinggi-tingginya. Kalau benar kita mengakui Pak Harto sebagai
orang tua kita dan kita benar-benar mencintainya, kita mesti berusaha
mengangkat martabatnya; tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat
kelak.Ketika orang berbicara mengenai status hukum Pak Harto, orientasinya
selalu hanya dunia yang notabene akan ditinggalkan tidak hanya oleh
Pak Harto sendiri. Taruh kata Pak Harto dimaafkan atau dibebaskan dari
pengadilan dunia ini, apakah tidak terpikir oleh kita sebagai
“anak-anak”-nya yang percaya kepada akhirat bahwa di sana masih ada
pengadilan. Pengadilan yang pasti jauh lebih adil. Pengadilan yang
pasti steril dari korupsi-kolusi-nepotisme dan sogok-menyogok. Lalu?Ya, siapa saja yang mengaku cinta dan ingin yang terbaik untuk Pak
Harto mesti berpikir panjang hingga akhirat. Yang terbaik untuk Pak
Harto di akhirat tentulah apabila amal-amalnya diterima dan
dosa-dosanya diampuni oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil. Untuk
itu, siapa saja yang mengaku mencintai Pak Harto mesti berusaha ke
arah sana dengan memohon kepada Allah agar amal-amalnya diterima. Yang
lebih penting lagi, bagaimana agar dosa-dosa Pak Harto diampuni. Ini
tidak cukup hanya dengan memohonkan ampun kepada Allah. Sebab, ada
dosa manusia yang berkaitan dengan hak-hak sesama yang tidak akan
diampuni oleh Allah sebelum yang bersangkutan menyelesaikannya di
dunia ini. Kalau seseorang pernah, misalnya, menyakiti saudaranya, ya,
saudaranya itu harus dimintai maaf. Kalau seseorang pernah memakan hak
orang lain, ya, harus dimintakan ikhlas atau ditebus sehingga orang
yang bersangkutan mengikhlaskan. Demikian seterusnya, sampai tidak ada
lagi ganjalan terhadap sesama.Jadi, demi keselamatan Pak Harto di akhirat, persoalannya dengan
sesama mestilah diselesaikan di dunia ini. Mudah-mudahan dengan
demikian Bapak Pembangunan kita itu husnul khaatimah, tidak hanya
bahagia ketika hidup di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Amin.
koran
Halaman Utama
Dear smiling general, We wish you to the best end. But neither both of us can not avoid the Ultimate Court in the Day of Resurrection.
Popular Posts
- Kumpulan video Hadits Arbain Nawawi yang dibacakan Saad Al Ghamidy. Ada link downloadnya.
http://t.co/S2wjHH3N - I just downloaded the Cleanmag #Free #WordPress Theme by @WPExplorer -
http://t.co/yvyLqJho - I just downloaded the GoPress Free #WordPress Theme by @WPExplorer -
http://t.co/0VLHr1z4 - Live streaming dari Masjid Nabawi, Madinah
http://t.co/RylScts5 - live streaming Masjidil Haram 24 jam dari Mekkah
http://t.co/yKlrYyw8 - Siaran haji LIVE di youtube
http://t.co/DCVX8PAi - Menggunakan Macro MsOffice Pada
http://t.co/U7zuipkW - I've just entered @makeuseof's giveaway to win a FREE Samsung Galaxy S II! How awesome! Come join!
http://t.co/QHnGBB4E - Alhamdulillah, yiihaa...!! [Sekolah Rumah] Mendiknas: "Homeschooling" Itu Lebih Baik via @kompasdotcom
http://t.co/XO75QYR - Baru download contoh jadwal harian homeschooling ala Totto Chan
http://bit.ly/qsBFXD




Posted under: 
