Allah wa Rasuluhu

Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya

Suatu hari saya mengikuti sebuah acara seminar. Acara tersebut telah memasuki bagian akhir. Saya kemudian keluar dari ruangan untuk menunaikan sholat Ashar. Bersamaan dengan itu, di ruangan seminar sedang dibagikan door prize. Ketika saya kembali ke ruangan seminar, door prize telah habis dibagikan.

Sebagai manusia biasa, ada perasaan sesal di hati. Aduh, kenapa saya tadi tidak bertahan sebentar di dalam ruangan. Rasa dongkol itu mungkin akan bertambah bila saya yang sebenarnya mendapat door prize, namun karena diangap tidak hadir di ruangan maka hadiah tersebut diberikan ke peserta lain.

Allah wa Rasuluhu

Gambar kaligrafi dari http://www.artislamic.com/cc-4.html

Untuk mengobati rasa sesal itu saya mencoba menghibur diri. “Bukan rejeki awak”, bisik hati saya. Rejeki memang tidak akan lolos dari kita, sepanjang kita sudah berusaha. Allah tidak akan lupa atau salah memberikan rizki kita ke orang lain. Bukankah burung yang berangkat dari sarangnya di pagi hari dalam keadaan lapar, Allah beri rizki sehingga ia pulang ke sarangnya pada petang hari dalam keadaan kenyang?

Saya teringat sebuah kisah yang sangat menyentuh mengenai harta dunia. Kisah tersebut terjadi pada perang Hunain. Kisah ini terdapat dalam hadits Nabi shalallahu alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al-Musnad (3/76).

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mulai membagi-bagikan ghanimah kepada beberapa tokoh Quraisy dan kabilah ‘Arab; sama sekali tidak ada dari mereka satu pun yang dari Anshar. Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang mengatakan: “Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam sudah bertemu dengan kaumnya kembali.”

Kemudian masuklah Sa’d bin ‘Ubadah menemui Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, katanya: “Wahai Rasulullah. Orang-orang Anshar ini merasa tidak enak terhadap anda melihat apa yang anda lakukan dengan harta rampasan yang anda peroleh dan anda bagikan kepada kaummu. Engkau bagikan kepada kabilah ‘Arab dan tidak ada satu pun Anshar yang menerima bagian.”

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bertanya: “Engkau sendiri di barisan mana, wahai Sa’d?”

Katanya: “Saya hanyalah bagian dari mereka.”

Kata Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam: “Kumpulkan kaummu di tembok ini.”

Lalu datang beberapa orang Muhajirin tapi beliau biarkan mereka, dan mereka pun masuk. Datang pula yang lain, tapi beliau menolak mereka. Setelah mereka berkumpul, Sa’d pun datang, katanya: “Orang-orang Anshar sudah berkumpul untuk anda.”

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam pun menemui mereka, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau bersabda: “Wahai sekalian orang Anshar, apa pembicaraanmu yang sampai kepadaku? Apa perasaan tidak enak yang kalian rasakan dalam hati kalian? Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi hidayah kepada kamu melalui aku? Bukankah kamu miskin lalu Allah kayakan kamu denganku? Bukankah kamu dahulu bermusuhan lalu Allah satukan hati kamu?”

Kata mereka: “Bahkan Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi kebaikan dan keutamaan.”

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menukas: “Mengapa kamu tidak membantahku, wahai kaum Anshar?”

“Dengan apa kami membantahmu, wahai Rasulullah? Padahal kepunyaan Allah dan Rasul-Nya semua kebaikan serta keutamaan,” jawab orang-orang Anshar.

Kata Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam: “Demi Allah, kalau kamu mau, kamu dapat mengatakan dan pasti kamu benar dan dibenarkan: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami yang membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan terhina, kamilah yang membelamu. Engkau datang dalam keadaan terusir, kamilah yang memberimu tempat. Engkau datang dalam keadaan miskin, kamilah yang mencukupimu. Apakah kalian dapati dalam hati kamu, hai kaum Anshar keinginan terhadap sampah dunia, yang dengan itu aku melunakkan hati suatu kaum agar mereka menerima Islam, dan aku serahkan kamu kepada keislaman kamu. Tidakkah kamu ridha, hai orang-orang Anshar, manusia pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke kampung halamanmu membawa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan orang-orang Anshar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati lembah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar.”

Mendengar ini, menangislah orang-orang Anshar hingga membasahi janggut-janggut mereka, sambil berkata: “Kami ridha bagian kami adalah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam.”

Kemudian Rasulullah n pergi, dan kami pun bubar.

Teman-teman, siapa di antara Anda yang tidak memiliki mobil karena menyelamatkan diri dari riba, saya ucapkan, “Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya.” Kepada teman-teman yang masih ngontrak rumah, belum punya rumah, karena menghindar dari korupsi, saya ucapkan, “Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya.”

Bagi Anda yang terlewat dari kenikmatan dunia baik berupa harta, kendaraan, pasangan hidup, dll, karena disebabkan ia sedang menjaga hak-hak Allah. Saya ucapkan, “Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya.”

Jika Anda sedang menghadapi pilihan, antara yang hak dan yang batil. Jangan ragu-ragu, pilihlah yang hak! Tinggalkan yang batil! Serugi apa pun pilihan itu dari kacamata dunia. Karena dari pilihan tersebut, saya dengan bangga akan mengucapkan pada Anda, “Selamat! Anda telah memilih Allah dan Rasul-Nya.”

Terjemahan hadits, saya copy dari http://asysyariah.com/perang-hunain-bagian-3.html

Categories: Nyantri

  • saya suka tulisannya, ijin share yaa…terimakasih

    • silahkan mbak. senang sekali bisa berbagi. terimakasih kembali..

  • ijin save yak..