Jiwa Enterpreneur di Kaki Gunung Marapi

Di tahun 2012 ini, Turis Dinas berkesempatan mengunjungi Provinsi Sumatera Barat. Selama melaksanakan tugas di sana, Turis Dinas mendapatkan beberapa pengalaman sosial terkait kehidupan masyarakat setempat.

Tempat yang saya kunjungi adalah Jurong Tanah Nyaring, Kec. Ampek Angke, Kab. Agam. Letaknya di kaki Gunung Marapi, kota tedekat adalah Bukittinggi. Dari jendela rumah, saya bisa melihat Gunung Marapi dan Gunung Singgalang sekaligus. Hawa dingin sudah menyambut saya sejak dalam perjalanan.

Untuk mencapai lokasi tersebut, saya menghabiskan waktu 2 jam perjalanan darat dari kota Padang. Nanti ketika kembali pulang, saya hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai Bandara Intenasional Minangkabau di Pariaman. Jalanan mulus sampai ke kaki gunung Merapi dan Singgalang membuat perjalanan menjadi nyaman.

Sekedar intermezo, Gunung Marapi inilah yang sebenarnya lebih cocok menjadi setting cerita sandiwara radio Mak Lampir. Bukan Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah-Yogyakarta. Nama-nama tokoh cerita Mak Lampir seperti Sembara, Datuk Panglima Kumbang, Farida, Kakek Jabad, hampir tidak bisa kita temui di tanah Jawa, namun akan terasa lebih akrab di telinga warga Sumatera Barat. Teori ini saya dapat dari seorang kawan, sedikit berbeda dari teori bahwa Mak Lampir berasal dari Sumatera Selatan.

Kembali ke Jurong Tanah Nyaring, iklimnya sebagaimana daerah di kaki gunung. Siangnya terik, dilimpahi sinar matahari yang membakar. Langsung menyinari daratan tanpa terhalangi awan. Malamnya dingin, ditiup angin dari arah gunung. Pada dini hari, serangan embun yang turun dari gunung membasahi atap, pekarangan, kebun dan ladang.

Jurong berarti kampung. Di tanah Sumatera Barat ini, susunan pemerintahan adalah Kecamatan, Nagari dan Jurong. Tidak ada kelurahan atau desa. Sebagai ganti kepala desa, dikenal jabatan wali nagari.

Meskipun berada di lokasi pegunungan yang jauh dari pusat kota, penetrasi teknologi telah sampai di jurong ini. Telepon seluler sudah biasa digunakan oleh para pelajar dan remaja. Orang-orang dewasa memanfaatkannya untuk berkomunikasi menunjang usaha.

“Di Jurong Tanah Nyaring, di kaki gunung Merapi, sekitar 6 km dari kota Bukittinggi, saya bisa menikmati koneksi internet melalui sinyal Smart EVDO.”

Mayoritas penduduk Tanah Nyaring berprofesi sebagai wirausahawan, dan ada pula beberapa yang bertani. Pegawai kantor juga ada. Kebanyakan wirausaha bergerak di bidang konveksi atau jahit menjahit.

Aktivitas perdagangan memuncak di hari Rabu dan Sabtu. Hari-hari tersebut adalah hari pasar bagi penduduk setempat. Pasar-pasar dipenuhi oleh pedagang dan pembeli. Baik itu pasar sayur maupun pasar barang seperti baju dan asesorisnya. Pembeli datang dari luar daerah seperti Batam, Pekanbaru, dan Padang. Mereka memborong barang-barang yang tersedia di pasar.

Kesempatan ini betul-betul dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Pada malam Rabu dan Sabtu mereka mengerahkan segala kemampuan untuk dapat menyediakan barang yang akan dijual di pasar. Ada yang mengejar tenggat menyelesaikan pesanan pembeli. Pada malam-malam tersebut, aktivitas di malam hari sangat tinggi. Para pengepul mengumpulkan barang dari para rekanan mereka. Bongkar muat barang dan jemput barang terus dilakukan sampai pagi.

Kaum lelaki umumnya giat bekerja. Kaum wanita turut serta dalam mencari nafkah. Pekerjaan-pekerjaan berat seperti menggunting bahan dikerjakan oleh para pria. Sementara wanita mengerjakan pekerjaan yang lebih lembut seperti menyetrika dengan setrika uap bertekanan tinggi.

Seorang penjahit yang saya temui bercerita bahwa ia biasa mengerjakan jahitan di malam Rabu atau malam Sabtu sampai dini hari. Bahkan bisa-bisa sampai pagi ia bekerja! Saya pun merasakan semangat yang menjadi motivasi sang penjahit. Esok pagi, barang-barangnya akan diborong pedagang. Bagaimana mungkin ia tidak bersemangat? Jika ia melewatkan kesempatan ini, ia harus menanti hari pasar berikutnya untuk mendapatkan penghasilan. Seandainya para penjahit itu membuat laporan keuangan di malam hari-hari pasar, tentulah pos Persediaan akan disajikan mendahului Piutang karena likuiditasnya yang lebih tinggi. Hehehe..

Taraf kehidupan ekonomi di Tanah Nyaring secara umum sangat baik. Sebagai indikator kasar, di sini jarang sekali ditemui rumah yang kurang bagus. Umumnya rumah-rumah dibangun dengan bahan bangunan terbaik. Beberapa di antaranya bahkan tampak megah.

Rumah Gadang, 2012. photo by ahmadzakaria.net

Seorang petani labu bahkan sanggup menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Ia menanam labu di pekarangan rumah seluas kira-kira 100 m2 serta di halaman belakang seluas 300 m2. Labu-labu ini dijual kepada pedagang pengumpul di pasar yang akan mengirimnya ke Batam.

Ada pula penduduk jurong ini yang tidak serius bertani. Kenapa saya sebut tidak serius? Ia hanya menebar bibit jahe di tanah miliknya. Setelah itu ia diamkan saja. Pada saat membutuhkan uang, seperti pada hari Lebaran, barulah ia panen jahe-jahenya itu. Dengan cara ini saja, ia sudah mampu memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan bisa dikatakan hidupnya berlebih.

Kesuksesan bertani ini mengingatkan saya pada game-game populer, seperti Farmville dan Zombie Lane. Anda tinggal menanam bibit, setelah menanti masa tanam maka hasilnya tinggal dipanen dan dijual. Sounds like easy money huh? Jika Anda sempat melongok kebun milik para Top Player di game-game online, hampir dapat dipastikan ia menghasilkan uang dari bertani.

Yah begitulah adanya tanah kita Indonesa ini. Tanahnya subur dan disinari matahari sepanjang tahun. Sayang sekali potensi ini seperti tidak nampak di pelupuk mata kita. Kita ramai-ramai bersekolah dan juga menyekolahkan anak di bidang-bidang yang kerap tidak sejalan dengan keunggulan demografis kita.

Keindahan Alam Sumatera Barat, photo by ahmadzakaria.net

Kesejahteraan penduduk Jurong Tanah Nyaring juga dirasakan oleh seorang pemudik. Ia berasal dari Jakarta dan beristrikan wanita dari Tanah Jurong. Ketika lebaran, ia kesulitan mencari orang yang dapat disedekahi di Jurong Tanah Nyaring. Padahal sudah menjadi kebiasaannya untuk berderma di bulan Ramadhan.

Betapa kaya alam kita, serta betapa luas dan besar potensi ekonomi kita. Untuk dapat mengubahnya menjadi kesejahteraan, faktor manusia menjadi peran penting. Hal ini berbeda dengan yang dihadapi oleh masyarakat negeri empat musim. Mereka harus menaklukkan alam yang keras terlebih dahulu. Sementara dengan kekayaan alam yang kita miliki, kunci kemajuan kembali pada diri kita sendiri. Faktor alam sudah

Sambil menanti pesawat kembali ke ibukota, saya merenung. Sesungguhnya saya malu dengan produktivitas saya sebagai pekerja yang dibekali pengetahuan akademis pascasarjana, ternyata masih kalah dengan penjahit dan petani di kaki gunung. Mungkin kelak saya dapat merintis untuk bertani.

Saya menulis draft tulisan ini sambil menanti pesawat di ruang tunggu Bandara Internasional Minangkabau. Di sini, saya terkoneksi ke internet melalui sinyal EVDO Smart menggunakan modem CE 682.

-o0o-

foto-foto oleh ahmadzakaria.net © 2012

Categories: Turis Dinas

  • main Farmville dan Zombie Lane juga?? wah game favorite saya itu wkwkwkwk

    • Sama dong! Cuman game2 facebook udah saya tinggalin, lelet, bikin mangkel.