Catatan Kajian: Ceramah Syaikh Musa Nasr dan Syaikh Ali Hasan Ali Al-Halaby di Masjid Al-Fattah Jatinegara

Catatan Kajian ini sebagai catatan untuk anak-anakku kelak.

Bismillah.

Berikut ini catatan kajian ketika saya mengikuti ceramah di Masjid Al-Fattah Jatinegara. Tabligh diadakan pada hari Rabu, 25 Juni 2014 tanggal. Waktu mulai bada Maghrib sampai Isya.

Sesi Syaikh Muhammad Musa Alu Nasr

Umat Islam diberi bulan Ramadhan Fasilitas memperbanyak ganjaran yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya. Pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.

Beliau lalu membawakan hadits sbb:

Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah naik ke atas mimbar, kemudian beliau berkata : “Amin..amin. .amin..”. Kemudian ditanyakan (para sahabat), kepada beliau : “Wahai Rasulullah, saat Engkau naik ke atas mimbar, Engkau sampai mengatakan Amin (3x) (ada apakah gerangan?)” Kemudian Rasulullah memberikan keterangan sbb: “Jibril telah datang kepadaku dengan mengatakan : “Barang siapa yang telah datang kepadanya bulan Ramadhan(puasa) , kemudian dia tidak mendapatkan pengAMPUNan (pada bulan Ramadhan tersebut), maka ia dimasukkan kedalam api neraka, dan Allah jauh dari dirinya, maka katakanlah :Amin” Kemudian aku meng aminkannya. “Dan barang siapa yang mendapatkan orang tuanya (ketika keduanya masih hidup), atau salah satu diantara kedua orang tuanya masih hidup, sementara (dia mampu berbuat baik untuk kedua atau salah satu diantara keduanya), kemudian dia tak mau berbuat baik kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya (yang masih hidup tadi), kemudian mati, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka, dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka aku katakan :Amin” “Dan barang siapa yang dimana namaku disebutkan (didepannya) , kemudian dia tak memberikan shalawat kepadaku, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka katakanlah (wahai Muhammad SAW) (amin), maka aku katakan “Amin” (H.R Ibnu Hibban didalam kitab shahihnya 3:188). Catatan: hadits ini ditakhrij, tidak disampaikan dengan lengkap oleh Syaikh.

Beliau juga menyampaikan bahwa salah satu ibadah yang ganjarannya sangat besar adalah umroh di bulan Ramadhan. (Catatan: baca Keutamaan Umroh di Bulan Ramadhan).

Sampai di sini selesai penyampaian syaikh, dan beliau memberikan waktunya kepada syaikh Ali untuk menyampaikan materi.

 

Sesi Syaikh Ali Hasan Al-Halaby

Syaikh Ali menyampaikan Hukum-Hukum Fiqhiyyah Ramadhan (Masa’il Fiqhiyyah fii Ramadhan)

Kenapa membahas fiqh? Karena hadits Nabi,  “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan niscaya akan dipahamkan tentang masalah agama”.

1. Niat Puasa Ramadhan

Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat. Cara Niat: cukup berniat 1 kali untuk sebulan. Jika puasa Ramadhan kita terselangi/terjeda oleh hari tidak puasa karena sakita atau safar, maka ketika akan melanjutkan puasa lagi harus berniat lagi. Nanti di sesi tanya jawab, syaikh ditanya ttg dalil puasa dengan 1 niat untuk sebulan penuh. Syaikh menjawab: pemahaman ulama seperti itu, yakni perintah puasa Ramadhan adalah untuk sebulan, maka niatnya pun sebulan. Beliau mencontohkan, sholat Dhuhur yang 4 rakat apakah niatnya di tiap rakaat atau niat untuk menjalankan sholat seluruhnya?

2. Puasa memiliki makna menahan diri dari maksiat

Puasa secara bahasa artinya menahan diru dari sesuatu. Sementara secara istilah agama, puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan sejak fajar hingga malam. Namun, puasa juga memiliki makna menahan diri dari maksiat. Jika tidak menahan diri dari maksiat, meskipun puasanya tidak batal namun pahala puasanya akan sia-sia.

Hadits: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Termasuk maksiat yang mengurangi/menghilangkan pahala puasa adalah: ghibah, namimah dan maksiat secara umum.

Bahkan Ibnu Hazm berpendapat bahwa orang yang bermaksiat ketika puasa, batal puasanya. (nanti si sesi tanya jawab ada yg bertanya apakah orang yang berbohong batal puasanya)

 

3. Meninggalkan Perkataan Dusta

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Perkataan dusta  dalam hadits ini tidak terbatas pada sumpah palsu saja tetapi semua perkataan bohong.

Catatan tambahan

4. Puasa ketika safar maka mana yang lebih ringan apakah berbuka atau puasa, itulah yang dipilih.

Safar termasuk menggunakan pesawat, kapal laut, kereta dll. Semua termasuk kondisi safar.

Hadits “bukan termasuk kebaikan orang yang berpuasa ketika safar”, maka hadits ini terkait dengan kondisi. Jika melihat asbabul wurud hadits ini, adalah ketika seorang yang safar lalu ia berpuasa dan tidak kuat. Melihat kondisi orang tsb, nabi mengatakan “bukan termasuk kebaikan orang yang berpuasa ketika safar”. yakni ketika kondisinya tidak kuat/memudhorotkan.

Dikonfirmasi dengan hadits lain: “Sahabat safar bersama Nabi, ada yang puasa dan ada yang tidak puasa dan tidak saling menyalahkan.” Hal ini berarti dilihat kondisi musafir tersebut ketika safar. Jika ia kuat maka ia berpuasa, dan jika ia tidak kuat maka ia berbuka dan menggantinya di hari lain.

Materi tambahan:

5. Sahur dan Berbuka

Hadits “Kalau sudah terbenam, maka orang yang berpuasa harus sudah berbuka”.

 

Sesi Tanya Jawab

1. Apakah bohong membatalkan puasa?
Syaikh Musa menjelaskan, adapun pendapat Ibnu Hazm ttg batalnya puasa orang yang berbohong maka itu adalah pendapat pribadi beliau. Yang lebih tepat adalah dirinci sbb:
a. jika ia menghalalkan berbohong maka ia tidak hanya batal puasanya tapi juga batal islamnya (kafir) karena menghalalkan yang diharamkan Allah.
b. jika ia berbohong tetapi tidak sampai menghalalkan berbohong maka mengurangi pahala puasanya.

2. Dalil niat 1 kali dalam puasa Ramadhan
pemahaman ulama.

3. Bgmn puasa di tempatyang siangnya lebih panjang dari malamnya?
berpuasa mengikuti waktu setempat, bersama muslimin sepetmpat.
kondisi ini berbeda dengan hadits turunnya dajjal. maka waktu sholat yang diperkirakan tersebut berlaku ketika turunnya dajjal dan tidak dapat dikiaskan dengan kondisi siang yg lebih panjang dari malam.

4. Adakah puasa setengah hari bagi yang sakit?
Puasa setengah hari hanya ada untuk mengajari anak-anak puasa. (hadirin tertawa)

5. Memulai ramadhan menggunakan hisab atau rukyat?
Mengikuti pemerintah.

6. Menelan air wudhu ketika puasa
hadits istinsyar ketika berpuasa tidak terlalu dalam.

jika sudah maksimal mengeluarkan air dan memang tidak bisa seluruhnya keluar, maka tidak mengapa
jika sengaja, atau tidak berusaha secara maksimal agar ada yang tertinggal, maka batal.

7. Apakah wanita yang hamil atau menyusui wajib mengganti puasa?

Syaikh Ali menjawab: Ibnu Abbas menafsirkan QS Al Baqarah 184: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ yakni tentang mengganti ouasa dengan memberikan makanan bagi orang miskin, maka beliau menafsirkan bahwa laki-laki dan wanita yang tidak mampu berpuasa di bulan Ramadhan maka mengganti dengan memberi makan kepada orang miskin.

Syaikh menjelaskan bahwa jika wanita hamil yang khawatir puasanya berpengaruh pada bayinya maka tidak mengganti puasa tetapi cukup membayar fidyah. Demikian pula orang tua yang tidak tidak mampu lagi berpuasa, membayar fidyah.

Beliau membawakan atsar bahwa sahabat Anas bin Malik ketika sudah tua, beliau tidak mampu puasa dan mengganti dengan memberikan makanan kepada orang miskin.

Namun untuk wanita menyusui maka perlu dirinci kondisinya. Jika wanita menyusui tersebut kuat untuk berpuasa, lalu ia tidak berpuasa karena menyusui maka ia mengganti dan membayar fidyah. Jika wanita menyusui tersebut tidak kuat berpuasa maka hanya membayar fidyah dan tidak mengganti puasa.

Demikian catatan kajian ini, mohon maaf kalau banyak kesalahan dan kekurangan. Semoga bermanfaat.

Categories: Nyantri