Keluarga Uliansyah Memasak Bersama

Sama seperti umumnya sesama keluarga kaum urban di Jakarta coret, keluarga kami termasuk memanjakan anak-anak. Pelan-pelan, kami mencoba mulai membebankan tugas mengurus rumah dan diri sendiri kepada anak-anak. Salah satunya adalah dengan kegiatan memasak bersama.

Hari Sabtu lalu, istri saya mengikuti seminar Bahaya Pornografi untuk Anak dengan narasumber ibu Elly Risman. Resume nya bisa dibaca di blog istri saya. Salah satu pesan dalam seminar tersebut adalah mengantisipasi paparan pornografi pada anak dengan mengisi hari libur dengan kegiatan bersama keluarga. Menuruti saran bu Elly Risman tersebut, jadilah pada hari Ahad ini kami merencanakan untuk melakukan Masak Bersama.

Pada malam hari sebelum Masak Bersama, kami melakukan rapat keluarga untuk merencanakan kegiatan tersebut. Menu yang akan kami masak adalah Spaghetti. Menu ini kami pilih karena praktis dan sudah pernah beberapa kali kami buat sebelumnya. Lalu kami membuat daftar belanjaan yang harus dibeli esok hari di pasar.

Keesokan harinya, kami mulai menjalankan apa yang direncanakan sebelumnya. Semua daftar belanjaan bisa didapatkan. Sesampainya di rumah, kami mulai berbagi peran. Si Tengah Besar memotong bawang bombay dan menggeprek bawang putih, sementara saya dan si Kecil (yang sebentar lagi jadi Tengah Kecil) memotong Tomat menjadi bentuk dadu.

Setelah semua kegiatan memotong diselesaikan, kegiatan dilanjutkan dengan membuat pasta/saus. Caranya cukup sederhana, yaitu dengan menumis bawang putih, lalu memasukkan bawang bombay dan tomat. Setelah cukup layu, disusul dengan kornet dan saos tomat. Di tengah kegiatan ini, kami berdiskusi tentang pasta. Saya sempat mencontohkan mas Gio anak pak Adzan, pemilik resto Sapi Bali, yang membuka usaha resto Pasta Gio ketika masih SMP.

Kepuasan terbesar berikutnya adalah ketika Si Tengah Besar nyengir besar sebelum menyantap masakan sambil berkata, “Ini hasil KERJA KERAS kita!”

Saat menyantap Spaghetti yang terhidang, ada dua kepuasan yang saya dapat. Pertama, masakan tim Uliansyah memang enak. Kepuasan terbesar berikutnya adalah ketika Si Tengah Besar nyengir besar sebelum menyantap masakan sambil berkata, “Ini hasil KERJA KERAS kita!” Hehehe.. Bismillah, Itadakimasu! Slurrp… Dalam sekejap, mie-mie Eropa itu sudah masuk ke perut kami. Menyisakan tumpukan piring dan wajan kotor di bak cuci. Lho ini giliran siapa yang cuci..

Urusan mensyukuri nikmat makanan sudah sangat banyak dianjurkan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alayhi wassalam. Misalnya dalam hadits berikut ini:

Hadits Imam Ibnu Majah Nomor 4131

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي شُمَيْلَةَ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مِحْصَنٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Terjemahan

Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Sa’id] dan [Mujahid bin Musa] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Marwan bin Mu’awiyah] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Abu Syumailah] dari [Salamah bin ‘Ubaidullah bin Mihshan Al Anshari] dari [Ayahnya] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di pagi hari tubuhnya sehat, aman jiwanya dan memiliki makanan pokok pada hari itu, maka seolah-olah dunia telah dihimpun untuknya.” (dihasankan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 5918).

Setelah itu, ilustrasi tentang cara orangtua mengajarkan anak untuk mensyukuri makanan yang sangat mengena di hati saya adalah sepenggal fragmen di novel Serial Anak Mamak, ketika Pukat dan Burlian ogah-ogahan menghabiskan nasi mereka. Mamak lalu menyuruh mereka ikut Bapak untuk membuka ladang di hutan, menanam padi, mengurus padi selama tiga setengah bulan sampai panen, dst sampai membantu Mamak memasak di dapur dan menghidangkan makanan di meja. Sejak itulah Pukat dan Burlian sadar betapa banyak pengorbanan yang dilakukan untuk menghidangkan nasi di meja makan, dan sejak saat itu pula mereka berdua selalu menghabiskan makanan yang tersedia.

Piring Kotor

Mohon maaf, selama memasak, kami tidak sempat mendokumentasikan apa-apa. Dokumentasi baru terpikir ketika usai. Jadilah gambar bak cuci dan kompor ini  yang tersisa sebagai saksinya.. hahaha…

Pasta Tersisa, mau dibuat topping Pizza :p

Enak lho berkegiatan bersama orang-orang yang kita cintai. Apa kegiatan keluarga Anda yang berkesan? Silakan ceritakan kisah Anda di kotak komentar ya..

 

__

PS: Si Sulung tidak ikut karena sudah masuk boarding school.

Categories: Ngemong