Truk dan Ekonomi Bangsa

Siang itu saya berada dalam sebuah bus antar kota, terjebak di keramaian jalur tol Cikampek. Situasi itu sudah jamak dialami banyak orang, mungkin termasuk Anda juga. Kendaraan-kendaraan besar mendominasi ruas jalan. Tol dipenuhi dengan truk kontainer, truk kopel, truk box, truk engkel, truk tangki bahkan trailer dan tronton. Di jalur JORR, bertemu dengan truk adalah salah satu hal yang paling dihindari banyak orang. Kontur jalan yang turun naik, membuat kendaraan-kendaraan berbeban berat melambat dan menghambat kendaraan lain.

Berada di bangku penumpang bus ber-AC yang nyaman, mungkin telah turut membantu hati dan kepala saya lebih dingin. Lain hal kalau saya yang harus di balik kemudi. Atau menahan hajat di kendaraan tanpa kamar kecil. Akhirnya timbullah pikiran yang menjadi bahan tulisan kali ini.

Melihat kemacetan yang didominasi kendaraan besar itu, sebagian diri saya justru bersyukur. Hilir mudik kendaraan besar, menandakan ekonomi di negara ini masih terus berjalan. Dari sebuah truk saja kita bisa identifikasi pihak-pihak yang berperan secara ekonomi. Satu, produsen lokal. Lihat saja jika sebuah truk membawa barang-barang khas produksi lokal seperti sapi (yang bukan impor), ayam, sayuran, kayu, dll, maka kemungkinan besar masih ada produsen lokal yang masih produktif dan sedang membuat nilai tambah ekonomi. Dua, jika produk yang diangkut truk itu adalah barang import (seperti ponsel, televisi, dll) maka ingatlah bahwa ada importir lokal yang masih beroperasi. Tiga, jika barangnya adalah barang merk luar yang memiliki kandungan lokal lumayan tinggi, seperti mobil, motor, traktor, dll, maka ada ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) atau perwakilan lokal prinsipal atau korporasi yang memiliki pabrik perakitan yang masih menggunakan tenaga-tenaga lokal kita. Itu baru dari sisi produsen ya.

Sekarang mari kita lihat dari sisi konsumen. Umumnya, satu buah truk membawa barang dalam kuantitas besar. Jarang sekali ada konsumen akhir yang memesan satu buah truk. Artinya, di tempat tujuan truk, ada agen dan distributor yang masih hidup untuk menjalankan rantai nilai distribusi. Setelah itu, ada ribuan konsumen lokal yang masih punya rejeki untuk membeli produk yang sedang dibawa truk.

Sepanjang perjalanan truk tersebut, juga ada banyak pihak yang mendapat manfaat dari truk tersebut seperti SPBU, warung makan, warung rokok, dll. Trickle effect dari fenomena truk yang bikin macet, ternyata cukup luas tho. Nah, kalaupun analisis saya ini meleset, setidaknya masih ada seorang sopir yang digaji hari itu.

Jadi, meskipun saya tidak hapal dan tidak terlalu peduli dengan angka pertumbuhan ekonomi yang biasanya digunakan orang-orang, saya yakin dari indikator banyaknya truk di jalan raya saja kita sudah bisa mendapat sedikit gambaran tentang ekonomi kita.

* * *

Hal kedua yang saya renungkan adalah bahwa dengan mendominasinya truk di jalan raya, itu menandakan ekonomi kita memang bercirikan ekonomi konsumtif. Truk-truk pengangkut mobil dan motor termasuk yang cukup sering saya lihat di jalan tol. Selain itu, volume kendaraan dari Jakarta ke luar Jakarta secara kasat mata lebih banyak daripada dari sebaliknya. Ini indikator garis besar saja sih. Umumnya kawasan industri ada di Jakarta dan sekitarnya, maka kalau ada truk keluar dari kawasan industri ke non-industri sepertinya memang membawa barang untuk dijual.

Dari sekian banyak truk yang hilir mudik, tidak satupun yang bermerk lokal, AFAIK. Bahkan produk-produk pendukungnya seperti ban, suku cadang mesin, suku cadang non mesin pun masih didominasi produsen luar. Lha wong tukang tambal ban saja menggunakan lem impor dan kompresor impor.

Untuk hal kedua ini, idealisme saya masih mencoba berdamai dengan kenyataan. Meskipun hati masih berharap produksi lokal bisa meningkat untuk menghindari ketergantungan pada pihak luar. Toh konsumtif juga nggak buruk-buruk amat. Kita masih bisa makan sampai kenyang, bebas berpendapat, bebas beribadah, infrastruktur terus dibangun. Kurang apa lagi coba?

Urusan membangun keunggulan bangsa, ya memang harus dibangun pelan-pelan. Rasanya masih jauh untuk bisa menandingi Korea. Mereka sudah mulai merasakan enaknya dari hasil investasi di bidang riset. Atau China yang super efisien.

* * *

Tersentak dari lamunan, saya masih di Cikarang Barat. Di sini macet akibat truk, lebih luar biasa lagi. Namun seiring masuk ke ruas tol Cipali, jumlah truk yang menemani perjalanan saya semakin berkurang. Baguslah, saya bisa tidur lebih tenang tanpa harus merenungkan fenomena truk ini sepert yang saya tuliskan di atas…