Koran By Heart: Film dokumenter HBO tentang Hafidz Cilik

Film ini luar biasa.. Film ini betul-betul luar biasa.. Hehehe.. maaf kalau saya sampai menekankan berkali-kali. Tapi saya memang jarang mendapati film yang bisa saya nikmati seperti film Koran By Heart ini dan saya ingin membagi pengalaman menakjubkan ini dengan Anda.

Koran by Heart adalah sebuah film dokumenter yang dibuat oleh HBO. Film ini mengambil plot sebuah even besar di dunia Islam, yaitu lomba hafalan (tahfidz) Alquran yang diselenggarakan setiap tahun di Mesir. Lomba tersebut diikuti oleh 100 penghafal Alquran dari seluruh dunia setiap tahun.

Poster film Koran by Heart

Pada penyelenggaraan lomba tahfidz tahun 2010, ada tiga orang peserta lomba yang kisahnya diangkat dalam dokumenter ini. Mereka adalah Nabiollah, Rifdha dan Djamil. Nabilollah berasal dari Tajikistan, Rifdha berasal dari Maladewa (Maldives) dan Djamil dari Senegal, pesisir barat Afrika. Mereka bertiga memiliki kesamaan: sama-sama berusia 10 tahun dan sama-sama telah hafal Alquran 30 juz.

Tajikistan terletak di sebelah utara Asia, dan Nabiollah pun berasal dari ras Kaukasus (kebayang kan? bule banget). Sementara Maladewa terletak di Samudra Hindia. Anaknya lucu banget deh, dengan jilbab besarnya ia selalu bergerak aktif. Ia berprestasi di semua mata pelajaran sekolah, menyukai Matematika dan Sains, dan bercita-cita menjadi peneliti. Senegal terletak pesisir barat Afrika, dan seperti keluarga Senegal pada umumnya, Djamil hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu baik.

Ketika saya membuka Google Maps untuk melihat ketiga lokasi asal tokoh-tokoh kita ini, saya sangat terkejut. Jarak tempat tinggal ketiganya terpisah ribuan kilometer, namun mereka mempelajari Quran yang sama.

Antara Senegal, Tajikistan dan Maladewa

Ketiganya harus meninggalkan keluarga dan negara mereka untuk mengikuti lomba di Kairo, Mesir. Bahkan Djamil berangkat tanpa disertai oleh satupun sanak famili. Tantangan tersebut makin berat dengan waktu pelaksanaan lomba di dalam bulan Ramadhan. Artinya, para peserta harus berpuasa di siang hari dan berlomba di malam hari. Penggunaan komputer dalam perlombaan juga membuat beberapa peserta bertambah gugup. Komputer bertugas untuk ‘memberitahu’ peserta dari ayat mana ia harus memperdengarkan Quran.

Penilaian dilaksanakan oleh beberapa juri yang telah dikenal memiliki kompetensi dalam hafalan Quran. Jika peserta salah dalam melanjutkan ayat, dia akan dipotong setengah poin jika ia mampu menyadari kesalahannya. Namun, jika juri yang turun tangan membetulkan kesalahan, maka peserta kehilangan satu poin penilaian.

Selain ketiga tokoh utama film ini, saya mengagumi semangat seluruh peserta dalam menghafal Alquran. Menghafal Alquran tidak terbatas hanya bisa dilakukan oleh anak-anak dari Timur Tengah saja, namun seluruh dunia. Para hafidz lain yang muncul dalam dokumenter ini adalah Muhammad (10 tahun) dari Australia, Susana (17 tahun) dari Italia,  Naaman (10 thn) dari Afrika Selatan (tapi kalau dilihat dari tulisan Arabnya, ejaan yang lebih tepat mungkin Nu’man), Yasser (7 tahun) dari Mesir, Abdel (10 thn) dari Pakistan, Omar (19 thn) dari Nigeria, Susana (17 tahun) dari Italia,Abdullah (17 tahun) dari Mesir, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, film ini mampu mematahkan anggapan saya bahwa hanya anak-anak berbahasa Arab saja yang mampu menghafal 30 juz di usia dini.

Banyak lho yang merasa terkesan setelah menonton film ini. Misalnya Haena dari Bandung,  Kaskuser Oda Sensei dari Yogyakarta, Sultan Haidar Samlan dari Jerman, Risyad Tabattala dari Blitar, Adhwa Yahaya dari Malaysia, dan seorang kandidat doktor di Univ. Hokkaido (sebut saja namanya Ummu Harvy). Christopher Campbell, seorang blogger penyuka film, juga menyadari bahwa tahfidz Quran berbeda dengan kompetisi mengeja macam Spelling Bee atau Spellingbound.

Sang sutradara film, Greg Baker, dalam sebuah wawancara dengan majalah Filmmaker mengungkapkan pendapat pribadinya tentang film ini:

Jujur, saya tidak tahu bagaimana film ini akan ditanggapi. Ini adalah subjek asing bagi pemirsa Barat. Sehingga tantangannya adalah membawa seseorang ke dunia itu dan memastikan mereka tidak tersesat di dalamnya. Yang mengagumkan adalah pemirsa akhirnya memahami siapa yang melantunkan Alquran dengan indah dan mana yang bukan. Mereka terpaku pada anak-anak tersebut. Sebelum menonton, mereka tidak menyangka akan mendapati hal seperti itu dalam film.

Saya masih ingin bercerita tentang tokoh-tokoh dalam film ini. Mungkin di posting berikutnya. Menurut saya, mereka adalah sosok-sosok terpilih yang dititipi amanah hafalan Quran di dadanya.

Yang jelas, sulit bagi saya untuk menahan emosi ketika menonton film ini. Rasanya campur aduk melihat anak-anak seusia anak saya sudah mampu mencapai titik yang saya belum pernah capai. Iri, bangga, penasaran, terharu, dst. Mudah-mudahan Allah menambahkan ilmu dan semangat dalam diri saya dan keluarga saya untuk dapat menghafal Alquran. Mudah-mudahan Anda juga mendapatkannya! Amin.

Share

Menjadi Pahlawan Devisa melalui Online Marketing

Ekspor tenaga kerja rupanya menjadi salah satu andalan Indonesia. Setiap tahunnya sekitar 400.000 orang dikirim ke luar negeri untuk bekerja sebagai TKI. Sayangnya, pasar tenaga kerja yang dibidik hanyalah tingkat low-end alias pekerja kasar.

Namun melihat sumbangan yang diberikan para TKI nampaknya kita perlu mengacungkan jempol. Menurut sumber dari BPK, sumbangan devisa dari TKI mencapai US$ 4,37 miliar atau Rp 39,3 triliun setiap tahun. Sumber lain menyebutkan bahwa remitansi TKI mencapai angka US$ 6,617 miliar yang membuatnya menjadi sumber devisa terbesar kedua setelah ekspor migas.

Demo TKI di Hongkong

Banyaknya orang yang mengadu nasib di luar negeri menjadi cermin kondisi lapangan kerja di dalam negeri. Indonesia yang tadinya dikenal sebagai salah satu negara dengan keunggulan low-cost labor ternyata tidak mampu mempertahankan keunggulan itu. Industri-industri asing berbasis tenaga kerja, sudah eksodus ke negara lain.

Apakah dengan demikian potensi bekerja bergaji tinggi hanya bisa ditemui di luar negeri? Ternyata tidak demikian. Berterimakasihlah pada teknologi internet. Saat ini industri online marketing sedang bangkit di Indonesia. Hal ini ditandai dengan munculnya komunitas-komunitas online marketing. Sebut saja forum adsense-id.com. Forum yang memiliki ribuan anggota ini, aktif berbagi ilmu dan informasi seputar online marketing. Para anggota forum saling membagikan ilmu dan membimbing anggota baru untuk dapat menghasilkan penghasilan.

Industri yang bergantung pada internet ini memungkinkan orang-orang Indonesia untuk bekerja mendatangkan devisa tanpa perlu meninggalkan tanah air. Waktu yang tersita pun tidak banyak. Anda masih bisa meluangkan waktu untuk dinikmati bersama keluarga dan teman karib.

Selain itu, pendapatan yang dihasilkan dari online marketing adalah fair untuk seluruh dunia. Tarif pendapatan memang dibuat secara global oleh para broker iklan. Hal ini tentu sangat menguntungkan dibandingkan bekerja pada pekerjaan multinasional yang memiliki kebijakan penggajian yang tidak adil. Contoh paling baru yang kita temui adalah ketidakadilan sistem penggajian Freeport yang memicu karyawan Indonesia untuk mogok kerja.

Sistem pentarifan pendapatan online marketing tidak memandang lokasi geografis, ras, agama, umur, jenis kelamin, ataupun atribut-atribut sosial lainnya. Para publisher iklan (demikian para pekerja online ini kerap disebut) hanya dinilai berdasarkan kinerjanya saja. Semakin baik ia membuat iklan mencapai targetnya, maka semakin besar pula ia menghasilkan pendapatan dari sana. Merit system seperti ini sangat baik diterapkan untuk dapat menjaring potensi SDM Indonesia. Lain halnya dengan sistem di birokrasi PNS atau sebagian perusahaan swasta yang cenderung feodal, sehingga dapat mematikan potensi anak-anak muda Indonesia. (Lebih parah lagi kalau justru mereka terkontaminasi watak dan budaya korupsi).

Untuk dapat menikmati itu semua, hanya ada satu syarat yang harus Anda miliki: Anda harus melek internet.

Berbagai skema penghasilan online marketing menawarkan pilihan dan fleksibilitas dalam mendatangkan penghasilan. Kita dapat memilih skema mana yang paling mungkin kita jalani.

Belum ada data mengenai berapa besar devisa yang dihasilkan dari usaha online marketing yang dijalani oleh anak-anak muda Indonesia. Namun sebagai gambaran kasar, sebuah polling di forum adsense-id.com ini dapat memberikan gambaran berapa besar devisa yang didatangkan dari para pejuang online ini.

Polling Earnings Adsense

Data polling tersebut mungkin saja tidak akurat. Namun sepanjang belum ada data lain yang lebih baik, kita dapat menggunakannya sebagai gambaran saja. Kalau masih tidak yakin, Anda dapat melakukan konfirmasi ke salah satu publisher iklan. Caranya, mampir saja ke forum adsense dan menanyakan ke salah seorang anggota di sana, berapa pendapatan per bulannya.

Katakanlah, 58 orang yang mengaku memiliki pendapatan di atas US$ 10,000 setiap bulan tidak kita masukkan dalam perhitungan. Kemudian, nilai yang digunakan adalah nilai tengah dari masing-masing rentang (untuk rentang $100-$200 kita gunakan $150). Total devisa yang didatangkan dari online marketing adalah:

440 x $ 50 = 22,000
128 x $ 150 = 19,200
135 x $ 250 = 33,750
90 x $ 750 = 67,500
72 x $ 1500 = 108,000
34 x $ 3000 = 102,000
27 x $ 7000 = 189,000
Total US$ 541,500 atau senilai Rp 4,76 miliar (kurs 8.800).

Nilai 4,76 miliar rupiah memang masih ribuan kali lebih kecil dibanding devisa dari TKI. Namun ingat, data tersebut baru berasal dari anggota satu forum saja. Selain itu, menjadi publisher iklan juga lebih terhormat, tidak berisiko kematian (sependek pengetahuan saya), berbasis kecerdasan bukan tenaga kasar semata, terhindar dari pungli, terhindar dari risiko pemerkosaan dan pelecehan, dll. Apalagi biaya koneksi internet di Indonesia sudah semakin murah dan kualitas koneksi yang makin baik.

Tertarik terjun menjalani online marketing dan menjadi pahlawan devisa bagi Indonesia? Mari sama-sama belajar dan berjuang.

Share

Diksi itu Penting

Mau Bebas Korupsi? Pilih No. 3

Gambar ini diambil saat Pilkada Banten 2006 lalu.

Ada yang aneh dalam pemilihan kata di baliho ini. Ada ambiguitas makna dari gimmick yang diusung calon gubernur nomor 3.

Mau Bebas Korupsi? Pilih No. 3

Artinya kan bisa:

  1. Mau (ter)bebas (dari) korupsi; atau
  2. Mau bebas (ber)korupsi.
Share

Kabupaten Pasir

Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Pasir di Kalimantan Timur. Saya ditugaskan selama tiga hari untuk melakukan bimbingan teknis seputar Keuangan Daerah.

Dalam perjalanan ini banyak hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari kesempatan menaiki Boeing 737-900 ER, menyeberang selat Makassar menggunakan ferry kecil, perenungan yang dalam ketika jauh dari rumah, dll.

Dalam perjalanan Jakarta-Balikpapan, saya berkesempatan mencicipi pesawat terbaru di dunia, Boeing 737-900 ER. Pesawat berkapasitas 215 penumpang tersebut baru dioperasikan oleh Lion Air sejak Senin, 30 April 2007 lalu. Bahkan peresmiannya dilakukan oleh Jusuf Kalla.

Lion 737-900 ER
Continue reading

Share

Parade Militer di Layar Perak

Cinemax: It Came from Beneath the Sea

Minggu yang lalu di Ketapang [link], saya nonton film Cinemax It Came from Beneath the Sea di saluran Indovision di hotel tempat saya menginap. Film jadul banget yang diproduksi tahun 1955 ini ceritanya mirip-mirip Godzilla. Karena radiasi, seekor gurita raksasa menyerang San Fransisco. Special efeknya oke punya, pake teknik stop-motion-animated. Jadi kayak film Dinosaurus jaman hitam putih gitu. Nah, yang menarik perhatian saya adalah: banyaknya alat perang yang dilibatkan dalam film ini. Mulai dari kapal selam, kapal perang, pesawat terbang, artileri, sampe yang keren tuh waktu pasukan Penyembur Api Angkatan Darat mengusir si Gurita Raksasa dari daratan.

Transformers

Minggu ini saya berkesempatan menonton film Transformers di Bintaro Plaza, Jakarta. Niatnay sih untuk hiburan anak saya. Tapi saya pribadi kurang puas dengan jalinan cerita yang disusun. Terlalu bertele-tele. Untuk mencari kacamata Kapten Archibald Witwicky saja sampai menghabiskan waktu sekian puluh menit.

Ada kesamaan antara dua film itu, dan juga film-film produksi Hollywood lainnya. Mereka sama-sama menjadi corong AS untuk unjuk gigi kekuatan militernya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Transformers digunakan untuk promosi piranti tempur F-22 Raptor.

* * *

Di Indonesia sendiri masih sangat sedikit film yang menonjolkan kekuatan militer negeri ini. Seingat saya hanya “Perwira dan Ksatria” (1990) yang dibintangi Dede Yusuf yang mengekspose kehidupan Taruna Akademi Angkatan Udara, dan perwira lulusannya.

Juga ada satu lagi sinetron satu seri yang pernah ditayangkan di TVRI mengenai kehidupan Taruna Akademi Angkatan Laut. Saya masih ingat ada adegan:

  1. Taruna junior yang main biliar, padahal hanya taruna tingkat III yang boleh menggunakan fasilitas itu;
  2. Ritual mencari kakak asuh dengan cara junior menerobos ke graha senior;
  3. Dihukum di atas lemari dengan menyanyikan lagi, “Aku sedih, duduk sendiri, Mama pergi, Papa pergi..”
  4. Dan satu lagi, ketika seorang taruna meloloskan diri pada malam hari menggunakan kano melalui saluran air, untuk mengunjungi pacarnya. (kalau ngak salah sekalian melamar deh).

Apa mungkin film itu yang berjudul “Pelangi di Nusa Laut”? Mmm.. kayaknya bukan deh.

* * *

Parade militer yang biasa kita saksikan di depan podium, ternyata sudah berpindah ke layar lebar. Gaungnya lebih luas, ditonton lebih banyak orang, mbayar lagi! Efeknya cukup lumayan, buktinya ada yang bercita-cita jadi istri pilot pesawat tempur gara-gara nonton Perwira dan Ksatria.

Btw, yang ngimpi Indonesia buat Military Movies nggak cuman saya lho. Ada juga perwira TNI yang serius mikirin pengen buat film kayak Top Gun. Kita tunggu deh!

Share

Alasan Menolak Pemain Naturalisasi

Di koran tempo hari ini (Jumat, 13 Juli 2007) halaman A21, SMS dukungan saya ke Timnas PSSI ditampilkan. :D

“Pertahankan keaslian sepakbola Indonesia! Tanpa pemain naturalisasi pun kita bisa! Terbukti!”

Kira2 begitu bunyinya. Ditampilkan sebagai sms terakhir.

Dari awal saya memang sudah su’udzon dengan rencana PSSI menggunakan jalur naturalisasi untuk mendongkrak prestasi. Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat saya berpendirian demikian:

Continue reading

Share

Kaukus Palestina DPR RI

Rapat DPR

Jumat 28 Juni 2007, ketika saya hadir dalm salah satu rapat DPR, ada pamflet tertempel menginformasikan berita berikut ini:

Kaukus Palestina, Abdurrahman Zaidan

KAUKUS PALESTINA DPR RI

Mengundang Bapak/Ibu, Anggota DPR untuk hadir dan mendengarkan secara langsung Perkembangan Kondisi Terakhir Tawanan Anggota Parlemen Palestina di Penjara Israel.

Oleh:
Dr. Abdurrahman Zaidan
(Anggota Parlemen Palestina)

Senin, 7 Juli 2007
Pukul 11.00 – 13.00
RUANG RAPAT KOMISI XI
GEDUNG NUSANTARA / Lt. 1 DPR RI

Wah sayang cuman untuk anggota dewan nih. Kita tunggu aja beritanya.

Update:

Wah lieur euy.. bener kata orido, ini pamflet untuk bulan Mei 2007. Saya sempet mikir2, kan ada rapat hari Selasa depan, itu tuh tanggal 10 Juli. Mustinya Senin tanggal 9 dong. Ternyata memang salah bulan.

Mengenai Kaukus Palestina sendiri, ada beberapa sumber berita:

Tapi berita tentang hasil kehadiran Abdurrahman Zaidan sendiri saya belum dapet. Cari dimana ya? Hmm.. coba kita tanya pak Almuzzammil Yusuf.

Share