<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Uliansyah.Or.Id &#187; admin</title>
	<atom:link href="http://www.uliansyah.or.id/author/admin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.uliansyah.or.id</link>
	<description>kegelisahanku adalah untuk berkarya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 10:13:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Koran By Heart: Film dokumenter HBO tentang Hafidz Cilik</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2011/10/koran-by-heart-film-dokumenter-hbo-tentang-hafidz-cilik.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2011/10/koran-by-heart-film-dokumenter-hbo-tentang-hafidz-cilik.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 09:55:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Film ini luar biasa.. Film ini betul-betul luar biasa.. Hehehe.. maaf kalau saya sampai menekankan berkali-kali. Tapi saya memang jarang mendapati film yang bisa saya nikmati seperti film Koran By Heart ini dan saya ingin membagi pengalaman menakjubkan ini dengan &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2011/10/koran-by-heart-film-dokumenter-hbo-tentang-hafidz-cilik.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Film ini luar biasa.. Film ini betul-betul luar biasa.. Hehehe.. maaf kalau saya sampai menekankan berkali-kali. Tapi saya memang jarang mendapati film yang bisa saya nikmati seperti film Koran By Heart ini dan saya ingin membagi pengalaman menakjubkan ini dengan Anda.</p>
<p>Koran by Heart adalah sebuah film dokumenter yang dibuat oleh <a title="HBO's Koran By Heart" href="http://www.hbo.com/documentaries/koran-by-heart/index.html" target="_blank" rel="external nofollow">HBO</a>. Film ini mengambil plot sebuah even besar di dunia Islam, yaitu lomba hafalan (tahfidz) Alquran yang diselenggarakan setiap tahun di Mesir. Lomba tersebut diikuti oleh 100 penghafal Alquran dari seluruh dunia setiap tahun.</p>
<p><img class="size-full wp-image-335 aligncenter" title="HBO's Koran by Heart" src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/10/koran-by-heart.jpg" alt="Poster film Koran by Heart" width="400" height="593" /></p>
<p>Pada penyelenggaraan lomba tahfidz tahun 2010, ada tiga orang peserta lomba yang kisahnya diangkat dalam dokumenter ini. Mereka adalah Nabiollah, Rifdha dan Djamil. Nabilollah berasal dari Tajikistan, Rifdha berasal dari Maladewa (Maldives) dan Djamil dari Senegal, pesisir barat Afrika. Mereka bertiga memiliki kesamaan: sama-sama berusia 10 tahun dan sama-sama telah hafal Alquran 30 juz.</p>
<p>Tajikistan terletak di sebelah utara Asia, dan Nabiollah pun berasal dari ras Kaukasus (kebayang kan? bule banget). Sementara Maladewa terletak di Samudra Hindia. Anaknya lucu banget deh, dengan jilbab besarnya ia selalu bergerak aktif. Ia berprestasi di semua mata pelajaran sekolah, menyukai Matematika dan Sains, dan bercita-cita menjadi peneliti. Senegal terletak pesisir barat Afrika, dan seperti keluarga Senegal pada umumnya, Djamil hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu baik.</p>
<p>Ketika saya membuka Google Maps untuk melihat ketiga lokasi asal tokoh-tokoh kita ini, saya sangat terkejut. Jarak tempat tinggal ketiganya terpisah ribuan kilometer, namun mereka mempelajari Quran yang sama.</p>
<p><a href="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/10/peta-koran-by-heart.png"><img class="alignnone size-full wp-image-337" title="peta-koran-by-heart" src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/10/peta-koran-by-heart.png" alt="Antara Senegal, Tajikistan dan Maladewa" width="985" height="577" /></a></p>
<p>Ketiganya harus meninggalkan keluarga dan negara mereka untuk mengikuti lomba di Kairo, Mesir. Bahkan Djamil berangkat tanpa disertai oleh satupun sanak famili. Tantangan tersebut makin berat dengan waktu pelaksanaan lomba di dalam bulan Ramadhan. Artinya, para peserta harus berpuasa di siang hari dan berlomba di malam hari. Penggunaan komputer dalam perlombaan juga membuat beberapa peserta bertambah gugup. Komputer bertugas untuk &#8216;memberitahu&#8217; peserta dari ayat mana ia harus memperdengarkan Quran.</p>
<p>Penilaian dilaksanakan oleh beberapa juri yang telah dikenal memiliki kompetensi dalam hafalan Quran. Jika peserta salah dalam melanjutkan ayat, dia akan dipotong setengah poin jika ia mampu menyadari kesalahannya. Namun, jika juri yang turun tangan membetulkan kesalahan, maka peserta kehilangan satu poin penilaian.</p>
<p>Selain ketiga tokoh utama film ini, saya mengagumi semangat seluruh peserta dalam menghafal Alquran. Menghafal Alquran tidak terbatas hanya bisa dilakukan oleh anak-anak dari Timur Tengah saja, namun seluruh dunia. Para hafidz lain yang muncul dalam dokumenter ini adalah Muhammad (10 tahun) dari Australia, Susana (17 tahun) dari Italia,  Naaman (10 thn) dari Afrika Selatan (tapi kalau dilihat dari tulisan Arabnya, ejaan yang lebih tepat mungkin Nu&#8217;man), Yasser (7 tahun) dari Mesir, Abdel (10 thn) dari Pakistan, Omar (19 thn) dari Nigeria, Susana (17 tahun) dari Italia,Abdullah (17 tahun) dari Mesir, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, film ini mampu mematahkan anggapan saya bahwa hanya anak-anak berbahasa Arab saja yang mampu menghafal 30 juz di usia dini.</p>
<p>Banyak lho yang merasa terkesan setelah menonton film ini. Misalnya <a title="Ulasan Haena " href="http://haena1510.blogspot.com/2011/08/film-islami-koran-by-heart.html" target="_blank" rel="external nofollow">Haena</a> dari Bandung,  Kaskuser <a title="Ulasan Oda Sensei" href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10172937" target="_blank" rel="external nofollow">Oda Sensei</a> dari Yogyakarta, <a title="Ulasan Sultan" href="http://hiburan.kompasiana.com/film/2011/09/04/koran-by-heart-kontestan-cilik-penghafal-quran/" target="_blank" rel="external nofollow">Sultan Haidar Samlan</a> dari Jerman, <a title="Ulasan Risyad Tabattala " href="http://risyadtabattalasays.wordpress.com/2011/08/22/1585/" target="_blank" rel="external nofollow">Risyad Tabattala</a> dari Blitar, <a title="Ulasan Adhwa Yahaya" href="http://neokhilafah.blogspot.com/2011/08/koran-by-heart.html" target="_blank" rel="external nofollow">Adhwa Yahaya</a> dari Malaysia, dan <a title="Ulasan Ateta Mom" href="http://atetamom.wordpress.com/2011/08/28/koran-by-heart-a-review/" target="_blank" rel="external nofollow">seorang kandidat doktor</a> di Univ. Hokkaido (sebut saja namanya Ummu Harvy). <a title="Tahfidz is not like Spellingbound" href="http://nothingbutthedoc.wordpress.com/2011/08/01/doc-review-koran-by-heart/" target="_blank" rel="external nofollow">Christopher Campbell</a>, seorang blogger penyuka film, juga menyadari bahwa tahfidz Quran berbeda dengan kompetisi mengeja macam Spelling Bee atau Spellingbound.</p>
<p>Sang sutradara film, Greg Baker, dalam sebuah wawancara dengan majalah <a title="Wawancara Filmmaker dengan Greg Baker" href="http://www.filmmakermagazine.com/news/2011/08/koran-by-heart-director-greg-barker/" target="_blank" rel="external nofollow">Filmmaker</a> mengungkapkan pendapat pribadinya tentang film ini:</p>
<blockquote><p>Jujur, saya tidak tahu bagaimana film ini akan ditanggapi. Ini adalah subjek asing bagi pemirsa Barat. Sehingga tantangannya adalah membawa seseorang ke dunia itu dan memastikan mereka tidak tersesat di dalamnya. Yang mengagumkan adalah pemirsa akhirnya memahami siapa yang melantunkan Alquran dengan indah dan mana yang bukan. Mereka terpaku pada anak-anak tersebut. Sebelum menonton, mereka tidak menyangka akan mendapati hal seperti itu dalam film.</p></blockquote>
<p>Saya masih ingin bercerita tentang tokoh-tokoh dalam film ini. Mungkin di posting berikutnya. Menurut saya, mereka adalah sosok-sosok terpilih yang dititipi amanah hafalan Quran di dadanya.</p>
<p>Yang jelas, sulit bagi saya untuk menahan emosi ketika menonton film ini. Rasanya campur aduk melihat anak-anak seusia anak saya sudah mampu mencapai titik yang saya belum pernah capai. Iri, bangga, penasaran, terharu, dst. Mudah-mudahan Allah menambahkan ilmu dan semangat dalam diri saya dan keluarga saya untuk dapat menghafal Alquran. Mudah-mudahan Anda juga mendapatkannya! Amin.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2011%2F10%2Fkoran-by-heart-film-dokumenter-hbo-tentang-hafidz-cilik.html&amp;title=Koran%20By%20Heart%3A%20Film%20dokumenter%20HBO%20tentang%20Hafidz%20Cilik" id="wpa2a_2"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2011/10/koran-by-heart-film-dokumenter-hbo-tentang-hafidz-cilik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Pahlawan Devisa melalui Online Marketing</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2011/10/hello-world.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2011/10/hello-world.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 15:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[A little bit Techie]]></category>
		<category><![CDATA[Riset Kecil2an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Ekspor tenaga kerja rupanya menjadi salah satu andalan Indonesia. Setiap tahunnya sekitar 400.000 orang dikirim ke luar negeri untuk bekerja sebagai TKI. Sayangnya, pasar tenaga kerja yang dibidik hanyalah tingkat low-end alias pekerja kasar. Namun melihat sumbangan yang diberikan para &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2011/10/hello-world.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ekspor tenaga kerja rupanya menjadi salah satu andalan Indonesia. Setiap tahunnya sekitar <a title="400.000 TKI diekspor setiap tahun" href="http://www.tabloiddiplomasi.org/current-issue/141-diplomasi-september-2011/1204-setiap-tahun-lebih-dari-400-ribu-wni-berangkat-keluar-negeri-untuk-mencari-nafkah.html" target="_blank" rel="external nofollow">400.000 orang</a> dikirim ke luar negeri untuk bekerja sebagai TKI. Sayangnya, pasar tenaga kerja yang dibidik hanyalah tingkat <em>low-end</em> alias pekerja kasar.</p>
<p>Namun melihat sumbangan yang diberikan para TKI nampaknya kita perlu mengacungkan jempol. Menurut sumber dari BPK, sumbangan devisa dari TKI mencapai US$ 4,37 miliar atau <a title="Devisa TKI" href="http://finance.detik.com/read/2011/06/24/174602/1668088/4/wow-tki-sumbang-devisa-rp-39-triliun-per-tahun" target="_blank" rel="external nofollow">Rp 39,3 triliun</a> setiap tahun. Sumber lain menyebutkan bahwa <a title="Devisa TKI kedua setelah Migas" href="http://www.fahmina.or.id/artikel-a-berita/berita/845-tki-sumbang-devisa-negara-terbesar-kedua-setelah-migas-.html" target="_blank" rel="external nofollow">remitansi TKI</a> mencapai angka US$ 6,617 miliar yang membuatnya menjadi sumber devisa terbesar kedua setelah ekspor migas.</p>
<p><img class="alignnone" title="Demo TKI di Hongkong" src="http://b.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/tki-hk-jilbba.JPG" alt="Demo TKI di Hongkong" width="560" height="372" /></p>
<p>Banyaknya orang yang mengadu nasib di luar negeri menjadi cermin kondisi lapangan kerja di dalam negeri. Indonesia yang tadinya dikenal sebagai salah satu negara dengan keunggulan <em>low-cost labor</em> ternyata tidak mampu mempertahankan keunggulan itu. Industri-industri asing berbasis tenaga kerja, sudah eksodus ke negara lain.</p>
<p>Apakah dengan demikian potensi bekerja bergaji tinggi hanya bisa ditemui di luar negeri? Ternyata tidak demikian. Berterimakasihlah pada teknologi internet. Saat ini industri online marketing sedang bangkit di Indonesia. Hal ini ditandai dengan munculnya komunitas-komunitas online marketing. Sebut saja <a title="Forum Adsense Indonesia" href="http://www.adsense-id.com/forums/forum.php" target="_blank" rel="external nofollow">forum adsense-id.com</a>. Forum yang memiliki ribuan anggota ini, aktif berbagi ilmu dan informasi seputar online marketing. Para anggota forum saling membagikan ilmu dan membimbing anggota baru untuk dapat menghasilkan penghasilan.</p>
<p>Industri yang bergantung pada internet ini memungkinkan orang-orang Indonesia untuk bekerja mendatangkan devisa tanpa perlu meninggalkan tanah air. Waktu yang tersita pun tidak banyak. Anda masih bisa meluangkan waktu untuk dinikmati bersama keluarga dan teman karib.</p>
<p>Selain itu, pendapatan yang dihasilkan dari online marketing adalah fair untuk seluruh dunia. Tarif pendapatan memang dibuat secara global oleh para broker iklan. Hal ini tentu sangat menguntungkan dibandingkan bekerja pada pekerjaan multinasional yang memiliki kebijakan penggajian yang tidak adil. Contoh paling baru yang kita temui adalah ketidakadilan sistem penggajian Freeport yang memicu karyawan Indonesia untuk mogok kerja.</p>
<p>Sistem pentarifan pendapatan online marketing tidak memandang lokasi geografis, ras, agama, umur, jenis kelamin, ataupun atribut-atribut sosial lainnya. Para publisher iklan (demikian para pekerja online ini kerap disebut) hanya dinilai berdasarkan kinerjanya saja. Semakin baik ia membuat iklan mencapai targetnya, maka semakin besar pula ia menghasilkan pendapatan dari sana. <em>Merit system</em> seperti ini sangat baik diterapkan untuk dapat menjaring potensi SDM Indonesia. Lain halnya dengan sistem di birokrasi PNS atau sebagian perusahaan swasta yang cenderung feodal, sehingga dapat mematikan potensi anak-anak muda Indonesia. (Lebih parah lagi kalau justru mereka terkontaminasi watak dan budaya korupsi).</p>
<p>Untuk dapat menikmati itu semua, hanya ada satu syarat yang harus Anda miliki: Anda <strong>harus melek internet</strong>.</p>
<p>Berbagai skema penghasilan online marketing menawarkan pilihan dan fleksibilitas dalam mendatangkan penghasilan. Kita dapat memilih skema mana yang paling mungkin kita jalani.</p>
<p>Belum ada data mengenai berapa besar devisa yang dihasilkan dari usaha online marketing yang dijalani oleh anak-anak muda Indonesia. Namun sebagai gambaran kasar, sebuah polling di forum adsense-id.com ini dapat memberikan gambaran berapa besar devisa yang didatangkan dari para pejuang online ini.</p>
<p><a href="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/10/polling-pendapatan.png"><img class="alignnone size-full wp-image-327" title="Polling Pendapatan" src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/10/polling-pendapatan.png" alt="Polling Earnings Adsense" width="264" height="350" /></a></p>
<p>Data polling tersebut mungkin saja tidak akurat. Namun sepanjang belum ada data lain yang lebih baik, kita dapat menggunakannya sebagai gambaran saja. Kalau masih tidak yakin, Anda dapat melakukan konfirmasi ke salah satu publisher iklan. Caranya, mampir saja ke forum adsense dan menanyakan ke salah seorang anggota di sana, berapa pendapatan per bulannya.</p>
<p>Katakanlah, 58 orang yang mengaku memiliki pendapatan di atas US$ 10,000 setiap bulan tidak kita masukkan dalam perhitungan. Kemudian, nilai yang digunakan adalah nilai tengah dari masing-masing rentang (untuk rentang $100-$200 kita gunakan $150). Total devisa yang didatangkan dari online marketing adalah:</p>
<p>440 x $ 50 = 22,000<br />
128 x $ 150 = 19,200<br />
135 x $ 250 = 33,750<br />
90 x $ 750 = 67,500<br />
72 x $ 1500 = 108,000<br />
34 x $ 3000 = 102,000<br />
27 x $ 7000 = 189,000<br />
<strong>Total US$ 541,500</strong> atau senilai Rp 4,76 miliar (kurs 8.800).</p>
<p>Nilai 4,76 miliar rupiah memang masih ribuan kali lebih kecil dibanding devisa dari TKI. Namun ingat, data tersebut baru berasal dari anggota satu forum saja. Selain itu, menjadi publisher iklan juga lebih terhormat, tidak berisiko kematian (sependek pengetahuan saya), berbasis kecerdasan bukan tenaga kasar semata, terhindar dari pungli, terhindar dari risiko pemerkosaan dan pelecehan, dll. Apalagi biaya koneksi internet di Indonesia sudah semakin murah dan kualitas koneksi yang makin baik.</p>
<p>Tertarik terjun menjalani online marketing dan menjadi pahlawan devisa bagi Indonesia? Mari sama-sama belajar dan berjuang.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2011%2F10%2Fhello-world.html&amp;title=Menjadi%20Pahlawan%20Devisa%20melalui%20Online%20Marketing" id="wpa2a_4"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2011/10/hello-world.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diksi itu Penting</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/diksi-itu-penting.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/diksi-itu-penting.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2007 05:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/diksi-itu-penting/</guid>
		<description><![CDATA[Gambar ini diambil saat Pilkada Banten 2006 lalu. Ada yang aneh dalam pemilihan kata di baliho ini. Ada ambiguitas makna dari gimmick yang diusung calon gubernur nomor 3. Mau Bebas Korupsi? Pilih No. 3 Artinya kan bisa: Mau (ter)bebas (dari) &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/diksi-itu-penting.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Mau Bebas Korupsi? Pilih No. 3" src="http://farm2.static.flickr.com/1221/873849071_6a14a5df4d.jpg?v=0" alt="Mau Bebas Korupsi? Pilih No. 3" width="400" height="320" /></p>
<p>Gambar ini diambil saat <a title="Pilkada Banten" href="http://www.kompas.com/ver1/PilkadaBanten/" target="_blank" rel="external nofollow">Pilkada Banten</a> 2006 lalu.</p>
<p>Ada yang aneh dalam pemilihan kata di baliho ini. Ada ambiguitas makna dari gimmick yang diusung calon gubernur nomor 3.</p>
<blockquote><p>Mau Bebas Korupsi? Pilih No. 3</p></blockquote>
<p>Artinya kan bisa:</p>
<ol>
<li>Mau (ter)bebas (dari) korupsi; atau</li>
<li>Mau bebas (ber)korupsi.</li>
</ol>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F07%2Fdiksi-itu-penting.html&amp;title=Diksi%20itu%20Penting" id="wpa2a_6"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/diksi-itu-penting.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kabupaten Pasir</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/kabupaten-pasir.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/kabupaten-pasir.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2007 04:22:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turis Dinas]]></category>
		<category><![CDATA[paser]]></category>
		<category><![CDATA[pasir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Pasir di Kalimantan Timur. Saya ditugaskan selama tiga hari untuk melakukan bimbingan teknis seputar Keuangan Daerah. Dalam perjalanan ini banyak hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari kesempatan menaiki Boeing 737-900 ER, menyeberang selat &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/kabupaten-pasir.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Pasir di Kalimantan Timur. Saya ditugaskan selama tiga hari untuk melakukan bimbingan teknis seputar Keuangan Daerah.</p>
<p>Dalam perjalanan ini banyak hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari kesempatan menaiki Boeing 737-900 ER, menyeberang selat Makassar menggunakan ferry kecil, perenungan yang dalam ketika jauh dari rumah, dll.</p>
<p>Dalam perjalanan Jakarta-Balikpapan, saya berkesempatan mencicipi pesawat terbaru di dunia, <a title="737-900 ER" href="http://www.boeing.com/commercial/737family/pf/pf_900ER_back.html" target="_blank" rel="external nofollow">Boeing 737-900 ER</a>. Pesawat berkapasitas 215 penumpang tersebut baru dioperasikan oleh Lion Air sejak Senin, 30 April 2007 lalu. Bahkan <a href="http://www.kompas.com/ver1/Nasional/0704/30/095825.htm" target="_blank" rel="external nofollow">peresmiannya</a> dilakukan oleh Jusuf Kalla.</p>
<p><img title="Lion 737-900 ER" src="http://farm2.static.flickr.com/1096/873505776_37fde7ec7e.jpg?v=0" alt="Lion 737-900 ER" /><br />
<span id="more-17"></span><br />
Pesawat baru tersebut cukup enak (ya iya lah, namanya juga pesawat baru..). Jarak antar kursi lebih luas dari Boeing 737-400 yang biasanya saya tumpangi. Pintu darurat pun tersedia lebih banyak, yaitu 2 di depan, 4 di tengah dan 4 di belakang. Saya duduk di kursi 20B, tepat di samping pintu darurat tengah. Tadinya saya sempat kecewa, karena berdasarkan pengalaman, biasanya pada Boeing 737-400 kursi di samping jendela darurat kurang nyaman dibanding kursi biasa. Beberapa kali saya menemui, sandaran kursi di samping jendela darurat tidak dapat di-adjust. Tapi ternyata hal tersebut tidak terjadi di <a href="http://www.boeing.com/commercial/737family/pf/pf_900ER_fact.html" target="_blank" rel="external nofollow">Boeing 737-900 ER</a> ini. Mudah-mudahan bukan karena pesawat masih baru ya..</p>
<p>Pintu darurat juga memiliki mekanisme yang lebih mudah untuk dibuka. Cukup dengan menarik satu tuas dan mendorong pintu ke arah keluar. Tentu cara ini lebih sederhana daripada cara lama: tarik dua tuas atas-bawah, tarik sampai copot, baru dibuang ke luar.</p>
<p>Nah, empat pintu darurat di tengah itu letaknya bersebelahan. Di samping kursi baris nomor 19 dan 20. Sehingga evakuasi dapat dilakukan lebih cepat.</p>
<p>Di luar pintu darurat, terdapat simbol anak panah yang dicat di sayap pesawat untuk memandu arah evakuasi penumpang. Anak panah hitam putus-putus dicat di atas jalur berwarna kuning yang mengarah ke ekor pesawat. Panduan tersebut tentu sangat mempermudah penumpang yang umumnya panik dalam keadaan darurat.</p>
<p><img title="Boeing 737-900 ER Lion" src="http://farm2.static.flickr.com/1376/873505814_fdb662f117.jpg?v=0" alt="Boeing 737-900 ER Lion" /><br />
<a name="longtimeboarding"></a><br />
Satu hal yang membuat saya kurang nyaman mengendarai pesawat baru ini adalah lamanya waktu untuk masuk dan keluar pesawat. Wajar sih. Jika dalam keadaan penuh, berarti ada 215 orang yang antri untuk memasuki pesawat dari dua pintu saja. Di dalam pesawat juga hanya tersedia satu <em>aisle</em>/lorong di tengah pesawat. Padahal lebar kabin mencapai 3,5 meter. Di beberapa pesawat berkapasitas besar, terdapat dua aisle di dalam pesawat. Jadilah saya memilih untuk menunggu di luar pesawat menunggu penumpang lain boarding. Itung2 memberi kesempatan bagi yang membawa barang bawaan untuk meletakkannya di bagasi atas kepala.</p>
<p>Sambil menunggu, saya ngobrol2 dengan teknisi pesawat di bawah sayap pesawat. Dari beliau, saya mendapat info bahwa 737-900 ER ini baru satu-satunya yang sudah dicat dengan logo Lion Air. &#8220;Dua yang lain masih berwarna biru, asli dari Boeing, Mas&#8221;, jelasnya.</p>
<p>Dengan panjang 42 meter, pesawat ini memiliki lebar plus bentang sayap sepanjang 35 meter. Di ujung, sayap melengkung ke atas membentuk segitiga kecil. Mungkin untuk membuat gerakan abdominal lebih stabil.</p>
<p align="center">*   *   *</p>
<p>Perjalanan udara disambung dengan perjalanan darat yang tidak kalah serunya. Saya dijemput oleh dua rekan dari Pemda Pasir menggunakan Kijang Innova mobil operasional Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD). Kami menyempatkan makan siang di rumah makan di seberang RSUD Balikpapan. Wuah..menunya ikan semua. Saya memilih ikan Patin bakar, sementara Amrullah lebih suka Trekulu bakar, dan Zelli memesan Bawal bakar. Satu lagi menu yang tidak dapat saya lupakan, sayur pendamping yang hanya berupa sayur bening kol dan bayam itu benar-benar segar!</p>
<p>Dari Balikpapan, kami harus menyeberang ke Penajam. Saya sempat khawatir kami harus menunggu jadwal keberangkatan ferry. &#8220;Setiap setengah jam ferry diberangkatkan. Tidak perlu menunggu penuh&#8221;, jelas Zelli menenteramkan saya. Bahkan kami tidak perlu antri terlalu lama untuk dapat memasukkan mobil ke dalam ferry. Motor, mobil, dan truk ditata dengan baik di dek bawah kapal. Penumpang ditempatkan di dek bagian atas. &#8220;Sayang kita cuma dapat ferry ASDP, padahal lebih cepat kalau menggunakan KM. Tawes&#8221;, komentar Amrullah.</p>
<p>Lama penyeberangan mencapai 2 setengah jam. Ferry mengeluarkan suara peluit tiga kali sebelum berangkat. Perlahan, ferry melepaskan diri dari dok. Berputar, lalu berjalan mengarah ke haluan. Tidak terlalu cepat, ditambah sedikit bergoyang-goyang.</p>
<p>Di dek penumpang, terdapat dua dek untuk penumpang. Setiap dek memiliki sekitar 40 kursi berjajar yang menghadap ke sebuah televisi. Keduanya hanya dipisahkan oleh dinding. Penumpang bebas memilih duduk di mana saja.</p>
<p>Dek diisi oleh berbagai jenis penumpang. Ada yang bersama keluarga, ada pula yang bersama teman. Anak-anak berebut memilih duduk di samping jendela, berteriak-teriak senang sambil melambai ke kapal yang melintas. Orangtua sibuk memperingatkan untuk tidak terlalu menjulurkan badan keluar.  &#8220;Awas jatuh, nak!&#8221;, seorang ibu memerintahkan anak yang lebih tua untuk menjaga adiknya.</p>
<p><img title="Ferry Balikpapan-Penajam" src="http://farm2.static.flickr.com/1183/873505818_bb3eebc8ca.jpg?v=0" alt="Ferry Balikpapan-Penajam" /></p>
<p>Amrullah memilih tetap berada di mobil. Zelli terkantuk-kantuk duduk di samping saya. Saya menyempatkan menunaikan sholat Dhuhur dan Ashar di musholla kapal sebelum berangkat. Tertulis petunjuk di dinding musholla, &#8220;Arah Kiblat dari Penajam ke arah haluan serong kanan 20 derajat. Dari Sumber arah buritan serong kanan 20 derajat.&#8221;</p>
<p>Ferry berjalan bagai tersaruk-saruk.</p>
<p>Di Penajam, ferry harus menunggu setengah jam untuk dapat merapat ke dermaga. Mengantri dengan ferry lain yang masih bersandar. Ketika pintu ferry telah terbuka, petugas ASDP pun sibuk memandu kendaraan yang keluar ferry. Saya dan Zelli turun ke dermaga dari tangga samping, menunggu Amrullah mengeluarkan mobil melalui muster area. Saat mobil kami dipersilahkan keluar, tiba-tiba mobil di samping kami menyodok ingin keluar duluan. Kaca spion mobil kami terhantam badan mobil itu. Amrullah marah. Kami diminta cepat-cepat masuk mobil. Dikejarnya mobil itu sambil menekan klakson. Padahal Manorsa sedang menelpon. Jadilah saya berlari-lari mengejar mobil dengan ponsel terlekat ke telinga.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Kami mencapai Tanah Grogot pukul 20.00 WITA. Mampir ke RM. Depot Surabaya untuk makan malam. Tempatnya enak. Menunya kebanyakan masakan Jawa. Tersedia tempat makan lesehan, namun kami memilih duduk di kursi. Yang mencengangkan, di dinding terdapat TV Plasma berukuran super besar. Dari tempat paling ujung pun, gambar televisi terlihat jelas.Rupanya rumah makan ini menyediakan fasilitas karaoke. Petang itu alunan video klip Chrisye menemani pengunjung dari sound system yang terpasang baik.</p>
<p>Selesai makan, saya diantar ke Hotel Mama Rina. Sebuah penginapan dekat kantor Pemda. Saya berterimakasih kepada Amrullah dan Zelli yang telah mengurus kedatangan saya dengan baik.  &#8220;Besok kami jemput,&#8221; janji mereka.</p>
<p>Selepas melepas lelah, saya mengabari rumah mengenai kondisi saya. Sinyal Indosat yang turun naik membuat saya urung menelpon. Cukup dengan SMS yang itupun terkirim beberapa saat kemudian menunggu sinyal yang memadai. Untungnya Motorola C650 memiliki fitur auto-resend kalau gagal kirim.</p>
<p>&#8220;Dede Yasmin masih mencret,&#8221; kabar Ary istri saya. &#8220;Feses pertama besok pagi, dibawa ke lab ya..&#8221;, pinta saya. Kabar yang membuat hati saya terbang kembali ke Jakarta.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p><strong> Kerajaan Pasir</strong><br />
Kabupaten Pasir ini dahulunya adalah sebuah kerajaan bernama <a title="Kesultanan Pasir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pasir" target="_blank" rel="external nofollow">Kesultanan Pasir</a>, atau dikenal juga dengan Kerajaan Sadurangas. Bahkan wilayahnya mencapai Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan [link travelling tanah bumbu]. <a title="Phetex Urang Banjar" href="http://phetex.urangbanjar.com/?p=59" target="_blank" rel="external nofollow">Bambang Subiyakto</a> punya cerita tentang Kerajaan Pasir ini. Latar belakang sejarah Kesultanan Pasir cukup berpengaruh pada Kabupaten Pasir sekarang ini, sampai-sampai situs Pemda Pasir mencantumkannya dalam <a title="Sejarah Pasir" href="http://pasir.go.id/default.php?file=sejarah" target="_blank" rel="external nofollow">sejarah pembentukan</a> daerah tersebut.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Keesokan harinya, saya dijemput agak siang. Amrullah yang datang.  &#8220;Maaf terlambat. Setelah apel pagi, tadi ada acara pemusnahan miras dipimpin pak Bupati&#8221;, dalihnya. Di depan gedung Pemda memang ada sebuah ekskavator berdiri gagah di samping tumpukan botol yang pecah. Aromanya luar bisa menusuk. &#8220;Tak perlu minum, cukup membaui saja juga bisa mabok,&#8221; canda saya.</p>
<p>Gedung Pemda Kabupaten Pasir bisa dibilang cukup bagus. Di atas rata-rata dibanding kantor-kantor pemda yang pernah saya kunjungi (biasanya saya dikirim ke daerah-daerah pemekaran atau terisolasi, jadi ya sarana pemerintahannya masih minim). Ruangan ber-AC. Terdiri dari 2 lantai. Luasnya kira-kira separuh lapangan bola.</p>
<p>Di lantai satu ada bidang Anggaran di sebelah kanan dan bidang Pendapatan di sebelah kiri pintu masuk. Kegiatan cukup ramai di Anggaran, sementara Pendapatan terlihat sepi. Orang-orang di Anggaran sibuk memroses SPP. Orang-orang Pendapatan sedang turun ke lapangan untuk mendata wajib pajak daerah.</p>
<p>Saya ditemui dengan baik oleh pak Syahdani, Kasubid Pendapatan. Saya pun menunaikan tugas yang menjadi maksud perjalanan dinas kali ini. Dua jam kami bertukar data saling mencocokkan. Beruntung, sebelum datang saya sudah mem-faks surat tugas sehingga rekan-rekan Tanah Grogot sudah menyiapkan apa-apa yang diminta. Sebaliknya, saya pun menyampaikan bimbingan teknis seputar masalah perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.</p>
<p>Usai tugas, kami ngobrol bebas. Pak Abdur Rohim, Kasubid Anggarang, ikut bergabung. Mereka bercerita tentang daerah Pasir. Pemekarannya dengan <a title="Penajam Paser Utara" href="http://www.penajam.go.id/home/index.php" target="_blank" rel="external nofollow">Penajam</a>. Usia BPKD yang baru setengah bulan. <a href="http://hsecreport.bhpbilliton.com/2006/environment/caseStudies/rehabilitationAndClosure/petangisClosure.asp" target="_blank" rel="external nofollow">Konservasi alam BHP di Petangis</a>. Dan banyak hal lagi.</p>
<p>Kebetulan pekan sebelum berangkat, Manorsa datang ke kantor kami. Beliau adalah personal assistant salah satu direktur di BHP Billiton. Manorsa membawakan sebuah buku berisi gambar-gambar yang cantik. Hutan yang hijau rimbun, rusa bebas berkeliaran, danau tempat berwisata, dan lain-lain. Siapa sangka danau itu bekas lokasi pertambangan. Pun demikian dengan hutan, tadinya adalah lahan gersang lokasi pertambangan.</p>
<p>Tiba-tiba ponsel bergetar, Ary istri saya menelpon. &#8220;Hasil lab dede Yasmin sudah keluar. Nanti sore dibawa ke DSA.&#8221; Aduh sedihnya hati ini. Buah hati sedang menderita di ujung lain lautan. Sementara saya menjalankan tugas pemerintah jauh di sana. Saya sampaikan kabar itu ke pak Syahdani dan pak Rohim. Saya utarakan niat saya untuk segera pulang ke Jakarta. Mereka pun sontak bahu-membahu membantu saya. Pak Syahdani mengoordinasi. Zelli memesankan tiket. Amrullah menyiapkan kendaraan. &#8220;Urusan anak memang tidak boleh dianggap remeh&#8221;, hibur pak Rohim.</p>
<p>Saya sempat khawatir, di tengah musim liburan sekolah seperti ini masih adakah tiket yang tersisa. Kalau pun ada, tentu harganya melambung. Untung, Zelli ada kawan di travel yang pandai mencarikan tiket. Saya pun dapat penerbangan pukul 18.55 WITA. Hitung-hitung waktu perjalanan, saya harus sesegera mungkin bertolak ke Balikpapan. Saya masih harus menempuh dua setengah jam perjalanan darat ditambah menyeberang selat.</p>
<p>Ketika menunggu mobil disiapkan, pak Akhdiat (Kepala Bidang Pendapatan) sudah kembali dari acara di DPRD. Saya juga sempat bertemu dengan pak Sanusi One, Kepala BPKD Pasir.</p>
<p>Siang itu saya bertolak kembali ke Balikpapan diantar oleh Amrullah. Sepanjang perjalanan kami mengobrol layaknya sahabat lama. Amrullah menceritakan keluarganya, anaknya, dan pengalamannya selama bertugas di Pendapatan. &#8220;Pernah saya mendata reklame milik pensiunan Polisi. Dia dan istrinya marah-marah. Alasannya, papan ini kan dibuat sendiri, dipasang di lahan sendiri, kenapa harus bayar lagi ke Dispenda? Saya jelaskan berkali-kali pun mereka tidak paham. Akhirnya saya katakan, terserah mau bayar atau tidak, saya cuman mendata. Tak perlu marah-marah, memaki-maki. Retribusi reklame padahal hanya 75 ribu setahun, tak sebanding dengan usaha BBM, kelontong dan semua usaha yang dijalankan Bapak itu. Seminggu kemudian, Bapak itu ditegur Satpol PP. Ditanyai mana izin usahanya, IMBnya, kelengkapan surat-surat. Mereka datang ke Tapem (Tata Pemerintahan). Kata orang Tapem, datang dulu ke Dispenda minta bukti pelunasan semua tagihan retribusi, baru segala ijin bisa diurus. Nah, baru mereka datang ke kantor saya. Di Dispenda, gantian saya cuekin saja. Mereka minta-minta tolong meminta data retribusi saya tempo hari, untuk dilunasi di kasir. Saya bilang, tak mau saya keluarkan. Tunggu saja pendataan berikutnya. Kalau seandainya mereka dulu bersikap baik kepada saya, tentu saya bantu.&#8221;</p>
<p>Di tengah perjalanan, sebaris SMS datang dari rumah. &#8220;Ayah, kenapa tidak ada yang datang menawarkan bantuan? Padahal kita sudah menolong mereka ketika dibutuhkan.&#8221; Saya membalas, &#8220;Itulah tandanya beramal ikhlas kepada Allah. Barang siapa berharap kepada manusia maka bersiap-siaplah untuk kecewa, karena manusia yang diharapkan itu pasti tidak bisa memenuhi keinginan kita. Berharaplah pada pertolongan Allah semata, bukan pada pertolongan manusia.&#8221; Saya makin bertanya-tanya, separah apakah sakit anakku Yasmin?</p>
<p>Karena mengejar waktu, Amrullah hanya mengantar sampai ke pelabuhan Penajam. Dicarikannya saya speed boat untuk menyeberang ke Balikpapan. &#8220;Lebih baik menuju Semayang, karena lebih dekat ke Bandara Sepinggan daripada pelabuhan Kampung Baru&#8221;, jelasnya.</p>
<p><img title="Pelabuhan Penajam" src="http://farm2.static.flickr.com/1009/873505826_422fbd7955.jpg?v=0" alt="Pelabuhan Penajam" /></p>
<p>Amrullah yang berasal dari suku Bugis tidak kesulitan mencarikan speed boat untuk saya, karena kebanyakan pengemudi speed boat orang Bugis juga. Saya pun berpamitan, menitipkan rasa terima kasih saya kepada seluruh pimpinan dan rekan-rekan BPKD Pasir yang sudah membantu tugas saya.</p>
<p>Speed boat melaju membelah ombak selat Makassar. Di kanan kiri saya banyak terlihat kapal-kapal besar berlabuh di luar pelabuhan. Agak jauh ke tengah laut ada rig-rig kilang minyak. Kapal-kapal kecil berlalu lalang. Ramai sekali. Speed boat terangguk-angguk melompati ombak.</p>
<p><img title="Selat Makassar" src="http://farm2.static.flickr.com/1004/873505882_e45d5ba8f8.jpg?v=0" alt="Selat Makassar" /></p>
<p>Di tengah perjalanan, saya mencoba untuk berdiri. &#8220;Berdiri paling enak kalau laju pak,&#8221; kata juru mudi. Kecepatan pun ditambah. Speed boat makin terlompat-lompat. Kecepatannya cukup tinggi untuk membuat mata saya berair. Sama seperti ketika saya mengendarai motor. Sambil berpegangan satu tangan menjaga keseimbangan saya mencoba mengambil gambar dari speed boat yang melaju.</p>
<p align="center">*   *   *</p>
<p>Beberapa kali kejadian kurang mengenakkan terjadi ketika saya bertugas di luar kota. Akhir tahun kemarin ketika saya ke Lebong [link], Bengkulu, adik saya sakit dan akhirnya wafat. Kabar tak enak dari rumah yang menghantui ketika saya di luar kota, tentu menghabiskan pikiran dan energi lebih.</p>
<p>Di dalam agama kami, terdapat <a title="Rukun Iman" href="http://www.almanhaj.or.id/content/1544/slash/0" target="_blank" rel="external nofollow">6 rukun iman</a> seperti yang disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 177, &#8220;Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi&#8230;&#8221;. Dan juga sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits &#8216;Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab. &#8220;Artinya : Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada qadar yang baik maupun buruk.&#8221;</p>
<p>Semua anak muslim di negara kami pasti sudah tahu akan hal ini. Hanya saja, dulu waktu saya SD, saya tidak paham apa yang dimaksud dengan iman kepada takdir. Apalagi jika dijabarkan iman kepada takdir baik dan buruk. Rukun iman pertama sampai kelima, saya sedkit banyak paham bagaimana cara dan rasanya. Tapi iman kepada takdir itu praktiknya bagaimana?</p>
<p>Belakangan saya baru paham. Penjabaran iman kepada takdir buruk dipaparkan dalam hadits Nabi. Tidak boleh berandai-andai jika mengalami keburukan. Contohnya, &#8220;Seandainya ruang ICU di Rumah Sakit Haji tidak penuh tentu adik saya mendapatkan perawatan yang lebih baik.&#8221; Kata-kata seperti itulah yang dilarang. Dan kesabaran untuk tidak mengeluarkan kata-kata seperti itu menjadi amalan hati dalam praktik iman kepada takdir.</p>
<p>Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa kematian sudah ditentukan bagi tiap manusia. Tidak akan dimajukan dan dimundurkan sedikit pun. Walaupun nanti ada intervensi doa dalam penulisan takdir. Itu dijelaskan lain kali saja.</p>
<p>Sesampainya di Jakarta, saya membawa Yasmin ke dokter dan dilanjutkan dengan pemeriksaan lab. Alhamdulillah, kondisi Yasmin berlangsung membaik.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F07%2Fkabupaten-pasir.html&amp;title=Kabupaten%20Pasir" id="wpa2a_8"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/kabupaten-pasir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Parade Militer di Layar Perak</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/parade-militer-di-layar-perak.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/parade-militer-di-layar-perak.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2007 03:12:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/parade-militer-di-layar-perak/</guid>
		<description><![CDATA[Minggu yang lalu di Ketapang [link], saya nonton film Cinemax It Came from Beneath the Sea di saluran Indovision di hotel tempat saya menginap. Film jadul banget yang diproduksi tahun 1955 ini ceritanya mirip-mirip Godzilla. Karena radiasi, seekor gurita raksasa &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/parade-militer-di-layar-perak.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.cinemaxasia.com/images/heading_logo_max.png?1181830869" alt="Cinemax: It Came from Beneath the Sea" title="Cinemax: It Came from Beneath the Sea" /></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Minggu yang lalu di Ketapang [link], saya nonton film <a href="http://www.cinemaxasia.com/cinemax/movie/1647" target="_blank" title="Cinemax: It Came from Beneath the Sea" rel="external nofollow">Cinemax</a> <a href="http://www.imdb.com/title/tt0048215/" title="It Came from Beneath the Sea" rel="external nofollow">It Came from Beneath the Sea</a> di saluran <a href="http://www.uliansyah.or.id/It%20Came%20from%20Beneath%20the%20Sea" target="_blank" title="Indovision">Indovision</a> di hotel tempat saya menginap. Film jadul banget yang diproduksi tahun 1955 ini ceritanya mirip-mirip Godzilla. Karena radiasi, seekor gurita raksasa menyerang San Fransisco. Special efeknya oke punya, pake teknik <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stop_motion" title="Stop Motion" target="_blank" rel="external nofollow">stop-motion-animated</a>. Jadi kayak film Dinosaurus jaman hitam putih gitu. Nah, yang menarik perhatian saya adalah: banyaknya alat perang yang dilibatkan dalam film ini. Mulai dari kapal selam, kapal perang, pesawat terbang, artileri, sampe yang keren tuh waktu pasukan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Flamethrower" title="Flame Thrower" target="_blank" rel="external nofollow">Penyembur Api</a> Angkatan Darat mengusir si Gurita Raksasa dari daratan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><img src="http://www.transformersmovie.com/images/tf1.jpg" alt="Transformers" title="Transformers" height="149" width="585" /> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Minggu ini saya berkesempatan menonton <a href="http://www.transformersmovie.com/" target="_blank" title="Transformers" rel="external nofollow">film</a> <a href="http://www.imdb.com/title/tt0418279/" target="_blank" title="Transformers" rel="external nofollow">Transformers</a> di Bintaro Plaza, Jakarta. Niatnay sih untuk hiburan anak saya. Tapi saya pribadi kurang puas dengan jalinan cerita yang disusun. Terlalu bertele-tele. Untuk mencari kacamata <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Spike_Witwicky#Captain_Archibald" title="Archibald Witwicky" target="_blank" rel="external nofollow">Kapten Archibald Witwicky</a> saja sampai menghabiskan waktu sekian puluh menit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ada kesamaan antara dua film itu, dan juga film-film produksi Hollywood lainnya. Mereka sama-sama menjadi corong AS untuk unjuk gigi kekuatan militernya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Transformers digunakan untuk <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/29/muda/3634461.htm" target="_blank" title="Transformers, Promosi F-22 Raptor" rel="external nofollow">promosi piranti tempur F-22 Raptor</a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center">* * *</p>
<p><span lang="IN">Di Indonesia sendiri masih sangat sedikit film yang menonjolkan kekuatan militer negeri ini. Seingat saya hanya &#8220;Perwira dan Ksatria&#8221; (1990) yang dibintangi Dede Yusuf yang mengekspose kehidupan Taruna Akademi Angkatan Udara, dan perwira lulusannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Juga ada satu lagi sinetron satu seri yang pernah ditayangkan di TVRI mengenai kehidupan Taruna Akademi Angkatan Laut. Saya masih ingat ada adegan:</span></p>
<ol start="1" style="margin-top: 0in" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Taruna junior yang main biliar,      padahal hanya taruna tingkat III yang boleh menggunakan fasilitas itu;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Ritual mencari kakak asuh dengan cara      junior menerobos ke graha senior;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Dihukum di atas lemari dengan      menyanyikan lagi, &#8220;Aku sedih, duduk sendiri, Mama pergi, Papa pergi..&#8221;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Dan satu lagi, ketika seorang taruna      meloloskan diri pada malam hari menggunakan kano melalui saluran air,      untuk mengunjungi pacarnya. (kalau ngak salah sekalian melamar deh).</span></li>
</ol>
<p>Apa mungkin film itu yang berjudul <a href="http://ruangfilm.com/?q=katalog/indonesia/pelangi_di_nusa_laut" title="Pelangi Di Nusa Laut" target="_blank" rel="external nofollow">&#8220;Pelangi di Nusa Laut&#8221;</a>? Mmm.. kayaknya bukan deh.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p><span lang="IN">Parade militer yang biasa kita saksikan di depan podium, ternyata sudah berpindah ke layar lebar. Gaungnya lebih luas, ditonton lebih banyak orang, mbayar lagi! Efeknya cukup lumayan, buktinya <a href="http://lativa99.blogspot.com/2006_06_01_archive.html" target="_blank" title="Jadi Istri Tentara" rel="external nofollow">ada yang bercita-cita jadi istri pilot pesawat tempur</a> gara-gara nonton Perwira dan Ksatria.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Btw, yang ngimpi Indonesia buat Military Movies nggak cuman saya lho. Ada juga <a href="http://www.tni-au.mil.id/forum/printable.asp?m=15237" target="_blank" title="Military Movies" rel="external nofollow">perwira TNI yang serius mikirin pengen buat film kayak Top Gun</a>. Kita tunggu deh!<br />
</span></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F07%2Fparade-militer-di-layar-perak.html&amp;title=Parade%20Militer%20di%20Layar%20Perak" id="wpa2a_10"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/parade-militer-di-layar-perak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nawaitu APBNwatch project..</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/nawaitu-apbnwatch-project.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/nawaitu-apbnwatch-project.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jul 2007 07:10:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karyaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/07/20/nawaitu-apbnwatch-project/</guid>
		<description><![CDATA[Terinspirasi proyek &#8220;Death and Taxes: A Visual Guide to Where Your Federal Tax Dollars Go&#8221;, pengen juga buat versi Indonesianya. Apalagi bahan-bahannya sudah tersedia: PERPRES RINCIAN APBN 2007 Pagu Indikatif RAPBN 2008 Ya mudah-mudahan nggak molor kayak proyek lib free &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/nawaitu-apbnwatch-project.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terinspirasi proyek <a title="The Budget Graph" target="_blank" href="http://thebudgetgraph.com/view/" rel="external nofollow">&#8220;Death and Taxes: A Visual Guide to Where Your Federal Tax Dollars Go&#8221;</a>, pengen juga buat versi Indonesianya. Apalagi bahan-bahannya sudah tersedia:</p>
<ol>
<li><a title="Perpres Rincian APBN 2007" target="_blank" href="http://anggaran.depkeu.go.id/web-content-list.asp?ContentId=78" rel="external nofollow">PERPRES RINCIAN APBN 2007</a></li>
<li><a title="Pagu Indikatif RAPBN 2008" target="_blank" href="http://anggaran.depkeu.go.id/web-content-list.asp?ContentId=160" rel="external nofollow">Pagu Indikatif RAPBN 2008</a></li>
</ol>
<p>Ya mudah-mudahan nggak molor kayak proyek <a title="Free SMS" target="_blank" href="http://www.uliansyah.or.id/sumbangsih/">lib free sms</a>. Apalagi kalau nanti bisa diikuti posternya <a target="_blank" title="Peta Fiskal" href="http://www.djpk.depkeu.go.id/" rel="external nofollow">Peta Fiskal</a>.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F07%2Fnawaitu-apbnwatch-project.html&amp;title=Nawaitu%20APBNwatch%20project.." id="wpa2a_12"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/nawaitu-apbnwatch-project.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alasan Menolak Pemain Naturalisasi</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/alasan-menolak-pemain-naturalisasi.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/alasan-menolak-pemain-naturalisasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2007 09:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/07/13/alasan-menolak-pemain-naturalisasi/</guid>
		<description><![CDATA[Di koran tempo hari ini (Jumat, 13 Juli 2007) halaman A21, SMS dukungan saya ke Timnas PSSI ditampilkan. &#8220;Pertahankan keaslian sepakbola Indonesia! Tanpa pemain naturalisasi pun kita bisa! Terbukti!&#8221; Kira2 begitu bunyinya. Ditampilkan sebagai sms terakhir. Dari awal saya memang &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/alasan-menolak-pemain-naturalisasi.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di <a title="Koran Tempo" target="_blank" href="http://www.korantempo.com/korantempo/index.html" rel="external nofollow">koran tempo</a> hari ini (Jumat, 13 Juli 2007) halaman A21, SMS dukungan saya ke Timnas PSSI ditampilkan. <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>&#8220;Pertahankan keaslian sepakbola Indonesia! Tanpa pemain naturalisasi pun kita bisa! Terbukti!&#8221;</p></blockquote>
<p>Kira2 begitu bunyinya. Ditampilkan sebagai sms terakhir.</p>
<p>Dari awal saya memang sudah <em>su&#8217;udzon</em> dengan <a target="_blank" href="http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=115677" rel="external nofollow">rencana PSSI</a> menggunakan jalur naturalisasi untuk mendongkrak prestasi. Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat saya berpendirian demikian:</p>
<p><span id="more-15"></span></p>
<ol>
<li>Bagaimanakah <strong>loyalitas</strong> pemain naturalisasi? Jelas dari sisi nasionalisme tidak bisa diharapkan. Secara kasat mata, tentu dia akan loyal terhadap uang dan kesempatan bermain sebagai tim nasional. Berbeda dengan Qatar sebagai negara petro-dollar yang kekuatan finansialnya tidak diragukan, Indonesia kalah jauh dalam hal ini. Jangankan untuk menggaji pemain, untuk mengelola liga saja masih belum mencerminkan sikap profesional. Daripada nanti terjadi kasus yang memalukan seperti pemain naturalisasi menolak bermain dengan alasan finansial.</li>
<li>Bagaimana dampak perkembangan <strong>mentalitas</strong> pemain asli? Salah satu alasan adanya pembatasan pemain asing di suatu liga adalah untuk memberi ruang dan kesempatan berkembang bagi pemain lokal. Nah, apalagi kalau ada pemain naturalisasi. Tentu mustinya jauh lebih preventif dan dipikirkan dampak jangka panjangnya. Bagi seorang pemain lokal, setelah dia berjuang menorehkan dan mempertahankan prestasi, tiba-tiba tertutup kesempatannya untuk masuk ke dalam timnas karena tergeser oleh pemain naturalisasi. Ingat! Satu pemain naturalisasi di tubuh timnas pun sudah mengurangi jatah dan potensi sekian ribu pemain lokal.</li>
<li>Bagaimanakah <strong>komitmen</strong> PSSI sebagai alat pembinaan sepakbola nasional? Perlu dipikirkan bahwa penggunaan pemain naturalisasi berarti membunuh pembinaan sepakbola nasional. Dana, tenaga, pikiran dan waktu yang dikerahkan untuk menyemai bibit-bibit sepakbola nasional hanya akan disia-siakan. Dalam hal ini, <a target="_blank" href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0611/09/or/3081324.htm" rel="external nofollow">kompas setuju dengan pendapat saya</a>. Bagaimana seharusnya pemain naturalisasi ditempatkan? Sebagai pendongkrak prestasikah? Sebagai partner pembimbingkah?</li>
<li>Dulu bangsa kita meraih kemerdekaan bermodalkan <strong>kepercayaan diri</strong> yang sangat kuat, bahwa kita bukanlah bangsa bermental tempe. Dulu kita sangat bangga, menjadi bangsa yang merdeka tanpa bantuan asing, walaupun Jepang masih mengaku memberikan kemerdekaan. Dengan menampilkan permainan terbaik, Indonesia sudah bisa membusungkan dada tanpa harus menggunakan pemain naturalisasi.</li>
</ol>
<p>Memang jurus menggunakan pemain naturalisasi menurut saya bukanlah hal yang haram. Hanya saja ide ini sangat sangat sensitif, sehingga perlu pemikiran yang visioner, perenungan yang mendalam dan kata hati yang jernih untuk memutuskan. Mudah-mudahan keputusan semacam ini tidak dipengaruhi oleh memburuknya prestasi Indonesia, besarnya bonus kemenangan bagi pengurus, upaya mempertahankan jabatan dengan meningkatkan prestasi jangka pendek, dll. Dengan resiko yang sedemikian besar, <a target="_blank" href="http://surya23.multiply.com/journal/item/162" rel="external nofollow">mas bondan pun meragukannya</a>.<br />
Keterbatasan fisik bangsa Melayu tidak bisa dijadikan alasan mutlak dalam hal ini. Buktinya<a target="_blank" href="http://www.persib-bandung.or.id/articles?cod=639" rel="external nofollow"> banyak pemain</a> <a target="_blank" href="http://www.pssi-football.com/id/view_news_111082.php?id=452" rel="external nofollow">keturunan Indonesia</a> yang mampu berprestasi di liga asing, seperti Liga Belanda. Apa yang membuat hasil prestasi mereka berbeda? Sama-sama melayu, yang satu dibina ala Eropa, satunya lagi dibina ala PSSI.</p>
<p>Pemupukan rasa nasionalisme memang tidak terbatas di sepakbola. Sama seperti prinsip Kwik Kian Gie dalam kasus Exxon di Blok Cepu, mengutip pesan Bung Karno, &#8220;Kita simpan sumur-sumur minyak kita sampai insinyur-insinyur kita bisa mengelola sendiri untuk bangsa kita sendiri.&#8221; Lebih baik kita asah sendiri mutiara-mutiara jamrud khatulistiwa sepakbola kita.</p>
<p>Titik cerah pembinaan bisa dilihat juga dari prestasi timnas mengalahkan Bahrain. Ramuan 433 Kolev yang khusus didesain untuk menutupi kelemahan postur Indonesia, terbukti mampu meredam gedoran Bahrain yang memiliki postur lebih tinggi. Bicara soal postur, Mexico yang jadi semifinalis <a title="Copa America 2007" target="_blank" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Copa_Am%C3%A9rica_2007" rel="external nofollow">Copa America 2007</a> (bahkan sempat mengalahkan Brazil di penyisihan) sebenernya tidak jauh berbeda dengan Indonesia.<br />
Di Piala Asia 2007 ini saja saya mencatat ada beberapa negara menggunakan pemain naturalisasi. Namun karena saya tidak puas dengan <a target="_blank" href="http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Asian_footballers_with_foreign_heritage" rel="external nofollow">daftar pemain Asia kelahiran asing di Wikipedia</a>, saya coba gali sendiri informasi dari situs AFC:</p>
<ol>
<li><a title="Sebastian Quintana" target="_blank" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sebasti%C3%A1n_Quintana" rel="external nofollow">Sebastian Quintana</a>: Pemain <a target="_blank" href="http://www.afcasiancup.com/en/tournament/teams.asp?cid=1374&#038;sqid=1058&#038;tbl=Y" rel="external nofollow">Qatar</a> kelahiran Uruguay.</li>
<li>Jaycee John Akwani: Pemain <a target="_blank" href="http://www.afcasiancup.com/en/tournament/teams.asp?cid=1376&#038;sqid=888&#038;tbl=Y" rel="external nofollow">Bahrain</a> kelahiran Nigeria.</li>
<li>Abdulla Fatadi: Pemain <a target="_blank" href="http://www.afcasiancup.com/en/tournament/teams.asp?cid=1376&#038;sqid=888&#038;tbl=Y" rel="external nofollow">Bahrain</a> kelahiran Nigeria.</li>
</ol>
<p>Anyway, melihat lawan selanjutnya yang sangat berat, saya hanya bisa mendukung timnas PSSI untuk tampil sebaik mungkin melawan Arab Saudi dan Korea Selatan.</p>
<p><strong>Good job!</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F07%2Falasan-menolak-pemain-naturalisasi.html&amp;title=Alasan%20Menolak%20Pemain%20Naturalisasi" id="wpa2a_14"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/alasan-menolak-pemain-naturalisasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaukus Palestina DPR RI</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/kaukus-palestina-dpr-ri.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/kaukus-palestina-dpr-ri.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2007 01:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/07/02/kaukus-palestina-dpr-ri/</guid>
		<description><![CDATA[Jumat 28 Juni 2007, ketika saya hadir dalm salah satu rapat DPR, ada pamflet tertempel menginformasikan berita berikut ini: KAUKUS PALESTINA DPR RI Mengundang Bapak/Ibu, Anggota DPR untuk hadir dan mendengarkan secara langsung Perkembangan Kondisi Terakhir Tawanan Anggota Parlemen Palestina &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/kaukus-palestina-dpr-ri.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Rapat DPR" src="http://farm2.static.flickr.com/1122/873519660_c511317c00.jpg?v=0" alt="Rapat DPR" width="468" height="351" /></p>
<p>Jumat 28 Juni 2007, ketika saya hadir dalm salah satu rapat <a title="DPR" href="http://www.dpr.go.id/" target="_blank" rel="external nofollow">DPR</a>, ada pamflet tertempel menginformasikan berita berikut ini:</p>
<p><img title="Kaukus Palestina, Abdurrahman Zaidan" src="http://farm2.static.flickr.com/1203/689617084_71dee11f7d.jpg?v=0" alt="Kaukus Palestina, Abdurrahman Zaidan" /></p>
<p align="center"><strong>KAUKUS PALESTINA DPR RI </strong></p>
<p align="center">Mengundang Bapak/Ibu, Anggota DPR untuk hadir dan mendengarkan secara langsung Perkembangan Kondisi Terakhir Tawanan Anggota Parlemen Palestina di Penjara Israel.</p>
<p align="center">Oleh:<br />
<strong>Dr. Abdurrahman Zaidan</strong><br />
(Anggota Parlemen Palestina)</p>
<p align="center"><strong>Senin, 7 Juli 2007<br />
Pukul 11.00 &#8211; 13.00<br />
RUANG RAPAT KOMISI XI<br />
GEDUNG NUSANTARA / Lt. 1 DPR RI</strong></p>
<p align="left">Wah sayang cuman untuk anggota dewan nih. Kita tunggu aja beritanya.</p>
<p align="left"><strong>Update:</strong></p>
<p align="left">Wah lieur euy.. bener <a title="Kata Orido" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/02/kaukus-palestina-dpr-ri/#comment-237">kata</a> <a title="Orido" href="http://orido.wordpress.com/" target="_blank" rel="external nofollow">orido</a>, ini pamflet untuk bulan Mei 2007. Saya sempet mikir2, kan ada rapat hari Selasa depan, itu tuh tanggal 10 Juli. Mustinya Senin tanggal 9 dong. Ternyata memang salah bulan.</p>
<p align="left">Mengenai Kaukus Palestina sendiri, ada beberapa sumber berita:</p>
<p align="left">
<ul>
<li><a title="DPR Bentuk Kaukus Parlemen untuk Palestina" href="http://fpks-dpr.or.id/new/main.php?op=isi&amp;id=1705" target="_blank" rel="external nofollow"><span class="judul">DPR Bentuk Kaukus Parlemen untuk Palestina</span></a></li>
<li><a title="Israel didesak lepaskan anggota parlemen Palestina" href="http://fpks-dpr.or.id/new/main.php?op=isi&amp;id=2124" target="_blank" rel="external nofollow"><span class="judul">Israel didesak lepaskan anggota parlemen Palestina</span></a></li>
<li><span class="judul"><a title="Kaukus Palestina: Indonesia Selayaknya Bantu Selesaikan Konflik Internal Palestina" href="http://www.eramuslim.com/berita/nas/6c13144545-kaukus-palestina-indonesia-selayaknya-bantu-selesaikan-konflik-internal-palestina.htm?prev" target="_blank" rel="external nofollow">Kaukus Palestina: Indonesia Selayaknya Bantu Selesaikan Konflik Internal Palestina</a></span></li>
<li><a title="Republika" href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=292327&amp;kat_id=43" target="_blank" rel="external nofollow">Republika: Anggota Parlemen Palestina Harus Dibebaskan</a></li>
<li><a title="Antara" href="http://www.antara.co.id/arc/2007/5/25/israel-tangkap-33-pejabat-senior-hamas-di-tepi-barat/" target="_blank" rel="external nofollow">Antara</a></li>
<li><a title="Kompas" href="http://www.kompas.com/ver1/Nasional/0704/18/201316.htm" rel="external nofollow">Kompas</a></li>
<li><a title="Media Indonesia" href="http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=130631" target="_blank" rel="external nofollow">Media Indonesia</a></li>
<li><span class="judul">and at least: <a title="Berita Kaukus Palestina" href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;client=firefox-a&amp;rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&amp;hs=WAb&amp;q=kaukus+palestina&amp;btnG=Telusuri&amp;meta=" target="_blank" rel="external nofollow">Google</a> <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></li>
</ul>
<p align="left">Tapi berita tentang hasil kehadiran Abdurrahman Zaidan sendiri saya belum dapet. Cari dimana ya? Hmm.. coba kita tanya pak <a title="Almuzzammil Yusuf" href="http://fpks-dpr.or.id/new/?op=detail_anggota&amp;ang=A-249" target="_blank" rel="external nofollow">Almuzzammil Yusuf</a>.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F07%2Fkaukus-palestina-dpr-ri.html&amp;title=Kaukus%20Palestina%20DPR%20RI" id="wpa2a_16"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/kaukus-palestina-dpr-ri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LAPAN-TUBSAT jadi sumber local content internet Indonesia</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/06/lapan-tubsat-jadi-sumber-local-content-internet-indonesia.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/06/lapan-tubsat-jadi-sumber-local-content-internet-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 06:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/06/29/lapan-tubsat-jadi-sumber-local-content-internet-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Tadi pagi di kereta Sudirman AC dalam perjalanan ke kantor, saya membaca mengenai satelit mikro LAPAN-TUBSAT di koran tempo. Di situs resminya, ada galeri foto yang sangat menarik. Rasa-rasanya kalau dikelola dengan baik, bisa jadi local content internet Indonesia yang &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/06/lapan-tubsat-jadi-sumber-local-content-internet-indonesia.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="284" height="213" title="LAPAN TUBSAT" alt="LAPAN TUBSAT" src="http://lapantubsat.org/components/com_ponygallery/img_pictures/20070509_1110725099_copy_of_tub2.jpg" /></p>
<p>Tadi pagi di kereta Sudirman AC dalam perjalanan ke kantor, saya membaca mengenai satelit mikro <a target="_blank" title="LAPAN-TUBSAT" href="http://id.wikipedia.org/wiki/LAPAN-TUBSAT" rel="external nofollow">LAPAN-TUBSAT</a> di <a target="_blank" title="Koran Tempo" href="http://www.korantempo.com/" rel="external nofollow">koran tempo</a>. Di <a target="_blank" title="LAPAN TUBSAT Official Site" href="http://lapantubsat.org/" rel="external nofollow">situs resminya</a>, ada <a target="_blank" title="Gallery Photos" href="http://lapantubsat.org/index.php?option=com_ponygallery&#038;Itemid=46" rel="external nofollow">galeri foto</a> yang sangat menarik.</p>
<p>Rasa-rasanya kalau dikelola dengan baik, bisa jadi local content internet Indonesia yang ok tuh! Nyaingin google earth..</p>
<p>Ngimpi kali ye..</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F06%2Flapan-tubsat-jadi-sumber-local-content-internet-indonesia.html&amp;title=LAPAN-TUBSAT%20jadi%20sumber%20local%20content%20internet%20Indonesia" id="wpa2a_18"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/06/lapan-tubsat-jadi-sumber-local-content-internet-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Aku, Tak Secanggih Kamu</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/06/siapa-aku-tak-secanggih-kamu.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/06/siapa-aku-tak-secanggih-kamu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jun 2007 00:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/06/21/siapa-aku-tak-secanggih-kamu/</guid>
		<description><![CDATA[Lha kalo ngoprek script cuman untuk having fun kayak saya ini, berarti termasuk tukang coding doang ya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lha kalo ngoprek script cuman untuk having fun kayak saya ini, berarti termasuk <a target="_blank" title="Programmer opo Coder?" href="http://www.brajeshwar.com/2007/are-you-a-programmer-or-a-coder/" rel="external nofollow">tukang coding</a> doang ya?</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F06%2Fsiapa-aku-tak-secanggih-kamu.html&amp;title=Siapa%20Aku%2C%20Tak%20Secanggih%20Kamu" id="wpa2a_20"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/06/siapa-aku-tak-secanggih-kamu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

