Archive for the Category »Isi Hati «

Sebuah pengalaman mengesankan di kota pelajar Yogyakarta mengajarkan banyak hal pada diri saya. Khususnya pelajaran mengenai optimisme dan perjuangan hidup. Di salah satu sudut kota ini, saya ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang dosen yang juga merangkap profesi sebagai tukang cukur rambut. Berikut ini cerita selengkapnya, mudah-mudahan bermanfaat pula bagi Anda.

Sore itu, rambut Abbas, anak saya, sudah terlihat terlalu panjang untuk seorang anak laki-laki. Poninya menggantung menutupi mata. Di samping kanan dan kiri, rambutnya menyeruak melewati daun telinga. Serabut rambut juga memanjang menuruni tengkuknya.

Sebenarnya di Jogja ini saya belum tahu persis dimana lokasi barbershop atau tukang cukur yang pas buat anak-anak. Mengandalkan intuisi serta ingatan dari pengamatan sekilas menjelajahi kota selama ini, rombongan keluarga Uliansyah pun segera melesat di jalanan kota Gudeg mencari tukang cukur. Banyak sih barbershop di kota ini. Bahkan lucunya, mereka ramai-ramai memasang kata “Bergaransi” di papan nama. Sampai sekarang, saya belum paham garansi apa yang dimaksudkan untuk sebuah produk berupa jasa cukur rambut. more…

Pekan ini benar-benar pekan duka cita bagi saya. Dalam sepekan, ada 3 anak-anak yang tutup usia saat hidup mereka baru saja dimulai.

Yang pertama, anak dari Ike dan Mas Kasim. Ike ini anaknya kakak sepupu saya, tapi ia justru lebih tua setahun dari saya. Mas Kasim pun bukan orang lain. Kami bertetangga sejak tinggal di Bumijo Lor, Yogyakarta. Seminggu sebelumnya, Ike harus disesar karena suatu alasan. Anaknya pun lahir sebelum HPL dengan berat 2,8kg. Berat yang cukup sebenarnya. Anak pertama saya dulu lahir dengan berat 2,7kg. Namun ada permasalahan lain yang menyebabkan kondisinya makin memburuk. Tepat pada Kamis pagi tanggal 3 April, sang bayi pun wafat..

Sementara di Jakarta, pada hari Ahad pagi saya menerima SMS. Isinya bahwa ananda Muthia yang berumur 2 tahun 4 bulan wafat. Ananda Muthia ini anak dari Agus Mulyono, kakak kelas di STAN dengan selisih dua tahun. Pekan sebelumnya, saya sudah mendengar bahwa Muthia akan dioperasi. Di dalam perutnya ada tumor. cukup sulit bagi saya untuk memahami anak sekecil itu memiliki tumor. Kabarnya sejak kecil memang perut Muthia membesar dan kemudian mengeras. Dokter memvonisnya tumor bawaan dari lahir. Pada usia muda Muthia tutup usia.

Hari senin di kantor, saya menerima berita mengejutkan lainnya. Anak seorang teman sekantor meninggal pada Kamis lalu. Kawan-kawan yang melayat entah bagaimana terlupa mengabari saya. Aduh.. sayangnya saya melewatkan momen tersebut. Sang bayi wafat dalam kandungan usia 9 bulan. Sang ibu memiliki gula darah yang sangat tinggi. Dan kemudian karena hal-hal yang tidak terkontrol manusia membuat sang bayi keracunan gula darah.

Mudah-mudahan kesabaran keluarga yang ditinggalkan menjadi amal baik serta meringankan jenazah di alam kubur.

Sedih rasanya melihat anak-anak ini harus wafat. Saya merasakan kesedihan seolah-olah mereka adalah anak-anak saya sendiri. Ya, apa bedanya anak-anak mereka dengan anak-anak saya? Bisa saja anak kami yang tertimpa musibah itu. Hanya kebetulan untuk hidup yang saya jalani, anak-anak yang lahir dari rahim Ummu Abbas-lah yang menjadi tanggung jawab keluarga Uliansyah. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah subhaanahu wata’ala. Sangat mudah bagi Allah untuk memutar peran itu, jalan jidup antara kami dan mereka yang tertimpa musibah.

Karena itu mereka semua serasa adalah anak-anakku.

Hari ini Ummu Abbas dijadwalkan operasi gigi. Jadi hari ini Ummu Abbas minta ijin tidak menjalankan tugas sebagai pengajar. Karena operasi dilakukan di RSPAD Gatot Subroto, Ummu Abbas pun berangkat bersama Abu Abbas yang kantornya ada di Lapangan Banteng.

Setelah beberapa kali konsul ke dokter gigi mengenai sakit yang mendera, Ummu Abbas dianjurkan untuk operasi gigi. Operasi gigi ini ternyata tidak bisa ditangani oleh dokter gigi, tapi oleh dokter bedah mulut.

Ummu Abbas memanfaatkan fasilitas Askes (Asuransi Kesehatan) yang disediakan dari kantornya Abu Abbas. Ya memang kami tidak pernah meminta untuk berasuransi, tapi peraturan kantor mewajibkan hal itu. Karena sudah terlanjur dipotong gaji tiap bulan untuk premi Askes, sayang juga kalau tidak digunakan fasilitas yang tersedia. Salah satunya untuk berobat gigi seperti ini.

Berobat dengan Askes bisa dibilang enak-enak-nggak enak. Enak karena kita tidak harus membayar sebesar biaya normal. Ada sebagian tindakan maupun obat yang ditanggung oleh Askes. Sementara, dibilang nggak enak karena dirasakan adanya sikap yang berbeda dari pelayanan kesehatan yang didapat jika kita menggunakan Askes. Diakui atau tidak, pengguna Askes menerima perlakuan yang berbeda dari pasien normal. Biasanya, pengguna Askes identik dengan orang miskin.

Selain perlakuan yang berbeda dari pelayanan kesehatan, perlakuan dalam mengurus Askes juga sering tidak mengenakkan. Tidak semua pengguna Askes itu tahu prosedur mengurus Askes. Jadi wajar saja kalau banyak bertanya pada petugas Askes di lapangan. Namun, sayangnya respon petugas ini tidak selamanya mengenakkan. Kami pernah beberapa kali mengalami dibentak-bentak dan digoblok-goblokkan oleh para petugas ini. Padahal apa sih susahnya menjawab baik-baik? Kami tahu para petugas ini capek, lelah, bayaran tak seberapa. Tapi apakah itu bisa dijadikan alasan untuk bersikap seburuk itu?

Lebih sering lagi, kami melihat pengguna Askes yang berasal dari tempat jauh, yang datang berobat jauh-jauh, mungkin pendidikan juga tidak tinggi, umur sudah uzur, dan memang kesulitan memahami prosedur yang ada, pun tak pelak mengalami perlakuan yang sama.

Atas alasan itu pulalah kami memilih RSPAD Gatot Subroto untuk pelayanan kesehatan menggunakan Askes. Dibandingkan dengan RS Fatmawati, pelayanan Askes di RSPAD jauh lebih baik. Di RSPAD, prosedur Askes jelas terpampang pada tulisan di loket. Kalau tidak jelas, bertanya ke petugas pun diterangkan dengan sangat baik (terimakasih ya pak). Sementara pengalaman di RS Fatmawati, tidak ada penuntun prosedur yang terpasang. Pun petugas yang dihubungi langsung merespon dengan nada tinggi.

Sempat juga di RS Bhakti Asih Ciledug, Ummu Abbas pertama kali konsul masalah gigi ini. Pelayanan Askesnya ok, jelas dan responnya baik. Tapi oleh seorang dokter gigi anaksempat ditawari untuk dioperasi olehnya saja. Untung Ummu Abbas nggak menerima tawaran itu. Bisa-bisa pengalaman mbak Katherine Arta menimpa diri Ummi juga. Terjebak 4 jam di ruang operasi karena tidak ditangani oleh ahli yang benar.

Pengalaman kami menggunakan Askes cukup memuaskan. Mungkin karena kami beruntung memilih RS yang pelayanan Askesnya sangat baik. Abu Abbas pernah dirawat 2 minggu di RSPAD karena Demam Dengue. Persalinan kedua Ummu Abbas di RS Harapan Kita Slipi juga memanfaatkan fasilitas Askes.

Sehingga ketika sakit gigi Ummu Abbas harus dioperasi, penggunaan Askes pun menjadi pilihan utama. Sejak malam, Ummu Abbas sudah menyiapkan diri untuk prosedur operasi. Sesuai petunjuk dokter, pada malam sebelum operasi, Ummu Abbas banyak-banyak mengonsumsi Vitamin C dari buah jeruk. Pagi harinya, sarapan pun agak banyak karena kata dokter setelah dokter baru bisa makan setelah 6-8 jam.

Walaupun hari ini sudah dijadwalkan operasi, tapi kami tidak tahu jam berapa tepatnya operasi dilaksanakan. Karena itu Abu Abbas berolahraga dan masuk kantor dulu. Ya, tiap Rabu, Abu Abbas memang ada jadwal latihan basket bersama teman-teman kantor. Kebetulan Abu Abbas menjadi penanggung jawab lapangan, dan hari ini pula harus menyelesaikan administrasi dengan Dinas Olahraga Provinsi DKI sebagai pengelola lapangan (bayar sewa gitu, susah amat ngomongnya pake muter-muter).

Nah dari sinilah masalah mulai datang. Ternyata operasi yang dijalani Ummu Abbas lumayan besar. Operasi harus dilaksanakan di ruang operasi menggunakan dipan yang disinari lampu-lampu terang. Ummu Abbas pun mengirim sms untuk minta ditemani Abu Abbas. Sementara Abu Abbas yang sedang mengerjakan tugas kantor pun mengirimkan sms yang menanyakan jam pelaksanaan operasi. Abu Abbas juga berniat menemani istrinya.

Sayangnya, komunikasi lintas teknologi ini tidak berlangsung lancar. Ponsel GSM Ummu Abbas sudah menunjukkan status terkirim, tapi pesan itu tidak pernah sampai di ponsel CDMA Abu Abbas. Demikian pula sebaliknya.

Begini isi pesan singkatnya.

Abu Abbas to Ummu Abbas:

mi, gmn kabarnya? jam brp dioperasi? semangat ya, jgn takut. ayah mendoakan.

pesan dikirim jam 09.00 masih dengan asumsi operasi hanya di kursi dokter gigi saja.

Ummu Abbas to Abu Abbas:

Yah, sibuk ya. jam 09.07

Yah, k sini dong. Ummi deg2an. jam 09.16

Yah, ibu itu memperingatkan stelah 2 jam bius hilang. Bengkak, sakit, smp 2 hr. Kynya umi butuh ayh nih. jam 09.50

Yah, ummi sdh masuk ruang operasi. Disuruh ganti baju dan buka jilbab. Umi minta ayah datang ya ke rspad lt 2 klinik gigi n mulut. Dkt qt periksa dng dr indang. Maaf ya salah2 umi. jam 10.23

Tiba-tiba pukul 11.40 ada telepon dari Ummu Abbas via telepon kantor. Suaranya sudah penuh tangis. Ternyata dioperasi itu menyakitkan. Abu Abbas pun buru-buru pamitan dari kantor menuju RSPAD. Perjalanan ke RSPAD bukan tanpa halangan. Komplek kantor Menteri Keuangan hari itu sedang didemo. Semua pintu keluar ditutup rapat dan dijaga polisi. Gerbang-gerbang dirantai dan dikunci dengan gembok. Waduh..

Untungnya ada jalan tikus dari Polsek Sawah Besar yang berhimpitan dengan komplek Depkeu. Selepas dari sana, Abu Abbas pun menggunakan ojek ke RSPAD.

Melihat kondisi Ummu Abbas, saya sangat sedih. Sedih karena tidak bisa menemaninya melewati masa-masa sulit. Padahal ketika saya sakit, ia lah yang merawat saya. Tidak meninggalkan sosok yang terbaring sakit penuh permintaan barang sedikit pun. Kesabarannya merawat saya seolah dibalas dengan ketidakpedulian.

Untuk itu pulalah sesampainya di rumah, saya cepat-cepat memposting tulisan ini. Sebagai ungkapan rasa terimakasih saya atas pengertiannya selama ini. Juga sebagai bentuk permintaan maaf saya atas terlewatnya sebuah momen penting lain dalam hidup yang cuma sekali ini.

Semoga lekas sembuh ya Mi!

Category: Isi Hati  4 Comments

Prasasti Soeharto di Musium Listrik dan Energi Baru

Selama ini belum ada pendapat yang benar-benar mewakili isi hati saya tentang Soeharto. Baru tulisan K.H Mustofa Bisri di Koran Tempo (16/1/2008) inilah yang dirasa paling mengena.

Rabu, 16 Januari 2008
Opini

Pak Hartoku, Pak Hartomu, Pak Harto Kita

A. Mustofa Bisri, Kolumnis, Penyair, dan Pengasuh Pesantren

Ketika para petinggi di atas kelihatan bingung, mau melengserkan Pak
Harto, kok, tidak sopan, apalagi kelihatannya Pak Harto masih segar
dan mau, saya menulis di sebuah harian terkenal dengan judul
“Seandainya Pak Harto Kerso”. Tulisan saya itu mengusulkan agar Pak
Harto kerso, mau, jadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat saja.
Maksud saya, dengan menjadi Ketua MPR, Pak Harto tidak turun pangkat,
tapi malah naik: dari mandataris MPR menjadi Ketua MPR, pemberi
mandat. Sekaligus siapa tahu Pak Harto, yang diyakini banyak orang
merupakan tokoh terkuat Indonesia, dapat menularkan kekuatannya kepada
wakil-wakil rakyat yang diyakini banyak orang sangat lemah. Lagi pula,
sebagai Ketua MPR, Pak Harto masih bisa “mengatur”.

Tapi, boleh jadi Pak Harto lupa–sebagaimana umumnya orang–bahwa MPR
ketika itu adalah lembaga tertinggi negara atau ia merasa enggan
menduduki kursi yang bekas diduduki kacungnya. Atau–ini yang lebih
mungkin–Pak Harto tidak membaca tulisan saya. Seandainya Pak Harto
benar-benar mau menjadi Ketua MPR, dan ini sangat mudah merekayasanya
waktu itu, mungkin sampai sekarang masih selamat. Tidak dijadikan
bulan-bulanan dan hujatan, termasuk oleh mereka yang kemarin bergelung
nikmat di balik ketiak kekuasaannya.

Allahu Akbar! Wolak-walik-nya zaman! Rasanya baru kemarin orang-orang
berteriak hanya untuk mendukung atau diam karena takut. Wakil rakyat
tidak mewakili rakyat, tapi pemerintah (baca Pak Harto); digaji besar
untuk hanya mengatakan “ya” atawa diam. Pers pun semuanya tiarap.
Bahkan membela sesama tidak punya nyali, apalagi membela kepentingan
orang banyak.

Allah Mahabesar! Reformasi telah membalik semuanya. Semuanya kini
berbalik. Mereka yang dulu sakit gigi, kini mendadak sembuh dan setiap
hari memamerkan gigi-gigi mereka. Mereka yang kemarin tiarap, kini
seperti sudah lama bangkit. Bahkan ada yang berbalik pada detik paling
akhir; dari menjilat Pak Harto berbalik–sedetik
kemudian–meludahinya.

***

Di atas itu adalah pandangan saya di awal-awal reformasi, ketika
“burung baru saja terlepas dari sangkar”, ketika euforia keterbukaan
melanda negeri, dan pers nasional seperti kemaruk setelah sekian lama
tiarap.

Kini pers dan murid-murid Pak Harto kembali “membangunkan”-nya justru
dari rumah sakit tempat jenderal besar itu terkapar. Saat ini
seolah-olah Pak Harto masih presiden dan yang lain, seperti di zaman
kejayaannya, hanyalah boneka gagu yang tidak punya pekerjaan kecuali
menunggu sabdanya. Diamnya pembina Golkar itu saat ini mungkin dikira
sama dengan diamnya dulu waktu masih berkuasa. Diam yang membuat orang
sekelilingnya deg-degan dan ketar-ketir.

Untuk meramaikan suasana “kebangkitan” arsitek Orde Baru itu, dagelan
soal status hukumnya pun diwacanakan lagi. Terus diadili atau
dimaafkan. Seolah-olah bangsa ini memang serius menegakkan keadilan.
Seolah-olah di negeri ini, hukum masih sangat dihormati. Seolah-olah
kita semua bukan santri teladan Hadhratussyeikh Haji Muhammad
Soeharto.

Orang lupa kepada falsafah Jawa yang sangat diagungkan oleh pemimpin
agung kita itu: mikul dhuwur mendhem jero, mengangkat martabat orang
tua setinggi-tingginya. Kalau benar kita mengakui Pak Harto sebagai
orang tua kita dan kita benar-benar mencintainya, kita mesti berusaha
mengangkat martabatnya; tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat
kelak.

Ketika orang berbicara mengenai status hukum Pak Harto, orientasinya
selalu hanya dunia yang notabene akan ditinggalkan tidak hanya oleh
Pak Harto sendiri. Taruh kata Pak Harto dimaafkan atau dibebaskan dari
pengadilan dunia ini, apakah tidak terpikir oleh kita sebagai
“anak-anak”-nya yang percaya kepada akhirat bahwa di sana masih ada
pengadilan. Pengadilan yang pasti jauh lebih adil. Pengadilan yang
pasti steril dari korupsi-kolusi-nepotisme dan sogok-menyogok. Lalu?

Ya, siapa saja yang mengaku cinta dan ingin yang terbaik untuk Pak
Harto mesti berpikir panjang hingga akhirat. Yang terbaik untuk Pak
Harto di akhirat tentulah apabila amal-amalnya diterima dan
dosa-dosanya diampuni oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil. Untuk
itu, siapa saja yang mengaku mencintai Pak Harto mesti berusaha ke
arah sana dengan memohon kepada Allah agar amal-amalnya diterima. Yang
lebih penting lagi, bagaimana agar dosa-dosa Pak Harto diampuni. Ini
tidak cukup hanya dengan memohonkan ampun kepada Allah. Sebab, ada
dosa manusia yang berkaitan dengan hak-hak sesama yang tidak akan
diampuni oleh Allah sebelum yang bersangkutan menyelesaikannya di
dunia ini. Kalau seseorang pernah, misalnya, menyakiti saudaranya, ya,
saudaranya itu harus dimintai maaf. Kalau seseorang pernah memakan hak
orang lain, ya, harus dimintakan ikhlas atau ditebus sehingga orang
yang bersangkutan mengikhlaskan. Demikian seterusnya, sampai tidak ada
lagi ganjalan terhadap sesama.

Jadi, demi keselamatan Pak Harto di akhirat, persoalannya dengan
sesama mestilah diselesaikan di dunia ini. Mudah-mudahan dengan
demikian Bapak Pembangunan kita itu husnul khaatimah, tidak hanya
bahagia ketika hidup di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Amin.
koran
Halaman Utama

Dear smiling general, We wish you to the best end. But neither both of us can not avoid the Ultimate Court in the Day of Resurrection.

Category: Isi Hati  4 Comments

Karton itu tadinya hanyalah satu lembar karton biasa. Dibuat dari bahan bubur kertas. Bahan yang sama dengan karton lainnya. Sama-sama menggunduli hutan demi alasan pasokan kertas Indonesia dan dunia. Sama-sama mengorbankan seorang bupati dan mengancam seorang gubernur. Mesin-mesin pencetak lalu mengubah bubur pulp menjadi karton. Dikemas dalam bundelan-bundelan karton. Bundelan karton yang tidak istimewa.

Sebundel karton itu lalu dibeli oleh perusahaan pembuat tas jinjing. Mulailah kertas dipotong berdasarkan pola. Lalu dirangkai, dilekatkan dengan lem dan dilubangi untuk memasukkan tali jinjing. Jadilah sebuah tas karton. Tas karton yang tidak istimewa.

Ketika tas jinjing itu dipasarkan, beberapa lusin diantaranya dipesan oleh panitia seminar. Tas-tas itu lalu dibebani dengan majalah, buku dan bonus lain dari sponsor acara. Jadilah seminar kit yang akan dibagikan ke panitia. Seminar kit yang tidak istimewa.

Pada hari H, dibagikanlah seminar kit itu ke para peserta seminar. Setiap peserta dengan antusias membuka isi tas. Melongok, membalik, menyobek kemasan, lalu memperbincangkannya dengan teman di bangku sebelah. Ada juga yang diam membatin dengan gondok, “Aku kan udah beli Parents Guide edisi itu.” Ada yang sok serius membuka buku Homeschooling dengan dahi berkerut-kerut sekedar membaca daftar isinya. Sepanjang acara, tas jinjing menemani dari bawah kursi. Tak jarang dibuka kembali. Ada barang yang dikeluarkan. Ada juga yang dimasukkan lagi. Agar tak tertukar dengan tas lain, dibubuhkan tanda tangan atau signmark lain di atas tas jinjing. Sekarang, tas jinjing itu jadi istimewa.

Setelah ditandai simbol kepemilikan, semua benda di dunia jadi istimewa. Kita tak lagi rela bila benda itu tertukar. Padahal tertukar dengan benda yang sama. Sama bahannya, sama bentuknya, sama isinya, dibagikan oleh panitia yang sama dalam acara yang sama. Jika kita menawarkan untuk menukar seminar kit dengan sesama peserta, tentu dijawab, “Memang punyamu kenapa? Pasti ada apa-apanya.” Itu bila sekedar bertukar.

Bagaimana bila barang yang sudah dipaksa dibawah kekuasaan itu diambil? Orang tak lagi menyebutnya diambil, tapi dicuri.

Barang yang tadinya tidak istimewa menjadi istimewa hanya karena sebuah klaim. Orang rela mengeluarkan uang, barter, berebut, menuntut, merampok, merampas, menipu, bersengketa, berperang, mati untuk sebuah klaim. Klaim atas benda yang sejatinya tersedia melimpah di dunia.

Tapi untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna, butuh produksi dan jasa distribusi? Dari mana biaya penggantinya? Ah itu kan lain cerita..

* * *

Mohon maaf kalau mirip2 wejangan seekor rubah di Le Petit Prince. Karena memang inspirasi postingan ini datang dari bapak pilot itu.