<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Uliansyah.Or.Id &#187; Isi Kepala</title>
	<atom:link href="http://www.uliansyah.or.id/category/isi-kepala/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.uliansyah.or.id</link>
	<description>kegelisahanku adalah untuk berkarya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 10:13:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Flexy Time ala Kemenkeu</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2012/01/flexy-time-ala-kemenkeu.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2012/01/flexy-time-ala-kemenkeu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 01:40:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>
		<category><![CDATA[Persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[Bagi Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi Hukum Kemenkeu]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Dokumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[PMK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini adalah hari pertama pemberlakuan PMK 214/PMK.01/2011 tentang Penegakan Disiplin Dalam Kaitannya Dengan Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara Di Lingkungan Kementerian Keuangan. Heh? PMK apa itu? Salah lampiran PMK ini mengatur mengenai jam kerja pegawai Kemenkeu yang berkantor di wilayah DKI &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2012/01/flexy-time-ala-kemenkeu.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini adalah hari pertama pemberlakuan <a title="PMK 214 mengatur Jam Kerja" href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2011/214~PMK.01~2011Per.HTM" rel="external nofollow">PMK 214/PMK.01/2011</a> tentang Penegakan Disiplin Dalam Kaitannya Dengan Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara Di Lingkungan Kementerian Keuangan. Heh? PMK apa itu? Salah lampiran PMK ini mengatur mengenai <strong>jam kerja pegawai Kemenkeu yang berkantor di wilayah DKI Jakarta</strong> (<a title="Lampiran V Jam Kerja Pegawai di DKI Jakarta" href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2011/214~PMK.01~2011PerLamp.htm" rel="external nofollow">baca lampiran V</a>). Mulai Januari 2012, bagi pegawai yang masuk kerja di antara jam 7.31 &#8211; 08.00 maka wajib diganti dengan memundurkan pulang 30 menit menjadi jam 17.30. Dengan demikian, pegawai diberi keleluasaan untuk memilih jam masuk kerja. Pilihan tersebut tentunya memiliki konsekuensi.<br />
<a href="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2012/01/greycclock-1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-479" title="greycclock-1" src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2012/01/greycclock-1.jpg" alt="Flexi Time" width="560" height="188" /><br />
</a></p>
<p style="text-align: right;"><em>Gambar dari flexitimemanager.co.uk</em></p>
<p><em></em><a title="Flexy Time ala Kemenkeu" href="http://www.uliansyah.or.id/2012/01/flexy-time-ala-kemenkeu.html">PMK 214</a> ini adalah PMK yang ditunggu-tunggu oleh para pegawai roker alias rombongan kereta. Dengan adanya PMK ini, para roker terbebas dari risiko gangguan perjalanan transportasi kereta. Tahu kan bagaimana <a title="Manajemen Asal-Asalan" href="http://www.uliansyah.or.id/2008/02/manajemen-asal-asalan.html">kinerja kereta</a> komuter kita? Masalah <a title="Pengendalian: Tangga Stasiun Kereta" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/12/pengendalian-tangga-stasiun-kereta.html">akses tangga</a> saja bisa mengganggu pelayanan. Nah, jika selama ini gangguan transportasi kereta berakibat pada pemotongan tunjangan karena terkena sanksi Datang Terlambat (DT), maka sekarang akibatnya hanyalah pemunduran jam pulang kerja.</p>
<p>PMK ini sempat juga dibahas dengan panas di milis alumni STAN (secara pegawai Kemenkeu kebanyakan adalah alumni STAN).</p>
<p>Penerapan PMK ini tak lepas dari komentar. Beberapa kawan mengeluh bahwa PMK ini tidak betul-betul menerapkan konsep <em>flexy-time</em>. Pertama, rentang waktu fleksibilitas yang ditawarkan kurang lebar, yakni hanya 30 menit. Hal ini berbeda dengan <a title="angka sakti 06.59, pengalaman tsaraswati ttg flexi time BI" href="http://tsaraswati.wordpress.com/2009/06/03/06-59/" rel="external nofollow">penerapan flexy-time di BI</a> yang memberlakukan rentang antara jam 07.00 s.d. 08.30. Masalah rentang waktu ini, banyak pegawai Kemenkeu yang berharap dapat mulai dihitung masuk kerja dari pukul 07.00 sehingga bisa pulang jam 16.30. Kedua, penerapan flexy time ala PMK 214 ini tampak seperti hukuman. Walaupun seseorang hanya terlambat 1 menit (absen pukul 07.31), maka dihukum dengan pemunduran jam pulang kerja 30 menit. Konsep flexy time semestinya hanya mengganti waktu yang terlambat saja, tidak perlu menggunakan sistem paket 30 menit.</p>
<p><a href="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2012/01/PMK-214-2011.pdf"><img class="alignleft size-full wp-image-480" title="lunapic_13254679486122_4" src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2012/01/lunapic_13254679486122_4.gif" alt="PMK 214 Flexi Time" width="800" height="483" /></a></p>
<p>Bagi Anda yang kesulitan mengakses PMK 214 dari website <a title="SJDIH Kemenkeu" href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/Ind/search/default.asp" rel="external nofollow">Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Kemenkeu</a>, Anda dapat mengunduhnya dari web saya. Anda dapat mengklik pada gambar PMK di atas atau pada link berikut ini: <a href="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2012/01/PMK-214-2011.pdf"> Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214/PMK.01/2011 tentang  Penegakan Disiplin Dalam Kaitannya Dengan Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara Di Lingkungan Kementerian Keuangan</a>.</p>
<p>Selamat bekerja!</p>
<p>&#8211;<br />
PS: <a title="Bang Pay @Ternate" href="http://ngendonesia.wordpress.com/" rel="external nofollow">Bang Pay</a> tidak termasuk!</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2012%2F01%2Fflexy-time-ala-kemenkeu.html&amp;title=Flexy%20Time%20ala%20Kemenkeu" id="wpa2a_2"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2012/01/flexy-time-ala-kemenkeu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Tenaga Kerja PNS</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2011/12/pasar-tenaga-kerja-pns.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2011/12/pasar-tenaga-kerja-pns.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 23:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>
		<category><![CDATA[PNS]]></category>
		<category><![CDATA[PS]]></category>
		<category><![CDATA[SDM]]></category>
		<category><![CDATA[Vice Director]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Seorang sepupu sedang bersiap-siap pindah kerja untuk ketiga kalinya. Setiap kali ia pindah perusahaan, hampir dipastikan ada keuntungan finansial dalam penawaran pindah tersebut. Gaji bertambah, jabatan pun terdongkrak. Dalam bidang industri yang digelutinya, yaitu perminyakan, pasar tenaga kerja memang hampir &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2011/12/pasar-tenaga-kerja-pns.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang sepupu sedang bersiap-siap pindah kerja untuk ketiga kalinya. Setiap kali ia pindah perusahaan, hampir dipastikan ada keuntungan finansial dalam penawaran pindah tersebut. Gaji bertambah, jabatan pun terdongkrak. Dalam bidang industri yang digelutinya, yaitu perminyakan, pasar tenaga kerja memang hampir terbentuk sempurna. Mudah baginya untuk memilih tempat kerja yang memberikan penawaran lebih menguntungkan.</p>
<p>Seorang sepupu lain lebih gila lagi. Ia memang membangun karirnya dengan jurus kutu loncat. Sejak lulus Sarjana Pertanian kira-kira 20 tahun yang lalu, ia memulai karirnya sebagai asisten perkebunan. Beberapa tahun kemudian, ia pindah ke perusahaan perkebunan lainnya sebagai manajer kebun. Dalam hitungan belasan tahun karirnya, ia melakukannya beberapa kali lagi sampai saat ini mencapai posisi Vice Director.</p>
<p>Seorang kawan juga bertipe kutu loncat. Sebagai lulusan D1 Teknologi Informasi, ia sadar sangat sulit bersaing dengan lulusan S1 TIK. Karena itu ia tidak mengharap jabatan. Yang dikejarnya cukuplah kenaikan gaji. Terkadang ada penawaran pindah kerja dengan imbal dua kali gaji atau lebih.</p>
<p>Ketiga contoh di atas adalah contoh ketersediaan <a title="Pasar Tenaga Kerja @wiki" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_tenaga_kerja" target="_blank" rel="external nofollow">pasar tenaga kerja</a> untuk industri tertentu. Keuntungan dari adanya pasar ini adalah selalu terciptanya harga equilibrium di antara persilangan penawaran dan permintaan tenaga kerja. Karyawan sebagai pihak yang memberikan penawaran diuntungkan dengan adanya taksiran harga yang sesuai dengan tingkat keahlian yang diberikan. Sementara kumpeni sebagai pihak yang melakukan permintaan, diuntungkan dengan adanya kisaran standar harga tenaga kerja.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 314px"><a href="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/12/Screenshot-4.png"><img title="Equilibrium" src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/12/Screenshot-4.png" alt="Harga Equilibrium dalam Pasar Tenaga Kerja" width="304" height="254" /></a><p class="wp-caption-text">Harga Equilibrium dalam Pasar Tenaga Kerja</p></div>
<p>Sayangnya, pasar tersebut tidak tersedia bagi PNS seperti saya. Pengaturan harga tenaga kerja PNS (baca: gaji dan tunjangan) sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Termasuk pula besaran honor yang diatur di Standar Biaya Umum. Sangat kecil ruang yang tersedia untuk membentuk pasar tenaga kerja bagi PNS. Ketika Anda (yang PNS) mendapat &#8220;rejeki&#8221; mutasi, umumnya gaji dan tunjangan tidak berubah.</p>
<p>Dalam konteks pasar tenaga kerja PNS, hanya beberapa kejadian yang dapat memengaruhi harga tenaga Anda. Yang pertama adalah <strong>promosi</strong>. Dengan mendapat promosi ke tingkat jabatan yang lebih tinggi, maka harga tenaga Anda juga meningkat. Tetapi jika dilihat dari harga jabatannya maka sebenarnya sama saja (eselon IV di unit ini dan unit itu umumnya memiliki harga yang sama). Bisa juga Anda <strong>pindah ke unit yang grade remunerasi-nya lebih tinggi.</strong> Dengan demikian harga tenaga Anda juga akan disesuaikan dengan grade di unit yang baru. Kondisi ini mungkin lebih mencerminkan harga tenaga Anda karena telah memiliki unsur permintaan dan penawaran.</p>
<p>Adapula jurus yang lain, yaitu mengubah <strong>status struktural menjadi fungsional</strong> atau sebaliknya. Sudah umum ditemui, jika kondisi sedang menguntungkan menjadi struktural maka seseorang cenderung meninggalkan posisi fungsionalnya menjadi struktural. Misalnya: dengan jalur fungsional, seseorang dapat lebih cepat mencapai golongan III/c. Setelah mencapai golongan tersebut, ia dapat menyeberang ke struktural dan menjadi pejabat eselon IV. Jabatan eselon IV memang mensyaratkan golongan minimal adalah III/c. Sebaliknya, seseorang dengan jabatan yang sepertinya sudah mentok di eselon III, ia dapat bersalin rupa menjadi fungsional agar golongannya dapat terus naik. Perpindahan antarstatus ini juga termasuk proses membentuk harga tenaga kerja PNS karena melibatkan unsur permintaan dan penawaran.</p>
<p>Penyesuaian gaji berkala dan kenaikan gaji 15% per tahun tidak saya masukkan dalam hitungan harga pasar karena tidak ada unsur permintaan dan penawaran. Jadi kedua hal tersebut saya anggap tidak membentuk pasar tenaga kerja PNS.</p>
<p>Sempitnya pasar tenaga kerja bagi PNS memang memberikan satu karakteristik yang berbeda dari pasar tenaga kerja swasta. PNS cenderung dihargai hanya dari atribut formal yang dikenakannya, alih-alih dari potensi yang dimilikinya. Secara agregat, hal ini merugikan organisasi yang memperkerjakan PNS, karena SDM tidak diberdayakan secara optimal. Ada inefisiensi antara input potensi dan output kinerja organisasi. SDM yang dikelola secara formal juga memiliki kerugian psikologis. Motivasi PNS potensial dapat menurun karena merasa tidak dihargai. Ujung-ujungnya, makin banyak PNS apatis yang hanya menjadi free rider. Sikapnya terbentuk atas dasar premis, &#8220;Apa untungnya buat saya?&#8221;. Salah siapa kalau sudah jadi begini?</p>
<p>Solusi sementara yang bisa saya usulkan bagi Anda, PNS berpotensi tinggi, hanyalah: carilah penyaluran di tempat lain. Potensi terpendam Anda bisa disalurkan melalui kegiatan-kegiatan sosial, bisnis sampingan, klub hobi, pembina ekskul di almamater Anda, dll. Simpan dan asah potensi Anda sampai pasar tenaga kerja PNS sudah cukup ideal.</p>
<p>Bagaimana kalau tidak pernah ada pasar ideal bagi PNS? Hehehe.. Mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk terjun ke pasar tenaga kerja yang sempurna saja.</p>
<p><em>PS: Ingat, lawannya promosi adalah demosi. Lawannya mutasi normal adalah mutasi usiran (ke kantor yang nggak enak tentunya). Hukuman disiplin dapat menurunkan penghasilan Anda. Begitu pula hukuman sosial :p<a href="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/12/Screenshot-4.png"><br />
</a></em></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2011%2F12%2Fpasar-tenaga-kerja-pns.html&amp;title=Pasar%20Tenaga%20Kerja%20PNS" id="wpa2a_4"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2011/12/pasar-tenaga-kerja-pns.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesalahan Memahami Signifikansi Statistik</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2011/11/kesalahan-memahami-signifikansi-statistik.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2011/11/kesalahan-memahami-signifikansi-statistik.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 18:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>
		<category><![CDATA[Pengen Tahu]]></category>
		<category><![CDATA[Persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[Riset Kecil2an]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Mana Kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing Research Parasuraman]]></category>
		<category><![CDATA[Neyman Pearson]]></category>
		<category><![CDATA[Uji Signifikansi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Saya terpikat oleh sebuah paper dari Raymond Hubbard dan J. Scott Armstrong (2005) yang berjudul &#8220;Why We Don&#8217;t Really Know What &#8216;Statistical Significance&#8217; Means: A Major Educational Failure&#8221;. Meskipun paper tersebut sudah cukup tua, namun topik yang dibawakan masih cukup nendang &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2011/11/kesalahan-memahami-signifikansi-statistik.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya terpikat oleh sebuah paper dari Raymond Hubbard dan J. Scott Armstrong (2005) yang berjudul &#8220;<em>Why We Don&#8217;t Really Know What &#8216;Statistical Significance&#8217; Means: A Major Educational Failure&#8221;. </em>Meskipun paper tersebut sudah cukup tua, namun topik yang dibawakan masih cukup <em>nendang</em> bagi saya. Paper tersebut menunjukkan bahwa kerap terdapat kesalahan pemahaman makna signifikansi statistik dalam jurnal-jurnal dan buku-buku teks riset bisnis. Banyak penulis yang telah salah mengartikan makna signifikansi statistik dengan menggunakan kriteria <strong><em>p</em> &lt; <em>α</em></strong> sebagai uji signifikansi statistik.</p>
<p>Buku-buku teks yang ditemukan bermasalah di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Marketing Research within a changing information environment (<strong>Hair</strong>, Bush dan Ortinau, 2003);</li>
<li>Marketing Research (<strong>Cooper dan Schindler</strong>, 2006);</li>
<li>Marketing Research (Aaker, Kumar dan Day, 2001);</li>
<li>Marketing Research: An applied orientation (Malhotra, 2004);</li>
<li>Marketing Research: The impact of the internet (McDaniel dan Gates, 2002);</li>
<li>Marketing Research (Parasuraman, Grewal dan Khrisnan, 2004).</li>
</ol>
<p><em>Note: (nama pengarang yang dicetak tebal adalah referensi yang pernah saya gunakan). </em></p>
<p><a href="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/11/research-icon.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-417" title="research-icon" src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/uploads/2011/11/research-icon.jpg" alt="Riset" width="300" height="288" /></a></p>
<p>Bagaimana seharusnya uji signifikansi yang benar? Bagaimana kesalahpahaman kriteria <strong><em>p</em> &lt; <em>α </em></strong>mulai muncul di ranah akademis? Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan kembali isi paper tersebut kepada Anda.</p>
<h2>Uji Signifikansi ala Fisher (<em>p-value</em>) dan ala Neyman-Pearson (<strong><em>α-level</em></strong>)</h2>
<p>Uji signifikansi adalah salah satu tahap terpenting dalam sebuah riset, <em>wa bil khusus</em> riset yang bermetodologi kuantitatif. Uji ini yang akan menentukan simpulan hasil riset. Uji signifikansi menentukan apakah hipotesis yang dibuat di awal riset akan diterima atau ditolak. Karena peran pentingnya itulah, para ahli mencari cara terbaik yang dapat membedakan hasil pengamatan secara meyakinkan. Tingkat keyakinan yang memadai untuk dapat menerima suatu hipotesis tersebut yang kerap disebut dengan istilah <strong>signifikansi statistik</strong> (<em>statistical significance</em>).</p>
<p>Terdapat dua mazhab besar dalam penentuan signifikansi statistik dalam riset ilmu sosial. Mazhab Fisher menggunakan nilai p untuk menunjukkan uji signifikansi dan inferensi induktif. Sementara mazhab Neyman-Pearson menggunakan nilai alpha untuk menunjukkan perilaku yang terpilih di antara hipotesis null (H<sub>0</sub>) dan hipotesis alternatif (H<sub>A</sub>).</p>
<p>Mazhab yang dianut oleh Fisher berdasarkan cara berpikir induktif. Fisher menggunakan nilai p untuk menentukan signifikansi. Nilai p ini menunjukkan probabilitas hasil pengamatan (x) tidak memiliki efek atau hubungan dengan hipotesis null (H<sub>0</sub>), dinotasikan dengan P (x | H<sub>0</sub>). Nilai p menunjukkan besarnya probabilitas kebenaran hipotesis null (H<sub>0</sub>) saja tanpa ada hipotesis alternatif (H<sub>A</sub>). Jika H<sub>0</sub> terbukti signifikan, maka bisa disimpulkan (inferensial) bahwa H<sub>0</sub> diterima.</p>
<p>Mazhab Neyman-Pearson menggunakan uji hipotesis untuk mencari titik signifikansi antara dua hipotesis. Menurut mazhab ini, titik signifikansi tersebut tercapai saat model penelitian bebas dari kesalahan, atau setidaknya error/kesalahan dalam pengamatan bisa diminimalisasi. Signifikansi tersebut ditentukan oleh besarnya dua macam error, yaitu salah menolak H<sub>0</sub>, atau kerap disebut Type I Error (α), dan salah menerima H<sub>A</sub>, atau disebut Type Error II (β).</p>
<p>Dengan demikian, penggunaan p-value dan Type I error tidak dapat dicampuradukkan. Walaupun keduanya sama-sama mengamati ekor distribusi (<em>tail distribution</em>), tetapi P-value menunjukkan di area distribusi mana hasil penelitian terletak dan hanya bisa diketahui setelah uji statistik, sementara Type I Error menunjukkan apakah hasil penelitian akan jatuh di area distribusi yang diterima atau ditolak; dan nilainya ditentukan oleh peneliti sebelum uji statistik. Kombinasi keduanya untuk menguji signifikansi statistik tentu adalah sebuah metode penilaian yang bias.</p>
<p>Pendapat ini juga diamini oleh Wikipedia. Dalam lema mengenai P-value, wikipedia mengingatkan bahwa:</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230;, P-value bukanlah probabilitas hipotesis null akan diterima, P-value juga tidak sama dengan tingkat kesalahan Tipe I, α.&#8221;   (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/P-value" rel="external nofollow">http://en.wikipedia.org/wiki/P-value</a>)</p></blockquote>
<p>Demikian pula di lema mengenai signifikansi statistik, wikipedia menyebutkan hal yang serupa:</p>
<blockquote><p>&#8220;Perlu ditekankan bahwa nilai-p Fisherian secara filosofis berbeda dari Tipe I kesalahan Neyman-Pearson . Kebingungan ini sayangnya masih disebarkan oleh banyak buku-buku statistik.&#8221;(<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Statistical_significance" rel="external nofollow">http://en.wikipedia.org/wiki/Statistical_significance</a>)</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Sejak Kapan Kriteria <strong><em>p</em> &lt; <em>α</em></strong> Mulai Muncul?</h2>
<p>Ronald Fisher sendiri telah mengeluhkan bahwa uji signifikansi telah &#8220;terasimilasi&#8221; ke dalam kerangka pengujian hipotesis Neyman-Pearson. Melalui tulisannya berjudul <em>&#8220;Statistical methods and scientific induction&#8221;</em> yang diterbitkan tahun 1955 di Journal of the Royal Statistical Society, B, Volume 17: hal. 69–78, Fisher menolak asimilasi penggunaan p-value dan Type I Error tersebut.</p>
<p>Dalam berbagai sumber statistik untuk pentlitian bisnis dan ilmu-ilmu sosial, diajarkan bahwa penelitian dilakukan kurang lebih sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Peneliti menentukan hipotesis null (H<sub>0</sub>) dan hipotesis alternatif (H<sub>A</sub>).</li>
<li>Peneliti menentukan tingkat signifikansi dengan menentukan nilai α (kesalahan Tipe I).</li>
<li>Peneliti menghitung kekuatan tes (misalnya dengan nilai z). Sampai di sini, langkah-langkah riset telah sesuai dengan aliran Neyman-Pearson.</li>
<li>Setelah itu, uji statistik dihitung, dan nilai p ditentukan.</li>
<li>Signifikansi statistik riset ini kemudian ditentukan dengan menggunakan kriteria p &lt;α. Jika p &lt;α, hasilnya dianggap signifikan secara statistik, sedangkan jika p&gt; α, maka hasil riset tidak signifikan.</li>
</ol>
<p>Hasil akhir dari metode asimilasi Fisher dan Neyman-Pearson adalah bahwa, meskipun entitas yang sama sekali berbeda dengan interpretasi yang sama sekali berbeda pula, nilai p adalah dalam pikiran peneliti sekarang dipandang memiliki keterkaitaitan dengan tingkat kesalahan Tipe I, α. Dan karena keduanya sama-sama konsep probabilitas ekor wilayah distribusi, nilai p keliru ditafsirkan sebagai pengamatan berbasis frekuensi sebagaimana tingkat kesalahan tipe I, dan juga disalahgunakan sebagai bukti pengukuran terhadap H<sub>0</sub> (yaitu, p &lt;α) .</p>
<h2>Penutup</h2>
<p>Waktu membuka buku Metode Riset Bisnis edisi International (2008) yang disusun oleh Cooper dan Schindler, saya masih menemukan kriteria p&lt;α digunakan di Bab Hypothesis Testing. Untungnya, tesis saya tidak menggunakan kriteria p &lt;α ini.</p>
<p>Apakah mungkin skripsi-skripsi, tesis-tesis dan jurnal-jurnal masih salah kaprah pula memahami hal ini? Bagaimana dengan penelitian Anda? Ditunggu masukan dan pengalaman Anda di kotak komentar.</p>
<p><em>Gambar dari laman web <a title="Seklah Pascasarjana UGM" href="http://pasca.ugm.ac.id/v2.1/" target="_blank" rel="external nofollow">Sekolah Pascasarjana UGM</a>. </em></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2011%2F11%2Fkesalahan-memahami-signifikansi-statistik.html&amp;title=Kesalahan%20Memahami%20Signifikansi%20Statistik" id="wpa2a_6"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2011/11/kesalahan-memahami-signifikansi-statistik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ronda di Kota dan di Desa</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2010/10/ronda-di-kota-dan-di-desa.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2010/10/ronda-di-kota-dan-di-desa.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 08:06:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>
		<category><![CDATA[Persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[Realita Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Hampir setahun tinggal di Jogja, ada banyak pengalaman baru yang saya alami. Kalo dipikir-pikir lucu juga. Saya menghabiskan masa kecil di Jogja, tetapi justru pengalaman sosial sebagai keluarga saya awali di Jakarta. Adaptasi sosial kami sekeluarga di Jogja tidaklah mudah. &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2010/10/ronda-di-kota-dan-di-desa.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir setahun tinggal di Jogja, ada banyak pengalaman baru yang saya alami. Kalo dipikir-pikir lucu juga. Saya menghabiskan masa kecil di Jogja, tetapi justru pengalaman sosial sebagai keluarga saya awali di Jakarta.</p>
<p>Adaptasi sosial kami sekeluarga di Jogja tidaklah mudah. Selama 3 bulan pertama, tidak ada dari kami yang kerasan. Kendala bahasa, budaya dan lingkungan sosial menjadi hambatan terbesar bagi kami untuk menyesuaikan diri. Salah satu yang paling bikin shock adalah kegilaan lalu lintas di Jogja yang tanpa sopan santun. Ada penyesuaian di sana-sini, termasuk untuk urusan pertemuan warga. Rapat RT kini wajib saya hadiri. Sederet kegiatan kemasyarakatan juga turut menghiasi agenda saya di Jogja.</p>
<p>Salah satu pengalaman baru yang saya alami adalah ronda. Seumur-umur saya belum pernah ikut ronda. Dulu ketika remaja, saya pernah harus menggantikan ayah saya. Itu pun langsung disuruh pulang oleh orang-orang sesampainya di pos ronda. Sekarang, mau tak mau saya sebagai kepala keluargalah yang harus ikut ronda. Awalnya memang cukup canggung menghabiskan 2-3 jam di malam hari bersama orang yang belum saya kenal. Namun lama kelamaan saya pun terbiasa. Bahkan saya merasa ronda memiliki berbagai fungsi sosial yang cukup bermanfaat.</p>
<p>Ronda ternyata tidak hanya sebagai sarana pengamanan saja, tetapi juga menjadi sarana interaksi dengan orang-orang di sekitar kita. Apalagi bagi pendatang seperti saya. Sesiangan sudah tidak berada di rumah, malam pun dihabiskan untuk istirahat. Mungkin ronda menjadi satu-satunya sarana sosial saya dengan tetangga. Tentunya selain <em>say hi</em> dengan tetangga kanan-kiri, atau acara-acara insidental seperti pernikahan dan kematian.</p>
<p>Selama berada di Jogja, saya sempat merasakan dua lingkungan. Lingkungan yang pertama berada di pinggiran kota Jogja tak jauh dari kampus UGM. Penduduknya sudah beragam dan banyak pula pendatang. Seorang guru besar FIB UGM juga tinggal di situ. Profesi para penduduknya sudah beragam, mulai dari pedagang, pegawai, wirausaha, dan penyedia jasa. Skala pekerjaannya pun bervariasi, ada pedagang kelas berat, pengecer tingkat retail, pedagang bubur keliling, mantan kepala kantor kejaksaan, sampai teknisi listrik di RSUD dr. Sardjito. Saya sempat menghabiskan satu tahun di lingkungan ini.</p>
<p>Lingkungan kedua yang saya rasakan adalah sebuah desa di luar kota Jogja. Desa tersebut masih benar-benar tipikal sosial sebuah desa. Lokasi rumah-rumah berkumpul di tengah-tengah sawah dan ladang. Pintu masuknya ditandai dengan gapura. Profesi dominan penduduknya adalah petani. Sedikit saja yang berprofesi pegawai. Luas sawah menjadi salah satu indikator status sosial. Sapi menjadi aset paling bonafid. Strata sosialnya terbentuk jelas: ada pak dukuh, beberapa ketua RT, imam masjid, serta kumpulan pemuda desa yang siap membantu acara apa saja.</p>
<p>Ronda di kota dan di desa, sama-sama menarik. Agendanya pun sama, kumpul di pos ronda, ngobrol sambil menikmakti hidangan yang disuguhkan secara bergilir salah seorang anggota tim ronda, serta berkeliling mengambil jimpitan di rumah-rumah. Bahkan saking tingginya chaivinisme ikatan ronda, diJogja sering ditemui kaos oblong dengan sablonan identitas ronda. Misalnya, &#8220;Malem Rebo: Karambol Ok, Gaple yo Wani!&#8221; (Malam Rabu: Berani ditantang main karambol ataupun kartu domino).</p>
<p>Jika ada yang berbeda, maka itu adalah jadwal ronda. Di kota, ronda di mulai jam sepuluh sampai jam dua belas malam, sementara di desa pada jam dua belas malam justru ronda baru dimulai dan nanti akan selesai jam tiga pagi. Ronda di desa juga dituntut lebih ketat karena sekaligus menjaga kandang sapi bersama yang memang ditempatkan di dekat pos ronda. Di kota, patroli malam Polisi turut membantu mengurangi risiko kejahatan. Sementara desa tidak memiliki rasio antara jumlah polisi dan luas wilayah yang mencukupi.</p>
<p>Sebagai sarana berinteraksi, ronda juga menjadi sumber informasi bagi saya. Saya menjadi lebih mengenal lingkungan dari informasi yang didapat selama menjalankan ronda. Kuncinya, kita harus pintar-pintar membuat agar setiap orang mengeluarkan informasi terhangat yang ia miliki. Bagi orang tua, hal ini cukup mudah. Kita tinggal puji-puji beliau dan minta diceritakan sesuatu di masa lalu. Kemudian di tengah cerita biasanya sang narasumber keceplosan atau kita sendiri bisa mengambil simpulan dari cerita masa lalunya dengan kondisi saat ini. Biasanya bentuknya informasi spasial, seperti tanah itu dulu dimiliki pak anu, lalu pak anu kena masalah dan dijual ke pak itu. Biasanya ada juga anggota tim ronda yang memang hobi menyebarkan info, mungkin mau menyaingi infotainment. Yang paling seru, kalau <em>trouble maker </em>atau oposan di lingkungan itu ada di tim ronda kita. Semua kebijakan RT dianalisis dan dikritisi habis-habisan. Kalau sudah bosan mendengar kata-kata pedasnya, kita tinggal tembak, kamu juga belum tentu bisa memecahkan masalah seperti itu. Sang oposan biasanya terpancing emosinya, apalagi kalau diingatkan pada kegagalannya ketika menjadi panitia suatu acara.</p>
<p>Dinamika sosial masyarakat sudah memberikan gambaran yang cukup beragam bagi diri saya. Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari sana. Beberapa pengalaman di antaranya bahkan membuka kesempatan untuk menangguk untung atau menyebarkan kebaikan. Info bisnis dapat ditindaklanjuti dengan langkah-langkah profitisasi, sementara info sosial disambar menjadi ladang pahala. Semuanya agar kita menjadi manusia yang lebih baik di masa datang. Amin.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2010%2F10%2Fronda-di-kota-dan-di-desa.html&amp;title=Ronda%20di%20Kota%20dan%20di%20Desa" id="wpa2a_8"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2010/10/ronda-di-kota-dan-di-desa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terusik oleh Sejarah</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2010/10/terusik-oleh-sejarah.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2010/10/terusik-oleh-sejarah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 04:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>
		<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu, pandangan saya tertumbuk pada kertas bungkus nasi yang akan saya makan. Kertas tersebut adalah sobekan dari pelajaran sejarah untuk SMA. Pada kertas tersebut tertulis sebuah pertanyaan, &#8220;Apa yang menyebabkan rakyat Banten menyerang Belanda?&#8221; Pilihan jawaban yang tersedia adalah: &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2010/10/terusik-oleh-sejarah.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu, pandangan saya tertumbuk pada kertas bungkus nasi yang akan saya makan. Kertas tersebut adalah sobekan dari pelajaran sejarah untuk SMA. Pada kertas tersebut tertulis sebuah pertanyaan, &#8220;Apa yang menyebabkan rakyat Banten menyerang Belanda?&#8221; Pilihan jawaban yang tersedia adalah:<br />
a. Karena menolak monopoli dagang.<br />
b. Adanya konflik antara Sultan Agung Tirtayasa dan Sultan Haji.<br />
c. Karena menjadi basis pasukan Sultan Agung dari Mataram.<br />
d. Karena didukung para ulama.</p>
<p>Hmm.. pertanyaan yang menarik. Sambil menikmati makan siang, romantisme pelajaran sejarah mengusik pikiran saya. Hadir kembali dalam ingatan saya bagaimana dulu pelajaran ini disampaikan. Sosok ibu guru yang sabar luar biasa menghadapi segerombolan anak-anak bandel membuat pelajaran ini kerap menjadi sarana pelarian intelektual (baca: melamun). Penempatannya di jam-jam pelajaran terakhir menasbihkan prioritas pengajarannya di nomor buncit. Untuk urusan nilai pun, selalu yang ditanyakan adalah IPA, Matematika, IPS, dan Bahasa Indonesia. Jarang sekali ada orangtua murid yang menanyakan perkembangan nilai sejarah anaknya. Kalau pun ada, orangtua tidak akan mengrenyitkan dahi mendengar anaknya mendapat nilai kurang memuaskan. Tak jarang orangtua tergelak mengolok-olok anaknya yang jeblok nilainya di pelajaran sejarah.</p>
<p>Sepertinya, metode hafalan menjadi satu-satunya kunci sukses dalam pelajaran sejarah. Bagi anak-anak yang cenderung berpikir logis, menghafal adalah sebuah siksaan. Mata disuguhi deretan angka tahun yang seolah tidak berpola. Kepala diisi nama orang dan nama tempat yang aneh diucapkan di mulut. Kira-kira bagaimana membuat pelajaran sejarah tidak sekedar menghapal ya? Apa sih sebenarnya maksud dan tujuan pelajaran sejarah di sekolah?</p>
<p>Sebuah pikiran usil muncul di kepala, apakah tidak lebih baik murid-murid mempelajari sesuatu yang lebih bermakna daripada sekedar deretan peristiwa?  Bisakah sejarah diajarkan dalam bentuk pola yang logis? Dapatkah pelajaran sejarah diberikan dalam satu kesatuan nilai yang bermanfaat? Misalnya, pelajaran sejarah diarahkan untuk menjawab pertanyaan seperti: Bagaimana sistem politik kerajaan Banten? Siapa saja yang memiliki peran politik dalam kerajaan Banten? Apakah konflik Sultan Agung dan Sultan Haji bisa terjadi pada sistem politik kerajaan Mataram? Mungkin dengan pendekatan seperti ini, murid tidak dapat menghabiskan materi sebanyak kurikulum saat ini, namun murid diharapkan dapat mengambil pelajaran (lesson learned) dari beberapa peristiwa sejarah. Jika sang murid tertarik dengan pelajaran yang ia dapat, maka ia dapat melanjutkan mempelajarinya di kelas yang lebih lanjut (penjurusan).</p>
<p>Saya rasa, sejarah adalah sebuah hal penting yang dimiliki bangsa ini. Keanekaragaman sejarah bangsa jangan sampai menjadi siksaan bagi murid-murid sekolah dasar. Kekayaan sejarah kita dapat menjadi koleksi harta tak ternilai. Bayangkan jika kita memiliki data sejarah yang memuaskan. Bayangkan jika kita memiliki sekelompok sejarawan yang bekerja dalam sebuah rerangka sinergis. Mungkin Indonesia bisa memiliki museum sekelas Smithsonian atau perpustakaan sebesar Alexandria. Ironisnya saat ini kita`justru merujuk ke koleksi mikrofilm Universitas Leiden Belanda untuk mencari sumber sejarah bangsa.</p>
<p>Saya teringat sebuah film yang menceritakan tentang seorang guru sejarah yang dapat membangkitkan ketertarikan murid. Sang guru mengajak murid-muridnya untuk melakukan adegan-adegan sejarah, seperti perang Saudara (Civil War) antara Amerika bagian Utara dan Selatan, proklamasi Thomas Jeferson, dll. Mungkin dengan sentuhan yang sama, topik sejarah bisa menjadi pelajaran favorit di sekolah-sekolah di Indonesia.</p>
<p>Tapi tunggu dulu.. logika saya terantuk pada sebuah batu besar. Jika masalah metode pengajaran yang tepat sudah ditemukan, pertanyaan bergeser pada hal yang lebih mendasar. Apa sih gunanya belajar sejarah? Kalau sejarah membuat kita terkungkung di masa lalu, mungkin lebih baik tidak usah mengungkit-ungkit masa lalu. Sebaliknya jika pelajaran sejarah digunakan untuk memperbaiki diri menghadapi masa depan, maka pengajarannya harus berorientasi masa depan. Nah, sekarang apa relevansinya sejarah era kerajaan Nusantara dengan masa depan? Bukankah kondisi masa ini sudah jauh berbeda? Bukankah budaya feodal telah lama ditinggalkan bangsa ini?</p>
<p>Sejarah Indonesia terbagi menjadi 3 fase. Fase perjuangan kedaerahan, fase perjuangan nasional, serta fase  pascakemerdekaan. Sejarah fase kerajaan Nusantara difokuskan pada sistem politik, keadaan, tata niaga, sistem sosial, dll. Fase perjuangan organisasi, fokus pembelajaran terletak pada pendidikan, organisasi politik, perubahan sosial di Belanda dan Hindia Timur, bagaimana perjuangan bisa berpuncak pada revolusi fisik, dll. Fase perjuangan pascakemerdekaan bisa mengangkat tema pengakuan kedaulatan, pergantian sistem politik, serta politik luar negeri kita. Nah, pelajaran apa yang bisa diberikan oleh masing-masing fase ini terhadap tujuan pembelajaran sejarah?</p>
<p>Mudah-mudahan, pelajaran sejarah tidak lagi menjadi momok bagi para siswa. Diharapkan dengan metode baru pembelajaran sejarah dapat menelurkan sejarawan-sejarawan berkualitas, generasi muda yang berwawasan sejarah, serta pemimpin bangsa yang menghargai dan mengambil pelajaran dari sejarah.</p>
<p>Tak terasa, nasi di mangkuk soto sudah tandas. Saya pun melanjutkan perjalanan meninggalkan bungkus nasi bersejarah itu.</p>
<p style="text-align: center;">-o0o-</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2010%2F10%2Fterusik-oleh-sejarah.html&amp;title=Terusik%20oleh%20Sejarah" id="wpa2a_10"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2010/10/terusik-oleh-sejarah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengejar Kesempurnaan (Pursuit of Excellence)</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2009/10/mengejar-kesempurnaan-pursuit-of-excellence.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2009/10/mengejar-kesempurnaan-pursuit-of-excellence.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 19:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[maksi]]></category>
		<category><![CDATA[managerial accounting]]></category>
		<category><![CDATA[ugm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Kita tentu sudah sering mendengar tentang TQM (Total Quality Management). Sebuah pendekatan manajemen yang menitikberatkan pada kesempurnaan kualitas. Salah satu dimensi kesempurnaan kualitas adalah kesempurnaan proses produksi. Proses produksi yang sempurna menurut TQM adalah proses produksi yang tidak membuat kesalahan. &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2009/10/mengejar-kesempurnaan-pursuit-of-excellence.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita tentu sudah sering mendengar tentang TQM (<em>Total Quality Management</em>). Sebuah pendekatan manajemen yang menitikberatkan pada kesempurnaan kualitas. Salah satu dimensi kesempurnaan kualitas adalah kesempurnaan proses produksi. Proses produksi yang sempurna menurut TQM adalah proses produksi yang tidak membuat kesalahan. TQM tidak mentolelir adanya produk cacat. Mengadopsi TQM berarti berkomitmen penuh dengan <em>zero-defects</em>.</p>
<p>Pandangan ini telah merevolusi keyakinan manajemen terdahulu. Dalam kurun waktu yang cukup panjang, telah terpatri di hati dan kepala manajer bahwa adanya sebuah <em>acceptable tolerance</em> dalam proses produksi. Dengan keyakinan ini para manajer beranggapan bahwa, &#8220;yaah.. wajarlah kalo ada produk reject. Dari satu juta produk mosok nggak ada yang cacat.&#8221; Sebuah keyakinan yang masih memiliki penganut sampai saat ini.</p>
<p>Di era persaingan gila-gilaan ini, kompetisi telah menuntut adanya suatu diskrepansi nilai yang signifikan di antara produk-produk yang beredar. Para manajer pun berlomba-lomba mengejar keunggulan. Salah satu inovasi terbesar dalam perkembangan ilmu manajemen di era 1990-2000 adalah dikembangkannya konsep TQM. Para manajer tidak cukup lagi berasumsi bahwa ada sedikit produk cacat adalah hal yang wajar. Proses penciptaan nilai bagi produk digenjot pol mulai dari pabrik. Produk cacat tidak hanya menandakan proses produksi yang berjalan telah gagal dalam mengolah seluruh bahan baku, namun juga menunjukkan ada sesuatu yang salah pada perencanaan produksi. Apa bisa dikatakan masuk akal bila perusahaan merencanakan untuk gagal?<br />
<span id="more-244"></span>Keberadaan produk cacat seringkali membutuhkan penanganan ekstra dibandingkan produk sempurna. Biaya tambahan yang muncul untuk mengolah kembali (<em>re-work</em>) ataupun membuang (<em>dispose</em>) produk tersebut bisa membuat total ongkos produksi membengkak. Hal ini yang akhirnya akan menurunkan value yang diterima oleh pelanggan.</p>
<p>Ah.. saya tak ingin berlama-lama membahas hal ini. Singkatnya berbagai metode dan pendekatan berbasis pandangan TQM ini hadir sebagai alternatif. Anda tentu sudah mengenal (bahkan mungkin mempraktikkan) Kaizen, Six Sigma, Malcolm Balridge, Deming System, Management by Objective, dll. Kita bebas untuk mengadopsi metode mana saja.</p>
<p>Satu pertanyaan menyeruak di kepala saya. Metode mana pun yang Anda pilih, selalu menyebutkan Kaizen sebagai praktik awal sejarah TQM. Hal ini menandakan, bangsa Jepang adalah bangsa yang pertama kali sadar mengenai TQM. Pertanyaannya, <strong>kenapa harus berawal di Jepang?</strong></p>
<p>Bangsa Jepang dikenal memiliki keterkaitan yang kuat dengan budayanya. Kondisi geografis sebagai kepulauan yang terpencil dari daratan, telah menumbuhkan sikap primordialisme yang kuat. Kondisi ini mirip seperti kepulauan Inggris di Eropa. Bahkan sampai saat ini, orang Jepang dikenal tidak mampu berbahasa asing.</p>
<p>Entah bagaimana sebabnya, bangsa Jepang dikenal pula karena kesempurnaan dalam kesehariannya. Orang Jepang terbiasa mengerjakan semua hal dengan sempurna. Mungkin karena sumber daya alam yang terbatas, membuat mereka mengembangkan sikap efisiensi dan efektivitas dalam mengolahnya menjadi barang konsumsi.</p>
<p>Mari kita lihat lebih detil. Orang Jepang memiliki acara minum teh yang disebut <em>Chado</em>. Dalam acara ini, seluruh aktivitas telah direncanakan dengan detil. Kelengkapan peralatan berupa teko, cawan, wadah gula, sendok, dan pengaduk merupakan persiapan standar yang wajib tersedia. Selanjutnya, prosesi acara mulai dari menyiapkan peralatan, menyeduh dan meminum teh sampai membersihkan peralatan, memiliki ritual tersendiri. Tidak boleh ada satu bagian pun yang terlewat atau salah. Harapannya tentu agar hasil seduhan teh bisa dinikmati dengan sempurna.</p>
<p>Ada lagi budaya Jepang yang populer yang disebut Ikebana. Seni merangkai bunga ini telah dimulai sekitar 14 abad yang lalu. Seluruh usaha untuk menempatkan harmoni berbentuk warna, ritme, dan desain, dituangkan dalam sebuah tanaman dalam pot. Tanaman yang sudah dipisahkan dari alam (baca: dipetik) haruslah diberi wadah yang memiliki keharmonisan seperti alam aslinya. Ikebana tak lain adalah bentuk menuangkan kesempurnaan dalam wujud eksploitasi keindahan tumbuhan.</p>
<p>Dalam bentuk yang lebih besar dibandingkan dua contoh di atas, bangsa Jepang pernah memiliki samurai sebagai suatu sistem budaya. Sebuah kelompok yang dibentuk untuk setia dan melindungi kekaisaran telah berkembang menjadi suatu sistem budaya yang kompleks. Tidak hanya aspek spiritual yang mampu membuat seorang samurai rela mengorbankan nyawanya, namun aspek teknis dalam proses menempa diri telah dirancang, dipraktikkan dan disempurnakan secara turun-temurun. Dalam gerakan seorang samurai, tidak ada hal yang sia-sia. Seluruh tarikan nafas, kontraksi otot dan konsentrasi pikiran, bersinergi untuk tujuan yang sama. Sebuah sabetan pedang yang secara sempurna mematikan musuh yang dihadapinya.</p>
<p>Melihat beberapa contoh di atas, saya rasa cukup mewakili potret budaya Jepang yang menjadi latar belakang munculnya konsep Kaizen (<em>continuous improvement</em>) yang nantinya diadopsi menjadi dasar filosofi TQM. Tidak heran inovasi itu terlahir di sana. Bangsa Jepang terbiasa mengejar kesempurnaan dalam setiap detil aktivitas sehari-hari. Sikap ini yang terus terbangun mulai dari hal kecil sampai menjadi kompleks, dan akhirnya digunakan dalam dunia manajemen.</p>
<p>Jadi, tidak terlalu mengherankan kalau dari daratan Jepang muncul Kaizen, Demings System (1), Toyota Ways, legenda Honda, raja inovasi Sony, raksasa bisnis Mitsubishi dan berbagai macam keajaiban bisnis lainnya. Mereka adalah buah dari kerja keras serta budaya yang telah mencetak cara pandang orang Jepang dalam mengejar kesempurnaan.</p>
<p style="text-align: center;">-o0o-</p>
<p>Notes:<br />
(1) Ingat, walaupun Edward Demings berasal dari Amerika, buah pikirannya justru berkembang di Jepang.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2009%2F10%2Fmengejar-kesempurnaan-pursuit-of-excellence.html&amp;title=Mengejar%20Kesempurnaan%20%28Pursuit%20of%20Excellence%29" id="wpa2a_12"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2009/10/mengejar-kesempurnaan-pursuit-of-excellence.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kondisi Keuangan Negara Pra APBN Perubahan 2008</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/kondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/kondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 23:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/kondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau membicarakan Keuangan Negara, pastilah tak lepas dari menyoroti APBN. Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi, APBN sering dipandang sebagai indikator sekaligus solusi. Walaupun besarnya bahkan tidak mencapai separuh dari jumlah konsumsi sektor privat, APBN dianggap memiliki multiplier effect karena bermain di &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2008/04/kondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau membicarakan Keuangan Negara, pastilah tak lepas dari menyoroti APBN. Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi, APBN sering dipandang sebagai indikator sekaligus solusi. Walaupun besarnya bahkan tidak mencapai separuh dari jumlah konsumsi sektor privat, APBN dianggap memiliki multiplier effect karena bermain di area publik yang strategis.</p>
<p>Banyak pengamat yang memperkirakan tahun 2008 ini adalah tahun terburuk dalam sejarah perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi 1998. Beberapa peristiwa keuangan dunia tak hanya menyebabkan hantaman krisis di Amerika, namun juga menebar ancaman di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan perekonomian Indonesia.</p>
<p>Hal itu dibenarkan dengan adanya instruksi penghematan anggaran oleh Menteri Keuangan. Tidak tanggung-tanggung, surat edaran Menkeu itu dikeluarkan dengan nomor surat satu. Jadi logikanya, perintah pertama Menkeu di tahun 2008 ini adalah penghematan. Jauh-jauh hari Bu Menkeu sebenarnya sudah mewaspadai mengamuknya badai krisi ini sejak tahun lalu. Hanya saja waktu itu Bu Anik (nama kecil Menkeu) masih optimis, &#8220;Krisis kali ini berbeda dengan krisis moneter 1998.&#8221; Beliau juga berkeyakinan Indonesia tidak akan banyak terpengaruh.</p>
<p><strong>Enam Masalah APBN 2008</strong></p>
<p>Namun kenyataan harus berkata lain. APBN digoyang berbagai isu yang melambungkan defisit. Tidak hanya itu, tidak tercapainya target pajak 2007 juga mengancam kekosongan uang kas negara. Birokrat di Depkeu pun segera mengidentifikasi masalah. Ada 6 masalah yang menjadi ancaman dan tantangan bagi APBN.</p>
<p>Enam masalah itu mencakup:</p>
<ol>
<li>Krisis subprime mortgage di Amerika;</li>
<li>Kenaikan harga minyak dunia;</li>
<li>Meningkatnya harga pangan dunia;</li>
<li>Melemahnya nilai tukar rupiah;</li>
<li>Tidak tercapainya produksi minyak Indonesia;</li>
<li>Adanya Paket Kebijakan Stabilisasi Harga Pangan (PKSH) yang terhantam kenaikan komoditas pangan (minyak goreng, dkk) .</li>
</ol>
<p>Meleset dari perkiraan Bu Anik, krisis perkreditan Amerika mau tak mau membuat Indonesia meradang juga.</p>
<p>Berbeda dengan kenaikan harga minyak dunia tahun 1980-an, waktu itu Indonesia sebagai net eksportir masih merasakan manisnya surplus anggaran. Kebijakan surplus itu pula yang banyak dikritisi. Waktu itu Indonesia masih menggunakan anggaran dinamis dan berimbang. Artinya, setiap defisit pengeluaran harus dicarikan pembiayaannya. Seharusnya ketika penerimaan berlebih, harus segera spending dalam pembangunan. Namun Menkeu waktu itu (mungkin atas perintah Pak Harto) justru memilih saving sebagai penampung lebihan dana.</p>
<p>Kenaikan harga minyak tahun 2008 ini justru membuat Indonesia meradang. Kenaikan harga minyak tidak diikuti dengan kenaikan penerimaan. Pertama, karena Indonesia sudah menjadi net importir. Dari kebutuhan 1,3 juta barel per hari, produksi minyak Indonesia hanya dipatok 1,034 juta barel di APBN 2008. Target itu pun tidak tercapai. Hanya 980 ribu barel yang dapat dicapai. Alasan kedua, Indonesia tidak memiliki skema windfall profit tax (pajak durian runtuh). Pajak ini dikenakan ketika sebuah keadaan luar biasa membuat suatu pihak mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Windfall profit tax sudah umum diterapkan di negara-negara produsen minyak, seperti Aljazair. Alasan ketiga datang dari kontraktor, kenaikan harga minyak juga membuat biaya produksi membengkak. Entah bagaimana rasionalisasinya, yang pasti Cost Recovery dan faktor pengurang yang menjadi tanggungan pemerintah membuat penerimaan bersih dari minyak bumi tidak sebesar kenaikan harganya.</p>
<p>Efek dari kenaikan harga minyak lainnya adalah membuat beban subsidi makin besar.</p>
<p><strong>Sembilan Langkah Pengamanan APBN</strong></p>
<p>Untuk menjawab enam masalah di atas, dirumuskanlah langkah-langkah yang dipercaya bisa mengamankan APBN. Pemilihan istilah &#8216;pengamanan&#8217; juga membuat orang mengira-ira, apakah kondisi APBN sudah sedemikian gawat? Kesembilan langkah tersebut meliputi:</p>
<ol>
<li>Optimalisasi penerimaan negara, dari Pajak, PNBP dan dividen BUMN;</li>
<li>Penggunaan dana cadangan (contingency  policy measures);</li>
<li>Penghematan dan penajaman prioritas belanja KL;</li>
<li>Perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik;</li>
<li>Efisiensi di Pertamina dan PLN;</li>
<li>Pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang;</li>
<li>Penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program;</li>
<li>Pengurangan beban pajak atas dan bea masuk atas komoditas pangan strategis;</li>
<li>Penambahan subsidi pangan.</li>
</ol>
<p>Sembilan langkah ini dipercaya bisa memperlambat laju kehancuran ekonomi.</p>
<p>Pembahasan selanjutnya nanti kita lanjutkan lagi.  Yang jelas, hari Rabu (9 April 2008) lalu, <a title="Koran Tempo: APBN Perubahan 2008 Disepakati" href="http://tempointeraktif.com/read.php?NyJ=cmVhZA==&amp;MnYj=MTIwODY3" target="_blank" rel="external nofollow">APBN-P sudah disepakati</a>.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2008%2F04%2Fkondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008.html&amp;title=Kondisi%20Keuangan%20Negara%20Pra%20APBN%20Perubahan%202008" id="wpa2a_14"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/kondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran yang bisa Diambil Perbankan Syariah dari Grameen Bank</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/pelajaran-yang-bisa-diambil-perbankan-syariah-dari-grameen-bank.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/pelajaran-yang-bisa-diambil-perbankan-syariah-dari-grameen-bank.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 18:46:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/01/29/pelajaran-yang-bisa-diambil-perbankan-syariah-dari-grameen-bank/</guid>
		<description><![CDATA[Sekembalinya dari AS, Profesor Yunus menjadi dosen ekonomi di Chittagong University. Dari posisi inilah beliau menjawab kegelisahannya melihat kemiskinan yang akut dan menggejala di negerinya. Beliau pun mulai mencari akar permasalahan walaupun harus meninggalkan semua teori ekonomi yang dipelajarinya selama &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2008/01/pelajaran-yang-bisa-diambil-perbankan-syariah-dari-grameen-bank.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-38"></span><!--noteaser--><br />
Sekembalinya dari AS, Profesor Yunus menjadi dosen ekonomi di Chittagong University. Dari posisi inilah beliau menjawab kegelisahannya melihat kemiskinan yang akut dan menggejala di negerinya. Beliau pun mulai mencari akar permasalahan walaupun harus meninggalkan semua teori ekonomi yang dipelajarinya selama ini. Dimulai dari Program Tiga Pertanian, beliau masih belum puas dengan hasilnya. Diawali dengan pinjaman sebesar $27 ke pengrajin bambu di desa Jobra, sampai akhirnya beliau mencetuskan Grameen Bank, sebuah bank untuk kaum miskin.</p>
<p>Metodologi yang dikembangkan Prof. Yunus telah memandunya kepada pendekatan yang membuka mata hati dan intelektualitasnya. Sebuah metodologi yang tidak lazim digunakan peneliti manapun di dunia ini. Sebuah pendekatan yang dinamainya, &#8220;mata cacing&#8221;. Sebegitu dekatnya dengan obyek penelitian, sehingga sang peneliti menyatu menjadi bagian dari yang diamatinya. Mampu mendengarkan jeritan terdalam yang tak terucapkan. Mampu merasakan kesengsaraan obyek. Dan mampu melihat solusi terdekat dari masalah-masalah komplikatif yang ada.</p>
<p><strong>Pelajaran bagi Perbankan Syariah</strong></p>
<p>Menyimak kisah di atas, saya melihat ada banyak pelajaran yang bisa diambil bagi perkembangan ekonomi syariah di Indonesia.</p>
<p>Pelajaran pertama: <strong><span class="highlight">Produk perbankan syariah di Indonesia masih belum menjadi kebutuhan bagi konsumen</span>. </strong>Murobahah, mudhorobah dan musyarokah baru dikenal sebagai teori dari langit yang tidak menjawab kebutuhan. Sangat diakui, peran perbankan syariah dalam mengkampanyekan kesadaran hidup bersyariah sudah membawa masyarakat Indonesia ke dalam babak baru kehidupan ekonomi kita. Namun paradoks yang ada membuktikan perkembangan nasabah tidak mengalami lonjakan yang berarti. Perbankan syariah hanya mampu meraup pangsa pasar <a title="Akselerasi Perbankan Syariah" href="http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/3AA10556-DCAD-49BD-B416-5FC9813E6FE1/7545/AkselerasiPerbankanSyariah1.zip" target="_blank" rel="external nofollow">1,5% (Oktober 2006)</a> dari total industri perbankan nasional. Kredit yang dikucurkan pun baru mencapai <a title="Panduan Investasi Bank Syariah" href="http://www.bi.go.id/web/id/Info+Penting/syariah/investasi.htm" target="_blank" rel="external nofollow">2,4 % (Oktober 2006)</a> dari total kredit perbankan nasional. Fakta ini membuat gerah pimpinan Bank Muamalat sebagai pelopor bank syariah, M. Riawan Amin. Komentar beliau yang terkenal, &#8220;Kalau memang Bank Syariah dianggap belum halal kenapa masih bertahan dengan bank konvensional yang jelas-jelas haram?&#8221;</p>
<p>Jawaban dari kegemasan Riawan Amin tersebut terletak pada produk bank syariah itu sendiri. Produk-produk bank syariah masih belum dikemas menjadi <em>killing product</em> yang dibutuhkan masyarakat luas. Bandingkan dengan Grameen Bank. Dari awal bank ini memiliki visi yang jelas. Dari visi tersebut dapat diturunkan sasaran nasabah yang kongkrit, yaitu kaum miskin. Kemudian, dari golongan ini dipelajarilah sifat-sifat inheren seperti demografi dan perilaku ekonomi. Hingga akhirnya dicarilah bentuk dan mekanisme pembiayaan yang paling cocok. Dengan metodologi yang disebut oleh Yunus sebagai metodologi mata cacing ini, produk Grameen Bank mampu menjawab kebutuhan nasabah. Produk ini mampu <a title="Grameen Bank Historical Data Series in USD" href="http://www.grameen-info.org/bank/hist2005$.html" target="_blank" rel="external nofollow">menggandakan jumlah kucuran kredit</a> dari 333 juta dollar menjadi 608 juta dollar hanya dalam waktu 10 tahun saja (1995-2005).</p>
<p><strong>Pelajaran Kedua: Pengendalian Nasabah</strong></p>
<p>Selain itu, Grameen Bank juga mendesain suatu pengendalian internal yang aplikatif dengan membentuk kelompok peminjam yang terdiri dari 5 orang. Pengendalian yang berjalan pun lebih ke arah kekeluargaan. Artinya, keberlangsungan kredit akan terus terjaga sepanjang mereka mampu menjaga disiplin, berkompetisi dan bekerja sama sesama anggota. Jika seorang anggota kelompok sakit atau mengalami musibah yang membuatnya tidak mampu mengembalikan pinjaman, maka ditawarkan kredit dari tabungan kelompok dan penjadwalan ulang pinjaman lama.</p>
<p>Keberadaan kelompok peminjam ini sebenarnya adalah <span class="highlight">suatu alat pengendalian yang disesuaikan dengan kondisi nasabah</span>. Namun, dalam praktiknya, dikembangkan juga sikap-sikap positif yang mampu menyebarkan prinsip enterpreneurship, kerjasama, dukungan sosial, dan semua nilai-nilai yang ingin ditekankan Grameen kepada para nasabah. Sejatinya, penyampaian pesan seperti ini sudah jauh lebih dulu digunakan di bisnis MLM.</p>
<p><strong>Pelajaran Ketiga: Segmentasi Nasabah, Cerdik Melihat Peluang dengan Semangat Sosial<br />
</strong></p>
<p>Kaum miskin Bangladesh menjadi golongan marjinal dalam pelayanan perbankan konvensional. Mereka tidak dilirik karena mereka buta huruf dan tidak dapat mengisi formulir aplikasi kredit. Mereka juga tidak memiliki agunan yang dianggap bernilai. Karena border inilah kekuatan ekonomis mereka tidak teraba oleh bank. Walhasil, mereka menjadi kue konsumsi yang lezat bagi para rentenir dan lintah darat.</p>
<p>Grameen Bank telah mengubah hidup mereka bukan semata-mata karena pinjaman yang diberikan. Tapi juga karena Grameen mampu memahami perilaku ekonomi golongan ini. Dengan menyediakan produk yang cocok dengan perilaku ekonomi mereka, Grameen telah mengubah kaum miskin menjadi kekuatan ekonomi baru.</p>
<p>Di Indonesia, jumlah nasabah beragama Islam sangat besar. Tapi mereka yang memiliki kesadaran menggunakan produk bank syariah masih minim. Apakah fenomena ini seluruhnya ditimpakan pada masyarakat muslim tersebut? Saya tawarkan untuk menjawab tidak. Suatu produk pasti akan menjadi pilihan ketika ia dibutuhkan. Saat ini, tawaran kehalalan dan keberkahan bank syariah masih belum menjadi perhatian utama para nasabah muslim. Ketika bank syariah menyadari hal itu, sudah sepatutnya bank syariah berinovasi untuk menciptakan produk yang tidak hanya <a title="Muamalat dan BSM: Top of Mind Konsumen Bank Syariah" href="http://marsnewsletter.wordpress.com/2007/12/06/bank-muamalat-dan-bank-syariah-mandiri-menguasai-top-of-mind-konsumen-bank-syariah/" target="_blank" rel="external nofollow">berorientasi halal dan berkah</a>, namun juga dibutuhkan oleh konsumen. Untuk dapat menciptakan produk seperti itu, <span class="highlight">bank syariah harus memperhitungkan segmentasi dan perilaku konsumen dengan baik</span>.</p>
<p>Ambil contoh begini. Ceruk konsumen mana yang belum tergarap oleh bank syariah. Kita sebut saja pedesaan. <!-- Wilayah Indonesia ini sebagian besar berupa pedesaan. Pedesaan memiliki wilayah __ dari luas daratan Indonesia. -->Populasi pedesaan mencapai <a title="BPS: Di tahun 2000, persentase penduduk daerah perkotaan sudah mencapai 42 persen." href="http://www.bps.go.id/sector/population/Pop_indo.htm" target="_blank" rel="external nofollow">58% dari penduduk Indonesia</a>. Ironisnya, pedesaan juga menyumbang <a title="BPS" href="http://www.bps.go.id/leaflet/bokletmaret2007.pdf?" target="_blank" rel="external nofollow">68.5% dari penduduk miskin nasional</a>. Saya yakin mayoritas penduduk pedesaan adalah muslim.</p>
<p>Saya mengangankan suatu saat ada bank syariah yang mau melirik komunitas pedesaan. Bukan semata-mata karena motif pengentasan kemiskinan, tapi juga mau memandang pedesaan sebagai sebuah poteni ekonomi yang belum tergali. Sama seperti kasus kaum miskin di Bangladesh, komunitas pedesaan Indonesia pada hakikatnya hanyalah memiliki karakteristik perilaku ekonomi yang perlu dipahami oleh bank syariah.</p>
<p><strong>Pelajaran Keempat: Fleksibilitas terhadap Masalah (dan Musibah)<br />
</strong></p>
<p>Bangladesh adalah negara termenderita sedunia. Dalam setahun saja mereka bisa mendapat sampai 5 kali musibah besar. Banjir sudah langganan, gempa bumi tak segan datang, kelaparan dan longsor. (Kok saya jadi bersyukur ya tinggal di Indonesia, walaupun di Jakarta juga banjir; gempa dan longsor di mana-mana). Dalam menghadapi musibah, Grameen Bank  tidak melarikan diri. Grameen justru segera menawarkan pinjaman baru dengan menjadwalkan ulang pinjaman lama. Tawaran ini sudah pasti didasari rasa percaya. Sebaliknya di Indonesia, pelanggan kartu kredit justru dikejar-kejar untuk melunasi cicilan. Penjadwalan ulang adalah barang eksklusif bagi mereka. Padahal mereka bukan orang miskin. Praktik ini mencerminkan rasa ketidakpercayaan bank atas pelanggannya.</p>
<p>Di Indonesia, kehidupan ekonomi masyarakat lebih sering terganggu akibat kenaikan BBM, kenaikan Tarif Dasar Listrik, kenaikan tarif telepon, kenaikan tarif tol, dan <span style="text-decoration: line-through;">kenaikan-kenaikan</span> penyesuaian-penyesuaian lain tapi tidak diikuti kenaikan mutu produk dan pelayanan. Sejauh mana perbankan syariah menempatkan diri dalam memperkuat umat menghadapi tantangan ekonomi yang terus menggempur? Seberapa peka bank syariah menangkap peluang ekonomi dan peluang barokah dibalik hikmah musibah?</p>
<p>Empat pelajaran (dan pelajaran-pelajaran lain yang tidak tertangkap dalam intelektualitas saya) dari Grameen Bank ini, bukanlah tuntutan perbaikan dari seorang nasabah. Tapi lebih pada suara keprihatinan seorang muslim yang membutuhkan solusi dalam kehidupan ekonominya. Dengan adanya masukan ini, mudah-mudahan bank syariah dapat memperkaya dan memperkuat diri. Kaya pengetahuan dan kuat ilmu syariah.</p>
<p><strong>Sedikit Kritik atas Mutu Pelayanan Front Office</strong></p>
<p>Tidak lengkap rasanya berbicara tentang bank syariah jika tidak mengulas mengenai mutu pelayanan. Layanan di <em>front office</em> akan mewakili image seluruh perusahaan. Di titik inilah seorang nasabah akan mengalami <em>experience</em> yang akan tercetak di benaknya sebagai persepsi gambaran seluruh perusahaan. Mereka yang kecewa akan melancarkan <em>black campaign</em>. Sementara yang puas tak segan untuk menjadi konsumen loyal dan bahkan menjadi penganjur. Senang, sedih, kecewa, jijik, menyanjung, marah, apatis, puas, dongkol. Semuanya adalah sifat wajar sosok seorang manusia.</p>
<p>Dalam hal mutu pelayanan <em>front office</em>, saat ini silahkan berkiblat ke Bank Mandiri dan adiknya, Bank Syariah Mandiri. Hampir seluruh pelayanan personal dapat diselesaikan di meja pelayanan front office. Jauh berbeda dengan BRI, BNI atau Muamalat sekalipun. Untuk membuat kartu ATM saja, bank-bank tersebut membutuhkan waktu berhari-hari. Belum lagi menghadapi klaim penarikan ATM atau kasus-kasus lainnya.</p>
<p>Sementara itu, Muamalat akan tertinggal jauh kalau tidak segera mempraktikkan <a title="Dikky Zulfikar: Tunjukkan Manajemen Langitmu, Bank Muamalat" href="http://www.dikkyzulfikar.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=23&amp;Itemid=45" target="_blank" rel="external nofollow">Celestial Management</a> yang mereka dengungkan. Konsep Zikr, Pikr dan Mikr belum sepenuhnya dirasakan oleh nasabah. Padahal konsep ini adalah konsep pelopor di bidang pelayanan perbankan syariah. Apa dan siapa yang salah? Bukannya ingin mencari kambing hitam atas rendahnya kualitas pelayanan Muamalat. Tapi pandangan dari saya sebagai orang luar yang tak paham konflik internal Muamalat, menyimpulkan (dengan semena-mena tentunya) bahwa:</p>
<ol>
<li>Bisa jadi top management Muamalat lupa, bahwa pada dasarnya pegawai mereka adalah pegawai bank. Bukan santri yang paham fiqh.</li>
<li>Bisa jadi <em>middle manager</em> Muamalat kurang dapat menyampaikan shared value dari pimpinan.</li>
<li>Bisa jadi tidak memadainya pengendalian Zikr, Pikr, Mikr itu. Mungkin jika poin pelayanan berbasis Zikr, Pikr, Mikr bisa dikonversi ke bonus tahunan, akan lebih banyak karyawan Muamalat yang terpacu untuk mengaplikasikannya di lapangan. <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  (Amin. Mudah-mudahan pilihan ini yang ditempuh).</li>
</ol>
<p>Saya yakin Muamalat punya program internal yang mendukung konsep Celestial Management ini. Entah berbentuk program pengembangan pegawai,  pengajian pegawai atau lainnya.</p>
<p><strong>Geliat Bank Syariah</strong></p>
<p>Meskipun masih banyak PR yang harus diselesaikan, usaha pengembangan bank syariah patut diacungi jempol. Ada yang berinovasi di produk, ada pula yang memperkuat layanan fasilitas.</p>
<p>Inovasi produk syariah terpopuler tentulah jatuh ke tangan Shar-E. Konsep tabungan syariah prabayar yang dapat diisi ulang dijajakan dengan jaringan terluas di Indonesia.</p>
<p>Dalam hal image pelayanan, BSM mendapat BSM terus mengembangkan jaringan layanan salah satunya dengan menyediakan <a title="BSM Net Banking pake HTTPS lho.." href="https://bsmnet.syariahmandiri.co.id/" target="_blank" rel="external nofollow">BSM Net Banking</a>. Dengan adanya BSM Net Banking, para nasabah bisa menggunakan BSM sebagai platform pembayaran online. Saya pun mengenal layanan ini dari <a title="Adhika Dirgantara: Mencoba BSM Net Banking" href="http://dirgaa.com/archives/mencoba-bsm-net-banking.html" target="_blank" rel="external nofollow">testimoni seorang nasabah</a>.</p>
<p>Selain memosisikan lini produk layanan, bank syariah memang perlu memperkaya diri dengan fitur dan fasilitas. Entah berbentuk SMS Banking, Net Banking, call center, layanan cepat dan lengkap di kantor kas, dll. Penguatan ini tentunya berorientasi pada nasabah.</p>
<p>Strategi baru pun harus segera disusun. Baik <a title="Akselerasi Bank Syariah" href="http://ruzaqir.multiply.com/journal/item/49/AKSELERASI_BANK_SYARIAH_" target="_blank" rel="external nofollow">mengejar market share</a> maupun mengejar keberkahan. Apalagi ditunjang <a title="Bank Muamalat Kian Bugar" href="http://bisnis-syariah.net/?p=12" target="_blank" rel="external nofollow">pertumbuhan yang menjanjikan</a>. Pihak yang ingin ikut meramaikan tak perlu buru-buru menjadi Bank Umum Syariah. Unit Usaha Syariah dengan <a title="Tidak cukup hanya Office Channeling" href="http://kolumnis.com/2008/01/16/tidak-cukup-hanya-office-channeling/" target="_blank" rel="external nofollow"><em>office channeling</em></a> (apakah sama dengan istilah syariah windows di Malaysia?) juga masih dimungkinkan.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p><a title="Kemunculan Bank Syariah" href="http://fadilsembilan.blogspot.com/2008/01/kemunculan-bank-syariah.html" target="_blank" rel="external nofollow">Perkembangan bank syariah di Indonesia</a> perlu didukung oleh pihak manapun demi terwujudnya solusi kehidupan sadar syariah yang barokah. Bank syariah juga perlu belajar dari berbagai kasus untuk dapat memperbaiki diri. Mudah-mudahan dengan sedikit sumbangan pikiran keluh kesah ini, perkembangan bank syariah dapat terus semakin membaik menuju keberkahan yang hakiki.</p>
<p align="center">-o0o-</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2008%2F01%2Fpelajaran-yang-bisa-diambil-perbankan-syariah-dari-grameen-bank.html&amp;title=Pelajaran%20yang%20bisa%20Diambil%20Perbankan%20Syariah%20dari%20Grameen%20Bank" id="wpa2a_16"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/pelajaran-yang-bisa-diambil-perbankan-syariah-dari-grameen-bank.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

