<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>uliansyah.or.id &#187; Ngemong</title>
	<atom:link href="http://www.uliansyah.or.id/category/ngemong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.uliansyah.or.id</link>
	<description>kegelisahanku adalah untuk berkarya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Aug 2010 10:27:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Berburu Lalat</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2009/07/26/berburu-lalat/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2009/07/26/berburu-lalat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 23:46:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngemong]]></category>
		<category><![CDATA[berburu lalat]]></category>
		<category><![CDATA[berdarah dingin]]></category>
		<category><![CDATA[home education]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[menangkap lalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan di suatu akhir pekan, keluarga kami menghabiskan waktu di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika waktu sholat tiba, kami pun menuju ke musholla. Nah, di sini lah petualangan berburu lalat dimulai&#8230;
Musholla di mall itu memiliki AC, sehingga ruangannya jadi dingiiin sekali. Di musholla ini, Abbas dan Yasmin bisa berburu lalat sepuasnya. Lalat-lalat di musholla ini mudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syahdan di suatu akhir pekan, keluarga kami menghabiskan waktu di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika waktu sholat tiba, kami pun menuju ke musholla. Nah, di sini lah petualangan berburu lalat dimulai&#8230;</p>
<p>Musholla di mall itu memiliki AC, sehingga ruangannya jadi dingiiin sekali. Di musholla ini, Abbas dan Yasmin bisa berburu lalat sepuasnya. Lalat-lalat di musholla ini mudah sekali ditangkap. Yasmin, yang berumur dua tahun saja, bisa lho menangkap lalat di mushola ini. Lho kok bisa?</p>
<p>Ternyata, lalat termasuk binatang berdarah dingin. Abbas sudah belajar mengenai binatang berdarah panas dan berdarah dingin. Binatang yang berdarah panas, suhu tubuhnya tetap, tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Sementara binatang berdarah dingin, suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan di sekitarnya. Contoh binatang berdarah dingin adalah kadal dan lalat.</p>
<p>Nah, hewan yang berdarah dingin jika berada di tempat yang dingin, suhu tubuhnya akan turut menjadi dingin pula. Jika suhu tubuhnya terlalu rendah, hewan berdarah dingin menjadi sulit bergerak karena tubuhnya kaku kedinginan. Itulah sebabnya, kadal sering kita jumpai sedang berjemur di atas batu. Karena jika kadal kedinginan, tubuhnya akan menjadi kaku dan tidak bisa bergerak. Kalau kadal tidak bisa bergerak, ia dengan mudah dapat ditangkap oleh pemangsanya.</p>
<p>Demikian pula dengan lalat. Lalat-lalat yang berada di musholla yang dingin itu, tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa terbang. Abbas dan Yasmin dapat dengan mudah menangkap lalat-lalat yang sedang kedinginan di sana. Wah, Abbas bisa menangkap sampai sepuluh ekor lalat lho! Lalat-lalat itu digenggam kuat-kuat. Karena ketika lalat yang kedinginan itu bersentuhan dengan tangan kita yang hangat, ia bisa bergerak dan terbang lagi!</p>
<p>Boleh deh Abbas dan Yasmin berburu lalat sambil menunggu Ayah dan Ummi melaksanakan sholat. Tapi nanti setelah selesai berburu lalat, jangan lupa cuci tangan yang bersih ya.. supaya kuman dan kotoran yang dibawa lalat tidak masuk ke dalam tubuh kita.</p>
<p>Begitulah keseharian <a class="wp-caption" title="Blog Tarbiyatul Abna" href="http://tarbiyatulabna.wordpress.com/" target="_blank">anak Homeschooling</a>, bisa belajar tentang apa saja di mana saja. Belajar jadi mengasyikkan dan mudah dipahami. Eksperimen biologi tidak harus dilakukan di dalam laboratorium yang mahal, tapi bisa dilakukan di mana saja. Topik-topik yang sudah dipelajari tidak menguap terlupakan begitu saja, tapi dicari aplikasinya di kehidupan di sekitar kita.</p>
<p>Untuk teman-teman pembaca, selamat berburu lalat juga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2009/07/26/berburu-lalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Anak Menyadari Ketidaktelitian Ibunya (2)</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/04/ketika-anak-menyadari-ketidaktelitian-ibunya-2/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/04/ketika-anak-menyadari-ketidaktelitian-ibunya-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 15:48:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngemong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/03/04/ketika-anak-menyadari-ketidaktelitian-ibunya-2/</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, Ummi dan Abbas di suatu siang. Seperti biasa, Ummi sedang mengurusi usaha di rumah. Usaha jahitan gamisnya memang sedang banyak pesanan. Ummi sibuk sekali. Sesekali ia mondar-mandir dari ruang depan, ke ruang aktivitas, dan juga ke dapur.
Sementara itu, Abbas sedang bermain komputer di ruang aktivitas. Ummi sudah membukakan sebuah halaman web untuknya. Halaman web [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, Ummi dan Abbas di suatu siang. Seperti biasa, Ummi sedang mengurusi usaha di rumah. Usaha jahitan gamisnya memang sedang banyak pesanan. Ummi sibuk sekali. Sesekali ia mondar-mandir dari ruang depan, ke ruang aktivitas, dan juga ke dapur.</p>
<p>Sementara itu, Abbas sedang bermain komputer di ruang aktivitas. Ummi sudah membukakan sebuah halaman web untuknya. Halaman web itu bagus sekali. Isinya tentang pelajaran <a title="ABC Zoo" href="http://www.fisher-price.com/us/fun/games/abczoo/default.asp" target="_blank">mengenal huruf abjad bagi balita</a>. Judulnya adalah ABC Zoo. Sebuah animasi yang menarik menampilkan deretan huruf disertai gambar binatang yang namanya diawali dengan huruf abjad tersebut.</p>
<p><a title="ABC Zoo" href="http://www.fisher-price.com/us/fun/games/abczoo/default.asp" target="_blank"><img title="ABC Zoo" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/abczoo.png" alt="ABC Zoo" width="433" height="402" /></a></p>
<p>Sesampainya di suatu abjad. &#8220;Mi, ini apa?&#8221;, tanya Abbas sambil menunjuk sebuah gambar hewan bulat besar.</p>
<p>Ummi yang hanya sempat menatap sekilas dengan yakinnya menjawab, &#8220;Itu Badak!&#8221;. Ow la la, rupanya Ummi tidak memperhatikan tulisan Hippopotamus dibawah gambar tersebut.</p>
<p>Abbas terdiam sejenak. Lalu ia berkomentar, &#8220;Bukan Mi, ini kuda nil. Kalau Badak itu yang punya cula.&#8221;</p>
<p>Ah, masak sih aku salah, kata Ummi dalam hati. Sambil masih dipenuhi rasa tidak percaya, Ummi mendekati monitor. &#8220;O, Iya &#8216;Abbas benar. Itu kuda Nil.&#8221;</p>
<p>Ummi pun melanjutkan aktivitasnysa sambil masih menyimpan rasa tidak percaya bahwa dirinya sudah salah jawab.</p>
<p>Animasi di layar komputer pun silih berganti menampilkan binatang-bintang lucu dengan awalan nama yang sesuai urutan huruf abjad.</p>
<p>tidak berapa lama&#8230;.</p>
<p>&#8220;Nah ini baru Badak&#8221;, kata Abbas penuh kemenangan sambil menunjuk sebuah bentuk hewan di layar monitor.  Huruf yang diperkenalkan adalah huruf R, dengan tulisan Rhinoceros di bawah gambar badak.</p>
<p>Ummi : Hiks&#8230;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>PS: Di halaman web fisher-price.com masih ada <a title="Fun and Learn, Play Games Online" href="http://www.fisher-price.com/fp.aspx?st=30&amp;e=gameslanding&amp;mcat=game_infant,game_toddler,game_preschool&amp;site=us" target="_blank">beberapa permainan lain</a> yang menarik untuk dimainkan bagi  anak-anak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/04/ketika-anak-menyadari-ketidaktelitian-ibunya-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Anak Menyadari Ketidaktelitian Ibunya</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/04/ketika-anak-menyadari-ketidaktelitian-ibunya/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/04/ketika-anak-menyadari-ketidaktelitian-ibunya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 15:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngemong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/03/04/ketika-anak-menyadari-ketidaktelitian-ibunya/</guid>
		<description><![CDATA[Dirumah, pada suatu senja. &#8216;Abbas dan Ummi sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Sampai suatu ketika&#8230;
&#8216;Abbas : &#8220;Mi, ini apa?&#8221; sambil menunjuk gambar dari http://www.fisher-
price.com/us/fun/games/abczoo/default.asp
Ummi : Sibuk, lihat gambar sebentar, &#8220;Itu Badak!&#8221; tanpa perhatikan tulisan dibawahnya (Hippopotamus)
&#8216;Abbas : Diam sebentar, terus komentar &#8220;Bukan, ini kuda nil. Kalau Badak yang punya cula Mi.&#8221;
Ummi : Nggak percaya, mendekati monitor. &#8220;O, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dirumah, pada suatu senja. &#8216;Abbas dan Ummi sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.<br />
Sampai suatu ketika&#8230;</p>
<p><strong>&#8216;Abbas</strong> : &#8220;Mi, ini apa?&#8221; sambil menunjuk gambar dari <a title="ABC Zoo" href="http://www.fisher-  price.com/us/fun/games/abczoo/default.asp">http://www.fisher-<br />
price.com/us/fun/games/abczoo/default.asp</a></p>
<p><strong>Ummi</strong> : Sibuk, lihat gambar sebentar, &#8220;Itu Badak!&#8221; tanpa perhatikan tulisan dibawahnya (Hippopotamus)</p>
<p><strong>&#8216;Abbas</strong> : Diam sebentar, terus komentar &#8220;Bukan, ini kuda nil. Kalau Badak yang punya cula Mi.&#8221;</p>
<p><strong>Ummi</strong> : Nggak percaya, mendekati monitor. &#8220;O, Iya &#8216;Abbas benar. Itu kuda Nil.&#8221; masih nggak percaya sudah salah jawab.</p>
<p>tidak berapa lama&#8230;.</p>
<p><strong>&#8216;Abbas</strong> : &#8220;Nah ini baru Badak&#8221;. (Rhinoceros)</p>
<p><strong>Ummi</strong> : Hiks&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/04/ketika-anak-menyadari-ketidaktelitian-ibunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendongeng: Tiga Babi Kecil ala Anak Jaman Sekarang</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/02/11/mendongeng-tiga-babi-kecil-ala-anak-jaman-sekarang/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/02/11/mendongeng-tiga-babi-kecil-ala-anak-jaman-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 16:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngemong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/02/11/mendongeng-tiga-babi-kecil-ala-anak-jaman-sekarang/</guid>
		<description><![CDATA[DIAKUI atau tidak, anak jaman sekarang memang memiliki lingkungan dan tantangan global yang berbeda dari yang pernah kita hadapi. Dan entah mengapa pula, pengaruh itu justru membentuk anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang unik. Bahkan koran tempo hari ini mengenalkan istilah generasi layar.
Salah satu keajaiban yang ditunjukkan oleh anak saya yang berumur 4 tahun Februari ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DIAKUI atau tidak, anak jaman sekarang memang memiliki lingkungan dan tantangan global yang berbeda dari yang pernah kita hadapi. Dan entah mengapa pula, pengaruh itu justru membentuk anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang unik. Bahkan koran tempo hari ini mengenalkan istilah generasi layar.</p>
<p>Salah satu keajaiban yang ditunjukkan oleh anak saya yang berumur 4 tahun Februari ini, adalah kemampuannya menyambung-nyambungkan suatu kejadian dengan kejadian lain. Mungkin mirip dengan iklan susu formula mengenai Triptofan yang digembar-gemborkan dapat meningkatkan kecerdasan anak dalam mengolah informasi. Padahal anak saya anak ASI, dan sekarang minum susu UHT.</p>
<p>Suatu hari, saya membacakan dongeng tentang Tiga Babi Kecil. Sebenarnya dongeng ini sudah sering dibacakan menemani Si Sulung tidur malam atau tidur-tiduran di siang hari, atau sekedar bercerita tanpa ada kaitannya dengan tidur. Si Sulung Abbas pun sudah mafhum rupanya dengan apa yang diceritakan Ayahnya. Namun tetap saja matanya akan membesar, mendengar kisah yang disampaikan, tentu saja bila disampaikan dengan cara yang bombastis, menarik dan diselingi kreativitas yang membuatnya berbeda di tiap kesempatan membacakan dongeng.</p>
<p>Sampai suatu kali..</p>
<p>Ayah: Tiga Babi Kecil. Ada tiga babi kecil. Babi yang pertama membangun rumah dari jerami. Babi yang kedua membangun rumah dari kayu. Dan Babi ketiga membangun rumah dari batu. Lalu ada serigala datang dan berkata, &#8220;Hrmmmhh.. (menggeram). Aku ingin makan babi. Di mana aku bisa menemukan babi ya?&#8221;</p>
<p>Abbas: (cuek, main sini main sana, tapi tak mau jauh dari Ayahnya, telinga tetap mendengarkan)</p>
<p>Ayah: Lalu serigala datang ke rumah Babi pertama. (singkat cerita) Lalu rumah babi pertama yang terbuat dari jerami ditiup oleh serigala. Babi pertama lari ke rumah babi kedua. Lalu rumah babi kedua ditipu oleh serigala. Babi pertama dan Babi kedua lari ke rumah babi ketiga. Karena terbuat dari batu, serigala tidak bisa meniup rumah babi ketiga.</p>
<p>Abbas: (memotong cerita) Lalu Serigalanya menjadi besar! Seperti monster di Power Rangers, terus rumahnya ditiup deh. Babinya dimakan. (menyeringai puas)</p>
<p>Ayah: (*<em>speechless</em>*)</p>
<p>Kok logikanya nyambung ya? <em>Make sense </em>gituh..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/02/11/mendongeng-tiga-babi-kecil-ala-anak-jaman-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar Psikologi Anak: Pola Asuh</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/12/10/seminar-psikologi-anak-pola-asuh/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/12/10/seminar-psikologi-anak-pola-asuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 00:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngemong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/12/10/seminar-psikologi-anak-pola-asuh/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu lalu (8/12/2007), sekolah anakku mengadakan seminar. Temanya &#8220;Hubungan Pola Asuh dengan Perkembangan Emosi dan Intelegensi Anak&#8221;. Pembicaranya pak Mugito, psikolog yang menjadi konsuler di Citra Consulting.
Saya menjadi satu-satunya peserta pria di acara itu. Mayoritas peserta adalah ibu dari anak yang bersekolah di TK Al Muhajirin Pondok Pucung. Sebelumnya istriku sempat berdebat panjang denganku. Topiknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu lalu (8/12/2007), sekolah anakku mengadakan seminar. Temanya &#8220;Hubungan Pola Asuh dengan Perkembangan Emosi dan Intelegensi Anak&#8221;. Pembicaranya pak Mugito, psikolog yang menjadi konsuler di Citra Consulting.</p>
<p>Saya menjadi satu-satunya peserta pria di acara itu. Mayoritas peserta adalah ibu dari anak yang bersekolah di TK Al Muhajirin Pondok Pucung. Sebelumnya istriku sempat berdebat panjang denganku. Topiknya apa lagi kalau bukan peran Ayah dalam keluarga. Istriku merasa, peranku sebagai ayah masih kurang dan cenderung kontra-produktif. Khususnya di bidang kesehatan, pendidikan dan pola asuh.<span id="more-48"></span><br />
Awal ceritanya, istriku kemarin sempat mengikuti seminar <a title="Program Edukasi Kesehatan" href="http://health.groups.yahoo.com/group/sehat/message/97208" target="_blank">PESAT (Program Edukasi Kesehatan<br />
Anak untuk Orangtua) III</a>. Sebenarnya kami berdua sudah lama bergabung dalam milis sehat. Saya sendiri sudah cukup paham isu-isu seperti: rational use of drugs (khususnya antibiotik), polyfarmasi, imunisasi, grafik tumbuh kembang dan beberapa isu kesehatan lainnya. Saya pun sudah menerima solusi yang benar seputar masalah demam, panas, pilek dan gejala-gejala kesehatan lainnya. Tidak perlu buru-buru menggunakan obat, namun ada threatment yang bisa dilakukan di rumah sepanjang belum memasuki status darurat.</p>
<p>Sepulang dari seminar PESAT II (terima kasih dokter Wati dan dokter2 lainnya..), istriku segera menularkan ilmu yang didapat dari acara itu. Salah satunya tentang penggunaan disinfektan di dalam rumah. Kata dokter Wati, demikian istriku menyampaikan. Sebaiknya tidak menggunakan disinfektan di dalam rumah, karena sebenarnya di dalam rumah itu banyak bakteri baik. Dengan menggunakan disinfektan, justru akan didapat efek imun pada bakteri-bakteri jahat. Bisa dikatakan menggunakan disinfektan seperti pembersih lantai malah menciptakan bakteri-bakteri jahat yang lebih kuat.</p>
<p>Waktu itu saya nyeletuk iseng, &#8220;Kalau begitu bakteri baiknya juga bermutasi dong, menjadi lebih tahan dan lebih kuat setelah terkena disinfektan.&#8221; <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Karena istriku merasa tidak bisa mentransfer knowledge kepada suaminya, ia menganjurkan supaya saya ikut mendengar langsung dari ahlinya dalam acara-acara seminar selanjutnya.</p>
<p>&#8220;Aku memang nggak bisa menyampaikan apa yang kudapat dengan baik, karena itu kamu ikut aja sendiri acara-acara itu&#8221;, dalihnya. Jadilah saya mengikuti (sebisanya, menyesuaikan dengan waktu yang ada) untuk mengikuti acara-acara kesehatan, pendidikan dan pola asuh. Seperti pada hari Sabtu itu. Bahkan nanti dilanjut juga dengan <a title="Seminar Homeschooling" href="http://www.psikologi.ui.ac.id/spdc/seminar.htm" target="_blank">seminar homeschooling di UI</a> <a title="Seminar Homeschooling" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/seminar-homeschooling-spdc-fakultas-psikologi-ui/">hari Jumat</a> (14 Desember 2007) dan PESAT Tangerang Sesi IV di BSD 10 Januari 2008 (kalau masih dapat tempat).</p>
<p>Untung juga sih, ikut acara seperti ini. Saya yang memang dasarnya ingin tahu, jadi berkesempatan mendapat ilmu langsung dari ahlinya. Biasanya kalau cuma baca buku, penyakitnya ada dua. Tidak lengkap membaca karena waktu dan kesempatan yang terbatas. Dan penafsiran yang melenceng dari maksud si penulis.</p>
<p>Di seminar pola asuh ini, saya diajarkan menggunakan psikologi dalam pembentukan pola asuh yang tepat bagi anak. Karena psikologi adalah ilmu tentang jiwa yang tidak kasat mata, maka perlu ada indikator atau parameter (istilah yang tepat apa sih?) untuk meng-empiriskan fenomena kejiwaan. Pak Mugito menyebutkan tiga hal: sifat (nature), sikap (attitude) dan tingkah laku (habbits). Istilah bahasa inggrisnya, hasil saya nebak-nebak.</p>
<p>Kemudian, perlu dikenal adanya 4 jenis permasalahan pada anak yang berkaitan dengan pembentukan pola asuh. Yaitu:<br />
1. Tidak taat aturan.<br />
2. Kebiasaan Buruk.<br />
3. Penyimpangan Perilaku.<br />
4. Post-playing delay.</p>
<p>Tidak taat aturan contohnya suka berdiri di meja, makan menggunakan tangan kiri, sulit dikendalikan, dll. Kebiasaan buruk misalnya suka memukul, suka merebut, berkata kotor, dll. Contoh Penyimpangan Perilaku adalah anak masih ngompol pada saat seharusnya sudah bisa buang air sendiri (belum lulus toilet training), dll. Tiga permasalahan ini biasanya selalu ada pada anak-anak kita. Tiga permasalahan ini Jamak ditemui, namun pada umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Hanya saja harus segera dicari solusinya secara mental.</p>
<p>Sedangkan permasalahan yang keempat adalah hilangnya masa bermain anak. Usia 0-6 pada anak adalah usia bermain. Di rentang usia inilah anak memuaskan diri bermain. Kalau pun ada pelajaran yang disampaikan, maka bentuknya adalah disisipkan dalam bentuk permainan. Gawatnya, kalau anak kehilangan masa bermain, maka anak dapat mengalami post-playing delay ini. Post-playing delay adalah timbulnya masa bermain di usia dewasa. Dicontohkan oleh pak Mugito di sini misalnya muncul saat usia SD, maka anak itu ketika di kelas akan kehilangan motivasi belajar. Maunya main terus. POst playing delay bisa juga muncul di usia SMA. Contoh yang diberikan: sudah SMA masih suka main gundu. Atau yang paling parah adalah munculnya post-playing delay ini di usia dewasa. Ciri-cirinya: suka berantem, suka mencari sensasi dan cari perhatian. Ini semua muncul karena di masa anak-anak, orang tersebut kehilangan masa bermainnya.</p>
<p>Dalam pembentukan pola asuh, ada 3 permasalahan yang terletak pada orang dewasa (orangtua), yaitu:<br />
1. unexperienced syndrom. keadaan tanpa pengalaman menyebabkan orangtua tidak tahu harus berbuat apa dan tidak tahu menghadapi apa. Seperti yang dikutip dari seorang psikolog (celinoit), bahwa kelahiran seorang anak membawa dua sisi: kebahagiaan dan permasalahan. Jika orangtua tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi permasalahan yang dibawa oleh kehadiran anak.<br />
2. unexpected action. Dalam menghadapi anak, terkadang ada tindakan orangtua yang tidak konsisten atau menyalahi keinginan sebenarnya. Misalnya: kita menyuapi anak tujuannya agar anak kelak mampu untuk makan sendiri. Namun dengan menyuapi terus akan mengakibatkan anak tergantung pada suapan kita untuk makan. Ciri-cirinya anak tidak mau makan kalau tidak disuapi.<br />
3. accidental crime. Emosi yang meledak dalam menghadapi kekacauan yang dibuat oleh anak bisa memicu kejahatan kepada anak. Misalnya: ketika anak belajar minum, gelas mahal yang dipegangnya meleset dari tangan sehingga jatuh dan pecah. Sang orangtua langsung menanggapinya baik dengan komentar maupun dengan kekerasan fisik.</p>
<p>Benturan antara dua sisi permasalahan ini dapat mengakibatkan sebuah kebingungan alamiah.</p>
<p>Jika dalam menanggapi kebingungan ini terdapat kesalahan pengelolaan, maka dapat menimbulkan malapetaka yaitu manipulasi pola asuh. Bentuk manipulasi pola asuh yang dihasilkan dari kebingungan alamiah ini cenderung memilih pola asuh yang vertikal atau otoriter. Pola asuh satu arah (orangtua selalu benar) ini biasanya menggunakan kekerasan verbal dan non-verbal. Orangtua yang tidak ingin dibantah menggunakan cara-cara otoriter. Pola asuh ini juga menempatkan orangtua<br />
yang berpotensi besar menimbulkan penderitaan psikis.</p>
<p>Akibat buruk dari penderitaan psikis dapat menimbulkan kompensasi. Pada orang dewasa, kompensasi atas suatu masalah biasanya dilampiaskan pada:<br />
1. Makan<br />
2. Bekerja<br />
3. Hiburan<br />
4. Madat (minum atau drug)<br />
Sementara, kompensasi (pelarian) atas suatu masalah pada anak-anak, akan berpengaruh pada:<br />
1. Ke luar: kenakalan.<br />
2. Ke dalam: Menurunnya taraf intelegensi, kehilangan daya juang dan motivasi, kurangnya kecerdasan emosi dan gangguan psikomotorik.</p>
<p>Anehnya, menurut perkiraan para ahli, 30% dari anak-anak cocok dalam menggunakan pola asuh otoriter. Sementara untuk 70% lainnya harus menggunakan pola asuh yang berbeda (tidak dijelaskan). Untuk itu perlu adanya tes psikologi yang hasilnya akan menunjukkan karakteristik psikologis anak tersebut. Dari titik ini, setiap anak adalah unik. Dan orangtua perlu mengenal lebih lanjut karakteristik psikologis masing-masing anak untuk menemukan/memformulasikan pola asuh yang cocok. (Pinter juga pak Mugito jualan jasa konsultasi psikologi keluarga).</p>
<p>Pak Mugito sendiri mengaku tidak tahu pola asuh yang bagaimana yang tepat diterapkan untuk anak kita. Yagn jelas, paparnya, ciri pola asuh yang tepat adalah pola asuh yang memberikan keseimbangan pada kontrol dan kasih sayang.</p>
<p>Anak-anak saya belum pernah menjalani tes psikologi. Kabarnya, setiap anak yang sudah mampu memegang pensil dengan benar dan mencoret-coret kertas, sudah dapat menjalani tes ini. Tes seperti ini akan mengukur IQ dan EQ anak. IQ mewakili tingkat kecerdasannya, dan EQ mewakili kecerdasan emosinya.</p>
<p>Di Sesi Tanya Jawab terkuak permasalahan-permasalahan yang sering muncul dalam pengasuhan anak, diantaranya:<br />
1. Kapan mulai mendisiplinkan anak?<br />
2. Bagaimana orangtua bersikap dalam menghadapi perselisihan antarsaudara?<br />
3. Bagaiamana sebaiknya orangtua yang berbeda pendapat dalam metode pengasuhan? (Ayah cenderung permisif, ibu cenderung keras)<br />
4. Kesulitan mendekati anak yang tertutup.</p>
<p>1. Dalam mengenalkan kedisiplinan pada anak, dikenal adanya metode V. Yaitu metode yang lebih banyak menerapkan kebiasaan pada usia dini. Kemudian ketika anak memasuki usia remaja, anak diberi keleluasaan dalam memilih dan berperilaku. Kebiasaan yang sering ditemui adalah kebalikannya. Yaitu permisif di usia dini, dan represif di usia remaja. Pendekatan ini memiliki dua kelemahan. Pertama, permisif di usia dini mengakibatkan anak tidak mengenal kebiasaan/habit yang baik. Memang seringkali orangtua beranggapan anaknya belum siap menerima suatu pengajaran kebiasaan. Padahal justru di masa dini inilah orangtua bisa memperkenalkan kebiasaan yang baik karena anak masih lebih mudah menerima perubahan. Kelemahan kedua, represif pada anak usia remaja hanya akan menjadikan anak menjadi pemberontak. Memang pendekatan yang baik adalah mengenalkan kebiasaan-kebiasaan yang diinginkan di usia dini. Misalnya: makan dengan tangan kanan, berjabat tangan, mandi di pagi dan sore hari, tidur pada waktunya, dll. Mengijak usia yang memungkinkan anak memiliki pilihan sendiri, orangtua berperan sebagai teman. Artinya, orangtua mampu mendengarkan keinginan anak. Misal: kenapa anak suka buku Harry Potter? Contoh reaksi represif orangtua, &#8220;Kenapa kamu baca novel melulu! Lebih baik belajar!&#8221; Contoh reaksi mendengarkan, &#8220;Kamu suka bagian mana dalam buku Harry Potter? Kenapa suka bagian itu? Kalo Ayah lebih suka saat George dan Fred keluar dari sekolah dan mendirikan toko sihir. Menurutmu bagaimana?&#8221;. Dst sehingga kita mampu menerka jalan pikiran anak.</p>
<p>2. Perselisihan antarsaudara adalah hal yang wajar. Justru ketika tidak ada perselisihan, maka orangtua harus waspada. Misalnya: ada pihak yang selalu mengalah. HUbungan abang-adik yang demikian justru tidak sehat. Adik selalu menuruti apa kata kakaknya. Atau kakak dituntut untuk selalu mengalah pada setiap masalah. Untuk mengantisipasi perselisihan, orangtua dapat menanamkan nilai-nilai dasar hubungan yang sehat antarmanusia. Misalnya mengenalkan konsep kepemilikan. Barang milik adik jika akan digunakan kakak harus seijin dan sepersetujuan adik. Keberpihakan orangtua juga bukan atas dasar usia, tetapi lebih ke arah permasalahan yang sedang dihadapi. Jika adik yang menjadi penyebab awal kesalahan pada perselisihan itu, maka adik keinginan adik tidak bisa dilaksanakan. Dst.</p>
<p>3. Perbedaan pendapat pada orangtua memang sebaiknya tidak diumbar di depan anak-anak. Perbedaan pendapat yang diumbar di depan anak-anak dapat mengakibatkan efek buruk khususnya pada anak. Anak melihat orangtua yang tidak kompak dalam memutuskan suatu masalah. Apalagi jika masalah itu menyangkut pola asuh perkembangan anak. Pengalaman saya sendiri menunjukkan fenomena yang sama. Anak-anak saya dikitari oleh seorang nenek yang memanjakan, seorang ayah yang permisif, dan seorang ibu yang disiplin. Akibatnya jika anak sedang minta dimanja dia akan lari ke neneknya, jika menginginkan sesuatu akan meminta pada ayahnya, dan cenderung menghindari ibunya karena tidak ingin repot dilarang ini dan itu. Namun, tidak semua perbedaan pendapat orangtua harus disembunyikan. Pada hal-hal tertentu, bagus juga bila kita mengajarkan pada anak bahwa tidak semua orang memiliki pendapat yang sama. Dan mengajarkan pada anak, cara-cara mengatasi perbedaan pendapat secara bijak.</p>
<p>4. Anak yang tertutup tidak mau berbagi atau bercerita tentang kesehariannya kepada orangtua. Akibatnya, orangtua tidak dapat mengetahui apa yang dialami sang anak sehari-hari. Lebih jauh lagi, orangtua tidak dapat memahami jalan pikiran dan keinginan yang sedang dialami oleh sang anak. Mengendalikan anak yang tertutup bisa diawali dengan observasi pada anak. Khususnya pada area-area dimana anak berada di luar pengawasan orangtua. Bertanya pada guru dapat memberikan gambaran sikap sang anak di dalam kelas. Jika ingin mengetahui peran anak dalam pergaulan, kita dapat bertanya pada teman-teman sepermainannya. Bertanya pada anak-anak memerlukan tips khusus. Misalnya dengan mengajak ngobrol anak tsb. Di dalam obrolan diselipkan pertanyaan2 seputar anak kita. Usahakan teman anak tidak mengetahui bahwa dirinya menjadi sumber data. Hal ini untuk menghindari jawaban yang bukan jawaban sebenarnya, tetapi jawaban normatif. Yaitu jawaban yang diinginkan oleh penanya, bukan jawaban dari keadaan sebenarnya.</p>
<p>Nah, dari penjabaran pak Mugito tersebut, kita telah mengenal pentingnya mengenal aspek mental seorang anak. Selanjutnya, saya dan istri pastinya akan belajar lebih lagi untuk dapat menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak saya. Bagaimana pengalaman dalam keluarga Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/12/10/seminar-psikologi-anak-pola-asuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konfirmasi Berita tentang SMP Gratis</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/konfirmasi-berita-tentang-smp-gratis/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/konfirmasi-berita-tentang-smp-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 01:06:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngemong]]></category>
		<category><![CDATA[gratis]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/konfirmasi-berita-tentang-smp-gratis/</guid>
		<description><![CDATA[Berita tentang sekolah gratis ini memang sudah lama beredar. Email tertua yang bisa saya temukan bertanggal 30 Agustus 2007. Setelah itu ada banyak lagi email yang sama saya terima dari berbagai milis yang saya ikuti.
Saya juga sudah lama ingin mengkonfirmasi berita itu. Maksudnya supaya orang-orang mendapat berita yang akurat dan juga tidak menyebarkan berita bohong. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berita tentang sekolah gratis ini memang sudah lama beredar. Email tertua yang bisa saya temukan bertanggal 30 Agustus 2007. Setelah itu ada banyak lagi email yang sama saya terima dari berbagai milis yang saya ikuti.</p>
<p>Saya juga sudah lama ingin mengkonfirmasi berita itu. Maksudnya supaya orang-orang mendapat berita yang akurat dan juga tidak menyebarkan berita bohong. Nomor telepon selular Bu Ade yang disebut-sebut sebagai <em>contact person</em> program ini juga sudah lama ngendon di hape saya. Untungnya sudah ada beberapa orang yang lebih dulu melakukannya. Berikut kutipannya.</p>
<ol>
<li><a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/konfirmasi-berita-tentang-smp-gratis/#email1">Info Sekolah Gratis (salah satu dari banyak versi)</a></li>
<li><a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/konfirmasi-berita-tentang-smp-gratis/#email2">Email mempertanyakan akurasi berita</a></li>
<li><a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/konfirmasi-berita-tentang-smp-gratis/#email3">Another email mempertanyakan akurasi berita</a></li>
<li><a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/konfirmasi-berita-tentang-smp-gratis/#email4">Email konfirmasi tapi masih kurang jelas</a></li>
<li><a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/konfirmasi-berita-tentang-smp-gratis/#email5">Email konfirmasi lumayan jelas</a></li>
</ol>
<p><span id="more-41"></span></p>
<p id="email1">1. Info Sekolah Gratis (salah satu dari banyak versi):</p>
<blockquote><p>Jika tidak berkeberatan forward di milis2 di mana anda bergabung. Kalau kenal atau mengetahui ada anak miskin atau dari golongan kurang mampu, lulus SD (berijasah) tetapi tidak dapat meneruskan ke SMP, umur max 18 tahun, tinggal di Jakarta Selatan, dapat menghubungi Ibu Ade, Pancoran Timur VIII no. 4B Jakarta 12770 telp. 7990412 HP. 085691500258, Untuk selanjutnya akan disurvei. Jika tidak ada halangan tahun ini akan dibuka sekolah rakyat (SMP terbuka) gratis di Jakarta Selatan khusus untuk anak miskin dan dari golongan tidak mampu.</p></blockquote>
<p><a href="#">Kembali ke atas</a>.</p>
<p id="email2">2. Email mempertanyakan akurasi berita:</p>
<blockquote><p>Mellyana Frederika 28 Oktober 2007 18:32<br />
Balas Ke: beasiswa@yahoogroups.com<br />
Kepada: beasiswa@yahoogroups.com</p>
<p>Mba Sari,<br />
Apakah sempat telepon Ibu Ade itu?<br />
Saya menerima informasi sejenis via IM sekitar 4 bulan lalu, saya sempat coba semua nomer tapi tidak pernah berhasil nyambung. Saya sih jelas berharap ini bukan berita tidak benar, dan akan senang kalau bisa dapat konfirmasi lebih lanjut</p>
<p>Mellyana</p></blockquote>
<p><a href="#">Kembali ke atas</a>.</p>
<p id="email3">3. Another email mempertanyakan akurasi berita:</p>
<blockquote><p>Tri Laksmana wrote:</p>
<p>Soal sekolah rakyat (Ibu Ade, Jalan Pancoran Raya VIII dst&#8230;), postingnya sudah beredar paling tidak semenjak bulan Juli. Anehnya saya gak pernah terima forward-an dari siapapun yang mau memeriksa kebenaran berita ini. Kebiasaan orang (Indonesia?) untuk cenderung meneruskan berita ketimbang memastikannya dulu? Iseng2 nemu di bawah ini dari milis tetangga, mudah2an<br />
berguna.</p>
<p>cheers,</p>
<p>-tri-</p></blockquote>
<p><a href="#">Kembali ke atas</a>.</p>
<p id="email4">4. Email konfirmasi tapi masih kurang jelas:</p>
<blockquote><p>dewa wahyu 30 Oktober 2007 01:05</p>
<p>Balas Ke: beasiswa@yahoogroups.com<br />
Kepada: beasiswa@yahoogroups.com</p>
<p>Mbak Mellyana &amp; lainnya,</p>
<p>memang benar sekolah itu ada, sy guru BK &amp; wakil bu Ade di sekolah itu. jika ingin konfirmasi bisa menghubungi sy di 9303 2484, 0852 8140 8428 ato kantor sy 5288 0070</p>
<p>salam<br />
~Wahyu~</p></blockquote>
<p><a href="#">Kembali ke atas</a>.</p>
<p id="email5">5. Email konfirmasi lumayan jelas:</p>
<blockquote><p>From: mediacare<br />
Date: 15 Aug 2007 10:44<br />
Subject: [mediacare] Tentang Sekolah Rakyat<br />
To: mediacare@yahoogroups.com, forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com , mediajakarta &lt;media-jakarta@yahoogroups.com&gt;</p>
<p>Postingan tentang Sekolah Rakyat ini sudah berseliweran kemana-mana. Hampir tiap hari saya menerimanya, baik dari milis maupun via japri.</p>
<p>Untuk klarifikasi, tadi pagi saya hubungi Ibu Ade. Ia bilang sambutan dari masyarakat amat luar biasa, bahkan sempat mengagetkannya. SMS bertubi-tubi masuk ke nomor ponselnya. Bahkan ponselnya sempat hang. Telepon rumahnya<br />
krangkringkrangkring dari pagi hingga malam. Ia juga jadi kerepotan melayani para penelepon yang bertanya ini itu.</p>
<p>Menurutnya, &#8220;Sekolah Rakyat&#8221; yang ia bikin bukanlah SMP Terbuka, tapi lebih tepat disebut TKBM (Tempat Kegiatan Belajar Mandiri). Memang, modul yangdipakai mirip modul SMP Terbuka.Berlokasi di kawasan Pancoran (Jaksel), menurut rencana sekolah tersebut akan memulai kegiatan belajar mengajar pada September mendatang (pas bulan<br />
puasa).</p>
<p>Kini ia sudah berhasil menjaring 21 calon siswa, dan sudah disiapkan pula 14 tenaga mengajar yang semuanya volunteer. &#8220;Sebenarnya ada 28 anak yang berminat namun terkendala oleh tidak adanya ijazah SD, jadi tidak bisa kami bantu,&#8221; ujar Ibu Ade. Menurutnya, seragam sekolah disediakan gratis, namun tidak untuk tas dan sepatu. &#8220;Di sekolah kami boleh kok tidak pakai sepatu..&#8221;</p>
<p>salam semangat,</p>
<p>radityo</p></blockquote>
<p><a href="#">Kembali ke atas</a>.<br />
Dari saya:<br />
Nah, semoga dengan adanya sedikit titik terang ini bisa membantu kita semua. Mari kita dukung program-program terobosan inisiatif dari masyarakat.</p>
<p>BTW, itu kalo gak bisa sekolah karena nggak punya ijazah SD, mungkin kita semua perlu belajar dari film <a title="Denias, Senanndung di Atas Awan" href="http://www.deniasmovie.com/" target="_blank">Denias</a> ya? Semangat menuntut ilmu jangan <a title="Denias, Senandung di Atas Awan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Denias,_Senandung_di_Atas_Awan" target="_blank">dibatasi dengan secarik kertas</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/konfirmasi-berita-tentang-smp-gratis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar Homeschooling SPDC Fakultas Psikologi UI</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/seminar-homeschooling-spdc-fakultas-psikologi-ui/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/seminar-homeschooling-spdc-fakultas-psikologi-ui/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 00:27:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngemong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/seminar-homeschooling-spdc-fakultas-psikologi-ui/</guid>
		<description><![CDATA[Seminar Homeschooling
“Peran Serta Orang Tua Dalam Pendidikan Anak”
Pelaksanaan               : Jumat, 14 Desember  2007 jam 13.30 – 16.00
Tempat                       : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size: large" align="center"><strong>Seminar Homeschooling</strong><br />
<strong>“Peran Serta Orang Tua Dalam Pendidikan Anak”</strong></p>
<p>Pelaksanaan               : Jumat, 14 Desember  2007 jam 13.30 – 16.00<br />
Tempat                       : Ruang Serbaguna Taman Pengembangan Anak  Makara Fakultas Psikologi Universitas Indonesia<br />
Penyelenggara            : Skill and Personal Development Courses (SPDC) Fakultas Psikologi UI<br />
Partisipan                   : Para Orang Tua / Pendidik /Pemerhati<br />
Moderator                  : Nurfadilah, M.Psi<br />
Pembicara                  :</p>
<ol>
<li>Dr. Rose Mini A.P, MSi &#8211; &#8220;Peran orang tua dalam mendidik anak dan sebagai  pendidik untuk anak”</li>
<li> Yayah Komariah, S. Pd &#8211; “ Seluk beluk Homeschooling dan pengalaman sebagai homeschooler”</li>
<li> Desy Mutia Ali, M.Psi &#8211; &#8220;Self Regulation Learning (SRL) untuk para pendidik dan para orang tua yang sudah/ akan melakukan Homeschooling”</li>
</ol>
<p>Pendaftaran<br />
Rp 50.000,- (termasuk snack, kit, sertifikat,  buku “Homeschooling” pengarang Yayah Komariah, S.Pd, merchandise sponsor)<span id="more-40"></span></p>
<p>Transfer ke rekening:</p>
<ol>
<li>BRI KCP Depok UI nomor 0672-01-000029-30-8  Atas nama Fak. Psikologi UI-SPDC, atau</li>
<li>BCA cabang Cibinong nomer 167 040 865 1 atas nama Bramadi HP</li>
</ol>
<p>Fax bukti transfer ke nomor 021.7863526 atau email ke bramadi@ui.edu<br />
Keterangan lebih lanjut hubungi<br />
Bramadi          08159113411<br />
021.7270004 /0217270005 / 021-7863520 ext 1504<br />
Desy                02193062380</p>
<p>Dewasa ini, pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh para orang tua terhadap anaknya. Masyarakat semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak- anak mereka sejak dini. Ada banyak cara untuk memberikan pendidikan kepada anak baik formal maupun non formal. Namun sekarang banyak orang tua yang mempercayai 100% pendidikan anak- anak mereka kepada lembaga tertentu dengan biaya yang besar dengan alasan kesibukan atau ketidakmampuan dalam mendidik. Padahal peran serta orang tua sangat diperlukan karena memiliki keterkaitan emosi yang besar terhadap anak- anaknya. Ada beberapa hal yang harus dimiliki orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak. Dalam seminar ini akan dibahas bagaimana dan sejauh mana peran serta orang tua dalam pendidikan anak dilingkungan rumah, dan juga kaitanya dengan homeschooling yang sekarang ini mulai berkembang pada komunitas komunitas tertentu.</p>
<p><strong>Update Info:</strong></p>
<p>Rekening untuk pendaftaran menggunakan Bank BRI. Kabarnya panitia juga menyediakan rekening BCA. Keterangan lengka, kata panitia, ada di <a title="Seminar Homeschooling SPDC" href="http://www.psikologi.ui.ac.id/spdc/seminar.htm" target="_blank">www.psikologi.ui.ac.id/spdc/seminar.htm</a>. Tapi sampai sekarang saya belum bisa mengaksesnya.</p>
<p>$ nmap www.psikologi.ui.ac.id<br />
Starting nmap 3.48 ( http://www.insecure.org/nmap/ ) at 2007-11-19 07:39 WIT<br />
Note: <strong>Host seems down. </strong>If it is really up, but blocking our ping probes, try -P0<br />
Nmap run completed &#8212; 1 IP address (0 hosts up) scanned in 1.364 seconds</p>
<p>Oo pantes..</p>
<p><strong>Update lagi:</strong></p>
<p>Barusan ditelpon sama Bramadi untuk konfirmasi pendaftaran. Kabarnya sih tempat terbatas. CSnya bagus ya, sampe mau nelpon calon peserta.</p>
<p><strong>Update:</strong></p>
<p>Udah  up webnya: <a title="Seminar Homeschooling SPDC" href="www.psikologi.ui.ac.id/spdc/seminar.html" target="_blank">www.psikologi.ui.ac.id/spdc/seminar.htm</a></p>
<p>Nomor rekening pendaftaran:</p>
<ol>
<li>BRI KCP Depok UI nomor 0672-01-000029-30-8  Atas nama Fak. Psikologi UI-SPDC, atau</li>
<li>BCA cabang Cibinong nomer 167 040 865 1 atas nama Bramadi HP</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/16/seminar-homeschooling-spdc-fakultas-psikologi-ui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
