Archive for the Category »Persepsi «

Sebuah pengalaman mengesankan di kota pelajar Yogyakarta mengajarkan banyak hal pada diri saya. Khususnya pelajaran mengenai optimisme dan perjuangan hidup. Di salah satu sudut kota ini, saya ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang dosen yang juga merangkap profesi sebagai tukang cukur rambut. Berikut ini cerita selengkapnya, mudah-mudahan bermanfaat pula bagi Anda.

Sore itu, rambut Abbas, anak saya, sudah terlihat terlalu panjang untuk seorang anak laki-laki. Poninya menggantung menutupi mata. Di samping kanan dan kiri, rambutnya menyeruak melewati daun telinga. Serabut rambut juga memanjang menuruni tengkuknya.

Sebenarnya di Jogja ini saya belum tahu persis dimana lokasi barbershop atau tukang cukur yang pas buat anak-anak. Mengandalkan intuisi serta ingatan dari pengamatan sekilas menjelajahi kota selama ini, rombongan keluarga Uliansyah pun segera melesat di jalanan kota Gudeg mencari tukang cukur. Banyak sih barbershop di kota ini. Bahkan lucunya, mereka ramai-ramai memasang kata “Bergaransi” di papan nama. Sampai sekarang, saya belum paham garansi apa yang dimaksudkan untuk sebuah produk berupa jasa cukur rambut. more…

Pernah dengar profesi Sindhen? Pernah mengrenyitkan kening ketika ada seseorang yang memilih jalan hidup sebagai pesinden? Pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi anak seorang sinden?

Hidden Side of A Sindhen

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditemukan di buku ini. Sebuah roman yang menceritakan jalan hidup seorang sinden. Sebuah profesi yang sering dipandang miring oleh masyarakat.

Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Bahkan yang membuat buku ini sangat istimewa, adalah bahwa ia ditulis oleh anak dari tokoh utama buku ini. Ya, buku ini ditulis oleh anak seorang sindhen. more…

Category: Persepsi  One Comment

Hey, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang tidur di kelas? Pernahkah kamu tidur saat mengikuti KBM?

Jujur saja, dulu waktu di SMA saya sering tidur di kelas. Dan saya tidak sendirian. Ada beberapa kawan lain yang punya kendala yang sama. Tapi jangan salah sangka dulu. saya tidur bukan karena malas atau tidak menghormati guru. Harap maklum karena SMA saya punya kegiatan seabreg yang kebanyakan menggunakan kekuatan fisik.

Bangun pagi-pagi langsung menuju ke lapangan. Untuk mengikuti latihan halang rintang. (ini sebenarnya syair yang dinyanyikan saat lari pagi). Dua kali seminggu, kami dijadwalkan lari pagi kira-kira sejauh 4 atau 5 kilometer. Ada pula latihan baris-berbaris, latihansenam militer, latihan senam balok kayu, dll. Ada juga latihan membaca peta topografi atau peta militer, tapi sambil mengikuti jalur yang tertera di peta. Ya lumayan, dengan berjalan kaki rute yang ditempuh bisa mencapai sekitar 10-15 kilometer. Plus melewati kontur yang tak tentu naik-turunnya.

Belum lagi acara-acara occasional yang lumayan besar seperti Latihan PraHulu Balang dan Hulu Balang. Hulu Balang sendiri dilaksanakan selama 3 hari di tengah hutan dengan kegiatan-kegiatan yang menguji berbagai keterampilan survival personal dan kelompok.

Jadi maklum saja kalau banyak siswa yang kelelahan saat mengikuti kelas formal. Masih nggak percaya? Tanya saja rekan se-angkatan saya, Rohmad. Atau anaknya SBY, yang mantunya pak Aulia Pohan itu.

Kenapa saya mengkambinghitamkan kegiatan fisik yang menyebabkan saya tertidur di kelas? Karena nyatanya kebiasaan itu tidak terbawa saat saya kuliah. Yaa.. memang terkadang kuliah itu membosankan. Tapi tidak sampai membuat saya jatuh tertidur. Apalagi waktu kuliah D-IV, saya malah bergairah mengikuti kegiatan perkuliahan yang memberikan pengalaman sangat berharga bagi kehidupan profesional saya.

Di beberapa negara di dunia, siswa yang tertidur di kelas dianggap wajar. Misalnya di Finlandia dan di Jepang. Justru kalau ada guru yang membangunkan siswa dengan cara yang tidak mendidik, dia bisa dituntut. Seperti kejadian di Danbury.

Ada juga kasus yang terbalik, sang guru yang malah tidur di kelas! Hehehe itu mah ngaco. Tapi seorang kawan pernah benar-benar merasakan pengalaman itu. Sebagai guru privat, ternyata anak didiknya bandel setengah mati. Kalau diajak belajar, sang anak didik justru main PS atau menghindar dengan alasan nggak jelas lainnya. Padahal sudah kelas 3 SMA mendekati ujian nasional dan ujian masuk PT. Akhirnya demi memenuhi kuota daftar hadir, sang guru pun numpang tidur di kamar sang anak didik. Sambil titip pesan, “Kalau sudah jam 6, bangunin gw yah!” Hehehe…

Seorang ustadz saya punya solusi yang bijak dan masuk akal kala melihat jamaahnya yang tertidur. Nasehat beliau, kalau ingin belajar di majelis taklim, ya harus mempersiapkan diri dengan baik. Termasuk dengan tidur yang cukup dan kesiapan fisik yang baik. Kalau memang lelah karena sebab-sebab tertentu (lembur, kejar setoran, sakit) lebih baik tidur di rumah. Kan lebih nyaman daripada tidur di pengajian. No offence gitu loh.

Tapi kalo tetep kantuk tak tertahan namun kita segan pada guru yang mengajar, bisa coba tips dari Lestian Atmopawiro.

Tidur dalam suatu forum memang harus ditanggapi dengan bijak. Kalau memang forum yang mendidik seperti di Finlandia, Jepang dan majelis taklim ustadz bijak itu ya gak masalah. Tapi kalau di forum yang penting dan diikuti action plan, ya nggak pantes dong. Kalau nggak percaya, tanya aja sama peserta Lemhanas yang bobo manis saat SBY berbicara.

Dan terjaga di forum pun belum cukup, jangan-jangan hatinya sedang tidur. Untuk itu, kata Bu Guru Tia, perlu dibangunkan supaya mata hatinya terbuka.

Category: Persepsi  12 Comments

Masih ingat kan salah satu adegan di film Austin Powers? Waktu itu si penjahat yang baru saja lolos dari penjara es membuat makar baru terhadap dunia. Karena berasal dari masa lalu, dia minta tebusannya cuman satu juta dollar. Para pemimpin dunia yang jadi korban pemerasan pada bingung, kok mintanya dikit amat?

Yah, kata-kata satu juta dollar memang seksi. Jumlah itu menjadi satu parameter jumlah yang sangat besar. Walaupun saat ini karena inflasi nilainya tak lagi sebesar satu juta dollar jaman dulu, tapi bagaimanapun juga satu juta dollar terlanjur mewakili batas pengakuan kaum kaya.

Untuk mendapatkan efek fenomenal ini pulalah kita dulu mengenal ada film berjudul The Six Million Dollar Man. Enam kali satu juta dollar! Bayangkan teknologi apa saja yang bisa ditanamkan dalam tubuh manusia, dengan investasi sedemikian besar.

Nah, ternyata wewenang memegang kekuasaan atas satu juta dollar itu akhirnya mampir ke saya juga. Lho? Gimana tuh ceritanya? Gini boss. Sejak bendahara penerima iuran Dana Reboisasi membuka rekening valas, semua wajib bayar kehutanan sekarang diwajibkan menyetor iuran Dana Reboisasi menggunakan valas. Dulu kan dikurskan dulu ke rupiah baru disetor.

Uang valas tersebut ujung-ujungnya mampir ke kantor saya. Tentunya dalam bentuk Bagian Daerah untuk Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Kehutanan. Nah, jumlah valas yang akan dibagikan itu sudah melebihi satu juta dollar.

Hehehe, percaya atau tidak, waktu saya membaca surat dari Dephut yang isinya menyerahkan (sebenarnya menyerahkan bukan istilah yang tepat ya, wong tidak disertai dengan penyerahan uang, tapi wewenangnya memang berpindah. mungkin lebih tepatnya mengusulkan) uang satu juta dollar (+lebih) itu ke kantor saya, saya ingin memegang surat itu tinggi-tinggi sambil berteriak histeris, “Satu juta dollar! Satu juta dollar! Satu juta dollar, man!”. Hehehe norak.

Yah maklum lah. Wong Mister Krab aja gelo kecewa waktu dollar pertamanya hilang. Itu kan menandakan penghargaannya terhadap uang. Bukan uang sendiri kok bangga sih? Ya gitu deh saya kalo lagi kumat noraknya. Harap maklum ya..

Category: Persepsi  2 Comments

Dulu seorang kawan kuliah memanggil saya dengan sebutan Tintin. Alasannya? Karena celana yang saya pakai ngatung di atas mata kaki, persis seperti celana Tintin dalam salah satu petualangannya. Tidak semua penampilan Tintin menggunakan celana ngatung. Hanya di beberapa judul, Tintin terlihat menggunakan celana seperti itu. Salah satunya di episode “Tongkat Raja Ottokar”, kemudian “Cerutu Sang Pharaoh”, “Kepiting Bercapit Emas”, dan lainnya.

Julukan-julukan yang diberikan kepada orang berpenampilan seperti saya memang macam-macam. Setengah tiang, kebanjiran, dll. Berat memang bagi saya. Tapi membaca berita hari ini di koran Tempo, sedikit banyak menambah energi moral menghadapi situasi sedemikian rupa.

Ternyata pak Menteri Energi juga mengalami hal yang sama.

Koran Tempo – Senin, 31 Maret 2008

Ekonomi dan Bisnis

Purnomo Yusgiantoro
Mirip Michael Jackson

Tampang boleh berbeda, tapi soal panggilan bisa saja sama. Itulah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Ia rupanya punya panggilan khusus di kalangan koleganya yang memiliki hobi menyanyi. Di sini, ia biasa dipanggil Michael Jackson. Lo, kok bisa, Pak?

Ia membuka rahasia itu dalam sebuah acara donor darah di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral pekan lalu. Purnomo menuturkan panggilan ini muncul gara-gara hobinya memakai celana ngatung di atas mata kaki mirip Michael Jackson. Apalagi, ketika mengirimkan pesan pendek (SMS) kepada teman dekatnya, ia sering memakai inisial MJ. Padahal inisial Purnomo seharusnya PYS.

“Apa tuh MJ?” kata Purnomo menirukan kebingungan koleganya. “Saya menjawab, MJ itu Michael Jackson,” ucapnya disambut gelak tawa. Tapi kalau inisial Purnomo untuk istri: MP. “Maksudnya, Mas Purnomo.” Nieke Indrietta

Menghitung Hari
yang satu long weekend (senang2)
*satunya lagi loooong weekeeend… (serasa gak habis2 tanggalan)

Category: Persepsi  One Comment

Hari Jumat (2/2/08) saat air kembali permisi-numpang-lewat di Jakarta, perjalanan kereta api komuter dibatalkan. Pun demikian beberapa minggu yang lalu di suatu sore kereta ngadat. Lagi. Sudah beberapa kali kereta jurusan Tanah Abang – Serpong bermasalah bulan tahun ini. Kereta yang diharapkan oleh ribuan penumpang itu terlambat, terganggu, atau bahkan dibatalkan perjalanannya. Kalau sudah demikian kejadiannya, orang-orang hanya bisa pasrah, gondok, menggerutu, mengutuk, dan akhirnya menyesal.

Jalur Kereta Jepang

more…

Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afiihi wa’fuanhu.

Hak-hak Pengguna Jalan

Hari senin dan selasa kemarin saya benar2 dibuat kesal oleh kemacetan jalan disekitar BSD. Bayangkan jalan2 BSD yang besar2 dan lancar itu tiba2 jadi macet oleh suatu kegiatan, pawai pemilihan bupati daerah! Saya tidak tahu apakah ada peraturan yang mengatur tentang jalannya pawai sehingga tidak menghalangi pengguna jalan lain, atau sudah ada peraturannya, tapi seperti biasa peraturan dibuat untuk untuk dilanggar :p yha terlepas dari itu semua pawai tetap berlangsung dan kendaraan yang saya tumpangi terjebak pasrah dibelakangnya ditambah saya yang sedang bersungut2 didalamnya. Amboi…

Hari kamis, lain lagi cerita. Ketika saya menyebrang jalan, tiba2 ada pengemudi motor melawan arus dari arah yang berlawanan. Dan… Brak! jadilah tangan dan bahu saya sebelah kiri tersambar. Astagfirullah! Refleks ucapan yang keluar dari mulut saya, yang benar2 tak menyangka akan ada kendaraan dari arah sebaliknya. Tidak berapa lama kemudian otak mulai mencerna apa yang terjadi, ketika sadar dan mau melancarkan protes, sudah terlambat… Pengemudi motor sudah pergi dengan tenang meninggalkan korbannya yang bengong keheranan, “kok bisa2nya ada motor dari arah sana.” Pikir saya. (mau protes sama siapa thoh de!?). Saya yakin pengemudi motor tsb tahu saya tersenggol motornya, wong kedua anak-anak dalam boncengannya langsung menoleh pada saya. huh! Pelajaran yang buruk bagi anak2 tsb. Jangan di tiru yha nak..

Sudah sering saya melihat kekacauan di jalan-jalan. Kekacauan biasanya terjadi ketika semua orang merasa berhak menggunakan fasilitas umum ini dengan tanpa memperhatikan hak orang lain yang juga sebagai pengguna. Alangkah baiknya jika masing2 dari kita, MULAI DARI DIRI SENDIRI memperhatikan hak2 pengguna jalan lain. Apa saja sih hak pengguna jalan itu menurut Islam? Ternyata ada pensyariatannya di peraturan Negara Brunei Darusalam Bo!

Mufti Brunei Darussalam

Untuk menjamin jalan raya itu selamat dan selesa digunakan oleh semua pengguna, sama ada kenderaan bermotor atau pejalan kaki, kerajaan telah memperuntukkan peraturan dan undang-undang bagi pengguna jalan raya. Ia hendaklah dipatuhi. Mana-mana pengguna yang menyalahinya akan dikenakan tindakan menurut undang-undang.

Daripada Abu Sa‘id al-Khudri Radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
Hadits Abu Said Al-Khudri, apakah hak-hak jalan raya itu?

Artinya: “Jangan kamu duduk-duduk di jalan-jalan! Sahabat bertanya: “Kami susah meninggalkannya dan di sana kami hanya duduk-duduk bercerita” Baginda bersabda: “Jikalau begitu, apabila kamu pergi juga ke tempat kamu bercerita itu, kamu berikanlah hak-hak jalan raya”. Mereka bertanya lagi: “Apakah dia hak-hak jalan raya itu? Baginda menjawab: “Memelihara pandangan, membuang yang menyakitkan, menjawab salam dan membuat kebaikan serta menghalang kejahatan”. (Al-Bukhari & Muslim)

Category: Persepsi  3 Comments

Tahun 2008 ini banyak banget cuti bersama. Saya pribadi kurang setuju dengan kebijakan cuti bersama ini. Cuti bersama melanggar hak pegawai! Mosok kita dipaksa untuk ambil cuti pada hari2 yang sudah ditetapkan? Padahal cuti adalah hak pegawai. Kenapa bisa dipaksa pelaksanaannya dengan aturan? Ya ya ya, bilang saja dianalogikan dengan gaji. Gaji juga hak pegawai, tapi pengaturannya justru sangat ketat. Ada gak sih PNS yang naik gaji 3 kali setahun kayak yang dijanjikan Tung Desem Waringin? Yang ada malah dipotong.

thumbnail

Anyway, mau tak mau, setuju tak setuju, saya dan para PNS lain memang harus taat pada Surat Keputusan Bersama 3 Menteri itu. Dan selain nggerundel dan menggerutu (euh, sama yak?), saya harus menyiapkan diri untuk menghadapi datangnya tanggal-tanggal merah muda itu. (Bukan merah beneran kan?).

Banyaknya long weekend memang harus diantisipasi sebaik mungkin. Kita harus pandai-pandai memilah, menggunakan dan memanfaatkan libur panjang itu agar:

  1. Tidak boros. Kalau setiap liburan kita jalan2, wah tekor! Apalagi buat keluarga kecil dengan dua anak yang selalu kelebihan energi disetiap tempat dan setiap saat.
  2. Mudik. Daripada menghabiskan waktu yang barokah di bulan Ramadhan, mendingan mudik di luar bulan puasa aja.
  3. Tidak melewatkan acara keluarga. Di lingkungan puak saya, melewatkan acara keluarga bisa mendatangkan bencana. Nikahan, sunatan, kematian, berangkat haji, dll. Tipikal keluarga Indonesia banget. Kami sih berusaha agar tetap bisa berpartisipasi di acara-acara pokok, dan berdalih untuk acara-acara yang lain. Kabur!
  4. Private program. Nah ini nih, acara pribadi keluarga. Berenang, naik kuda (kuda orang lain, mosok PNS punya istal?), jalan-jalan. Tentunya sambil tetap menjunjung tinggi asas playing is learning. Homeschooling wannabe gitu loh!
  5. Istirahat. Kebayang kan, kerjaan seminggu yang harusnya selesai 5 hari harus diselesaikan 4 hari saja. Pasti capek banget tuh, kerjaan kejar tayang melulu. Nah, pilih tanggal-tanggal yang tepat untuk istirahat.
  6. Day off is challenge. Kalo dilihat dari sudut pandang lain (pake otak kanan dong!), libur panjang bisa menjadi kesempatan juga lho. Kesempatan nyambi side job, kesempatan ketemu orang, berburu bahan, menulis, tahfiz Quran, menyelesaikan proyek penulisan hadits digital, ikutan atau bikin proyek Open Source, dll. Sudah saatnya merubah paradigma dari padat aktivitas menjadi produktivitas.
  7. Mengatur rencana perjalanan dinas. Nah paling enak memang ambil perjalanan dinas di pekan yang ada long weekendnya. Artinya, sepulang travelling at cost yang cuman 3 atau 4 hari itu, kita nggak harus masuk bersegera ketemu atasan.

Nah, akhirnya ini dia kalender yang dijanjikan. Kalender disederhanakan hanya menampilkan bulan dan minggu yang memiliki long weekend. Bintang merah menandakan hari libur nasional, dan bintang oranye menandakan cuti bersama. Kotak merah panjang menunjukkan panjangnya liburan.

Cocok buat desktop atau poster. Biar ingat terus. Hehehe..

Bisa diunduh dari DivShare.Com atau Photobucket.Com

  1. http://www.divshare.com/download/3398247-af9
  2. http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/download/kalendercutibersama2008.png

Mohon kritik dan saran. (Euh. kayaknya penahunan Hijriyah nya salah. Tunggu revisinya ya.)

Category: Persepsi  7 Comments