Flexy Time ala Kemenkeu

Hari ini adalah hari pertama pemberlakuan PMK 214/PMK.01/2011 tentang Penegakan Disiplin Dalam Kaitannya Dengan Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara Di Lingkungan Kementerian Keuangan. Heh? PMK apa itu? Salah lampiran PMK ini mengatur mengenai jam kerja pegawai Kemenkeu yang berkantor di wilayah DKI Jakarta (baca lampiran V). Mulai Januari 2012, bagi pegawai yang masuk kerja di antara jam 7.31 – 08.00 maka wajib diganti dengan memundurkan pulang 30 menit menjadi jam 17.30. Dengan demikian, pegawai diberi keleluasaan untuk memilih jam masuk kerja. Pilihan tersebut tentunya memiliki konsekuensi.
Flexi Time

Gambar dari flexitimemanager.co.uk

PMK 214 ini adalah PMK yang ditunggu-tunggu oleh para pegawai roker alias rombongan kereta. Dengan adanya PMK ini, para roker terbebas dari risiko gangguan perjalanan transportasi kereta. Tahu kan bagaimana kinerja kereta komuter kita? Masalah akses tangga saja bisa mengganggu pelayanan. Nah, jika selama ini gangguan transportasi kereta berakibat pada pemotongan tunjangan karena terkena sanksi Datang Terlambat (DT), maka sekarang akibatnya hanyalah pemunduran jam pulang kerja.

PMK ini sempat juga dibahas dengan panas di milis alumni STAN (secara pegawai Kemenkeu kebanyakan adalah alumni STAN).

Penerapan PMK ini tak lepas dari komentar. Beberapa kawan mengeluh bahwa PMK ini tidak betul-betul menerapkan konsep flexy-time. Pertama, rentang waktu fleksibilitas yang ditawarkan kurang lebar, yakni hanya 30 menit. Hal ini berbeda dengan penerapan flexy-time di BI yang memberlakukan rentang antara jam 07.00 s.d. 08.30. Masalah rentang waktu ini, banyak pegawai Kemenkeu yang berharap dapat mulai dihitung masuk kerja dari pukul 07.00 sehingga bisa pulang jam 16.30. Kedua, penerapan flexy time ala PMK 214 ini tampak seperti hukuman. Walaupun seseorang hanya terlambat 1 menit (absen pukul 07.31), maka dihukum dengan pemunduran jam pulang kerja 30 menit. Konsep flexy time semestinya hanya mengganti waktu yang terlambat saja, tidak perlu menggunakan sistem paket 30 menit.

PMK 214 Flexi Time

Bagi Anda yang kesulitan mengakses PMK 214 dari website Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Kemenkeu, Anda dapat mengunduhnya dari web saya. Anda dapat mengklik pada gambar PMK di atas atau pada link berikut ini: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214/PMK.01/2011 tentang  Penegakan Disiplin Dalam Kaitannya Dengan Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara Di Lingkungan Kementerian Keuangan.

Selamat bekerja!


PS: Bang Pay tidak termasuk!

Share

Murojaah ala Fahim Quran

Di sebuah gerai, kami (saya dan istri) melihat sebuah produk edukasi berupa CD dan buku. Judulnya adalah Fahim Quran. Kami tertarik dengan produk tersebut, tetapi tidak langsung membelinya. Saya mencoba mencari ulasannya di Internet. Namun sayangnya belum banyak review ataupun testimonial tentang Fahim Quran. Kebanyakan posting tentang Fahim Quran hanyalah mengcopy-paste spesifikasi produk, bukan sharing pengalaman atau pendapat tentangnya. Bahkan ada pula posting blog yang menyertakan brosur penjualan Fahim Quran :D . Padahal bukan informasi itu yang dicari oleh para calon pembeli. Tulisan saya ini mungkin menjadi salah satu review Fahim Quran yang pertama.

Banyaknya produk edukasi dan sedikitnya panduan belanja produk edukasi sebenarnya membawa satu ide di kepala, yaitu membuat blog panduan belanja produk edukasi. Blog tersebut dapat menyediakan polling/rating, kumpulan testimoni, ulasan produk, dsb. Kita akan bahas ide tersebut pada lain kesempatan.


Buku dan CD Fahim Quran

Setelah membeli dan membaca buku panduan Fahim Quran, serta tak lupa menonton VCD Fahim Quran, saya salut dengan usaha yang ditempuh oleh penyusun metode ini. Ia tentunya memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan anak yang Islami dan Qurani. Ia telah berusaha agar menghafal Alquran dapat dijalani anak dengan gembira. Siapakah dia?

Sobari Sutarip adalah lulusan Al-Azhar Kairo yang mengembangkan metode Fahim Quran ini. Beliau menyatakan sempat ber-talaqi Alquran kepada syaikh di Al-Azhar. Talaqi adalah metode klasik dalam menghafal dan memperbaiki bacaan Alquran. Dalam metode ini, seorang guru yang sudah diakui keabsahan hafalan dan bacaannya, akan memeriksa hafalan dan bacaan anak didiknya. Jika lulus, guru akan memberikan sanad bacaan Alquran kepada murid. Sanad tersebut bersambung hingga Nabi Muhammad shalallahu alayhi wa salam. Dengan demikian, si pemegang sanad telah mempelajari bacaan Alquran dari sumbernya, yaitu Nabi Muhammad shalallahu alayhi wa salam.

Setelah lulus dari Al-Azhar, Sobari Sutarip kemudian pulang ke Indonesia dan menyusun konsep hafalan Quran bagi anak-anak. Metode inilah yang kemudian dikenal dengan metode Fahim Quran. Menurut buku dan VCDnya, Fahim Quran adalah kepanjangan dari Fast, Active, Happy and Integrated in Memorizing Al Quran. Metode ini diklaim dapat menyukseskan hafalan anak sampai dengan 18 juz ketika anak lulus SD.

Kelebihan Fahim Quran yang saya lihat adalah ia memperhatikan teori tumbuh kembang anak dan kemudian menggunakannya sebagai dasar pengembangan metode Fahim Quran. Saya setuju dengan ustadz Sobari, bahwa anak-anak memiliki dunia yang berbeda dengan dunia orang dewasa. Fahim Quran mencoba masuk ke dunia tersebut.

Meskipun demikian, Fahim Quran bukanlah metode menghafal Alquran yang lengkap/komprehensif, seperti metode menghafal yang diajarkan di Pakistan atau Saudi. Contoh konkritnya, Fahim Quran tidak mengajarkan tahsin (makhraj, mad/panjang-pendek bacaan, dll) dan qiraat. Fahim Quran berfokus pada cara atau bentuk murojaah yang dapat diterima oleh anak-anak.

Saya belum pernah mengikuti pelatihannya, namun dugaan saya isinya didominasi dengan pemberian motivasi menghafal Alquran bagi anak dan orangtua atau guru.

Kritik saya terhadap Fahim Quran adalah dalam penyusunan skenario film yang termuat dalam VCD. Dalam film tersebut, saya melihat produk berhasil dari metoda Fahim Quran hanya satu anak saja, yaitu Uwais (umur 9 tahun) yang telah hafal 9 juz Alquran. Di sepanjang video, saya tidak melihat ada anak lain yang memiliki hafalan di luar juz 30. Hal ini dapat membuat menimbulkan pertanyaan di benak penonton, apakah metode ini dapat digeneralisir ke anak lain atau hanya cocok untuk Uwais saja? Selain itu, penonton juga tidak tahu apakah metode Fahim Quran adalah satu-satunya yang diterapkan pada Uwais, atau dia mendapat pengajaran Quran metode lain (mungkin metode talaqi klasik). Sehingga, penonton juga ragu apakah kemampuan Uwais menghafal Quran adalah benar-benar hasil dari dampak langsung metode Fahim Quran.

Kritik ini datang dari pengalaman terdahulu ketika membahas fenomena Doktor Quran Cilik di Iran, yang mana hanya dia sendiri yang berhasil menghafal Quran dan maknanya di usia muda. Saudara-sadara kandungnya yang hidup dalam satu rumah dan diasuh oleh ayah-ibu yang sama, tidak ada satu pun yang mendekati kemampuan sang Doktor Cilik. Hal ini membuat sebagian orang (termasuk ayah dan ibu mereka sebagaimana dituliskan dalam buku tsb), menyimpulkan bahwa yang luar biasa adalah anaknya, bukan semata-mata metodenya. Saya harap Fahim Quran tidak demikian.

Fahim Quran dibangun atas teori-teori pendidikan terkini seperti Multiple Intelligence, dll. Namun sayangnya, Fahim Quran tidak memberikan konsep atau gagasan mengenai cara mengembangkan kecerdasan Qurani. Alih-alih demikian, Fahim Quran hanya memberikan model-model kegiatan murojaah Quran, seperti Zip-Zap, dll. Ada sekitar 20 bentuk kegiatan murojaah yang dicontohkan dalam buku ini. Dengan demikian, Fahim Quran menawarkan metode murojaah Alquran yang dibangun atas 8 kecerdasan Multiple Intelligence, dan tidak menawarkan satu konsep kecerdasan baru.

Krtik kedua adalah dalam VCD Fahim Quran, pemirsa dijanjikan untuk bisa mendapatkan panduan kegiatan dari situs www.fahimquran.com. Sayangnya saat saya membuka alamat web tersebut, yang ada hanyalah info pelatihan FQ saja. Saya belum menemukan update kegiatan seperti yang dijanjikan dalam VCD.

Berdasarkan informasi yang hanya saya terima secara terbatas, maka kesan saya terhadap Fahim Quran terangkum sebagai berikut. Secara keseluruhan, penilaian saya terhadap metode ini adalah cukup baik. Fahim Quran mungkin dapat menjadi solusi bagi anak-anak bertipe ceria dan tidak dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang cenderung serius. Namun, metode ini juga tidak komprehensif, ia hanya menitikberatkan pada murojaah yang dilakukan dengan ceria saja. Metode ini tidak mencakup materi dasar menghafal Alquran seperti tahsin dan qiraat.

Untuk dapat menjawab semua kritikan, kita menantikan cerita sukses dari Fahim Quran. Mudah-mudahan para pengelola Fahim Quran diberi kemudahan dari Allah untuk membuat anak-anak didik menghafal Alquran, dan tidak terjebak pada kemasan menjual pelatihan saja.

Share

Yes, No, Cancel

KAPAN YA BISA BERARTI TIDAK

Sedari kecil, saya dibesarkan dengan lingkungan tipikal Jawa. Salah satu kebiasaan (buruk) yang tertancap dalam diri saya adalah berkata Ya walaupun yang dimaksud adalah Tidak. Saya kerap diprotes karena kebiasaan itu. Salah satu pemrotes terbesar adalah istri saya. Dia dibesarkan dalam lingkungan Sumatra yang benar-benar to the point. Ya berarti Ya, dan Tidak berarti Tidak.

Masyarakat Jawa mungkin merasa penolakan adalah hal yang tabu. Ini selaras dengan prinsip Jawa lainnya, yaitu nrimo. Nrimo berarti menerima semua yang didapat dalam hidup dengan penuh kerelaan (ridlo). Sebuah penolakan dalam hidup akan menurunkan martabat kejawaan seorang Jawa. Untuk menghindari penolakan inilah, masyarakat Jawa menjauhi kalimat-kalimat negatif. Salah satunya adalah kata Tidak. Karena itu, seringkali orang Jawa berkata Ya yang berarti Tidak.

Coba perhatikan jika Anda menerima tamu Jawa. Ketika Anda menawarinya makan atau minum, dia akan menjawab “Ya”, tapi suguhan tidak pernah disentuhnya. Jika seorang tetangga Jawa lewat di depan rumah kita. Jika kita menawarinya untuk mampir di rumah kita, dia akan menjab “Ya”, tetapi kakinya tetap melangkah menjauh.

Kebayang nggak kalau hampir tiap hari ada pembicaraan seperti ini.

Istri: “Bang, mau nasi goreng nggak?”
Suami: “Iya” (sambil matanya tidak fokus entah ke mana)
Istri: “Dimasakin dulu ya..”
Setelah nasgor selesai dimasak:
Istri: “Ini bang nasi gorengnya.”
Suami: “Nggak laper, buat adek aja.”
Istri: grrrr……..

Seringkali, jika saya menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak sepenuhnya saya pahami, secara refleks kepala saya akan mengangguk dan mulut berkata “Ya”. Salah satunya yang terjadi siang tadi.

Supir Taxi: “Di bawah jembatan tol ()*@#*(@& (berisik gak kedengeran) ^&*^@* .. ya pak?”
Penumpang: “Iya.” (bukannya minta mengulang mengucapkannya/begging pardon).
Begitu supirnya belok ke arah tol, baru penumpangnya teriak-teriak..
Penumpang: “Lurus pak! Pak, lurus aja pak! Jangan belok!”
Supir Taxi: grrr……….

Kebiasaan Ya-Ya-Ya ini juga diperparah dengan ingatan saya yang pendek. Setelah mengucap Ya, otak saya langsung menghapus informasi yang ada di otak.

Boss: “Mas, tolong buatkan presentasi untuk rapat Senin pagi jam 9.”
Bawahan: “Ya pak.”
Senin pagi jam 8.30.
Boss: “Presentasi untuk rapat nanti mana?”
Bawahan: “Hah? Ada ya pak? Aduh Bapak kenapa ngasih tahunya mendadak sih? Kok nggak jauh-jauh hari..”
Boss: grrrr………

Ternyata, lingkungan sosial tidak seperti lingkungan komputer yang benar-benar eksak dalam menginterpretasikan input. Butuh seni dan rasa tersendiri menghadapi orang-orang seperti saya. Ya bisa berarti Ya jika diikuti pandangan mata yang tegas, anggukan kepala, atau bentuk lain penegasan non-verbal. Ya bisa berarti Tidak jika diikuti dengan pandangan mata menerawang, gumaman tak jelas, dll.

Bagaimana jika komputer mulai berperilaku seperti orang Jawa? Jendela dialog dengan pilihan Yes, No atau Cancel akan kehilangan fungsinya. Yes bisa berarti, “Saya tidak serius mengatakannya” (jadi jangan salahkan saya). No bisa berarti tidak untuk saat ini, tapi 10 menit lagi.

Apa yang akan Anda lakukan jika bertemu dengan orang seperti saya? Silahkan bagikan isi hati dan isi kepala Anda di kota komentar.

Share

Kesalahan Memahami Signifikansi Statistik

Saya terpikat oleh sebuah paper dari Raymond Hubbard dan J. Scott Armstrong (2005) yang berjudul “Why We Don’t Really Know What ‘Statistical Significance’ Means: A Major Educational Failure”. Meskipun paper tersebut sudah cukup tua, namun topik yang dibawakan masih cukup nendang bagi saya. Paper tersebut menunjukkan bahwa kerap terdapat kesalahan pemahaman makna signifikansi statistik dalam jurnal-jurnal dan buku-buku teks riset bisnis. Banyak penulis yang telah salah mengartikan makna signifikansi statistik dengan menggunakan kriteria p < α sebagai uji signifikansi statistik.

Buku-buku teks yang ditemukan bermasalah di antaranya adalah:

  1. Marketing Research within a changing information environment (Hair, Bush dan Ortinau, 2003);
  2. Marketing Research (Cooper dan Schindler, 2006);
  3. Marketing Research (Aaker, Kumar dan Day, 2001);
  4. Marketing Research: An applied orientation (Malhotra, 2004);
  5. Marketing Research: The impact of the internet (McDaniel dan Gates, 2002);
  6. Marketing Research (Parasuraman, Grewal dan Khrisnan, 2004).

Note: (nama pengarang yang dicetak tebal adalah referensi yang pernah saya gunakan). 

Riset

Bagaimana seharusnya uji signifikansi yang benar? Bagaimana kesalahpahaman kriteria p < α mulai muncul di ranah akademis? Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan kembali isi paper tersebut kepada Anda.

Uji Signifikansi ala Fisher (p-value) dan ala Neyman-Pearson (α-level)

Uji signifikansi adalah salah satu tahap terpenting dalam sebuah riset, wa bil khusus riset yang bermetodologi kuantitatif. Uji ini yang akan menentukan simpulan hasil riset. Uji signifikansi menentukan apakah hipotesis yang dibuat di awal riset akan diterima atau ditolak. Karena peran pentingnya itulah, para ahli mencari cara terbaik yang dapat membedakan hasil pengamatan secara meyakinkan. Tingkat keyakinan yang memadai untuk dapat menerima suatu hipotesis tersebut yang kerap disebut dengan istilah signifikansi statistik (statistical significance).

Terdapat dua mazhab besar dalam penentuan signifikansi statistik dalam riset ilmu sosial. Mazhab Fisher menggunakan nilai p untuk menunjukkan uji signifikansi dan inferensi induktif. Sementara mazhab Neyman-Pearson menggunakan nilai alpha untuk menunjukkan perilaku yang terpilih di antara hipotesis null (H0) dan hipotesis alternatif (HA).

Mazhab yang dianut oleh Fisher berdasarkan cara berpikir induktif. Fisher menggunakan nilai p untuk menentukan signifikansi. Nilai p ini menunjukkan probabilitas hasil pengamatan (x) tidak memiliki efek atau hubungan dengan hipotesis null (H0), dinotasikan dengan P (x | H0). Nilai p menunjukkan besarnya probabilitas kebenaran hipotesis null (H0) saja tanpa ada hipotesis alternatif (HA). Jika H0 terbukti signifikan, maka bisa disimpulkan (inferensial) bahwa H0 diterima.

Mazhab Neyman-Pearson menggunakan uji hipotesis untuk mencari titik signifikansi antara dua hipotesis. Menurut mazhab ini, titik signifikansi tersebut tercapai saat model penelitian bebas dari kesalahan, atau setidaknya error/kesalahan dalam pengamatan bisa diminimalisasi. Signifikansi tersebut ditentukan oleh besarnya dua macam error, yaitu salah menolak H0, atau kerap disebut Type I Error (α), dan salah menerima HA, atau disebut Type Error II (β).

Dengan demikian, penggunaan p-value dan Type I error tidak dapat dicampuradukkan. Walaupun keduanya sama-sama mengamati ekor distribusi (tail distribution), tetapi P-value menunjukkan di area distribusi mana hasil penelitian terletak dan hanya bisa diketahui setelah uji statistik, sementara Type I Error menunjukkan apakah hasil penelitian akan jatuh di area distribusi yang diterima atau ditolak; dan nilainya ditentukan oleh peneliti sebelum uji statistik. Kombinasi keduanya untuk menguji signifikansi statistik tentu adalah sebuah metode penilaian yang bias.

Pendapat ini juga diamini oleh Wikipedia. Dalam lema mengenai P-value, wikipedia mengingatkan bahwa:

“…, P-value bukanlah probabilitas hipotesis null akan diterima, P-value juga tidak sama dengan tingkat kesalahan Tipe I, α.”   (http://en.wikipedia.org/wiki/P-value)

Demikian pula di lema mengenai signifikansi statistik, wikipedia menyebutkan hal yang serupa:

“Perlu ditekankan bahwa nilai-p Fisherian secara filosofis berbeda dari Tipe I kesalahan Neyman-Pearson . Kebingungan ini sayangnya masih disebarkan oleh banyak buku-buku statistik.”(http://en.wikipedia.org/wiki/Statistical_significance)

 

Sejak Kapan Kriteria p < α Mulai Muncul?

Ronald Fisher sendiri telah mengeluhkan bahwa uji signifikansi telah “terasimilasi” ke dalam kerangka pengujian hipotesis Neyman-Pearson. Melalui tulisannya berjudul “Statistical methods and scientific induction” yang diterbitkan tahun 1955 di Journal of the Royal Statistical Society, B, Volume 17: hal. 69–78, Fisher menolak asimilasi penggunaan p-value dan Type I Error tersebut.

Dalam berbagai sumber statistik untuk pentlitian bisnis dan ilmu-ilmu sosial, diajarkan bahwa penelitian dilakukan kurang lebih sebagai berikut:

  1. Peneliti menentukan hipotesis null (H0) dan hipotesis alternatif (HA).
  2. Peneliti menentukan tingkat signifikansi dengan menentukan nilai α (kesalahan Tipe I).
  3. Peneliti menghitung kekuatan tes (misalnya dengan nilai z). Sampai di sini, langkah-langkah riset telah sesuai dengan aliran Neyman-Pearson.
  4. Setelah itu, uji statistik dihitung, dan nilai p ditentukan.
  5. Signifikansi statistik riset ini kemudian ditentukan dengan menggunakan kriteria p <α. Jika p <α, hasilnya dianggap signifikan secara statistik, sedangkan jika p> α, maka hasil riset tidak signifikan.

Hasil akhir dari metode asimilasi Fisher dan Neyman-Pearson adalah bahwa, meskipun entitas yang sama sekali berbeda dengan interpretasi yang sama sekali berbeda pula, nilai p adalah dalam pikiran peneliti sekarang dipandang memiliki keterkaitaitan dengan tingkat kesalahan Tipe I, α. Dan karena keduanya sama-sama konsep probabilitas ekor wilayah distribusi, nilai p keliru ditafsirkan sebagai pengamatan berbasis frekuensi sebagaimana tingkat kesalahan tipe I, dan juga disalahgunakan sebagai bukti pengukuran terhadap H0 (yaitu, p <α) .

Penutup

Waktu membuka buku Metode Riset Bisnis edisi International (2008) yang disusun oleh Cooper dan Schindler, saya masih menemukan kriteria p<α digunakan di Bab Hypothesis Testing. Untungnya, tesis saya tidak menggunakan kriteria p <α ini.

Apakah mungkin skripsi-skripsi, tesis-tesis dan jurnal-jurnal masih salah kaprah pula memahami hal ini? Bagaimana dengan penelitian Anda? Ditunggu masukan dan pengalaman Anda di kotak komentar.

Gambar dari laman web Sekolah Pascasarjana UGM

Share

Menikmati Siaran Live Ibadah Haji 2011

Update: Siaran haji live 2011 sudah dihentikan. Mudah-mudahan siaran live Ramadhan dan Haji tahun depan bisa kita nikmati. Namun, Anda tetap masih bisa menikmati siaran Live Streaming dari Makkah.

Content Youtube yang satu ini patut diacungi jempol. Di antara tumpukan link-link video yang amat beragam, terdapat satu channel yang menyiarkan siaran live pelaksanaan ibadah haji tahun 2011 ini. Kita dapat mengikuti pelaksanaan ibadah haji secara live melalui sebuah channel Youtube. Pada saat saya membuat postingan ini, channel tersebut sedang menayangkan khutbah Jumat.

Channel tersebut adalah milik Kementerian Budaya dan Informasi Kerajaan Saudi. Ternyata (maklum, saya baru tahu), sudah sejak awal tahun 2011, Youtube bekerja sama dengan Kementerian tersebut untuk menayangkan ritual-ritual ibadah melalui video streaming Youtube. Sebelum penayangan haji ini, ibadah Ramadhan 1432 H lalu juga sudah ditayangkan.

Kita tidak perlu lagi berlangganan siaran TV berbayar atau menanti siaran TV lokal menayangkan even haji ini. Bagus ditonton bagi Anda yang ingin menambah wawasan, atau sedang menyiapkan perjalanan haji/umroh pada kesempatan berikutnya, atau untuk meningkatkan keimanan dengan penampakan visual.

Google, sebagai pemilik Youtube, menampilkan rilis berita seputar channel ini melalui dua blog resmi: Googleblog dan Blog Youtube Global.

Silahkan menikmati. Jangan lupa, puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah dilaksanakan esok hari di Indonesia, Sabtu 5 November 2011.

Share

The Controversy of Rifdha

The controversy of Rifdha’s future arose especially among people in modern society. A documentary movie called Koran by Heart is revealing Rifdha live as a 10 years old girl who join a Quran memorizing competition. Despite of her achievement in school, especially in math and science, her father wanted her to be a housewife.

A Little Surprise at Premiere Night

In the premiere night of Koran by Heart launching, there was a surprise to the audience. Hoda Osman reported that Rifdha and her whole family were also there watching the movie. They flew from Maldives to New York to join the crowd at the Tribeca Film Festival 2011. It was their first time also to watch the full length final production of the movie.

Koran by Heart at the Tribeca Film Festival 2011, New York

Rifdha is one of the figure in the movie. She was one of the enchanting figure in the movie. Her story agitated most of the audience. Despite of her achievement in school, Rifdha’s father wanted her to be a housewife. Rifdha herself told her mom that she wanted to be an explorer.

At the end of the play, Rifdha and her parents were welcomed by Greg Barker, the director of the movie, to stand on the stage. The audience were giving them a standing ovation.

It was not quite unexpected that they would be asked about the choice Rifdha’s father made to her. Greg mediated the discussion with an adequate argument: You can’t expect people to live your life.

Why Prejudice Housewife?

Being a housewife is simply perceived as masculine culture by major modern society. It is also considered a gender biased choice.

As a moslem, who believed live after death, I would refer to a key of heaven path for a woman: “Your house is your battlefield” said the Prophet. Therefore, a women does able to change the world to a better place from where she stood everyday: to be a housewife. There are lot of references you can find talking about the importance of housewife role in family-, society-, nation- and world wide-perspective.

Why does most modern society prejudice housewife? Is being a housewife a bad profession in the western society?

Poster film Koran by Heart

The Proposed Idea

Well, I have a nice idea to solve what kind of future Rifdha will have. I think she can have those two expectations together. Both pros and cons sides will be settled in a peaceful and satisfying way. I recommend to open a thinking about Rifdha as a wife of a scientist. Therefore, she can be a good housewife to his husband while exploring ocean at the same time.

If you think it is a ridiculous idea, then I won’t be resentful. The idea truly come from my deepest heart for the best of what Rifdha can have in her life. It is driven by a hadeeth, “You won’t become a perfect believing until you love what other moslems have, as you love it to yourself.”

Hopes and Considerations

Rifdha is one of the modern moslem miracles. I want her to be a best moslem she can be. I love her as she love Quran and its teaching. It is a practice of a principle called wala’ (loyalty). A moslem should love other moslems in the level they being obedience of islamic values.

I hope Rifdha will have her best future as a Quran memorizer (hafizhah).

PS: Indonesian version shall written soon insha Allah :D

Share

Investasi Akhirat di Lereng Merapi

Menanamkan Investasi Akhirat di Muslim Center Merapi

Ayo, siapa yang mau membangun rumah di surga? Mari turut berkontribusi dalam pembangunan Muslim Center Merapi. Hanya dengan menyisihkan 50.000 rupiah, kita sudah turut membebaskan 1 m2 tanah untuk pembangunan Muslim Center Merapi.

Dibalik musibah erupsi Merapi, ada hikmah besar yakni lebih diterimanya dakwah Islam di kalangan korban erupsi. Masyarakat muslim lereng Merapi saat ini sudah semakin menyadari pentingnya pemahaman agama yang baik. Dengan demikian, potensi pembangunan pusat dakwah Islam akan memberikan dampak yang luas dan berjangka panjang insya Allah.

Dalam ilmu bisnis yang saya pelajari, investasi yang paling baik adalah investasi yang memiliki hasil yang besar dan mampu bertahan lama. Nah, Allah telah menjanjikan perdagangan yang lebih baik dari yang bisa kita dapatkan di dunia. Saya merasa ‘berinvestasi’ pada program Muslim Center Merapi ini juga dapat memberikan hasil terus-menerus yang awet. Setiap kali ada amal sholih yang dilakukan karena berdirinya MCM, maka para kontributor pembangunan juga akan mendapatkan bagian pahala yang melimpah.

Bagi Anda yang sudah memiliki kesempatan dan kemauan, investasi akhirat ini dapat disalurkan melalui beberapa alternatif rekening berikut:

  1. Rekening BNI Syariah Yogyakarta. No. Rek. 0092167858 a.n. Syarif Mustaqim
  2. Rekening Bank Syari’ah Mandiri (Cab.Yogyakarta). No. Rek. 0307089062 a.n. Syarif Mustaqim
  3. Rekening Bank Mandiri (K.C Yogyakarta UGM). No. Rek. 1370007620327 a.n. Syarif Mustaqim
  4. Rekening Bank Muamalat (Cab.Yogyakarta). No. Rek. 0129933348 a.n. Syarif Mustaqim
  5. Rekening BCA (K.C.P Kaliurang Yogyakarta). No. Rek. 8610169750 a.n. Syarif Mustaqim

Setelah mentransfer, sebaiknya Anda mengirimkan sms konfirmasi ke nomor 0852 2806 6686 (Syarif Mustaqim), dengan format sebagai berikut:

Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Islamic Center Merapi.

Bisa juga mengontak panitia melalui e-mail: ypiapeduli@yahoo.com atau ypia.jogja@gmail.com.

Bagaimana kita dapat mengikuti perkembangan program ini? Jangan khawair, perkembangan pembangunan Muslim Center Merapi dapat dipantau melalui website: http://www.dakwahmerapi.com/ Atau Anda juga dapat mengunjunginya langsung jika sedang berkunjung ke Jogja.

Sisi Utara dan Sisi Selatan Lerang Merapi

Muslim Center Merapi akan dibangun di daerah Kepuharjo dan Wukirsari yang nota bene berada di sisi selatan Gunung Merapi yang masuk ke wilayah DI Yogyakarta. Anda juga dapat berkontribusi pada program dakwah serupa di sisi utara gunung yang masuk dalam wilayah Jawa Tengah, yaitu program P3BM.

Ayo berlomba-lomba dalam kebaikan! Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Amin.

Share

Koran By Heart: Film dokumenter HBO tentang Hafidz Cilik

Film ini luar biasa.. Film ini betul-betul luar biasa.. Hehehe.. maaf kalau saya sampai menekankan berkali-kali. Tapi saya memang jarang mendapati film yang bisa saya nikmati seperti film Koran By Heart ini dan saya ingin membagi pengalaman menakjubkan ini dengan Anda.

Koran by Heart adalah sebuah film dokumenter yang dibuat oleh HBO. Film ini mengambil plot sebuah even besar di dunia Islam, yaitu lomba hafalan (tahfidz) Alquran yang diselenggarakan setiap tahun di Mesir. Lomba tersebut diikuti oleh 100 penghafal Alquran dari seluruh dunia setiap tahun.

Poster film Koran by Heart

Pada penyelenggaraan lomba tahfidz tahun 2010, ada tiga orang peserta lomba yang kisahnya diangkat dalam dokumenter ini. Mereka adalah Nabiollah, Rifdha dan Djamil. Nabilollah berasal dari Tajikistan, Rifdha berasal dari Maladewa (Maldives) dan Djamil dari Senegal, pesisir barat Afrika. Mereka bertiga memiliki kesamaan: sama-sama berusia 10 tahun dan sama-sama telah hafal Alquran 30 juz.

Tajikistan terletak di sebelah utara Asia, dan Nabiollah pun berasal dari ras Kaukasus (kebayang kan? bule banget). Sementara Maladewa terletak di Samudra Hindia. Anaknya lucu banget deh, dengan jilbab besarnya ia selalu bergerak aktif. Ia berprestasi di semua mata pelajaran sekolah, menyukai Matematika dan Sains, dan bercita-cita menjadi peneliti. Senegal terletak pesisir barat Afrika, dan seperti keluarga Senegal pada umumnya, Djamil hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu baik.

Ketika saya membuka Google Maps untuk melihat ketiga lokasi asal tokoh-tokoh kita ini, saya sangat terkejut. Jarak tempat tinggal ketiganya terpisah ribuan kilometer, namun mereka mempelajari Quran yang sama.

Antara Senegal, Tajikistan dan Maladewa

Ketiganya harus meninggalkan keluarga dan negara mereka untuk mengikuti lomba di Kairo, Mesir. Bahkan Djamil berangkat tanpa disertai oleh satupun sanak famili. Tantangan tersebut makin berat dengan waktu pelaksanaan lomba di dalam bulan Ramadhan. Artinya, para peserta harus berpuasa di siang hari dan berlomba di malam hari. Penggunaan komputer dalam perlombaan juga membuat beberapa peserta bertambah gugup. Komputer bertugas untuk ‘memberitahu’ peserta dari ayat mana ia harus memperdengarkan Quran.

Penilaian dilaksanakan oleh beberapa juri yang telah dikenal memiliki kompetensi dalam hafalan Quran. Jika peserta salah dalam melanjutkan ayat, dia akan dipotong setengah poin jika ia mampu menyadari kesalahannya. Namun, jika juri yang turun tangan membetulkan kesalahan, maka peserta kehilangan satu poin penilaian.

Selain ketiga tokoh utama film ini, saya mengagumi semangat seluruh peserta dalam menghafal Alquran. Menghafal Alquran tidak terbatas hanya bisa dilakukan oleh anak-anak dari Timur Tengah saja, namun seluruh dunia. Para hafidz lain yang muncul dalam dokumenter ini adalah Muhammad (10 tahun) dari Australia, Susana (17 tahun) dari Italia,  Naaman (10 thn) dari Afrika Selatan (tapi kalau dilihat dari tulisan Arabnya, ejaan yang lebih tepat mungkin Nu’man), Yasser (7 tahun) dari Mesir, Abdel (10 thn) dari Pakistan, Omar (19 thn) dari Nigeria, Susana (17 tahun) dari Italia,Abdullah (17 tahun) dari Mesir, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, film ini mampu mematahkan anggapan saya bahwa hanya anak-anak berbahasa Arab saja yang mampu menghafal 30 juz di usia dini.

Banyak lho yang merasa terkesan setelah menonton film ini. Misalnya Haena dari Bandung,  Kaskuser Oda Sensei dari Yogyakarta, Sultan Haidar Samlan dari Jerman, Risyad Tabattala dari Blitar, Adhwa Yahaya dari Malaysia, dan seorang kandidat doktor di Univ. Hokkaido (sebut saja namanya Ummu Harvy). Christopher Campbell, seorang blogger penyuka film, juga menyadari bahwa tahfidz Quran berbeda dengan kompetisi mengeja macam Spelling Bee atau Spellingbound.

Sang sutradara film, Greg Baker, dalam sebuah wawancara dengan majalah Filmmaker mengungkapkan pendapat pribadinya tentang film ini:

Jujur, saya tidak tahu bagaimana film ini akan ditanggapi. Ini adalah subjek asing bagi pemirsa Barat. Sehingga tantangannya adalah membawa seseorang ke dunia itu dan memastikan mereka tidak tersesat di dalamnya. Yang mengagumkan adalah pemirsa akhirnya memahami siapa yang melantunkan Alquran dengan indah dan mana yang bukan. Mereka terpaku pada anak-anak tersebut. Sebelum menonton, mereka tidak menyangka akan mendapati hal seperti itu dalam film.

Saya masih ingin bercerita tentang tokoh-tokoh dalam film ini. Mungkin di posting berikutnya. Menurut saya, mereka adalah sosok-sosok terpilih yang dititipi amanah hafalan Quran di dadanya.

Yang jelas, sulit bagi saya untuk menahan emosi ketika menonton film ini. Rasanya campur aduk melihat anak-anak seusia anak saya sudah mampu mencapai titik yang saya belum pernah capai. Iri, bangga, penasaran, terharu, dst. Mudah-mudahan Allah menambahkan ilmu dan semangat dalam diri saya dan keluarga saya untuk dapat menghafal Alquran. Mudah-mudahan Anda juga mendapatkannya! Amin.

Share

Metoda Belajar Bajak Laut: Cocok untuk Setiap Bidang?

Buku ini sudah banyak diulas di mana-mana. Saya juga pertama mendengarnya dari ulasan di status FB teman-teman keluarga homeschooling. Baru di bulan Juni 2011 ini saya berkesempatan membacanya.

Buku berjudul “Tinggalkan Sekolah sebelum Terlambat, Belajar Cerdas Mandiri dan Meraih Sukses dengan Metode Bajak Laut” diterbitkan oleh Kaifa. Judul aslinya adalah Secrets of A Buccaneer Scholar. Buku ini ditulis oleh pak James Marcus Bach, seorang penguji piranti lunak. Ia dapat menjadi seorang manager di Apple walaupun tidak memiliki ijazah sekolah menengah atas. Ya, pak Bach putus sekolah di SMA. Bagaimana pak Bach dapat mencapai suatu pencapaian tanpa ijazah sekolah formal, itulah yang diceritakan dalam buku ini.

Meskipun drop out dari sekolah, Pak Bach tidak berhenti belajar. Ia mengembangkan sebuah metoda pembelajaran yang cocok untuk diri dan kondisinya. Metoda tersebut dinamainya metoda belajar bajak laut.

Secara singkat metoda belajar bajak laut adalah metoda belajar alternatif dibanding dengan metoda belajar yang “resmi”. Biasanya seorang calon pelaut akan dilatih dulu di darat dengan berbagai kepandaian yang diperlukan di laut, seperti tali-temali, navigasi, prosedur keselamatan, mesin, dst. Sementara, bajak laut lebih suka untuk turun dulu ke laut dan bertahan hidup. Bajak laut belajar dengan mencoba. Ia akan menyadari dan memilih sendiri keterampilan apa yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di atas laut.

Silabus Belajar Bajak Laut

Salah satu pertanyaan yang umum ditanyakan pada orang yang belajar mandiri adalah seputar silabus yang digunakan dalam belajar mandirinya. Pak Bach justru sengaja mencari keunikan, bukannya konvergensi keahlian (hal yang didapat dari silabus, meskipun maksud utamanya adalah untuk menjaga standar). Analoginya sebagai berikut. Armada laut kerajaan memiliki rencana dan strategi yang matang, mereka memperluas kekuasaan dengan penuh perhitungan. Sebaliknya, bajak laut mencari celah-celah kekuasaan di laut dan biasanya mampu mempertahankan kekuasaan di suatu wilayah tertentu. Seorang bajak laut pembelajar berpeluang besar untuk menjadi ekspert di bidang wilayah tertentu.

Membaca kisah hidup dan metoda pembelajaran yang dikembangkan oleh penulis buku tersebut, saya mempelajari beberapa pandangan baru dalam belajar. Meskipun demikian, pertanyaan baru muncul di kepala. Apakah metoda belajar ini dapat diterapkan di bidang pekerjaan saya? Apakah metoda belajar ini dapat diterapkan di bidang pekerjaan apa pun? Bagian berikutnya dari tulisan ini akan membahas renungan saya akan pertanyaan tersebut.

Dapatkah Metoda Belajar Bajak Laut diterapkan di Semua Bidang?

James Bach berprofesi sebagai seorang penguji piranti lunak (software tester). Ia memiliki pendekatan yang unik dalam mencari dan memperbaiki bug sebuah software yang akan dirilis. Cara pengguna dalam menggunakan software memang berbeda-beda. Ada jutaan kemungkinan cara penggunaan sebuah software. Pak Bach ditugasi untuk dapat mencari adanya sepersekian kesalahan dari jutaan kemungkinan kombinasi penggunaan software. Hal tsb yang sedikit banyak membuat metoda belajar bajak laut dapat ia kembangkan. Profesi ini memerlukan orang yang memiliki cara berpikir berbeda, sehingga ia bisa menemukan bug lebih cepat dari penguji lainnya (dengan demikian pekerjaan menjadi lebih efisien).

Dalam bidang saya, yaitu akuntansi, reputasi didapat dari integritas dalam menghadapi klien. Ada sebuah code of conduct (kode etik) yang menjadi panduan bagi akuntan dalam menyediakan layanan yang ia berikan (kerap disebut jasa atestasi). Untuk dapat melakukan audit terhadap suatu perusahaan, akuntan dituntut memiliki keahlian yang memadai untuk melakukan hal itu. Ada dua hal yang dapat membuktikannya, pertama adalah sertifikat pelatihan (sama dengan istilah ijazah) di bidang tertentu, yang kedua adalah portofolio pengalaman sebelumnya. Dengan demikian, ijazah (masih) menjadi syarat penting dalam profesi akuntan. Artinya, jarang sekali ada akuntan tanpa ijazah tertentu yang dapat mengepalai/membawahi anak buah yang berijazah, seperti pada kasus pak Bach yang memimpin tim beranggotakan orang-orang berijazah. Meskipun demikian, akuntan dapat pula membuktikan keahliannya dengan portofolio pengalaman kerja. Yeps, kondisi yang sama ditemui pula pada profesi lain.

Selain itu, akuntan juga dipandu dengan cara bekerja yang prosedural. Dalam hal ini sepertinya cara berpikir berbeda (out of the box) ala metoda belajar bajak laut tidak dapat diaplikasikan mentah-mentah. Pada profesi pak Bach, cara berpikir berbeda dapat diterapkan seluas-luasnya, mulai dari menyusun dan menyusun ulang (arrange and re-arrange) prosedur kerja, sampai penggunaan teknik-teknik alternatif.  Akuntan hanya dapat menggunakan cara berpikir berbeda secara terbatas. Akuntan dapat menggunakan teknik-teknik alternatif untuk suatu tujuan kerja yang spesifik. Sementara untuk susunan prosedur kerja, umumnya dan biasanya masih terpaku pada suatu pakem umum. Modifikasi prosedur masih dimungkinkan, namun rebuilding prosedur, praktis tidak dimungkinkan.

Ada satu jenis akuntan yang memerlukan reputasi portofolio dan cara berpikir berbeda. Siapakah ia? Ia adalah akuntan pendidik (akademisi). Reputasi akuntan pendidik terbangun dari portofolio bidang kajian yang ia minati. Seorang peneliti akan dikenal dari banyaknya publikasi ilmiah yang ia terbitkan. Biasanya bidang kajian publikasi-publikasi tersebut membentuk suatu portofolio yang kuat. Misalnya seperti Josep Hair, seorang dosen management yang lebih dikenal dengan buku Multivariate Data Analysis-nya. Atau Phillip Kloha yang memiliki banyak riset di bidang akuntansi sektor publik (pemerintahan negara bagian). Ada juga auditor yang dikenal karena menguasai audit pada industri tertentu, misalnya sektor pertambangan atau telekomunikasi.

Simpulan

Metoda belajar bajak laut menekankan pada pemikir bebas yang tidak terikat oleh suatu otoritas tertentu, baik otoritas ilmiah, struktural ataupun sosial. Metoda ini paling cocok digunakan pada bidang kajian yang membutuhkan orang yang mampu berpikir secara berbeda. Sebaliknya, pada bidang-bidang yang memiliki tradisi yang kuat, metoda bajak laut terdengar terlalu radikal. Namun, semangatnya tetap dapat diaplikasikan secara fleksibel pada kondisi apa pun.

Metoda belajar bajak laut cocok digunakan pada anak yang tersingkirkan dari sistem pendidikan sekolah (seperti anak saya, misalnya). Untuk pikiran yang lebih dewasa, metoda ini baik untuk dipelajari sebagai sharing, pembanding, ataupun bahan introspeksi diri. Ada profesi atau bidang tertentu yang dapat menggunakan metoda ini untuk mencapai kesuksesan. Ada pula bidang yang masih mengandalkan bukti dengan tingkat otoritas tertentu (baca: ijazah) untuk menjaga integritas dan kualitas jasa yang diberikan.

Share

PKO Muhammadiyah dan Haji Sujak

Kisah ini saya dapat secara tak sengaja. Awal mulanya ketika istri saya melahirkan anak ketiga. Rumah sakit yang kami pilih adalah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Tidak salah memang pilihan itu, karena saya dan istri merasakan banyak keuntungan dan manfaat selama di RS tersebut. Setelah melahirkan, ucapan selamat pun berdatangan dari kawan-kawan. Ada untungnya juga punya banyak kawan, hidup terasa lebih indah ketika kita punya seseorang untuk berbagi.

RS PKU Muhammadiyah
*gambar dari http://doddyy.blogspot.com/

Dari banyak kawan yang datang berkunjung, ada seorang kawan Kasubsi Islam (istilah untuk Rohis/Kerohanian Islam) di SMA saya dulu. Pada waktu ngobrol ngalor ngidul, beliau sempat mengutarakan tentang sejarah RS PKU Muhammadiyah. Dari lisan beliaulah kisah ini saya dapatkan dan kemudian saya lengkapi dari sumber lain.

PKU Muhammadiyah dibangun atas prakarsa salah seorang rekan KH Ahmad Dahlan di gerakan Muhammadiyah, yaitu HM Sujak. Sujak adalah kakek buyut dari kawan saya ini. Pada awal berdirinya Muhammadiyah, Sujak adalah seorang pemuda yang terpanggil untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai sarana amal dan dakwah Islam. Sujak memang telah menjadi murid dari KH Ahmad Dahlan sebelumnya. Pada pendirian Muhammadiyah tanggal 18 November 1912, Sujak turut menjadi angkatan muda. Pada tahun 1920-an, Sujak dipercaya memimpin Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), salah satu bidang organisasi Muhammadiyah. Dengan berbekal predikat ketua PKO, Sujak melontarkan ide pembentukan lembaga sosial di bawah Muhammadiyah. Ide membangun rumah sakit ini tentu saja tidak dapat langsung diterima oleh kalangan internal. Banyak orang yang merasa ide tersebut terlalu utopis untuk dilaksanakan.

PKU Muhammadiyah
*gambar dari jogja-info.org

Rencana pendirian Rumah Sakit tersebut rupanya juga dipandang sebelah mata oleh pemerintah Belanda waktu itu. Ketika Sujak ditanya oleh pemerintah, mau buat RS, dokternya dari mana? Dijawab Sujak, dokternya Tuan yang menyediakan. Belanda pun kaget mendengar permintaan itu. Sujak menguatkan permintaannya dengan sebuah argumen. RS Panti Rapih (waktu itu tentu namanya masih RS Onder de Bogen), yang didirikan yayasan Katolik, dibantu tenaga dokternya oleh pemerintah Belanda. Jadi apa salahnya jika yayasan Islam mendirikan RS, tenaga dokternya pun dibantu oleh pemerintah Belanda? Alhasil, pemerintah Belanda pun menyediakan beberapa dokter yang diperbantukan di PKO Muhammadiyah. Pada tanggal 15 Februari 1923, Klinik PKO Muhammadiyah mulai beroperasi.

Saat ini, PKU Muhammadiyah tidak perlu khawatir lagi dengan ketersediaan tenaga dokter. Pasalnya, Muhammadiyah telah memiliki sumber tenaga medis yang memadai. Tenaga dokter sudah dapat disediakan oleh Universitas Muhammadiyah , dan juga menyerap lulusan dari PT lainnya. Tenaga perawat dan bidan disediakan oleh STIKES ‘Aisyiyah. Rangkaian kebutuhan sebuah rumah sakit dalam menyediakan layanan kesehatan telah dapat didukung oleh sumber-sumber internal Muhammadiyah. Contoh paling sederhana adalah gula yang disediakan sebagai suguhan minum teh, dipacking oleh unit diversifikasi usaha Muhammadiyah.

Gula Diversifikasi Usaha Muhammadiyah

Tokoh Sujak muncul juga dalam film Sang Pencerah. Giring yang mendapat kesempatan melakoni tokoh tersebut. Bahkan sutradara film tersebut, Hanung Bramantyo, mengakui bahwa setting film bersumber pada buku yang ditulis oleh Sujak. Saya sendiri belum melihat Sang Pencerah. Anda yang sudah menonton, bisakah memberi gambaran pada saya mengenai tokoh Sujak dalam film tersebut? Tolong sampaikan melalui kotak komentar di bawah.

Sang Pencerah The Book
*gambar dari indonesiabuku.com

Keberadaan PKO Muhammadiyah tentu tak terlepas dari cara dakwah KH Ahmad Dahlan. Beliau dikenal mementingkan praktik beramal dari ayat-ayat dan hadis yang dipelajari. Konon, pengajian surat Al-Fatihah yang beliau ampu, memerlukan waktu berbulan-bulan karena setiap ada fiqh (kandungan hukum) yang dipelajari akan langsung diamalkan. Konon pula, saat KH Ahmad Dahlan berdakwah, kota Yogyakarta bersih dari gelandangan dan pengemis. Setiap hadirin pengajiannya ditantang untuk mengurusi para gelandangan dan pengemis tersebut. Satu orang mengurus satu gelandangan.

Manhaj amal ini amat berpengaruh pada misi organisasi Muhammadiyah saat ini. Salah satu sumber menyebutkan bahwa Muhammadiyah saat ini baru mengamalkan 500 ayat dari Al-Quran. Mudah-mudahan Muhammadiyah semakin hari semakin kaffah (komprehensif) dalam menjalankan ajaran Islam. Apalagi pada pertengahan 2010 lalu sudah menjalankan Muktamar 1 Abad Muhammadiyah.

Perubahan juga terjadi pada PKO Muhammadiyah. Singkatan PKO yang tadinya kependekan dari Penolong Kesengsaraan Oemoem, berganti menjadi Pembina Kesejahteraan Umat (PKU). Jumlah RS pun bertambah dan meluas hingga ke pulau Kalimantan. Tahun 1924 saja, PKO Muhammadiyah sudah membuka cabang di Surabaya dengan dibantu oleh dr. Soetomo. Semua berawal dari usaha mbah Sujak. Mudah-mudahan Allah memberikan tambahan kebaikan pada beliau setiap kali hasil usahanya bermanfaat bagi orang lain.

Mengenal sedikit sejarah PKU, membuat saya menjadi lebih menghargai keberadaan RS ini. Saya tidak sekedar menilai RS ini dari kualitas layanannya semata, tetapi juga membuat saya memahami latar belakang pendiriannya. Tidak sekedar menikmati (dan mengkomplain) layanan kesehatan yang diberikan, saya mendapat bekal kisah inspiratif mengenai kisah perjuangan sosial amaliyah seorang muslim.

Meskipun hanya KH Ahmad Dahlan yang digelari Pahlawan Nasional, saya yakin penilaian Allah tidak akan merugikan siapa pun. Mudah-mudahan amal ibadah Haji Sujak mendapatkan ganjaran yang berlipat dari Allahu subhaanahu wa ta’alaa. Mudah-mudahan sosok seperti Ahmad Dahlan dan Sujak terus muncul di kehidupan kita. Amiin.

Share