<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>uliansyah.or.id &#187; Persepsi</title>
	<atom:link href="http://www.uliansyah.or.id/category/persepsi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.uliansyah.or.id</link>
	<description>kegelisahanku adalah untuk berkarya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Aug 2010 10:27:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pak Dosen Tukang Cukur Rambut</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2009/12/01/pak-dosen-tukang-cukur-rambut/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2009/12/01/pak-dosen-tukang-cukur-rambut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 14:46:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pengalaman mengesankan di kota pelajar Yogyakarta mengajarkan banyak hal pada diri saya. Khususnya pelajaran mengenai optimisme dan perjuangan hidup. Di salah satu sudut kota ini, saya ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang dosen yang juga merangkap profesi sebagai tukang cukur rambut. Berikut ini cerita selengkapnya, mudah-mudahan bermanfaat pula bagi Anda.
Sore itu, rambut Abbas, anak saya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah pengalaman mengesankan di kota pelajar Yogyakarta mengajarkan banyak hal pada diri saya. Khususnya pelajaran mengenai optimisme dan perjuangan hidup. Di salah satu sudut kota ini, saya ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang dosen yang juga merangkap profesi sebagai tukang cukur rambut. Berikut ini cerita selengkapnya, mudah-mudahan bermanfaat pula bagi Anda.</p>
<p>Sore itu, rambut Abbas, anak saya,  sudah terlihat terlalu panjang untuk seorang anak laki-laki. Poninya menggantung menutupi mata. Di samping kanan dan kiri, rambutnya menyeruak melewati daun telinga. Serabut rambut juga memanjang menuruni tengkuknya.</p>
<p>Sebenarnya di Jogja ini saya belum tahu persis dimana lokasi barbershop atau tukang cukur yang pas buat anak-anak. Mengandalkan intuisi serta ingatan dari pengamatan sekilas menjelajahi kota selama ini, rombongan keluarga Uliansyah pun segera melesat di jalanan kota Gudeg mencari tukang cukur. Banyak sih barbershop di kota ini. Bahkan lucunya, mereka ramai-ramai memasang kata &#8220;Bergaransi&#8221; di papan nama. Sampai sekarang, saya belum paham garansi apa yang dimaksudkan untuk sebuah produk berupa jasa cukur rambut.<span id="more-247"></span></p>
<p>Sesampainya di sebuah barbershop &#8220;bergaransi&#8221;, antrian kustomer sudah memenuhi ruang tunggu. Daripada menunggu, kami sekeluarga segera mencari alternatif barbershop lain. Sayangnya, selama beberapa ratus meter berikutnya kami tidak melihat satu pun barbershop lainnya. Maklumlah sudah 14 tahun saya meninggalkan kota kelahiran saya ini. Lokasi-lokasi tempat-tempat penting pun sudah jauh berubah. Tak satu pun lokasi barbershop yang hadir di ingatan saya.</p>
<p>Anak laki-laki saya pun mulai tidak sabar. Beberapa kata tuntutan mulai terucap dari mulut manyunnya. &#8220;Cepat yah! Abbas mau dicukur!&#8221;</p>
<p>Insting saya kemudian membawa saya mengarahkan motor berpenumpang 4 orang ini ke daerah kampus UGM. Sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, motor mulai berbelok ke jalan karang bendo. Mata saya menelusuri deretan bangunan di kiri jalan, sementara ibunya anak-anak konsentrasi memindai rangkaian ruko di kanan jalan. Sinar matahari mulai memudar, tanda petang segera berlalu. &#8220;Yah! Tadi di kiri ada tukang cukur!&#8221;</p>
<p>Motor saya mundurkan manual beberapa meter (pake kaki) untuk sampai ke depan kios tukang cukur itu. Pak tukang cukur sedang asyik melayani seorang pelanggan. Tangannya bergerak kesana kemari. Di bangku antrian, duduk menanti seorang pelanggan anak-anak. Wah cocok nih! Sorakku dalam hati. Saya pun parkir dan segera menunggu di emperan kios.</p>
<p>Tak lama kemudian, pak tukang cukur menyapa ramah, &#8220;Silahkan pak, siapa nih yang mau dicukur&#8221;. Abbas dengan penuh keyakinan segera naik ke kursi cukur. Saya turut menemani dari belakang. Perlahan, mata saya mulai menelusuri dinding kios tukang cukur. Ada sebuah foto seorang pemuda berkacamata dalam baju wisuda sedang tersenyum cerah. Di bawahnya ada tulisan Wisuda Sarjana UGM 1996. Alis langsung naik dan hati bertanya-tanya. Hmm.. kayaknya kita bertemu sosok menarik hari ini.</p>
<p>Pak tukang cukurnya cukup ramah. Abbas bisa di-direct tanpa harus menggunakan intonasi instruksi. Sambil melakukan pekerjaannya, ia membuka perbincangan dengan saya. &#8220;Kerja di mana oom?&#8221;, tanyanya.</p>
<p>&#8220;PNS&#8221;, jawab saya singkat.</p>
<p>&#8220;Lagi S2 ya oom?&#8221;, lanjutnya lagi.</p>
<p>Saya pasrah saja digelari Oom. &#8220;Iya pak&#8221;, jawab saya jujur.</p>
<p>&#8220;Dulu S1 di mana?&#8221;, katanya sambil tangannya terus menari lincah di atas kepala anak saya.</p>
<p>&#8220;Di STAN pak.&#8221; Emoh diinterograsi, saya balik bertanya, &#8220;Ini foto Bapak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, oom. Saya dulu S1 di UGM.&#8221; Wak! Hebat nian! Dugaan saya mulai terbukti.</p>
<p>&#8220;S1-nya apa pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Fakultas Sastra, saya ambil jurusan Sejarah.&#8221; Wah jadul banget! Setahu saya fakultas sastra UGM sudah berubah nama jadi fakultas ilmu budaya sejak tahun 2001.</p>
<p>&#8220;Kegiatannya apa pak? Apa cuman nyukur aja&#8221;, uups.. maaf pak kengintahuan saya terlontar begitu saja.</p>
<p>&#8220;oo.. nggak Oom. Saya kalau pagi ngajar&#8221;, katanya tenang.</p>
<p>&#8220;Hah?!? Ngajar?? Ngajar apa pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngajar di Akademi Manajemen Pariwisata oom.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, dosen maksudnya??&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya oom.&#8221;</p>
<p>Glek! Hebat.. hebat.. Saya sendiri pernah merasakan beratnya mejadi dosen pengajar. Di sisi lain, menjadi dosen adalah sebuah kepuasan ilmiyah dan idealis yang pernah saya capai. Model-model kehidupan seorang dosen pun kurang lebih pernah saya saksikan. Namun baru kali ini saya bertemu dengan dosen yang menjadi tukang cukur.</p>
<p>Mendengar terkuaknya sebuah fakta yang menarik, saya langsung mengorek informasi lebih lanjut. Beberapa menit kemudian kami sudah mengobrol panjang. Pak Arif, demikian nama pak tukang cukur yang juga dosen tersebut. &#8220;Di sini saya dikenal dengan nama Ayis&#8221;, jelasnya. Pagi hari ia <strong>mengajar sebagai dosen</strong> di sebuah Akademi Pariwisata. Siang sampai sore ia <strong>membuka kios cukur</strong>. Saya tanyakan mengapa masih mempertahankan kios cukurnya. &#8220;Dua tahun setelah lulus S1, saya mulai membuka usaha ini. Jadi kurang lebih sudah 10 tahun saya melayani pelanggan saya. Rasanya kok sayang meninggalkan mereka.&#8221;</p>
<p>Kisah hidup Pak Arif ternyata pernah pula diangkat dalam sebuah acara televisi. Waktu itu, seorang koresponden Lativi pernah bercukur di kios cukur Ayis. Setelah mengetahui latar belakang pak Arif sebagai dosen, ia memanggil kru dan mulai merekam aktivitas sehari-hari pak Arif. Mulai dari rumah, mengajar di kelas di pagi hari dan mencukur di sore hari. Hasil liputannya ditayangkan di segmen Cerita Kita.</p>
<p>Iseng saya bertanya, &#8220;Nggak malu pak kalo ada mahasiswanya lihat Bapak nyukur?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah nggak om. Justru mereka saya ajak cukur ke sini.&#8221; Wah bagus pak.. supaya rekan-rekan mahasiswa itu bisa mensyukuri keadaan mereka. Juga sebagai pelajaran agar tidak mudah menyerah dalam hidup. Meskipun Anda dosen, tapi tidak malu membuka usaha cukur rambut.</p>
<p>Satu hal yang saya suka dari pak Arif a.k.a Ayis ini adalah, dalam pembicaran kami beliau tidak sekalipun mengeluhkan sesuatu hal dalam hidupnya. Seolah, beliau ingin mengatakan bahwa hidup ini harus disyukuri. Bahkan pemaknaan syukur ala beliau adalah dengan berusaha melalui jalan apa pun yang halal. Tukang cukur bukanlah profesi hina. Di tangan pak dosen ini, profesi tukang cukur menunjukkan derajat yang sesungguhnya sebagai sebuah mata pencaharian.</p>
<p>Sambil melakukan finishing pada rambut anak saya, pak Ayis membuka rahasia lainnya pada saya. &#8220;Saya kalo weekend <strong>kuliah ambil S2</strong>&#8220;, akunya. Wahahaha.. hebat.. hebat.. Lengkap sudah wujud optimisme yang saya lihat dari sosok pak Ayis. Pekerja keras sebagai tukang cukur, pengabdi ilmu sebagai dosen, serta pencari ilmu yang tidak berhenti untuk belajar sebagai mahasiswa S2.</p>
<p>Saya yakin, masih banyak Ayis-Ayis lainnya di Indonesia. Seorang <a href="http://www.google.co.id/search?q=kepala+sekolah+pemulung&amp;ie=utf-8&amp;oe=utf-8&amp;aq=t&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;client=firefox-a" target="_blank">kepala sekolah yang menjadi pemulung</a>, <a href="http://www.google.co.id/search?q=guru+tukang+ojek&amp;ie=utf-8&amp;oe=utf-8&amp;aq=t&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;client=firefox-a" target="_blank">guru sekaligus tukang ojek</a>, atau hibridasi profesi lainnya. Entah karena idealisme atau keterpaksaan, yang jelas mereka adalah para pejuang berani hidup.</p>
<p>Semoga sukses pak Ayis. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan keberkahan pada diri Anda dan keluarga Anda. Barakallahu fiikum wa ahlikum wa maalikum. Amin. Kita ketemu lagi, insya Allah, next time saya butuh dicukur. Bagi Anda yang mau merasakan layanan cukur pak Ayis, silahkan mampir ke kios cukur Ayis di Karang Bendo, sebelah utara Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta. Beberapa puluh meter sebelah utara dari toko Muslim Ihya&#8217;. Syaratnya: harus laki-laki. Lha wong barbershop masak untuk perempuan. Ya tho?</p>
<p>Wassalam,<br />
Abu Abbas Beta Andri A. Uliansyah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2009/12/01/pak-dosen-tukang-cukur-rambut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan: Hidden Side of A Sindhen</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2009/02/13/bacaan-hidden-side-of-a-sindhen/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2009/02/13/bacaan-hidden-side-of-a-sindhen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 04:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar profesi Sindhen? Pernah mengrenyitkan kening ketika ada seseorang yang memilih jalan hidup sebagai pesinden? Pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi anak seorang sinden?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditemukan di buku ini. Sebuah roman yang menceritakan jalan hidup seorang sinden. Sebuah profesi yang sering dipandang miring oleh masyarakat.
Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Bahkan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar profesi <a title="Definisi Sinden" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pesinden" target="_blank">Sindhen</a>? Pernah mengrenyitkan kening ketika ada seseorang yang memilih jalan hidup sebagai pesinden? Pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi anak seorang sinden?</p>
<p><img src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/sindhen.png" border="0" alt="Hidden Side of A Sindhen" /></p>
<p>Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditemukan di buku ini. Sebuah roman yang menceritakan jalan hidup seorang sinden. Sebuah profesi yang sering dipandang miring oleh masyarakat.</p>
<p>Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Bahkan yang membuat buku ini sangat istimewa, adalah bahwa ia ditulis oleh anak dari tokoh utama buku ini. Ya, buku ini ditulis oleh anak seorang sindhen.<span id="more-86"></span></p>
<p>Sindhen, bagi yang belum tahu, adalah sebutan bagi penyanyi wanita sebuah orkestra Jawa. Sindhen bisa muncul di pagelaran wayang yang akan menyanyikan syair-syair sesuai pesan yang tersimpan dalam adegan yang dibawakan oleh sang Dalang. Sinden bisa juga sebagai bagian dari sebuah pertunjukan karawitan, pertunjukan yang semata-mata hanya melantunkan lagu-lagu Jawa.</p>
<p>Sinden berbeda dengan ledek. Ledek adalah penari wanita yang muncul dalam pertunjukan ronggeng. Walaupun berbeda dengan ledek, sinden tetap dipandang sebagai profesi wanita yang kurang baik. Penampilan dan suara yang menarik, serta frekuensi bertemu dengan lelaki lain yang sangat tinggi, membuat sinden sering dianggap sebagai perebut suami orang.</p>
<p>Saya sangat beruntung bisa mendapatkan buku ini, bahkan sebelum didistribusikan di toko buku. Saya mendapat buku ini dari seorang teman kantor. Ia ternyata adalah kakak dari sang penulis buku. Bahkan kawan saya ini masuk sebagai  tokoh cerita dalam buku ini.<br />
<img style="border: 0px initial initial;" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/Myrie-0118.jpg" border="0" alt="Salam dari Penulis" width="430" height="574" /></p>
<p>Buku Hidden Side of A Sindhen adalah novel kesekian yang saya baca yang mengangkat latar budaya Jawa sebagai wadah terjadinya konflik. Sebelumnya ada beberapa karya lain yang memotret konflik yang muncul karena kultur Jawa dan terjadi di tengah kultur Jawa. <strong>&#8220;Para Priyayi&#8221;</strong>, misalnya. Novel karangan <a title="Umar Kayam @ wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Umar_Kayam" target="_blank">Umar Kayam</a> ini memiliki alur cerita yang rumit namun logis, lengkap dengan melompat-lompatnya tokoh utama yang diceritakan, serta penggambaran yang kuat adanya perbedaan pola pikir masing-masing tokoh. Ada pula trilogi <strong>&#8220;Ronggeng Dukuh Paruk&#8221;</strong> karya <a title="Ahmad Tohari @ wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Tohari" target="_blank">Ahmad Tohari</a>. Juga <strong>&#8220;Burung-burung Manyar&#8221;</strong> karya YB Mangunwijaya atau Romo Mangun.</p>
<p>Kesamaan dari buku-buku di atas, selain karena latar budaya Jawa, adalah terperangkapnya sang tokoh dalam suatu situasi dan kondisi yang membuat ia terpaksa atau dipaksa mengambil pilihan hidup yang sulit.</p>
<p>Buku Hidden Side of A Sindhen ini menceritakan tentang kehidupan seorang wanita Jawa yang berasal dari sebuah dusun. Ia dibentuk oleh lingkungan dengan pola pikir yang nJawani (khas Jawa), mulai dari Ayahnya, Simbahnya (nenek), Ibu Tirinya, sampai pada keluarga besar, puak dan lingkungannya. Kungkungan pola pikir ini amat jender, seperi misalnya: wanita tidak punya hak pilih dalam jodoh, wanita berorientasi pada pengabdian, wanita tidak boleh berbicara mengungkapkan pendapat, wanita tempatnya hanya di dapur dan kasur, dll. Pria didudukkan pada posisi supreme ultimate super power. Apa yang disabdakannya pasti benar dan wajib diterima. Siapapun yang menentangnya pasti salah dan harus dihukum.</p>
<p>Kungkungan pola pikir ini membawa sang tokoh bernama Sayem alias Slumpring untuk mengakhiri dua pernikahannya secara tragis. Penggambaran fragmen tersebut disampaikan dengan amat baik oleh penulis. Lengkap dengan konflik batin yang dialami sang tokoh. Sepintas, alur hidup tokoh ini tidak akan jauh berbeda dengan takdir yang dijalani berjuta wanita Jawa lainnya. Dipersunting, melahirkan anak, mengurus dapur, dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi para suami. Semua itu dijalani tanpa adanya pengakuan dari dunia bahwa wanita adalah seorang manusia. Wanita tak pernah dianggap sebagai seorang manusia secara utuh. Seorang manusia yang memiliki cara berpikir yang unik. Seorang manusia yang memiliki perasaan. Semua dikebiri dengan dogma-dogma khas Jawa seperti: ora ilok, ora pantes cah wadon kaya ngono kuwi, dst dst dst.</p>
<p>Kungkungan pola pikir ini juga dibenturkan dengan kemiskinan. Sebuah benturan yang benar-benar menimbulkan posisi yang sulit bagi pelaku wanita. Pilihan apapun yang ia ambil, ia tidak melihat pilihan tersebut dapat membawanya ke kehidupan yang lebih baik.</p>
<p>Pesan yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan buku ini adalah bahwa masih banyak lapisan masyarakat kita yang belum tersentuh dakwah Islam. Masih banyak yang memilih jalan bukan Islam dalam hidupnya. Yang mengkhawatirkan, pilihan itu mereka jatuhkan karena memang tidak mengenal Islam. Sehingga tidak tahu, apa dan bagaimana bentuk jalan hidupnya serta konsekuensi yang akan dihadapi di akhirat kelak.</p>
<p>Karena itu pendekatan nasihat haruslah lebih dahulu dikedepankan sepanjang orang yang didakwahi bukan seorang yang dikenal karena kampanyenya untuk menolak syariah.</p>
<p>Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang sangat menjaga asupan makanannya? Misalnya seseorang yang menolak memakan jeroan karena takut kolesterol. Ada pula orang yang tidak mau makan kacang-kacangan karena khawatir terkena asam urat. Juga orang yang berhati-hati dengan makanan manis karena punya sejarah keluarga berpenyakit diabetes. Ada pula orang yang gemar berolahraga untuk menjaga kesehatan di hari tua. Meninggalkan rokok untuk menjaga paru-paru yang tinggal 35% berfungsi. Atau menjaga aktivitas karena fungsi hatinya sudah tergerogoti. Orang-orang ini paham betul ancaman yang akan menghampiri di masa tua.</p>
<p>Mirip seperti itu pulalah orang yang meninggalkan larangan Allah dan rajin mengerjakan perintah-Nya. Hanya saja, visi hidupnya melebihi kehidupan dunia. Mereka meninggalkan sesuatu dan mengerjakan sesuatu karena pertimbangan akhirat. Orang-orang seperti ini memiliki ketakutan akan kemurkaan Tuhannya di hari akhir nanti. Mereka khawatir hidupnya akan sia-sia di mata Tuhannya.</p>
<p>Dan terakhir, bagi orang-orang yang tidak sempat tersentuh dakwah di masa hidupnya, kami mintakan ampunan dari Al-Ghoffar Yang Maha Pengampun sepanjang ia masih menyatakan keislamannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2009/02/13/bacaan-hidden-side-of-a-sindhen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidur di Kelas</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/13/tidur-di-kelas/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/13/tidur-di-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 14:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/04/13/tidur-di-kelas/</guid>
		<description><![CDATA[Hey, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang tidur di kelas? Pernahkah kamu tidur saat mengikuti KBM?
Jujur saja, dulu waktu di SMA saya sering tidur di kelas. Dan saya tidak sendirian. Ada beberapa kawan lain yang punya kendala yang sama. Tapi jangan salah sangka dulu. saya tidur bukan karena malas atau tidak menghormati guru. Harap maklum karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hey, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang tidur di kelas? Pernahkah kamu tidur saat mengikuti <abbr title="Kegiatan Belajar Mengajar">KBM</abbr>?</p>
<p>Jujur saja, dulu waktu di <a title="Situs Resmi SMA Taruna Nusantara" href="http://www.taruna-nusantara-mgl.sch.id/" target="_blank">SMA</a> saya sering tidur di kelas. Dan saya tidak sendirian. Ada beberapa kawan lain yang punya kendala yang sama. Tapi jangan salah sangka dulu. saya tidur bukan karena malas atau tidak menghormati guru. Harap maklum karena SMA saya punya <a title="Liat aja di keterangan tentang kegiatannya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/SMA_Taruna_Nusantara" target="_blank">kegiatan seabreg</a> yang kebanyakan menggunakan kekuatan fisik.</p>
<p>Bangun pagi-pagi langsung menuju ke lapangan. Untuk mengikuti latihan halang rintang. (ini sebenarnya syair yang dinyanyikan saat lari pagi). Dua kali seminggu, kami dijadwalkan lari pagi kira-kira sejauh 4 atau 5 kilometer. Ada pula latihan baris-berbaris, latihansenam militer, latihan senam balok kayu, dll. Ada juga latihan membaca peta topografi atau peta militer, tapi sambil mengikuti jalur yang tertera di peta. Ya lumayan, dengan berjalan kaki rute yang ditempuh bisa mencapai sekitar 10-15 kilometer. Plus melewati kontur yang tak tentu naik-turunnya.</p>
<p>Belum lagi acara-acara occasional yang lumayan besar seperti Latihan PraHulu Balang dan Hulu Balang. Hulu Balang sendiri dilaksanakan selama 3 hari di tengah hutan dengan kegiatan-kegiatan yang menguji berbagai keterampilan survival personal dan kelompok.</p>
<p>Jadi maklum saja kalau banyak siswa yang kelelahan saat mengikuti kelas formal. Masih nggak percaya? Tanya saja rekan se-angkatan saya, <a title="Rohmad, Alumni SMA TN Angkatan 6" href="http://rohmad.net/" target="_blank">Rohmad</a>. Atau anaknya SBY, yang <abbr title="Bang Agus Harimurti Yudhoyono">mantunya</abbr> pak Aulia Pohan itu.</p>
<p>Kenapa saya mengkambinghitamkan kegiatan fisik yang menyebabkan saya tertidur di kelas? Karena nyatanya kebiasaan itu tidak terbawa saat saya kuliah. Yaa.. memang terkadang kuliah itu membosankan. Tapi tidak sampai membuat saya jatuh tertidur. Apalagi waktu kuliah D-IV, saya malah bergairah mengikuti kegiatan perkuliahan yang memberikan pengalaman sangat berharga bagi kehidupan profesional saya.</p>
<p>Di beberapa negara di dunia, siswa yang tertidur di kelas dianggap wajar. Misalnya <a title="Panutannya bu Ines nih.." href="http://groups.yahoo.com/group/sekolahrumah/message/3548" target="_blank">di Finlandia</a> dan <a title="Pengalamannya si Diza" href="http://dizakhairina.multiply.com/journal/item/14/Tidur_di_kelas" target="_blank">di Jepang</a>. Justru kalau ada guru yang membangunkan siswa dengan cara yang tidak mendidik, dia bisa dituntut. Seperti kejadian di <a title="Student sued teacher for awakened him in class" href="http://www.freerepublic.com/focus/f-news/1985178/posts" target="_blank">Danbury</a>.</p>
<p>Ada juga kasus yang terbalik, <a title="Tapi ini kasus di Kroasia" href="http://plinplan.com/general/7380/2008/02/01/bukannya-mengajar-bu-guru-malah-tidur-di-kelas/" target="_blank">sang guru yang malah tidur di kelas</a>! Hehehe itu mah ngaco. Tapi seorang kawan pernah benar-benar merasakan pengalaman itu. Sebagai guru privat, ternyata anak didiknya bandel setengah mati. Kalau diajak belajar, sang anak didik justru main PS atau menghindar dengan alasan nggak jelas lainnya. Padahal sudah kelas 3 SMA mendekati ujian nasional dan ujian masuk PT. Akhirnya demi memenuhi kuota daftar hadir, sang guru pun numpang tidur di kamar sang anak didik. Sambil titip pesan, &#8220;Kalau sudah jam 6, bangunin gw yah!&#8221; Hehehe&#8230;</p>
<p>Seorang ustadz saya punya solusi yang bijak dan masuk akal kala melihat jamaahnya yang tertidur. Nasehat beliau, kalau ingin belajar di majelis taklim, ya harus mempersiapkan diri dengan baik. Termasuk dengan tidur yang cukup dan kesiapan fisik yang baik. Kalau memang lelah karena sebab-sebab tertentu (lembur, kejar setoran, sakit) lebih baik tidur di rumah. Kan lebih nyaman daripada tidur di pengajian. No offence gitu loh.</p>
<p>Tapi kalo tetep kantuk tak tertahan namun kita segan pada guru yang mengajar, bisa coba <a title="Tips Tidur di Kelas" href="http://lestiatmo.wordpress.com/2007/09/07/tips-tidur-di-kelas/" target="_blank">tips dari Lestian Atmopawiro</a>.</p>
<p>Tidur dalam suatu forum memang harus ditanggapi dengan bijak. Kalau memang forum yang mendidik seperti di Finlandia, Jepang  dan majelis taklim ustadz bijak itu ya gak masalah. Tapi kalau di forum yang penting dan diikuti action plan, ya nggak pantes dong. Kalau nggak percaya, tanya aja sama <a title="Jangan tidur waktu Presiden berbicara ya pak.." href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/09/time/082515/idnews/920533/idkanal/10" target="_blank">peserta Lemhanas yang bobo manis saat SBY berbicara</a>.</p>
<p>Dan terjaga di forum pun belum cukup, jangan-jangan hatinya sedang tidur. Untuk itu, kata Bu Guru Tia, <a title="Bangunkan yang tidur hatinya..." href="http://lestia.blogspot.com/2008/04/bangunkan-yang-sedang-tidur.html" target="_blank">perlu dibangunkan supaya mata hatinya terbuka</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/13/tidur-di-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wewenang Satu Juta Dollar</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/wewenang-satu-juta-dollar/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/wewenang-satu-juta-dollar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 11:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/wewenang-satu-juta-dollar/</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat kan salah satu adegan di film Austin Powers? Waktu itu si penjahat yang baru saja lolos dari penjara es membuat makar baru terhadap dunia. Karena berasal dari masa lalu, dia minta tebusannya cuman satu juta dollar. Para pemimpin dunia yang jadi korban pemerasan pada bingung, kok mintanya dikit amat?
Yah, kata-kata satu juta dollar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih ingat kan salah satu adegan di film Austin Powers? Waktu itu si penjahat yang baru saja lolos dari penjara es membuat makar baru terhadap dunia. Karena berasal dari masa lalu, dia minta tebusannya cuman satu juta dollar. Para pemimpin dunia yang jadi korban pemerasan pada bingung, kok mintanya dikit amat?</p>
<p>Yah, kata-kata satu juta dollar memang seksi. Jumlah itu menjadi satu parameter jumlah yang sangat besar. Walaupun saat ini karena inflasi nilainya tak lagi sebesar satu juta dollar jaman dulu, tapi bagaimanapun juga satu juta dollar terlanjur mewakili batas pengakuan kaum kaya.</p>
<p>Untuk mendapatkan efek fenomenal ini pulalah kita dulu mengenal ada film berjudul The Six Million Dollar Man. Enam kali satu juta dollar! Bayangkan teknologi apa saja yang bisa ditanamkan dalam tubuh manusia, dengan investasi sedemikian besar.</p>
<p>Nah, ternyata wewenang memegang kekuasaan atas satu juta dollar itu akhirnya mampir ke saya juga. <em>Lho? Gimana tuh ceritanya?</em> Gini boss. Sejak bendahara penerima iuran Dana Reboisasi membuka rekening valas, semua wajib bayar kehutanan sekarang diwajibkan menyetor iuran Dana Reboisasi menggunakan valas. Dulu kan dikurskan dulu ke rupiah baru disetor.</p>
<p>Uang valas tersebut ujung-ujungnya mampir ke kantor saya. Tentunya dalam bentuk Bagian Daerah untuk Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Kehutanan. Nah, jumlah valas yang akan dibagikan itu sudah melebihi satu juta dollar.</p>
<p>Hehehe, percaya atau tidak, waktu saya membaca surat dari Dephut yang isinya menyerahkan (sebenarnya menyerahkan bukan istilah yang tepat ya, wong tidak disertai dengan penyerahan uang, tapi wewenangnya memang berpindah. mungkin lebih tepatnya mengusulkan) uang satu juta dollar (+lebih) itu ke kantor saya, saya ingin memegang surat itu tinggi-tinggi sambil berteriak histeris, &#8220;Satu juta dollar!  Satu juta dollar! Satu juta dollar, man!&#8221;. Hehehe norak.</p>
<p>Yah maklum lah. Wong Mister Krab aja gelo kecewa waktu dollar pertamanya hilang. Itu kan menandakan penghargaannya terhadap uang. <em>Bukan uang sendiri kok bangga sih?</em> Ya gitu deh saya kalo lagi kumat noraknya. Harap maklum ya..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/wewenang-satu-juta-dollar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Michael Jackson sampai Tintin</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/31/dari-michael-jackson-sampai-tintin/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/31/dari-michael-jackson-sampai-tintin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 02:22:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/03/31/dari-michael-jackson-sampai-tintin/</guid>
		<description><![CDATA[Dulu seorang kawan kuliah memanggil saya dengan sebutan Tintin. Alasannya? Karena celana yang saya pakai ngatung di atas mata kaki, persis seperti celana Tintin dalam salah satu petualangannya. Tidak semua penampilan Tintin menggunakan celana ngatung. Hanya di beberapa judul, Tintin terlihat menggunakan celana seperti itu. Salah satunya di episode &#8220;Tongkat Raja Ottokar&#8221;, kemudian &#8220;Cerutu Sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu seorang kawan kuliah memanggil saya dengan sebutan Tintin. Alasannya? Karena celana yang saya pakai ngatung di atas mata kaki, persis seperti celana <a title="The Adventure of Tintin" href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Adventures_of_Tintin" target="_blank">Tintin</a> dalam salah satu petualangannya. Tidak semua penampilan Tintin menggunakan celana ngatung. Hanya di beberapa judul, Tintin terlihat menggunakan celana seperti itu. Salah satunya di episode <a title="Tongkat Raja Ottokar" href="http://en.wikipedia.org/wiki/King_Ottokar%27s_Sceptre" target="_blank">&#8220;Tongkat Raja Ottokar&#8221;</a>, kemudian <a title="Cerutu sang Pharaoh" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cigars_of_the_Pharaoh" target="_blank">&#8220;Cerutu Sang Pharaoh&#8221;</a>, <a title="Kepiting Bercapit Emas" href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Crab_with_the_Golden_Claws" target="_blank">&#8220;Kepiting Bercapit Emas&#8221;</a>, dan lainnya.</p>
<p>Julukan-julukan yang diberikan kepada orang berpenampilan seperti saya memang macam-macam. Setengah tiang, kebanjiran, dll. Berat memang bagi saya. Tapi membaca berita hari ini di koran Tempo, sedikit banyak menambah energi moral menghadapi situasi sedemikian rupa.</p>
<p>Ternyata pak Menteri Energi juga mengalami hal yang sama.</p>
<blockquote><p>Koran Tempo &#8211; Senin, 31 Maret 2008</p>
<p>Ekonomi dan Bisnis</p>
<p>Purnomo Yusgiantoro<br />
Mirip Michael Jackson</p>
<p>Tampang boleh berbeda, tapi soal panggilan bisa saja sama. Itulah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Ia rupanya punya panggilan khusus di kalangan koleganya yang memiliki hobi menyanyi. Di sini, ia biasa dipanggil Michael Jackson. Lo, kok bisa, Pak?</p>
<p>Ia membuka rahasia itu dalam sebuah acara donor darah di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral pekan lalu. Purnomo menuturkan panggilan ini muncul gara-gara hobinya memakai celana ngatung di atas mata kaki mirip Michael Jackson. Apalagi, ketika mengirimkan pesan pendek (SMS) kepada teman dekatnya, ia sering memakai inisial MJ. Padahal inisial Purnomo seharusnya PYS.</p>
<p>&#8220;Apa tuh MJ?&#8221; kata Purnomo menirukan kebingungan koleganya. &#8220;Saya menjawab, MJ itu Michael Jackson,&#8221; ucapnya disambut gelak tawa. Tapi kalau inisial Purnomo untuk istri: MP. &#8220;Maksudnya, Mas Purnomo.&#8221; Nieke Indrietta</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/31/dari-michael-jackson-sampai-tintin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Long Weekend</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/28/long-weekend/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/28/long-weekend/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 22:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/03/28/77/</guid>
		<description><![CDATA[
yang satu long weekend (senang2)
*satunya lagi loooong weekeeend… (serasa gak habis2 tanggalan)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://alumni.stan.ac.id/beta/2008/03/27/long-weekend/"><img style="border: 0px initial initial;" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/menghitung-hari.png" border="0" alt="Menghitung Hari" width="429" height="175" /></a><br />
yang satu long weekend (senang2)<br />
*satunya lagi loooong weekeeend… (serasa gak habis2 tanggalan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/03/28/long-weekend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Asal-Asalan</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/02/17/manajemen-asal-asalan/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/02/17/manajemen-asal-asalan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 04:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/02/17/manajemen-asal-asalan/</guid>
		<description><![CDATA[Hari Jumat (2/2/08) saat air kembali permisi-numpang-lewat di Jakarta, perjalanan kereta api komuter dibatalkan. Pun demikian beberapa minggu yang lalu di suatu sore kereta ngadat. Lagi. Sudah beberapa kali kereta jurusan Tanah Abang &#8211; Serpong bermasalah bulan tahun ini. Kereta yang diharapkan oleh ribuan penumpang itu terlambat, terganggu, atau bahkan dibatalkan perjalanannya. Kalau sudah demikian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Jumat (2/2/08) saat air kembali permisi-numpang-lewat di Jakarta, perjalanan kereta api komuter dibatalkan. Pun demikian beberapa minggu yang lalu di suatu sore kereta ngadat. Lagi. Sudah beberapa kali kereta jurusan Tanah Abang &#8211; Serpong bermasalah <span style="text-decoration: line-through;">bulan</span> tahun ini. Kereta yang diharapkan oleh ribuan penumpang itu <a title="kalau terlambat demi safety sih saya setuju" href="http://www.i-comers.com/i-comers-general-archieves/2971-news-krl-ciliwung-terlambat-terus.html" target="_blank">terlambat</a>, <a title="Terganggu Banjir" href="http://www.antara.co.id/arc/2008/2/1/154-perjalanan-ka-jabotabek-terganggu-banjir/" target="_blank">terganggu</a>, atau bahkan <a title="pun kalau batal karena safety, apa nggak ada rencana cadangan?" href="http://www.opinimasyarakat.com/2008/02/01/kereta-listrik-serpong-jakarta-putuspetogogan-terendam-banjir-12-meter/" target="_blank">dibatalkan</a> perjalanannya. Kalau sudah demikian kejadiannya, orang-orang hanya bisa <a title="serahkan nasib pada masinis" href="http://ketikataku.wordpress.com/2007/12/25/menyerahkan-nasib-pada-masinis-kereta/" target="_blank">pasrah</a>, <a href="http://ishman.multiply.com/journal/item/35/KRL_Jabotabek_Apa_Kabar" target="_blank">gondok</a>, <a title="nah kan.." href="http://www.krlmania.com/sinyal/read.php?id=1069" target="_blank">menggerutu</a>, <a title="pojok orang-orang yang dikecewakan :D" href="http://www.krlmania.com/pojok/" target="_blank">mengutuk</a>, dan akhirnya <a title="kapoknya kan cuman sebentar, besok mah teteup naik lagi.." href="http://budikuswanto.blogspot.com/2007/01/hari-yang-sama.html" target="_blank">menyesal</a>.</p>
<p><a title="kalo nyontek itu mbok yang bagus2nya.." href="http://gadang-e-bookformaterialscience.blogspot.com/2007/12/selingan-nikmatnya-naik-kereta-di.html" target="_blank"><img style="border: 0px initial initial;" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/rosen_eng.png" border="0" alt="Jalur Kereta Jepang" width="407" height="288" /></a></p>
<p><span id="more-58"></span>Kebutuhan akan transportasi komuter makin hari makin bertambah. Kabarnya untuk jurusan Tanah Abang &#8211; Serpong saja ada 300 ribu penumpang yang harus dilayani setiap harinya. Bahkan sejak dioperasikannya kereta AC jurusan Serpong, penumpang berdasi pun berhasil digaet PT. KAI. Prestasi ini juga ditunjang dengan aman dan nyamannya pelayanan parkir di stasiun pemberangkatan. Jangan sampai di masa datang PT. KAI mengambil langkah blunder yang mengorbankan pelanggan yang mereka bidik sendiri.</p>
<p>Saya nggak ngerti bagaimana manajemen kereta seharusnya direncanakan dan dilaksanakan. Saya bukan ahli perkeretaapian. Pengalaman mengatur kereta paling-paling didapat dari main game <a title="Shockwave's Subway Scramble" href="http://http://www.shockwave.com/gamelanding/subwayscramble.jsp" target="_blank">Subway Scramble</a>. Tapi yang saya tahu pasti, ada yang salah dalam pengelolaan kereta api.</p>
<p>Selama ini manajemen kereta api terkesan asal-asalan. Asal jalan, asal berangkat. Asal terlambat, asal batal. Asal nyampe tujuan, asal tidak manusiawi. Asal angkut (manusia dan kambing), asal . Kalau semua asal-asal itu terpenuhi berarti Anda nggak nyasar. Anda benar-benar menggunakan kereta di Indonesia!</p>
<p>Seandainya kereta api ini di anggap sebagai progam prioritas yang strategis, tentu konsekuensinya adalah dukungan finansial yang memadai. Tapi dari bisik-bisik kawan, rencana perpanjangan jalur KRL sampai Parung Panjang belum bisa diakomodasi dalam APBN 2008.</p>
<p>Pernah suatu kali saya bertemu sebuah tim terdiri dari 3 orang melakukan wawancara dengan penumpang di atas <abbr title="KRL AC Ekonomi Ciujung, jurusan Tanah Abang - Serpong">kereta komuter</abbr>. Mereka mengaku ditugaskan oleh suatu elemen di DPR. Seorang wanita yang membawa microphone, seorang pria muda yang menenteng kamera video, dan seorang pria setengah umur dengan pin lambang DPR di jaketnya. Mereka mengulik informasi mengenai tingkat kepuasan atas layanan saat ini dan harapan penumpang atas layanan di masa depan.</p>
<p>Banyak penumpang yang menginginkan agar kereta tepat waktu, tidak ada pembatalan, aman, cepat, nyaman, dst. Saya sendiri nggak diberi kesempatan ditanya. Seandainya ditanya saya akan jawab, kereta butuh paradigma baru. Paradigma baru hanya bisa dimulai dengan <em>shared vision</em> dari pimpinan teratas. Yang visioner dan paham konsep <abbr title="Mass Rapid Transportation">MRT</abbr>. Paradigma baru itu juga harus di-<em>deliver</em> oleh <em>middle management</em>. Mungkin bisa dibantu dengan tools pengendalian. Di level bawah, para pegawai perlu di-standar-kompetensi-kan. Training, diklat, <em>capacity building</em>, kode etik, mekanisme <em>reward and punishment</em> disediakan untuk mereka yang berada di tingkat ini.</p>
<p>Saya tahu nggak semudah itu. Saya nggak tahu ada konflik internal, vertikal, horizontal apa di KAI-Dephub-Depkeu-Panitia Anggaran DPR. Sebagai penumpang, saya cuman menuntut kualitas layanan. Hayooo, apa ada yang udah capek prihatin?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/02/17/manajemen-asal-asalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ndherek Bela Sungkawa</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/28/ndherek-bela-sungkawa/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/28/ndherek-bela-sungkawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 01:08:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/01/28/ndherek-bela-sungkawa/</guid>
		<description><![CDATA[Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa&#8217;afiihi wa&#8217;fuanhu.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun.</p>
<p>Allahummaghfirlahu warhamhu wa&#8217;afiihi wa&#8217;fuanhu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/28/ndherek-bela-sungkawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hak Jalan Raya</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/20/hak-jalan-raya/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/20/hak-jalan-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2008 15:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuabbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/01/20/hak-jalan-raya/</guid>
		<description><![CDATA[Hak-hak Pengguna Jalan
Hari senin dan selasa kemarin saya benar2 dibuat kesal oleh kemacetan jalan disekitar BSD. Bayangkan jalan2 BSD yang besar2 dan lancar itu tiba2 jadi macet oleh suatu kegiatan, pawai pemilihan bupati daerah! Saya tidak tahu apakah ada peraturan yang mengatur tentang jalannya pawai sehingga tidak menghalangi pengguna jalan lain, atau sudah ada peraturannya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hak-hak Pengguna Jalan</strong></p>
<p>Hari senin dan selasa kemarin saya benar2 dibuat kesal oleh kemacetan jalan disekitar <abbr title="Bumi Serpong Damai">BSD</abbr>. Bayangkan jalan2 BSD yang besar2 dan lancar itu tiba2 jadi macet oleh suatu kegiatan, pawai pemilihan bupati daerah! Saya tidak tahu apakah ada peraturan yang mengatur tentang jalannya pawai sehingga tidak menghalangi pengguna jalan lain, atau sudah ada peraturannya, tapi seperti biasa peraturan dibuat untuk untuk dilanggar :p yha terlepas dari itu semua pawai tetap berlangsung dan kendaraan yang saya tumpangi terjebak pasrah dibelakangnya ditambah saya yang sedang bersungut2 didalamnya. Amboi…</p>
<p>Hari kamis, lain lagi cerita. Ketika saya menyebrang jalan, tiba2 ada pengemudi motor melawan arus dari arah yang berlawanan. Dan… Brak! jadilah tangan dan  bahu saya sebelah kiri tersambar. Astagfirullah! Refleks ucapan yang keluar dari mulut saya, yang benar2 tak menyangka akan ada kendaraan dari arah sebaliknya.  Tidak berapa lama kemudian otak mulai mencerna apa yang terjadi, ketika sadar dan mau melancarkan protes, sudah terlambat&#8230; Pengemudi motor sudah pergi dengan tenang meninggalkan korbannya yang bengong keheranan, “kok bisa2nya ada motor dari arah sana.” Pikir saya. (mau protes sama siapa thoh de!?). Saya yakin pengemudi motor tsb tahu saya tersenggol motornya, wong kedua anak-anak dalam boncengannya langsung menoleh pada saya. huh! Pelajaran yang buruk bagi anak2 tsb. Jangan di tiru yha nak..</p>
<p>Sudah sering saya melihat kekacauan di jalan-jalan. Kekacauan biasanya terjadi ketika semua orang merasa berhak menggunakan fasilitas umum ini dengan tanpa memperhatikan hak orang lain yang juga sebagai pengguna. Alangkah baiknya jika masing2 dari kita, MULAI DARI DIRI SENDIRI memperhatikan hak2 pengguna jalan lain. Apa saja sih hak pengguna jalan itu menurut Islam? Ternyata ada pensyariatannya di <a href="http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2005/ic6_2005.htm">peraturan Negara Brunei Darusalam</a> Bo!</p>
<p><img src="http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2003/muftilogo.gif" alt="Mufti Brunei Darussalam" /></p>
<blockquote><p>Untuk menjamin jalan raya itu selamat dan selesa digunakan oleh semua pengguna, sama ada kenderaan bermotor atau pejalan kaki, kerajaan telah memperuntukkan peraturan dan undang-undang bagi pengguna jalan raya. Ia hendaklah dipatuhi. Mana-mana pengguna yang menyalahinya akan dikenakan tindakan menurut undang-undang.</p></blockquote>
<p>Daripada Abu Sa‘id al-Khudri <em>Radhiallahu ‘anhu</em> bahwa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pernah bersabda:<br />
<img src="http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2005/j1.jpg" alt="Hadits Abu Said Al-Khudri, apakah hak-hak jalan raya itu?" width="412" height="174" /></p>
<p>Artinya:<em> “Jangan kamu duduk-duduk di jalan-jalan! Sahabat bertanya: “Kami susah meninggalkannya dan di sana kami hanya duduk-duduk bercerita” Baginda bersabda: “Jikalau begitu, apabila kamu pergi juga ke tempat kamu bercerita itu, kamu berikanlah hak-hak jalan raya”. Mereka bertanya lagi: “Apakah dia hak-hak jalan raya itu? Baginda menjawab: “Memelihara pandangan, membuang yang menyakitkan, menjawab salam dan membuat kebaikan serta menghalang kejahatan”. </em>(Al-Bukhari &amp; Muslim)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/20/hak-jalan-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuti Bersama 2008 Pembawa Pusing</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/09/cuti-bersama-2008-pembawa-pusing/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/09/cuti-bersama-2008-pembawa-pusing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 02:08:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/01/09/cuti-bersama-2008-pembawa-pusing/</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2008 ini banyak banget cuti bersama. Saya pribadi kurang setuju dengan kebijakan cuti bersama ini. Cuti bersama melanggar hak pegawai! Mosok kita dipaksa untuk ambil cuti pada hari2 yang sudah ditetapkan? Padahal cuti adalah hak pegawai. Kenapa bisa dipaksa pelaksanaannya dengan aturan? Ya ya ya, bilang saja dianalogikan dengan gaji. Gaji juga hak pegawai, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2008 ini banyak banget cuti bersama. Saya pribadi kurang setuju dengan kebijakan cuti bersama ini. Cuti bersama melanggar hak pegawai! Mosok kita dipaksa untuk ambil cuti pada hari2 yang sudah ditetapkan? Padahal cuti adalah hak pegawai. Kenapa bisa dipaksa pelaksanaannya dengan aturan? Ya ya ya, bilang saja dianalogikan dengan gaji. Gaji juga hak pegawai, tapi pengaturannya justru sangat ketat. Ada gak sih PNS yang naik gaji 3 kali setahun kayak yang dijanjikan Tung Desem Waringin? Yang ada malah dipotong.</p>
<p><a href="http://s235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/?action=view&amp;current=tn-kalendercutibersama2008.png" target="_blank"><img style="border: 0px initial initial;" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/tn-kalendercutibersama2008.png" border="0" alt="thumbnail" width="422" height="270" /></a></p>
<p>Anyway, mau tak mau, setuju tak setuju, saya dan para PNS lain memang harus taat pada <a title="Surat Keputusan Bersama Cuti Bersama 2008" href="http://www.menkokesra.go.id/pdf/skb_libur_thn2008.pdf" target="_blank">Surat Keputusan Bersama 3 Menteri</a> itu. Dan selain <em>nggerundel</em> dan menggerutu (euh, sama yak?), saya harus menyiapkan diri untuk menghadapi datangnya tanggal-tanggal merah muda itu. (Bukan merah beneran kan?).</p>
<p>Banyaknya <em>long weekend</em> memang harus diantisipasi sebaik mungkin. Kita harus pandai-pandai memilah, menggunakan dan memanfaatkan libur panjang itu agar:</p>
<ol>
<li>Tidak boros. Kalau setiap liburan kita jalan2, wah tekor! Apalagi buat keluarga kecil dengan dua anak yang selalu kelebihan energi disetiap tempat dan setiap saat.</li>
<li>Mudik. Daripada menghabiskan waktu yang barokah di <a title="Berkah Ramadhan 1428 H" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/10/25/berkah-ramadhan-1428-h/">bulan Ramadhan</a>, mendingan mudik di luar bulan puasa aja.</li>
<li>Tidak melewatkan acara keluarga. Di lingkungan puak saya, melewatkan acara keluarga bisa mendatangkan bencana. Nikahan, sunatan, kematian, berangkat haji, dll. Tipikal keluarga Indonesia banget. Kami sih berusaha agar tetap bisa berpartisipasi di acara-acara pokok, dan berdalih untuk acara-acara yang lain. Kabur!</li>
<li><em>Private program</em>. Nah ini nih, acara pribadi keluarga. Berenang, naik kuda (kuda orang lain, mosok PNS punya istal?), jalan-jalan. Tentunya sambil tetap menjunjung tinggi asas <em>playing is learning</em>. <em>Homeschooling wannabe</em> gitu loh!</li>
<li>Istirahat. Kebayang kan, kerjaan seminggu yang harusnya selesai 5 hari harus diselesaikan 4 hari saja. Pasti capek banget tuh, kerjaan kejar tayang melulu. Nah, pilih tanggal-tanggal yang tepat untuk istirahat.</li>
<li><em>Day off is challenge</em>. Kalo dilihat dari sudut pandang lain (pake otak kanan dong!), libur panjang bisa menjadi kesempatan juga lho. Kesempatan nyambi <em>side job</em>, kesempatan ketemu orang, berburu bahan, menulis, tahfiz Quran, menyelesaikan proyek penulisan hadits digital, ikutan atau bikin proyek Open Source, dll. Sudah saatnya merubah paradigma dari padat aktivitas menjadi produktivitas.</li>
<li>Mengatur rencana perjalanan dinas. Nah paling enak memang ambil <a title="Travelling" href="http://www.uliansyah.or.id/category/travelling/">perjalanan dinas</a> di pekan yang ada long weekendnya. Artinya, sepulang <em>travelling at cost</em> yang cuman 3 atau 4 hari itu, kita nggak harus masuk bersegera ketemu atasan.</li>
</ol>
<p>Nah, akhirnya ini dia kalender yang dijanjikan. Kalender disederhanakan hanya menampilkan bulan dan minggu yang memiliki <em>long weekend</em>. Bintang merah menandakan hari libur nasional, dan bintang oranye menandakan cuti bersama. Kotak merah panjang menunjukkan panjangnya liburan.</p>
<p>Cocok buat desktop atau poster. Biar ingat terus. Hehehe..</p>
<p>Bisa diunduh dari <a title="DivShare.Com" href="http://www.divshare.com/download/3398247-af9" target="_blank"><img title="DivShare.Com" src="http://www.divshare.com/images/v2/logo.png" alt="DivShare.Com" width="188" height="32" /></a> atau <a title="Photobucket" href="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/download/kalendercutibersama2008.png" target="_blank"><img title="Photobucket.Com" src="http://pic.photobucket.com/logos/PBLogo.166.BG.white.gif" alt="Photobucket.Com" width="166" height="29" /></a></p>
<ol>
<li>http://www.divshare.com/download/3398247-af9</li>
<li>http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/download/kalendercutibersama2008.png</li>
</ol>
<p>Mohon kritik dan saran. (Euh. kayaknya penahunan Hijriyah nya salah. Tunggu revisinya ya.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/01/09/cuti-bersama-2008-pembawa-pusing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
