<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>uliansyah.or.id &#187; Turis Dinas</title>
	<atom:link href="http://www.uliansyah.or.id/category/turis-dinas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.uliansyah.or.id</link>
	<description>kegelisahanku adalah untuk berkarya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Aug 2010 10:27:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Untaian Permata Hijau Tidore dan Ternate</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/07/11/untaian-permata-hijau-tidore-dan-ternate/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/07/11/untaian-permata-hijau-tidore-dan-ternate/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 08:24:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turis Dinas]]></category>
		<category><![CDATA[ternate]]></category>
		<category><![CDATA[tidore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/07/11/untaian-permata-hijau-tidore-dan-ternate/</guid>
		<description><![CDATA[Punya uang seribu rupiah? Oow.. tenang aja. Saya bukannya mau minta duit. Bukan.. bukan itu permintaan saya. Saya ingin Anda memperhatikan gambar pada uang seribu rupiah yang sedang Anda pegang. Lihatlah pada gambar dua buah pulau yang berada di latar sebuah perahu nelayan. Ada keterangan di sudut kiri atas. Bunyinya, “Pulau Maitara dan Tidore”. Nah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Punya uang seribu rupiah? Oow.. tenang aja. Saya bukannya mau minta duit. Bukan.. bukan itu permintaan saya. Saya ingin Anda memperhatikan gambar pada uang seribu rupiah yang sedang Anda pegang. Lihatlah pada gambar dua buah pulau yang berada di latar sebuah perahu nelayan. Ada keterangan di sudut kiri atas. Bunyinya, “Pulau Maitara dan Tidore”. Nah, selama tiga hari yang lalu, saya berkesempatan berada di pulau yang muncul sebagai ilustrasi pada alat  tukar keluaran Bank Indonesia itu.</p>
<p><img title="Uang Seribu Rupiah" src="http://i213.photobucket.com/albums/cc258/fiona_angelina/1000rupiahperahu.jpg" alt="Uang Seribu Rupiah" width="412" height="187" /><br />
Image courtesy <a title="Fiona Angelina" href="http://fionaangelina.dagdigdug.com/2008/04/07/rahasia-uang-seribu-rupiah/" target="_blank">Fiona Angelina</a> (c)</p>
<p>Tapi dari tempat saya menginap di Ternate, pandangan pada posisi pulau-pulau tersebut terbalik. Pulau Maitara di sebelah kanan, dan Pulau Tidore di sebelah kiri. Saya sempat mendiskusikannya bersama teman perjalanan. Kesimpulan kami, gambar di uang tersebut diambil dari laut lepas, bukan dari daratan Ternate. Dugaan ini dikuatkan juga dengan foto yang saya lihat di <a title="Indahnesia.Com: Pulau Maitara dan Tidore" href="http://indahnesia.com/picture/MAL/001/maitara_and_tidore.php">indahnesia.com</a>, <a title="superbayek: Pulau Maitara dan Tidore" href="http://superbayek.multiply.com/photos/album/28/Pulau_Maitara_dan_Tidore">superbayek@MP</a> serta <a title="Yoanes: Maitara dan Tidore" href="http://ybandung.wordpress.com/2008/04/15/pulau-maitara-dan-tidore/">pengakuan Pak Yoanes</a>. Posisi pulau Maitara dan Tidore pada foto itu sudah hampir mirip dengan uang seribu rupiah, tapi untuk mendapatkan persepsi yang sesuai sepertinya memang harus dilihat dari sisi laut lepas.</p>
<p><img title="Maitara dan Tidore" src="http://lh4.ggpht.com/ybandung/R_WpblEEPfI/AAAAAAAAAlc/qx4NwJlJrD4/s400/Pulau%20Maitara%20dan%20Tidore.JPG" alt="Maitara dan Tidore" width="400" height="266" /><br />
Image courtesy <a title="Yoanes: Maitara dan Tidore" href="http://ybandung.wordpress.com/2008/04/15/pulau-maitara-dan-tidore/">Yoanes Bandung</a> (c)</p>
<p>Sayang, <a title="Bang Pay" href="http://bangpay.org/" target="_blank">Bang Pay</a> yang <a title="Babu Negara" href="http://mbnw.blogspot.com/" target="_blank">babu negara</a> seperti saya itu , sudah pindah penempatan ke Manado. Padahal dari orang yang sudah tinggal selama <a title="Bang Pay 3 Tahun di Ternate" href="http://kalangkabut.wordpress.com/2008/05/07/hari-ini-3-tahun-sudah-saya-di-ternate/" target="_blank">3 tahun di Ternate</a>, saya mengharapkan cerita pengalaman dan guide ke tempat-tempat yang menarik. Ah cukuplah blog-blogmu itu menceritakan duka dan kesedihanmu bang.. hehehe..<br />
<span id="more-89"></span><br />
Seumur-umur nggak pernah kebayang deh bakalan melakukan perjalanan sejauh ini. Apalagi status saya yang cuman Turis Dinas kelas rendahan yang nggak bisa memilih tujuan dinas. Kalau diingat-ingat, saya lebih sering ditugaskan ke daerah yang relatif sulit dijangkau. Tahun lalu saja saya berkesempatan bertugas mengunjungi lokasi-lokasi yang butuh perjuangan ekstra untuk mencapainya: <a title="Travelling: Tanah Bumbu" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/tanah-bumbu-yang-indah/">Tanah Bumbu</a>, <a title="Pangkalan Bun" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/pangkalan-bun-kota-manis/">Pangkalan Bun</a>, <a title="Ketapang" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/08/21/perjalanan-nekad-ke-ketapang/">Ketapang</a> dan <a title="Paser" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/">Paser</a> .</p>
<p>Nah kali ini, saya ditugaskan ke Kota Tidore. Tanah kelahiran Sultan Nuku dan Sultan Baabullah. Tanah air para pejuang. Bahkan Kesultanan Tidore pada masa kejayaannya memiliki kekuasaan sampai dengan Papua. Sampai-sampai terlontar <a title="Andreas Harsono" href="http://andreasharsono.blogspot.com/2005/11/perjalanan-ternate-tidore.html" target="_blank">pujian kebanggan</a> dari Bung Karno, &#8220;Kalau bukan karena Tidore, tidak ada lagu dari Sabang sampai Merauke&#8221;.</p>
<p>Perjalanan kali ini memang berat. Bahkan sejak keberangkatan dari Jakarta. Saya harus berangkat pagi buta ke bandara untuk mengejar penerbangan jam 5. Jadwal penerbangan jam 5 itu menurut saya paling berat. Lebih berat dari penerbangan ke Papua jam 2 pagi. Kalau penerbangan jam 2, kita bisa berangkat dari rumah jam 9. Saat taksi dan angkutan umum lainnya masih beroperasi. Lha ini penerbangan jam 5, kalau berangkat jam 9 masih terlalu lama menunggu. Tapi berangkat jam 3 pagi butuh niat ekstra untuk bangun, dan usaha ekstra mendapatkan transportasi umum.</p>
<p>Setelah transit sebentar di Makassar, rombongan kami yang terdiri dari 3 orang itu, melanjutkan penerbangan ke Bandara Sultan Baabullah di Ternate dengan pesawat Foker. Dan saat-saat menjelang pendaratan benar-benar memukau. Rasa penat penerbangan selama 3,5 jam (plus waktu transit, total 6 jam perjalanan) terbayar sudah. Kami disuguhi pemandangan untaian pulau-pulau bak permata berbalut jernihnya laut biru. Semakin mendekati pantai, gradasi warna air laut turut menyambut pesawat kami. Dimulai dari biru pekat, memudar menjadi biru muda, dan terus semakin kehilangan pigmen hingga menjadi putih pasir.  Suasana tambah memikat hati karena semua keindahan itu saya lihat diiringi alunan suara murottal Musyari Rasyid.</p>
<p>Kota Ternate mencakup seluruh pulau Ternate. Luasnya tak kurang dari setengah juta kilometer persegi. Semua aktivitas warga dilakukan di kaki gunung Gamalama. Dari nama gunung inilah Dorce mengambil nama. Gunung yang sempat meletus pada tahun 2003  ini, berdiri angkuh mengawasi semua kegiatan di bawahnya. Diliputi <a title="Bagaimana Awan Terbentuk" href="http://lianaindonesia.wordpress.com/2006/12/18/bagaimana-awan-terbentuk/" target="_blank">awan-awan stratus</a> tipis, Gamalama turut menjadi saksi perebutan kursi Gubernur Maluku Utara.</p>
<p>Di sini, mayoritas wanita berjilbab. Bahkan seorang wanita bercadar ala burqa duduk tepat di belakang saya dalam penerbangan ini. Jejak syiar Islam terlihat di mana-mana. Sebuah masjid besar di pinggir pantai sedang dibangun oleh Pemda Kota Ternate. Di depan masjid-masjid yang tersebar di seluruh pulau, biasanya terdapat papan peringatan untuk menghormati orang yang sedang beribadah.</p>
<p>Malamnya, kami menikmati deretan penjaja makanan yang berjajar di tepi pantai Swering. Usai makan, kami menikmati sejenak sepoi angin laut di Swering. Swering adalah semacam tanggul penahan ombak yang memanjang sampai beberapa kilometer. Di atasnya, terdapat lahan luas yang dimanfaatkan sebagai pusat kuliner di malam hari. Di tanggul itu pula orang-orang bisa duduk dan menikmati laut. Bahkan sampai lewat tengah malam pun orang-orang masih bertahan di sana.</p>
<p>Hari kedua penugasan, kami menyeberang dari Ternate ke Tidore. Diantar sebuah speedboat yang bertolak dari Pelabuhan Bastiong, kami membelah laut yang memisahkan dua pulau itu hanya dalam tempo tujuh menit untuk kemudian merapat ke Pelabuhan Rum di Tidore. Di Rum, saya seolah melihat akuarium raksasa. Air laut di sana, Masya Allah, jernih sekali. Saking jernihnya saya bisa melihat dasar laut, dan juga ikan-ikan kecil yang berenang berkelompok melenggak-lenggok membiarkan dirinya dibawa arus air laut.Pandangan menembus air itu sensasinya bak melihat akuarium raksasa yang rajin dikuras dan dibersihkan serta dirawat oleh Pemiliknya.</p>
<p>Tidore lebih sepi daripada Ternate. Konturnya tak jauh beda dengan Ternate, yaitu sebuah pulau dengan gunung di pusatnya. Gunung Tidore bukanlah gunung aktif seperti Gamalama. Karakternya yang tenang diwariskan pada penduduk pulau ini. Kami pun menyusuri jalan lingkar pulau yang lazim disebut jalan Round untuk menuju komplek pemerintahan di Soa Sio. Dari Pelabuhan Rum, Kota Soa Sio berada di sisi sebaliknya dari pulau Tidore dan dapat dicapai dalam waktu setengah jam bermobil.</p>
<p>Pemandangan dari rumah dinas dan kantor pemerintahan menghadap ke laut lepas.</p>
<p>Pulang dari Tidore, kami sempat terhalang oleh demonstrasi di Kantor Gubernur Maluku Utara. Konflik Pilkada yang berlarut-larut membuat roda pemerintahan Provinsi terhambat. Beberapa berpendapat, konflik ini gara-gara orang luar Maluku Utara. Tentu yang dimaksud adalah Pak Mendagri Mardiyanto. Kata orang-orang itu, kalau urusan diserahkan pada orang Makuku Utara sendiri, sudah selesai dari dulu.</p>
<p>Dalam penerbangan pulang, saya melihat pramugari sedang membuka ponsel di atas pesawat. Hehehe.. setuju! Belum ada pembuktian ilmiah mengenai pengaruh sinyal ponsel terhadap sistem navigasi atau apapun dari pesawat. Malah, pembuktian membuktikan amannya menggunakan ponsel. Hanya saja ketika kita terbang terlalu tinggi, tidak ada sinyal. Tapi saya baru berani menyalakan ponsel kalau menggunakan pesawat propeler alias berbaling-baling. Kalau menunggang pesawat jet yang alatnya canggih, saya masih mematikan ponsel.</p>
<p>Aaarrgghhh&#8230; perjalanan pulang ke Jakarta benar-benar melelahkan. Kami harus transit dua kali. Penerbangan connecting siang hari ternyata menuntut kami untuk mendarat di Manado dan Makassar. Hasilnya, badan pegal-pegal dan mood jadi buruk. Badan sudah terlalu capek untuk dibawa tidur, mata sudah terlalu lelah untuk membaca, batere mp3 player sudah terlalu lemah untuk memperdengarkan alunan murottal. Dan lagi di Jakarta kami tidak mendapati pemandangan indah seperti di Maluku, malah disambut dengan kemacetan sepulang kerja.</p>
<p>AAARRGGGGHHHHHHHHHHHH&#8230;&#8230;.!!!!!!!!!!!!!!!!!!</p>
<p><strong>Foto-foto menyusul. Lagi gak bisa upload.</strong></p>
<p>Update: Perspektif gambar uang seribu bisa didapat <a title="Andreas Harsono: Perspektif Seribu rupiah" href="http://andreasharsono.blogspot.com/2005/11/gambar-uang-rp-1000.html" target="_blank">dari arah Gambesi</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/07/11/untaian-permata-hijau-tidore-dan-ternate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surabaya</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/09/24/surabaya/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/09/24/surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 02:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turis Dinas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/09/24/surabaya/</guid>
		<description><![CDATA[Selain perjalanan dinas ke tempat yang terlalu jauh, tujuan yang terlalu dekat juga membuat orang-orang di kantor pikir2. Sepertinya tujuan dinas ke pulau Jawa justru hitung-hitungannya rugi. Mungkin karena standar perjalannnya tidak menggunakan pesawat. Peraturan hanya membolehkan menggunakan kereta api untuk tujuan di pulau Jawa.
Tapi saya nekad saja.. Biar nombok asal badan masih elok. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selain perjalanan dinas ke tempat yang terlalu jauh, tujuan yang terlalu dekat juga membuat orang-orang di kantor pikir2. Sepertinya tujuan dinas ke pulau Jawa justru hitung-hitungannya rugi. Mungkin karena standar perjalannnya tidak menggunakan pesawat. Peraturan hanya membolehkan menggunakan kereta api untuk tujuan di pulau Jawa.</p>
<p>Tapi saya nekad saja.. Biar nombok asal badan masih elok. Saya pun memilih menggunakan pesawat menuju daerah tujuan kali ini, Pasuruan. Via Surabaya tentunya, karena di Pasuruan tidak ada bandara komersial. Hanya ada pangkalan udara militer milik TNI AU. Harga tiket pesawat yang semakin murah (hanya beda puluhan ribu dengan kereta eksekutif) menguatkan pilihan saya.</p>
<p>Penerbangan malam ke Surabaya saya menggunakan maskapai Lion-Wings penerbangan pukul 21.20. Saya masih ingat keluhan menggunakan Boeing 737-900 ER ke Balikpapan yang terlalu lama loading penumpang. Namun kali ini, pukul 21.00 para penumpang sudah diminta untuk boarding. Mungkin maksudnya supaya pas jam 21.20 udah siap take off. Perbaikan dari <a title="Long Time Boarding @ Boeing 737-900 ER" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/#longtimeboarding">keluhan saya sebelumnya</a>.</p>
<p><img title="Night Flight" src="http://farm2.static.flickr.com/1137/1429842407_fa24df36c6.jpg?v=0" alt="Night Flight" width="450" height="338" /><br />
<span id="more-32"></span><br />
Mendarat di Surabaya, saya sudah ngantuk-ngantuk sejak di pesawat. Ketika dijemput oleh Oom di Bandara Juanda malah sempet ketlisiban. Oom menjemput di pintu kedatangan Internasional, sementara saya ada di kedatanangan domestik. Mungkin karena Juanda sudah mengoperasikan bandara baru, Oom jadi keki. Memang gede tenan.</p>
<p>Paginya saya berangkat ke Pasuruan menggunakan bus. Rute ke Pasuruan melewati Sidoarjo. Tepat setahun dan 50 hari setelah semburan lumpur menerjang (perkiraan waktu ini saya baca di tagline koran, bukan bener-bener menghitung), saya berkesempatan melihat langsung dahsyatnya bencana lumpur ini. Walaupun cuma melihat dari dalam bus, nggak sempet turun, suasana bencana benar-benar terasa.</p>
<p><img title="Tol Porong" src="http://farm2.static.flickr.com/1060/1429859931_2458464e4c.jpg?v=0" alt="Tol Porong" width="327" height="245" /></p>
<p><img title="Jalan Raya Porong" src="http://farm2.static.flickr.com/1206/1429863961_bc121d416d.jpg?v=0" alt="Jalan Raya Porong" width="327" height="245" /></p>
<p><img title="Jalan Raya Porong" src="http://farm2.static.flickr.com/1252/1430737888_1cf59c4108.jpg?v=0" alt="Jalan Raya Porong" width="327" height="245" /></p>
<p><img title="Jalan Raya Porong" src="http://farm2.static.flickr.com/1175/1429860409_eabdfbf07a.jpg?v=0" alt="Jalan Raya Porong" width="327" height="245" /></p>
<p>Sejak keluar dari tol Gempol-Porong, aliran kendaraan mulai terhambat. Plus asap mulai terlihat. Bau tidak terlalu mengganggu. Dari pinggir jalan terlihat jelas tanggul, rel kereta dan lumpur serta asap. Selama kurang lebih 20 menit, kami disuguhi pemandangan mengerikan ini. Rumah, sekolah, pabrik, toko, semua bangunan luluh lantak diterjang lumpur. Masa depan anak-anak terampas. Tidak bisa sekolah, tidak bisa bertempat tinggal, dan tidak bisa bermain. Saya hanya bisa berharap semoga peristiwa ini segera ditangani dengan bijaksana.</p>
<p><img title="Kali Porong" src="http://farm2.static.flickr.com/1010/1429863647_ddcb8ce158.jpg?v=0" alt="Kali Porong" width="327" height="245" /></p>
<p><img title="Kali Porong" src="http://farm2.static.flickr.com/1222/1429863147_0571a9e695.jpg?v=0" alt="Kali Porong" width="327" height="245" /></p>
<p>Sesampainya Di kantor Pemda Pasuruan, saya ketemu pak Rachmat, Kabag TU Dispenda. Pemda Kab Pasuruan ini lucu, karena lokasi perkantorannya justru di dalam Kota Pasuruan, bukan di Bangil atau wilayah Kab. Pasuruan. “Nanti dipindah semua ke wilayah Kabupaten, Mas”, kata seorang staf Dispenda yang mengantarkan saya pulang.</p>
<p>Sayangnya saya nggak sempet ke Alas Tlogo. Lokasi kejadian penembakan warga oleh Marinir karena urusan tanah. Dulu rakyat membantu TNI memerangi penjajah. Sekarang rakyat sama TNI rebutan tanah. Rakyat memang harus sadar hukum, tapi TNI mustinya lebih punya hati untuk menghadapi rakyat. Selesaikan semua di pengadilan, bukan main paksa pake senjata. Kedepankan musyawarah dan media arbitrasi. Sekali senjata menyalak ke rakyat, lukanya tak akan hilang bergenerasi.</p>
<p>Di Surabaya ini saya ketemu sama adik sepupu yang udah punya anak. Tapi di sini keponakan saya tidak dibahasakan oleh ortunya untuk memanggil saya dengan Pakde (seperti kebiasaan keluarga Ibu saya) atau Uwak (kebiasaan keluarga Ayah saya), tapi saya dipanggil Pak Puh (Bapak Sepuh). Tapi pronounce Puh nya itu kayak Pooh gitu.. <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pulang ke Jakarta pake Wings lagi, tapi kali ini tidak menggunakan ER. Mungkin MD 80 atau 92. Di waiting room orang-orang ramai menonton partai terakhir penyisihan Piala Asia , Indonesia vs Korsel. Yang ngedukung banyak lho! Praktis di seluruh tempat yang ada tivinya di Bandara, dipenuhi oleh supporter Indonesia. Foto menunjukkan suasana tegang di Gate 3 Bandara Juanda.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1347/1429917981_e9dba10ef5.jpg?v=0" alt="" width="450" height="338" /></p>
<p>Ketika saya dipanggil masuk ke pesawat, pertandingan juga turut berakhir. Indonesia kalah 1-0. Bagi saya nggak apa-apa kalah, asal terhormat. Nggak cuman bisa nyalah-nyalahin wasit.</p>
<p>Alhamdulillah perjalanan kali ini sangat-sangat lancar buat saya. Semua jadwal terukur dan dapat ditepati dengan baik. Tidak ada delay penerbangan, hambatan kemacetan atau sebab-sebablain yang bisa mengganggu perjalanan saya. Mungkin karena saya tidak menggunakan maskapai yang satu ini, yang menawarkan keramahtamahan para Bonek <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Just kidding lho Air Asia.. Saya sudah membuktikan mutu layanan Anda kok ketika kebagian jatah perjalanan dinas ke Palembang. Nanti saya ceritakan deh..</p>
<p><img title="Bonek Naik Pesawat" src="http://farm2.static.flickr.com/1042/1429999647_4806291a92.jpg?v=0" alt="Bonek Naik Pesawat" width="450" height="338" /></p>
<p>Perjalanan kali ini memberikan kontradiksi bagi saya. Ketika berkesempatan mengunjungi beberapa tempat di Kalimantan, saya justru disuguhi pemandangan optimis atas hasil alam Indonesia. Di <a title="Ketapang" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/08/21/perjalanan-nekad-ke-ketapang/">Ketapang</a>, saya melihat karamba-karamba tersebar di muara. Di <a title="Tanah Bumbu" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/tanah-bumbu-yang-indah/">Tanah Bumbu</a> banyak potensi pertambangan yang menunggu untuk dieksplorasi. Sementara di <a title="Paser" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/">Pasir</a>, jalur transportasi yang makin mapan turut menunjang perkembangan ekonomi. Tidak lupa di <a title="Pangkalan Bun" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/pangkalan-bun-kota-manis/">Pangkalan Bun</a> rupanya sudah sejak lama menjadi tujuan orang-orang dari seluruh penjuru Nusantara karena daya tarik bisnis pertambangan.</p>
<p>Sementara di Jawa yang katanya pusat perkembangan justru didera bencana yang tak keruan. Ada yang disebabkan bencana alam, atau keserakahan oknum penguasa. Ada pula kelalaian yang membahayakan keselamatan umum.</p>
<p>Mudah-mudahan Indonesia segera pulih. Aman terkendali. Seperti laporan polisi kepada komandan dan rekannya, “8-6, 8-6, Ndan!”.</p>
<p>Mudah-mudahan Indonesia segera bangkit. Dan segera maju. Maju orangnya, maju ekonominya, maju teknologinya, maju pula prestasi olah raganya. Jangan mundur lagi. Malu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/09/24/surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pangkalan Bun Kota Manis</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/pangkalan-bun-kota-manis/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/pangkalan-bun-kota-manis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Sep 2007 08:03:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turis Dinas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/pangkalan-bun-kota-manis/</guid>
		<description><![CDATA[Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi satu-satunya daerah tujuan dinas yang saya mencapainya tanpa melalui ibukota Provinsi. Mari kita bandingkan dengan rute perjalanan lainnya: Untuk ke Pasir saya terbang ke Balikpapan dulu, ke Tanah Bumbu via Banjarmasin, dan ke Ketapang melalui Pontianak. Namun perjalanan ke Pangkalan Bun ini justru saya tempuh melalui rute Jakarta  &#8211; Semarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi satu-satunya daerah tujuan dinas yang saya mencapainya tanpa melalui ibukota Provinsi. Mari kita bandingkan dengan rute perjalanan lainnya: Untuk ke <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/">Pasir</a> saya terbang ke Balikpapan dulu, ke <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/tanah-bumbu-yang-indah/">Tanah Bumbu</a> via Banjarmasin, dan ke <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/08/21/perjalanan-nekad-ke-ketapang/">Ketapang</a> melalui Pontianak. Namun perjalanan ke Pangkalan Bun ini justru saya tempuh melalui rute Jakarta  &#8211; Semarang  &#8211; Pangkalan Bun.Dari Semarang, saya menggunakan <a href="http://kalstaronline.com/">Kalstar</a> atau juga dikenal dengan nama <a href="http://www.trigana-air.com/">Trigana</a>. Ini merupakan pengalaman pertama saya menggunakan pesawat perintis. Benar saja, ada beberapa kejadian yang tidak biasa saya temui seperti di penerbangan komersial biasa.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="transparent" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/kuKhfbUaKG0" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/kuKhfbUaKG0" wmode="transparent"></embed></object></p>
<p><span id="more-30"></span><br />
Hal pertama yang berbeda dari penerbangan yang biasa saya temui adalah selain barang yang masuk bagasi, penumpang juga perlu ditimbang. Saya pikir ini kebiasaan yang baik, yang mustinya juga diberlakukan pada penerbangan komersial umumnya. Mungkin juga karena pesawat ATR-42 bermesin baling-baling yang digunakan memiliki batas daya tolak yang tidak sekuat pesawat bermesin jet.<img title="Pesawat Perintis" src="http://farm2.static.flickr.com/1382/1374879829_e58f8f4d4b.jpg?v=0" alt="Pesawat Perintis" width="450" height="360" /></p>
<p>Yang kedua adalah bentuk boarding pass yang seperti kartu penitipan barang. Ketika boarding, boarding pass ini ditarik dari penumpang di gate. Mungkin ini bentuk penghematan maskapai perintis.</p>
<p><img title="Boarding Pass Kalstar" src="http://farm2.static.flickr.com/1077/1374877153_7d10855cd1.jpg?v=0" alt="Boarding Pass Kalstar" width="400" height="320" /></p>
<p>Hal ketiga yang menambah keheranan saya adalah penumpang tidak mendapat nomor tempat duduk. Artinya, begitu sampai ke pesawat, penumpang bebas memilih kursi. Saya memilih kursi yang tidak jauh dari pintu masuk. Alasannya sederhana, nanti ketika mendarat lebih cepat keluar dari pesawat.</p>
<p>Perjalanan Semarang-Pangkalan Bun saya tempuh dalam waktu 1 jam. Cuaca cukup cerah. Kesan penerbangan dengan pesawat bermesin baling-baling memang berbeda dibanding dengan pesawat bermesin jet. Soal kenyamanan, pesawat jet jelas lebih unggul. Tapi pesawat berbaling-baling (propeler) memiliki hentakan yang lebih terukur. Kita tahu kapan pesawat akan menambah kecepatan atau sebaliknya. Di pesawat jet, situasi yang paling tidak nyaman bagi saya adalah saat-saat menjelang mendarat. Saya harus berkali-kali menyeimbangkan tekanan di telinga dengan cara memencet hidung dan menghembuskan nafas. Saya juga paham, bahwa landing adalah saat-saat paling sulit bagi seorang pilot. Bagaimana menghentikan pesawat yang berbobot puluhan ton dan berkecepatan tinggi hanya dengan sarana landasan pacu yang panjangnya beberapa ratus meter.</p>
<p>Mendarat di bandara Pangkalan Bun, hujan sore hari langsung menyambut kedatangan saya. Untungnya rekan-rekan dari Pemda setempat telah menjemput. Saya pun diantar ke penginapan untuk beristirahat. Besok masih ada pekerjaan yang menunggu.</p>
<p><img title="Kantor Bupati Pangkalan Bun" src="http://farm2.static.flickr.com/1019/1374874157_d3d2e54c0d.jpg?v=0" alt="Kantor Bupati Pangkalan Bun" width="450" height="360" /></p>
<p>Makanan di Pangkalan Bun didominasi ikan.Atau setidaknya bercita rasa ikan. Ketika sudah bosan dengan ikan, saya memesan nasi goreng. Ternyata aromanya ikan juga!</p>
<p><img title="Sarapan" src="http://farm2.static.flickr.com/1435/1375789044_f860afabce.jpg?v=0" alt="Sarapan" width="450" height="360" /></p>
<p>Kota Pangkalan Bun tidak terlalu besar. Komplek perkantoran Pemda terpusat di salah satu sudut kota. Ruang kota yang lain diisi dengan hotel, ksatrian TNI, pusat perbelanjaan (yang sudah tutup sore hari), masjid, dan rumah penduduk. Ada satu dua warnet. Saya sudah mencoba keduanya <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Angkutan umum tersedia mengelilingi kota. Tersedia sampai malam hari. Sopirnya ada yang bersuku Jawa. Rekan Pemda yang menerima saya sempat berpromosi, “Di sini mau cari mobil plat apa aja ada Pak. Dari Jawa biasanya B, L, N, M, AD, AB, H, banyak. Dari Kalimantan bisa dipastikan lengkap, DA, KT, KB, KH. Dari Sumatra pun ada, BK!” Kota Pangkalan Bun memang menyimpan daya tarik industri pertambangan yang mampu menarik orang-orang dari seluruh penjuru Nusantara. Bahkan dari mancanegara.</p>
<p>Di tengah kota, berdiri Istana Kuning. Saya masih kekurangan informasi ttg hal ini. Rekan dari Pemda juga tidak memberikan informasi yang memuaskan. Hanya sekedar, &#8220;warisan dari kerajaan jaman dahulu&#8221;. Hanya saja beliau mengabarkan bahwa masih ada keturunan bangsawan sampai saat ini. Bahkan ada yang berkarir di Pemda. Mungkin sejarah tentang bangunan ini kita tanyakan saja ke <a href="http://irwan.web.id/pangkalan-bun/">rekan yang berasal dari sana</a>.</p>
<p><img title="Istana Kuning" src="http://farm2.static.flickr.com/1253/1375779546_81c88947b3.jpg?v=0" alt="Istana Kuning" width="450" height="360" /></p>
<p>Saya menginap di Hotel [lupa namanya], apa ya? Letaknya di samping Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP-PBB), tapi karena nggak mampir, saya cuman mengabadikannya lewat foto aja <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img title="KP PBB Pangkalan Bun" src="http://farm2.static.flickr.com/1296/1375041469_03e83a8a80.jpg?v=0" alt="KP PBB Pangkalan Bun" width="450" height="360" /></p>
<p>Sayang sekali jadwal kedatangan saya bertepatan dengan training ESQ untuk para pejabat Pemda Kotawaringin Barat. Saya pun hanya bisa menemui beberapa pejabat yang tersisa di lingkungan kantor Pemda. Untungnya, data yang diinginkan bisa didapat.</p>
<p>Hari terakhir berada di kota ini, saya menyempatkan diri membeli sebilah Mandaw titipan teman (halo Papanya Alfando), juga membeli beberapa perhiasan berhiaskan batu-batuan untuk istri tercinta. Namanya juga dinas, nggak sempat ada waktu tersisa untuk senang-senang. Padahal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Tanjung_Puting">Taman Nasional Tanjung Puting</a> sebenarnya menarik juga untuk dikunjungi.</p>
<p>Dari hotel, saya pun diantar taksi ke bandara. Rute perjalanan pulang tidak berubah, transit di Semarang lalu disambung penerbangan ke Jakarta. Oh ya, pemesanan tiket Semarang-Jakarta saya dibantu oleh Pak Hiens. Nah, waktu memesan tiket ke Jakarta ada kesalahpahaman sehingga beliau membelikan saya dua tiket. Yang namanya rejeki nggak lari kemana, ada seorang ibu muda yang satu pesawat dari Pangkalan Bun, ternyata belum mendapat tiket ke Jakarta. Padahal saat itu peak season. Tiket-tiket habis terjual. Si ibu ini akhirnya menggunakan kelebihan tiket hasil pesanan saya. Alhamdulillah..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/pangkalan-bun-kota-manis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanah Bumbu yang Indah</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/tanah-bumbu-yang-indah/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/tanah-bumbu-yang-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Sep 2007 07:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turis Dinas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/tanah-bumbu-yang-indah/</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan dinas ke Tanah Bumbu adalah perjalanan pembuka saya ke Kalimantan tahun ini. Setelah ke Tanah Bumbu, saya dijadwalkan mengunjungi Pasir di Kaltim, Ketapang di Kalbar dan Pangkalan Bun di Kalteng. Perjalanan ini bisa jadi adalah perjalanan terunik. Sampai dengan hari H, contact person di tempat tujuan tidak dapat dihubungi. Tak disangka, beberapa hari sebelumnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjalanan dinas ke Tanah Bumbu adalah perjalanan pembuka saya ke Kalimantan tahun ini. Setelah ke Tanah Bumbu, saya dijadwalkan mengunjungi <a title="Pasir" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/">Pasir di Kaltim</a>, <a title="Ketapang" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/08/21/perjalanan-nekad-ke-ketapang/">Ketapang di Kalbar</a> dan <a title="Pangkalan Bun" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/pangkalan-bun-kota-manis/">Pangkalan Bun</a> di Kalteng. Perjalanan ini bisa jadi adalah perjalanan terunik. Sampai dengan hari H, contact person di tempat tujuan tidak dapat dihubungi. Tak disangka, beberapa hari sebelumnya, direktur RSUD Kab. Tanah Bumbu justru datang ke kantor saya. Akhirnya saya pun nunut (Jawa, mengikut) beliau pasrah bongkokan (Jawa, pasrah sepenuhnya) gimana caranya bisa sampai ke ujung tenggara pulau Kalimantan.</p>
<p><img title="Tanah Bumbu" src="http://farm2.static.flickr.com/1208/1400248666_20d46fdef0.jpg?v=0" alt="Tanah Bumbu" width="450" height="360" /></p>
<p><span id="more-29"></span></p>
<p>Kenapa tiap perjalanan dinas saya diwanti-wanti oleh atasan untuk selalu menghubungi contact person terlebih dahulu, karena memang tidak semua perjalanan dinas saya ke daerah-daerah yang mudah dicapai. Tentu kita semua tidak menginginkan ada berita tentang pegawai pusat yang tersesat nggak ada juntrungnya di tengah hutan Kalimantan. Apalagi perjalanan ke Tanah Bumbu yang merupakan kabupaten pemekaran dari Kab. Kota Baru ini memang membutuhkan stamina lebih. Tanah Bumbu hanya bisa dicapai melalui perjalanan darat selama 10 jam dari Banjarmasin. Tadinya ada penerbangan perintis ke kota ini, namun karena alasan perijinan landasan pacu yang bukan dimiliki oleh otoritas penerbangan resmi maka untuk sementara penerbangan dihentikan. Pantas saja saya kebagian daerah tujuan ini. Mungkin karena paling muda di kantor jadi saya dianggap paling kuat. Padahal sih tukang mabok..</p>
<p>Dari Banjarmasin, kami berangkat malam hari. Mobil bermesin diesel yang dikemudikan sendiri oleh pak dokter Direktur RSUD melesat menuju timur. Perjalanan yang nyaman hanya berlangsung kurang lebih 6 jam. Selepas menyisir pantai selatan Kalimantan, jalanan mulai tak rata. Kendaraan kami harus mengerem tiap 200 meter. Jalanan rusak berat karena memang kondisi tanah di sini tidak memungkinkan untuk dibalut aspal. Aspal tidak bisa ditaburkan begitu saja seperti di Jawa. Urat-urat air di bawah tanah akan segera menggerus aspal di atasnya.</p>
<p><img title="Jalanan aspal tergerus urat air" src="http://farm2.static.flickr.com/1037/1400245828_3d3d64274e.jpg?v=0" alt="Jalanan aspal tergerus urat air" width="400" height="320" /></p>
<p>Di Batu Licin, ibukota Tanah Bumbu, kami menginap di Hotel Ebony. Sebuah hotel yang masih baru bergaya modern. Tempatnya sangat nyaman. Tidak terasa bahwa saya sebenarnya berada di ujung tenggara Kalimantan. Tempat dimana sama jauhnya menuju ke Banjarmasin atau ke Balikpapan.</p>
<p>Komplek perkantoran Pemda Tanah Bumbu dipusatkan di pedalaman. Suatu pemikiran yang bagus, karena pembangunan kantor di sana akan menarik orang-orang untuk berkembang ke arah utara. Tidak melulu berkumpul di pinggir jalan lintas provinsi saja.</p>
<p>Yang dibangun agak terpisah justru gedung DPRD. Letaknya sudah mulai di luar kota ke arah Jorong. Saat itu, pembangunan gedung ini sedang berjalan.</p>
<p><img title="Gedung DPRD Tanah Bumbu" src="http://farm2.static.flickr.com/1302/1399387509_d709dd80b3.jpg?v=0" alt="Gedung DPRD Tanah Bumbu" width="400" height="320" /><br />
Sementara di Pagatan, ada pelabuhan yang menghubungkan daerah ini dengan Kota Baru. Satui juga wilayah yang sangat penting bagi Tanah Bumbu. Konon, aspirasi pemekaran wilayah Tanah Bumbu dari Kota Baru digalang di daerah ini.<br />
Sinyal telepon seluler pun tidak mengalami hambatan. Saya sebagai pengguna Indosat tidak kekurangan sinyal. Demikian pula Dadang, rekan perjalanan saya yang menggunakan Telkomsel. Sinyal penuh. Pulsa kosong. <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1070/1398962797_8ead10d3bb.jpg?v=0" alt="" width="421" height="336" /> <img src="http://farm2.static.flickr.com/1183/1398965119_efe5bf15c8.jpg?v=0" alt="" width="421" height="336" /></p>
<p>Tanah Bumbu memiliki potensi pertambangan yang luar biasa. Bahkan bisa-bisanya setiap perusahaan pertambangan memiliki pelabuhan sendiri-sendiri. Sangat tidak efisien dan merusak alam. Mustinya cukup satu pelabuhan yang ditangani secara professional saja sudah cukup. Dengan banyak pelabuhan seperti ini, juga akan menurunkan system pengendalian. Pemda tidak bisa sepenuhnya mengawasi keluar masuk barang dan hasil alam.</p>
<p>Produksi kehutanannya juga menjanjikan. Bandara yang saya sebut sedang ditutup itu pun bekas sebuah perusahaan penebangan.</p>
<p>Kabupaten Tanah  Bumbu sendiri baru terbentuk tahun 2003 melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003. Dana Perimbangan dari pemerintah pusat pun baru dikucurkan tahun 2004.</p>
<p>Dua hari, satu malam saya berada di kota ini. Ketika tiba waktunya untuk pulang, entah rejeki apa, kebetulan pula pak dokter direktur RSUD pun ada keperluan di Banjarmasin. Tak menolak tawara beliau, kami pun numpang beliau lagi kembali ke Banjarmasin. Pak dokter satu ini memang hobi mengemudi. Mungkin mirip dengan pak Gubernur Aceh yang kabarnya jagoan rally itu. Istimewanya, karakteristik mengemudi Pak dokter justru lebih cocok dengan mobil bermesin diesel. Dasar pejabat, hampir semua mobil di RSUD yang beliau pimpin, mulai mobil operasional sampai ambulans,  bermesin diesel.</p>
<p>Berbeda dengan perjalanan berangkat, kali ini kami bisa menikmati pemandangan karena perjalanan berlangsung di siang hari. Dan benar saja, saya pun dimanjakan dengan pemandangan-pemandangan landscape yang lebih indah dari wallpaper Windows XP. Hutan yang asri, hijau lebat, diseling padang rumput yang luas. Sempat saya melamunkan asyiknya berkuda di sana. Mengelilingi ranch berisi sekawanan ternak (halah cowboy banget). Sayangnya kamera yang digunakan tidak memadai untuk menangkap keindahan di depan mata.<br />
<img title="Lebih indah dari wallpaper Windows" src="http://farm2.static.flickr.com/1092/1399368945_ce0adb9914.jpg?v=0" alt="Lebih indah dari wallpaper Windows" width="363" height="290" /> <img title="Lebih indah dari wallpaper Windows bo.." src="http://farm2.static.flickr.com/1211/1400283606_09f2046e3b.jpg?v=0" alt="Lebih indah dari wallpaper Windows bo.." width="363" height="290" /> <img title="Lebih indah dari wallpaper Windows bo.. beneran.." src="http://farm2.static.flickr.com/1143/1399393237_c1219cb4c5.jpg?v=0" alt="Lebih indah dari wallpaper Windows bo.. beneran.." width="363" height="290" /> <img title="Lebih indah dari wallpaper Windows bo.. beneran.. dijamin!" src="http://farm2.static.flickr.com/1133/1399852494_2f7abb3027.jpg?v=0" alt="Lebih indah dari wallpaper Windows bo.. beneran.. dijamin!" width="363" height="290" /></p>
<p>Rute perjalanan kami dimulai dari Batu Licin &#8211; Satui &#8211; Kintap &#8211; Jorong &#8211; Pelaihari &#8211; Banjarbaru  dan akhirnya Banjarmasin. Di sekitar daerah Jorong kami sempat beristirahat sejenak.</p>
<p>Sesampainya di Banjarmasin, ternyata hanya tersisa dua jam sebelum pesawat kami berangkat. Saya pun tidak bisa berbelanja banyak. Hanya sempat membeli apa yang terseida di bandara saja. Titipan bang Anto dari kantor pun tidak terbeli. Sempat saya menitipkan titipan (halah integral dong..) yang dimaksud ke salah satu kerabat di Banjar. Dijawab, “Kalau cinderamata perahu karet nggak bisa dikirim via pos Bang. Terlalu lunak untuk masuk bagasi.” Ya sud, saya hanya bisa meneruskan jawaban ke sang penitip. Yang penting sudah usaha.</p>
<p>Perjalanan ke Tanah Bumbu memang unik. Disopiri pak dokter menjelajahi tanah yang sangat kaya alamnya, membuat saya optimis. Indonesia masih bisa maju! (Asal bener yang ngelola..)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/tanah-bumbu-yang-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>69</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Nekad ke Ketapang</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/08/21/perjalanan-nekad-ke-ketapang/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/08/21/perjalanan-nekad-ke-ketapang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 06:03:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turis Dinas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/08/21/perjalanan-nekad-ke-ketapang/</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan ke Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi perjalanan yang begitu mengkhawatirkan dan penuh ketidakpastian bagi saya. Alasan terbesar mengapa saya selalu menyiapkan segala sesuatunya dalam sebuah perjalanan sampai-sampai saya bisa memvisualisasikannya bahkan sebelum berangkat ke tujuan, adalah saya tidak ingin terlunta-lunta tak terurus di tempat yang saya tidak tahu harus meminta tolong ke mana. Apalagi kebanyakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Perjalanan ke Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi perjalanan yang begitu mengkhawatirkan dan penuh ketidakpastian bagi saya. Alasan terbesar mengapa saya selalu menyiapkan segala sesuatunya dalam sebuah perjalanan sampai-sampai saya bisa memvisualisasikannya bahkan sebelum berangkat ke tujuan, adalah saya tidak ingin terlunta-lunta tak terurus di tempat yang saya tidak tahu harus meminta tolong ke mana. Apalagi kebanyakan daerah tujuan dinas saya adalah daerah-daerah pemekaran yang miskin fasilitas dan belum memiliki infrastruktur yang memadai.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Masalah tiket pulang, contact person, penginapan dan hal-hal lain yang menimbulkan ketidakpastian “bagaimana nanti di tujuan” sedikit tertolong karena daerah tujuan perjalanan kali ini rupanya adalah sebuah kota yang sudah matang. Artinya, saya ternyata tidak perlu kesulitan mencari ATM, mendapatkan penginapan yang bersih, kemudahan mencapai daerah tertentu, dan menghubungi keluarga di rumah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><img title="Branwir menyambut gagal mesin" src="http://farm2.static.flickr.com/1419/1190414644_7ee23f727c.jpg?v=0" alt="Branwir menyambut gagal mesin" width="450" height="338" /></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kendala perjalanan dinas ke Ketapang, Kalimantan Barat kali ini sudah terasa sejak awal. Sampai dengan H-2, contact person di tujuan belum didapat. Akhirnya dengan bantuan orang Pemprov Kalteng, saya memantapkan diri untuk berangkat. Nekad lah..</span></p>
<p><span id="more-22"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Selepas mendarat di bandara </span><a title="Bandara Supadio" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_Udara_Supadio" target="_blank">Supadio</a>, <span lang="IN">Pontianak, saya dijemput pak Ade dan pak Alfian dari Pemprov. Kabar buruk yang pertama langsung saya dapatkan. Sore ini saya belum bisa melanjutkan perjalanan ke Ketapang. Pasalnya pesawat <a title="Maskapai Kalstar" href="http://kalstaronline.com/" target="_blank">Kalstar </a>yang seharusnya sore ini mengantarkan saya ke Ketapang mengalami pecah kaca jendela pilot 2 hari lalu. Akibatnya semua penumpang sejak dua hari lalu menumpuk menunggu penerbangan yang tertunda. Sementara pesawat Indonesia Air Transport (<a title="IAT" href="http://www.iat.co.id/" target="_blank">IAT</a>) yang juga melayani rute perintis ke Ketapang tidak terbang hari ini. Mungkin karena ada charteran. Saya terpaksa melewatkan satu malam di Pontianak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kabar buruk kedua, ternyata perjalanan dinas saya kali ini berbarengan dengan <a href="http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2007/07/09/1999.html" target="_blank">kedatangan Presiden SBY ke Pontianak</a>. Beliau dijadwalkan <a href="http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2007/07/09/2000.html" target="_blank">meresmikan penggunaan jembatan Kapuas II</a>. Tidak hanya itu, Bapak Presiden juga dijadwalkan <a href="http://www.appsi-online.com/2006/read.asp?newsID=41" target="_blank">membuka Rakernas APPSI</a>. Artinya selama 3 hari ini seluruh gubernur se-Indonesia berkumpul di Pontianak. Saya khawatir, penerbangan pulang ke Jakarta bisa terganggu. Bayangkan, jika satu orang gubernur saja membawa 5 staf, maka bisa diramalkan jika nanti tiket penerbangan akan ludes terpesan. Belum lagi dengan jadwal penerbangan yang akan terganggu oleh penerbangan Presiden. Yang saya dengar dari pak Ade, Presiden SBY membawa seluruh perlengkapan kunjungan dari Istana. Furniture, mobil dan bengkelnya, semua dibawa menggunakan Hercules dari Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal">Suasana pengamanan di dalam kota pun terasa lebih dibanding biasanya. Kami sempat makan siang di sebuah rumah makan di seberang kantor gubernur. Di halaman restoran, banyak orang-orang tegap gondrong berkumpul. &#8220;Mereka itu Intel&#8221;, kata pak Ade. Kantor gubernur memang menjadi home base Presiden SBY selama di Pontianak. Jadi, sedari tadi kami sebenarnya sudah diawasi karena masuk ke daerah Ring 1.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Keesokan harinya, saya meninggalkan Pontianak menuju Ketapang. Ketika menuju ke bandara, kami melihat pesawat Hercules yang take-off. Di bandara, untuk penerbangan Kalstar ke Ketapang ada yang berbeda dari pengalaman saya menggunakan Kalstar rute Semarang-Pangkalan Bun. Kami tidak ditimbang badan seperti pengalaman saya yang lalu. Setelah boarding saya menyempatkan bertanya kepada pramugari mengenai jenis pesawat yang saya tumpangi ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pesawat Kalstar ini berjenis <a title="ATR-42" href="http://en.wikipedia.org/wiki/ATR_42" target="_blank">ATR-42</a> buatan perusahaan patungan Perancis-Italia berkapasitas 42 penumpang. Pesawat ini sejenis dengan yang digunakan Indonesia Air Transport, hanya saja di pesawat IAT ada 2 kursi bagian belakang yang dimodifikasi menjadi dipan untuk mengangkut orang sakit. Harga tiket kedua maskapai tersebut tidak jauh berbeda. Kebanyakan penumpang yang sudah sering menggunakan jasa penerbanangan perintis, biasanya lebih memilih menggunakan Kalstar. Alasannya karena Kalstar lebih pasti dalam menepati jadwal penerbangannnya. Kabarnya, IAT sering tidak membuka penerbangan umum ketika pesawatnya sedang di-charter. “Hari ini terbang, tapi besok belum tentu”, demikian komentar seorang penumpang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kesibukan persiapan take-off di pesawat Kalstar yang menunggu di pinggir landasan pacu terbuyarkan oleh suara sirine ambulans dan pemadam kebakaran. Apalagi persiapan kendaraan-kendaraan darurat itu dilakukan di samping pesawat kami. Seorang teknisi Kalstar yang ikut terbang di dalam kabin sempat mendengar kabar dari radio menara pengawas. Ternyata pesawat Hercules yang tadi saya lihat sedang take-off mengalami kerusakan mesin yang menyebabkan satu mesin mati. Mumpung memang belum diperintahkan mematikan ponsel, saya menyempatkan mengabadikan beberapa momen ‘penyambutan’ pesawat yang mengalami peristiwa darurat.</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tanpa menunggu lagi, begitu pesawat Hercules menjejakkan roda-roda pendaratan di ujung landasan pacu, mobil pemadam, ambulans dan otoritas Angkasapura langsung mengejar pesawat ke ujung landasan. Sigap sekali. Mudah-mudahan respon seperti ini juga dipraktikkan di seluruh bandara di Indonesia. Tidak hanya tanggap darurat, tapi juga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, petugas harus sudah tahu harus melakukan apa. Tidak seperti peristiwa jatuhnya Garuda di bandara Adisucipto, Yogyakarta. Petugas provoost yang <a href="http://www.youtube.com/watch?v=NOROZS9m64U" target="_blank">tertangkap kamera</a> hanya bisa semprat-semprit peluit tanpa membantu proses evakuasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><img title="Hercules Gagal Mesin digelandang ke Hangar" src="http://farm2.static.flickr.com/1337/1190414656_959dd191b2.jpg?v=0" alt="Hercules Gagal Mesin digelandang ke Hangar" width="450" height="338" /></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Setelah kondisi terkendali, pesawat Hercules segera digelandang ke hanggar pangkalan udara TNI AU yg terletak di sisi bandara </span>Supadio<span lang="IN">. </span></p>
<p><span lang="IN">Perjalanan udara ke Ketapang hanya memakan waktu setengah jam. Jarak yang tidak terlalu jauh sebenarnya. Namun melihat medan yang dilewati, pantas saja bila alternatif perjalanan darat ataupun air ke Ketapang bisa memakan waktu lebih dari 6 jam. Kondisi alam yang saya lihat dari atas pesawat benar-benar tidak bersahabat untuk perjalanan darat. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan hijau hutan yang lebat. Sungai berkelok-kelok membelah daratan. Indah sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Untung saya tidak memilih menggunakan kapal. Bisa mabok saya. Kelokan-kelokan tajam aliran sungai mengalahkan tajamnya kelokan sirkuit Formula-1 ataupun Moto GP. Bisa dikatakan tidak ada jalur lurus melebihi satu kilometer. Setiap jalur lurus yang pendek, langsung disambung kelokan tajam berbalik arah 180 derajat. Di beberapa ujung kelokan ada juga orang yang membangun rumah ataupun dermaga kecil. Sayang kamera digital saya rusak, sementara memotret menggunakan kamera ponsel seperti yang saya lakukan ketika memotret Hercules tidak mungkin dilakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mendekati pendaratan di bandara Rahadi Osman, Ketapang, saya melihat bentuk-bentuk benda yang disusun berbentuk anak panah di dalam sungai. Setelah melihat dengan teliti ternyata itu adalah karamba. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Nama kota Ketapang sudah sering saya dengar, tapi ini adalah perjalanan pertama saya ke kota ini. Di pelajaran SD tahun </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kota Ketapang tidak terlalu besar. Tapi tertata rapi, bersih dan teratur. Semua sudut kota dapat dijangkau dalam hitungan menit. Orangnya pun ramah. Etnis Kalimantan, Tionghoa, Melayu dan Jawa berbaur dengan alami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya menginap di Hotel Perdana yang direkomendasikan teman sebagai hotel terbaik di sini. Di seberang hotel ada rumah walet yang berisik sekali. Di hotel ini sinyal Indosat tidak begitu bagus. Sampai-sampai saya kehilangan kontak dengan istri di Jakarta dan juga contact person di Ketapang. Akhirnya saya melewatkan waktu dengan menonton Indonesia vs Bahrain di putaran penyisihan piala Asia. Larut malam, saya kelaparan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Paginya, saya ke Dispenda dan Distamben. Urusan kantor pun diselesaikan. Kekhawatiran saya di awal perjalanan ini, susah pulang karena kebahisan tiket, segera direspon rekan-rekan di Distamben. Tiket pulang Ketapang-Pontianak didapat dengan menggunakan jatah kursi BRI. Kalstar-BRI memang memiliki kerjasama khusus dalam urusan jatah tiket. Kebetulan istri salah seorang pejabat Distamben adalah pejabat di BRI Ketapang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tiket Pontianak-Jakarta juga sukses diamankan oleh salah seorang staf Distamben. Rupanya adik beliau bekerja di salah satu maskapai penerbangan. Perjalanan pulang jadi jauh lebih nyaman daripada ketika berangkat. Keberangkatan ke Ketapang yang molor dua hari dapat disingkat dalam kepulangan ke Jakarta yang hanya membutuhkan waktu setengah hari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Siang itu sebelum kembali ke hotel untuk persiapan pulang, saya menyempatkan diri dolan ke KPPN Ketapang. Ya sekalian nyebar-nyebar isu kenaikan TC lah. Berita gemira kan harus dibagi-bagi, apalagi sama orang yang jauh dari rumah. Hahahahaha&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal"><img title="Sop Pontianak, Segar benar!" src="http://farm2.static.flickr.com/1374/1190414706_239666399d.jpg?v=0" alt="Sop Pontianak, Segar benar!" width="450" height="338" /></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Setelah itu saya menyempatkan diri makan siang. Bang Ibul yang setia mengantarkan saya selama di Ketapang merekomendasikan sebuah tempat makan khas Ketapang. Sop Pontianak, demikian tulisan yang terpampang di spanduk warung tersebut. Menu utamanya sop kambing. Setelah dijajal, wah segar benar! Terimakasih sarannya Bang Ibul!</span></p>
<p><span lang="IN">Di perjalanan ke bandara Ketapang, sebenarnya ada pemandangan yang sudah menggelitik saya ketika pertama menginjakkan kaki di kota ini, yaitu banyak sekali bertebaran iklan rokok Bheta! Hehehe.. mungkin saya yang bukan perokok ini nggak terlalu kenal merk-merk rokok ya, tapi saya masih tetep geli senyum-senyum sendiri di dalam hati. Soalnya merk rokok Bheta itu mirip banget sama nama seorang teman. Sama nama saya juga mirip sih.. cuman nggak ada Hotel-nya aja. Iklan rokok Bheta bertebaran dimana-mana, mulai dari spanduk yang biasa digelar di depan warung dan toko, mural di dinding-dinding ruko, neon box, baliho hiburan dangdut, sampai tempat sampah di bandara semua mencantumkan nama Bheta. Wah terkenal kowe mbah, <a title="Betha Aris Susanto" href="http://betha.nl/" target="_blank">Betha</a>!</span></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/79959373@N00/1190414690/" target="_blank"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1078/1190414690_7643f9e0b2.jpg?v=0" alt="" width="202" height="151" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/79959373@N00/1190414712/" target="_blank"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1317/1190414712_45a3b3d399.jpg?v=0" alt="" width="202" height="151" /></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/79959373@N00/1190414726/" target="_blank"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1043/1190414726_7e8e9bbcf4.jpg?v=0" alt="" width="202" height="151" /> </a><a href="http://www.flickr.com/photos/79959373@N00/1189567269/" target="_blank"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1331/1189567269_bdbfae378e.jpg?v=0" alt="" width="202" height="151" /></a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/79959373@N00/1189563223/" target="_blank"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1371/1189563223_5150c35e4b.jpg?v=0" alt="" width="202" height="151" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/79959373@N00/1189568779/" target="_blank"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1174/1189568779_742c9e136a.jpg?v=0" alt="" width="202" height="151" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Di Bandara Rahadi Osman, saya datang terlalu cepat. Seisi bandara masih lengang. Pintu ke ruang tunggu pun masih terkunci rapat. Di tengah kesepian itu saya justru tertarik pada tulisan berpigura yang menjelaskan sejarah tokoh Rahadi Osman sehingga diambil namanya sebagai nama bandara di Ketapang. Beliau adalah tokoh perjuangan dari golongan pemuda. Ketika Proklamasi, Rahadi Osman memimpin ekspedisi infiltrasi ke Kalimantan Barat melalui perjalanan laut ke Ketapang. Di sini rombongan ekspedisi terpergok oleh patroli Belanda. Akhirnya Rahadi Osman gugur, sebuah resiko yang sejak awal dia pahami betul, dalam misinya tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Satu quote yang saya sampai merinding membacanya adalah kata-kata beliau, “Kuburkan aku di tempat darahku menetes terakhir kali.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.flickr.com/photos/79959373@N00/1190425146/" target="_blank"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1164/1190425146_6e1000f276.jpg?v=0" alt="" width="360" height="270" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/79959373@N00/1190438920/" target="_blank"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1131/1190438920_8e09888bea.jpg?v=0" alt="" width="360" height="270" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mendekati jam keberangkatan, bandara Rahadi Osman mulai ramai didatangi penumpang. Sesama penumpang, seorang wanita tua etnis Tionghoa, dengan ramah melayani pembicaraan ringan seputar pelayanan transportasi. Beliau menceritakan kepada saya suka dukanya menggunakan perjalanan laut untuk jalur Ketapang-Pontianak. Pernah suatu kali perjalanan molor sampai 8 jam karena kondisi perairan yan kurang bersahabat. Pembicaraan semakin seru ketika seorang ibu lain ikut bergabung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pembicaraan terpotong ketika kedua ibu tersebut harus boarding karena pesawat mereka sudah tersedia. Kedua tempat duduk di samping saya digantikan oleh sebuah keluarga yang mengantarkan anaknya. Dilihat dari seragamnya, sang anak adalah siswa Taruna Bumi Khatulistiwa. Saya pun memperkenalkan diri sebagai <a href="http://www.ikastara.org/" target="_blank">alumni</a> <a href="http://www.taruna-nusantara-mgl.sch.id/" target="_blank">SMA Taruna Nusantara</a>. Pembicaraan segera berlanjut lancar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Satu hal penting yang saya tanyakan adalah mengenai kiprah Almarhum Kolonel Marinir Abdul Karim Usman, mantan Wakasek Kesiswaan SMA TN yang menjadi Kasek di Taruna Bumi Khatulistiwa. Pengalaman saya di bawah bimbingan beliau memang tidak terlupakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Melanjutkan perjalanan dari Pontianak ke Jakarta, saya masih harus menghadapi penundaan penerbangan. Waduh.. Capek juga. Menunggu benar-benar pekerjaan yang menguji ketahanan mental dan fisik. Singkatnya, penerbangan ke Jakarta berlangsung lancar setelah menunggu lebih dari empat jam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sesampainya di Jakarta pun, saya sudah kehabisan <a href="http://www.rotiboy.com/" target="_blank">Rotiboy</a> di Terminal 1B. Wah padahal mertua suka banget sama buns beraroma khas kopi ini. Maklum saya mendarat di Jakarta sudah jam 9 malam lebih.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><strong><em>Sneakpeak</em> Profil Keuangan Daerah Kabupaten Ketapang</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ketapang adalah kabupaten tua. Maksudnya, berbeda dengan daerah-daerah tujuan dinas saya lainnya yang biasanya adalah daerah pemekaran, Kabupaten Ketapang telah berbentuk <a href="http://ketapang.go.id/?pilih=hal&amp;id=8" target="_blank">Afdeling sejak tahun 1936</a>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Di wilayah kabupaten Ketapang yang mencapai luas </span>35.809<span lang="IN"> km2, terdapat beberapa Sumber Daya Alam yang cukup signifikan menopang keuangan daerah ini. Menurut <a href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2007/14~PMK.07~2007Per.HTM" target="_blank">Peraturan Menteri Keuangan nomor 14/PMK.07/2007 </a>tentang Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Pertambangan Umum, Ketapang direncanakan memperoleh Bagi Hasil sebesar Rp 3,2 Miliar. Pertambangan di daerah ini didominasi oleh pertambangan bauksit. Istimewanya, pertambangan di Ketapang tidak ada yang berijin Kontrak Karya (KK). Semuanya Kuasa Pertambangan (KP). Tentu hal ini menguntungkan Pemda setempat. Karena pengelolaan KP berada di tangan Dinas Pertambangan Pemda, sehingga Pemkab dapat lebih mengendalikan KP dibanding KK yang pengelolaannya berada di Dinas Provinsi. Apalagi jika ada PKP2B yang lebih rumit lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1094/1191081242_95a2b08e94.jpg?v=0" alt="" /></p>
<p class="MsoNormal">Geliat ekonomi di daerah Ketapang rupanya cukup baik dalam menyokong keuangan daerah. Terlihat dari proporsi antara Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam dibandingkan denganDBH Pajak. Ketergantungan APBD terhadap DBH SDA sebenarnya sangat riskan. Karakteristik penerimaan SDA yang sangat bergantung pada banyak variabel membuat tingkat kepastian penerimaannya sangat rendah. Apalagi jika dilihat dari perusahaan eksplorasi SDA yang biasanya adalah perusahaan asing. DBH Pajak lebih menyiratkan adanya kegiatan ekonomi di daerah tersebut. Sehingga ketahanan dan stabilitas keuangan daerah lebih mudah diramalkan melalui DBH Pajak.</p>
<p class="MsoNormal">Mirip dengan DBH SDA, Dana Dekonsentrasi pun sebenarnya memiliki keriskanan tersendiri bagi daerah. Pertama, penetapan Dana Dekon adalah wewenang Departemen Teknis. Penetapan besaran dana pun berada di luar wewenang daerah. Walaupun tentunya daerah masih bisa memberikan argumen melalui dinas, dengan menyuplai data dasar penetapan Dana Dekon. Alasan kedua, penggunaan Dana Dekon telah diatur oleh Departemen Teknis. Pemda tidak dapat lagi mengubah peruntukan dana dekon seperti pada Pendapatan Asli Daerah. Dalam penggunaan DBH SDA dan DBH Pajak, daerah memiliki keleluasaan yang luar biasa sama seperti penggunaan Dana Alokasi Umum (DAU).</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/08/21/perjalanan-nekad-ke-ketapang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kabupaten Pasir</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2007 04:22:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turis Dinas]]></category>
		<category><![CDATA[paser]]></category>
		<category><![CDATA[pasir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Pasir di Kalimantan Timur. Saya ditugaskan selama tiga hari untuk melakukan bimbingan teknis seputar Keuangan Daerah.
Dalam perjalanan ini banyak hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari kesempatan menaiki Boeing 737-900 ER, menyeberang selat Makassar menggunakan ferry kecil, perenungan yang dalam ketika jauh dari rumah, dll.
Dalam perjalanan Jakarta-Balikpapan, saya berkesempatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Pasir di Kalimantan Timur. Saya ditugaskan selama tiga hari untuk melakukan bimbingan teknis seputar Keuangan Daerah.</p>
<p>Dalam perjalanan ini banyak hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari kesempatan menaiki Boeing 737-900 ER, menyeberang selat Makassar menggunakan ferry kecil, perenungan yang dalam ketika jauh dari rumah, dll.</p>
<p>Dalam perjalanan Jakarta-Balikpapan, saya berkesempatan mencicipi pesawat terbaru di dunia, <a title="737-900 ER" href="http://www.boeing.com/commercial/737family/pf/pf_900ER_back.html" target="_blank">Boeing 737-900 ER</a>. Pesawat berkapasitas 215 penumpang tersebut baru dioperasikan oleh Lion Air sejak Senin, 30 April 2007 lalu. Bahkan <a href="http://www.kompas.com/ver1/Nasional/0704/30/095825.htm" target="_blank">peresmiannya</a> dilakukan oleh Jusuf Kalla.</p>
<p><img title="Lion 737-900 ER" src="http://farm2.static.flickr.com/1096/873505776_37fde7ec7e.jpg?v=0" alt="Lion 737-900 ER" /><br />
<span id="more-17"></span><br />
Pesawat baru tersebut cukup enak (ya iya lah, namanya juga pesawat baru..). Jarak antar kursi lebih luas dari Boeing 737-400 yang biasanya saya tumpangi. Pintu darurat pun tersedia lebih banyak, yaitu 2 di depan, 4 di tengah dan 4 di belakang. Saya duduk di kursi 20B, tepat di samping pintu darurat tengah. Tadinya saya sempat kecewa, karena berdasarkan pengalaman, biasanya pada Boeing 737-400 kursi di samping jendela darurat kurang nyaman dibanding kursi biasa. Beberapa kali saya menemui, sandaran kursi di samping jendela darurat tidak dapat di-adjust. Tapi ternyata hal tersebut tidak terjadi di <a href="http://www.boeing.com/commercial/737family/pf/pf_900ER_fact.html" target="_blank">Boeing 737-900 ER</a> ini. Mudah-mudahan bukan karena pesawat masih baru ya..</p>
<p>Pintu darurat juga memiliki mekanisme yang lebih mudah untuk dibuka. Cukup dengan menarik satu tuas dan mendorong pintu ke arah keluar. Tentu cara ini lebih sederhana daripada cara lama: tarik dua tuas atas-bawah, tarik sampai copot, baru dibuang ke luar.</p>
<p>Nah, empat pintu darurat di tengah itu letaknya bersebelahan. Di samping kursi baris nomor 19 dan 20. Sehingga evakuasi dapat dilakukan lebih cepat.</p>
<p>Di luar pintu darurat, terdapat simbol anak panah yang dicat di sayap pesawat untuk memandu arah evakuasi penumpang. Anak panah hitam putus-putus dicat di atas jalur berwarna kuning yang mengarah ke ekor pesawat. Panduan tersebut tentu sangat mempermudah penumpang yang umumnya panik dalam keadaan darurat.</p>
<p><img title="Boeing 737-900 ER Lion" src="http://farm2.static.flickr.com/1376/873505814_fdb662f117.jpg?v=0" alt="Boeing 737-900 ER Lion" /><br />
<a name="longtimeboarding"></a><br />
Satu hal yang membuat saya kurang nyaman mengendarai pesawat baru ini adalah lamanya waktu untuk masuk dan keluar pesawat. Wajar sih. Jika dalam keadaan penuh, berarti ada 215 orang yang antri untuk memasuki pesawat dari dua pintu saja. Di dalam pesawat juga hanya tersedia satu <em>aisle</em>/lorong di tengah pesawat. Padahal lebar kabin mencapai 3,5 meter. Di beberapa pesawat berkapasitas besar, terdapat dua aisle di dalam pesawat. Jadilah saya memilih untuk menunggu di luar pesawat menunggu penumpang lain boarding. Itung2 memberi kesempatan bagi yang membawa barang bawaan untuk meletakkannya di bagasi atas kepala.</p>
<p>Sambil menunggu, saya ngobrol2 dengan teknisi pesawat di bawah sayap pesawat. Dari beliau, saya mendapat info bahwa 737-900 ER ini baru satu-satunya yang sudah dicat dengan logo Lion Air. &#8220;Dua yang lain masih berwarna biru, asli dari Boeing, Mas&#8221;, jelasnya.</p>
<p>Dengan panjang 42 meter, pesawat ini memiliki lebar plus bentang sayap sepanjang 35 meter. Di ujung, sayap melengkung ke atas membentuk segitiga kecil. Mungkin untuk membuat gerakan abdominal lebih stabil.</p>
<p align="center">*   *   *</p>
<p>Perjalanan udara disambung dengan perjalanan darat yang tidak kalah serunya. Saya dijemput oleh dua rekan dari Pemda Pasir menggunakan Kijang Innova mobil operasional Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD). Kami menyempatkan makan siang di rumah makan di seberang RSUD Balikpapan. Wuah..menunya ikan semua. Saya memilih ikan Patin bakar, sementara Amrullah lebih suka Trekulu bakar, dan Zelli memesan Bawal bakar. Satu lagi menu yang tidak dapat saya lupakan, sayur pendamping yang hanya berupa sayur bening kol dan bayam itu benar-benar segar!</p>
<p>Dari Balikpapan, kami harus menyeberang ke Penajam. Saya sempat khawatir kami harus menunggu jadwal keberangkatan ferry. &#8220;Setiap setengah jam ferry diberangkatkan. Tidak perlu menunggu penuh&#8221;, jelas Zelli menenteramkan saya. Bahkan kami tidak perlu antri terlalu lama untuk dapat memasukkan mobil ke dalam ferry. Motor, mobil, dan truk ditata dengan baik di dek bawah kapal. Penumpang ditempatkan di dek bagian atas. &#8220;Sayang kita cuma dapat ferry ASDP, padahal lebih cepat kalau menggunakan KM. Tawes&#8221;, komentar Amrullah.</p>
<p>Lama penyeberangan mencapai 2 setengah jam. Ferry mengeluarkan suara peluit tiga kali sebelum berangkat. Perlahan, ferry melepaskan diri dari dok. Berputar, lalu berjalan mengarah ke haluan. Tidak terlalu cepat, ditambah sedikit bergoyang-goyang.</p>
<p>Di dek penumpang, terdapat dua dek untuk penumpang. Setiap dek memiliki sekitar 40 kursi berjajar yang menghadap ke sebuah televisi. Keduanya hanya dipisahkan oleh dinding. Penumpang bebas memilih duduk di mana saja.</p>
<p>Dek diisi oleh berbagai jenis penumpang. Ada yang bersama keluarga, ada pula yang bersama teman. Anak-anak berebut memilih duduk di samping jendela, berteriak-teriak senang sambil melambai ke kapal yang melintas. Orangtua sibuk memperingatkan untuk tidak terlalu menjulurkan badan keluar.  &#8220;Awas jatuh, nak!&#8221;, seorang ibu memerintahkan anak yang lebih tua untuk menjaga adiknya.</p>
<p><img title="Ferry Balikpapan-Penajam" src="http://farm2.static.flickr.com/1183/873505818_bb3eebc8ca.jpg?v=0" alt="Ferry Balikpapan-Penajam" /></p>
<p>Amrullah memilih tetap berada di mobil. Zelli terkantuk-kantuk duduk di samping saya. Saya menyempatkan menunaikan sholat Dhuhur dan Ashar di musholla kapal sebelum berangkat. Tertulis petunjuk di dinding musholla, &#8220;Arah Kiblat dari Penajam ke arah haluan serong kanan 20 derajat. Dari Sumber arah buritan serong kanan 20 derajat.&#8221;</p>
<p>Ferry berjalan bagai tersaruk-saruk.</p>
<p>Di Penajam, ferry harus menunggu setengah jam untuk dapat merapat ke dermaga. Mengantri dengan ferry lain yang masih bersandar. Ketika pintu ferry telah terbuka, petugas ASDP pun sibuk memandu kendaraan yang keluar ferry. Saya dan Zelli turun ke dermaga dari tangga samping, menunggu Amrullah mengeluarkan mobil melalui muster area. Saat mobil kami dipersilahkan keluar, tiba-tiba mobil di samping kami menyodok ingin keluar duluan. Kaca spion mobil kami terhantam badan mobil itu. Amrullah marah. Kami diminta cepat-cepat masuk mobil. Dikejarnya mobil itu sambil menekan klakson. Padahal Manorsa sedang menelpon. Jadilah saya berlari-lari mengejar mobil dengan ponsel terlekat ke telinga.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Kami mencapai Tanah Grogot pukul 20.00 WITA. Mampir ke RM. Depot Surabaya untuk makan malam. Tempatnya enak. Menunya kebanyakan masakan Jawa. Tersedia tempat makan lesehan, namun kami memilih duduk di kursi. Yang mencengangkan, di dinding terdapat TV Plasma berukuran super besar. Dari tempat paling ujung pun, gambar televisi terlihat jelas.Rupanya rumah makan ini menyediakan fasilitas karaoke. Petang itu alunan video klip Chrisye menemani pengunjung dari sound system yang terpasang baik.</p>
<p>Selesai makan, saya diantar ke Hotel Mama Rina. Sebuah penginapan dekat kantor Pemda. Saya berterimakasih kepada Amrullah dan Zelli yang telah mengurus kedatangan saya dengan baik.  &#8220;Besok kami jemput,&#8221; janji mereka.</p>
<p>Selepas melepas lelah, saya mengabari rumah mengenai kondisi saya. Sinyal Indosat yang turun naik membuat saya urung menelpon. Cukup dengan SMS yang itupun terkirim beberapa saat kemudian menunggu sinyal yang memadai. Untungnya Motorola C650 memiliki fitur auto-resend kalau gagal kirim.</p>
<p>&#8220;Dede Yasmin masih mencret,&#8221; kabar Ary istri saya. &#8220;Feses pertama besok pagi, dibawa ke lab ya..&#8221;, pinta saya. Kabar yang membuat hati saya terbang kembali ke Jakarta.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p><strong> Kerajaan Pasir</strong><br />
Kabupaten Pasir ini dahulunya adalah sebuah kerajaan bernama <a title="Kesultanan Pasir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pasir" target="_blank">Kesultanan Pasir</a>, atau dikenal juga dengan Kerajaan Sadurangas. Bahkan wilayahnya mencapai Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan [link travelling tanah bumbu]. <a title="Phetex Urang Banjar" href="http://phetex.urangbanjar.com/?p=59" target="_blank">Bambang Subiyakto</a> punya cerita tentang Kerajaan Pasir ini. Latar belakang sejarah Kesultanan Pasir cukup berpengaruh pada Kabupaten Pasir sekarang ini, sampai-sampai situs Pemda Pasir mencantumkannya dalam <a title="Sejarah Pasir" href="http://pasir.go.id/default.php?file=sejarah" target="_blank">sejarah pembentukan</a> daerah tersebut.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Keesokan harinya, saya dijemput agak siang. Amrullah yang datang.  &#8220;Maaf terlambat. Setelah apel pagi, tadi ada acara pemusnahan miras dipimpin pak Bupati&#8221;, dalihnya. Di depan gedung Pemda memang ada sebuah ekskavator berdiri gagah di samping tumpukan botol yang pecah. Aromanya luar bisa menusuk. &#8220;Tak perlu minum, cukup membaui saja juga bisa mabok,&#8221; canda saya.</p>
<p>Gedung Pemda Kabupaten Pasir bisa dibilang cukup bagus. Di atas rata-rata dibanding kantor-kantor pemda yang pernah saya kunjungi (biasanya saya dikirim ke daerah-daerah pemekaran atau terisolasi, jadi ya sarana pemerintahannya masih minim). Ruangan ber-AC. Terdiri dari 2 lantai. Luasnya kira-kira separuh lapangan bola.</p>
<p>Di lantai satu ada bidang Anggaran di sebelah kanan dan bidang Pendapatan di sebelah kiri pintu masuk. Kegiatan cukup ramai di Anggaran, sementara Pendapatan terlihat sepi. Orang-orang di Anggaran sibuk memroses SPP. Orang-orang Pendapatan sedang turun ke lapangan untuk mendata wajib pajak daerah.</p>
<p>Saya ditemui dengan baik oleh pak Syahdani, Kasubid Pendapatan. Saya pun menunaikan tugas yang menjadi maksud perjalanan dinas kali ini. Dua jam kami bertukar data saling mencocokkan. Beruntung, sebelum datang saya sudah mem-faks surat tugas sehingga rekan-rekan Tanah Grogot sudah menyiapkan apa-apa yang diminta. Sebaliknya, saya pun menyampaikan bimbingan teknis seputar masalah perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.</p>
<p>Usai tugas, kami ngobrol bebas. Pak Abdur Rohim, Kasubid Anggarang, ikut bergabung. Mereka bercerita tentang daerah Pasir. Pemekarannya dengan <a title="Penajam Paser Utara" href="http://www.penajam.go.id/home/index.php" target="_blank">Penajam</a>. Usia BPKD yang baru setengah bulan. <a href="http://hsecreport.bhpbilliton.com/2006/environment/caseStudies/rehabilitationAndClosure/petangisClosure.asp" target="_blank">Konservasi alam BHP di Petangis</a>. Dan banyak hal lagi.</p>
<p>Kebetulan pekan sebelum berangkat, Manorsa datang ke kantor kami. Beliau adalah personal assistant salah satu direktur di BHP Billiton. Manorsa membawakan sebuah buku berisi gambar-gambar yang cantik. Hutan yang hijau rimbun, rusa bebas berkeliaran, danau tempat berwisata, dan lain-lain. Siapa sangka danau itu bekas lokasi pertambangan. Pun demikian dengan hutan, tadinya adalah lahan gersang lokasi pertambangan.</p>
<p>Tiba-tiba ponsel bergetar, Ary istri saya menelpon. &#8220;Hasil lab dede Yasmin sudah keluar. Nanti sore dibawa ke DSA.&#8221; Aduh sedihnya hati ini. Buah hati sedang menderita di ujung lain lautan. Sementara saya menjalankan tugas pemerintah jauh di sana. Saya sampaikan kabar itu ke pak Syahdani dan pak Rohim. Saya utarakan niat saya untuk segera pulang ke Jakarta. Mereka pun sontak bahu-membahu membantu saya. Pak Syahdani mengoordinasi. Zelli memesankan tiket. Amrullah menyiapkan kendaraan. &#8220;Urusan anak memang tidak boleh dianggap remeh&#8221;, hibur pak Rohim.</p>
<p>Saya sempat khawatir, di tengah musim liburan sekolah seperti ini masih adakah tiket yang tersisa. Kalau pun ada, tentu harganya melambung. Untung, Zelli ada kawan di travel yang pandai mencarikan tiket. Saya pun dapat penerbangan pukul 18.55 WITA. Hitung-hitung waktu perjalanan, saya harus sesegera mungkin bertolak ke Balikpapan. Saya masih harus menempuh dua setengah jam perjalanan darat ditambah menyeberang selat.</p>
<p>Ketika menunggu mobil disiapkan, pak Akhdiat (Kepala Bidang Pendapatan) sudah kembali dari acara di DPRD. Saya juga sempat bertemu dengan pak Sanusi One, Kepala BPKD Pasir.</p>
<p>Siang itu saya bertolak kembali ke Balikpapan diantar oleh Amrullah. Sepanjang perjalanan kami mengobrol layaknya sahabat lama. Amrullah menceritakan keluarganya, anaknya, dan pengalamannya selama bertugas di Pendapatan. &#8220;Pernah saya mendata reklame milik pensiunan Polisi. Dia dan istrinya marah-marah. Alasannya, papan ini kan dibuat sendiri, dipasang di lahan sendiri, kenapa harus bayar lagi ke Dispenda? Saya jelaskan berkali-kali pun mereka tidak paham. Akhirnya saya katakan, terserah mau bayar atau tidak, saya cuman mendata. Tak perlu marah-marah, memaki-maki. Retribusi reklame padahal hanya 75 ribu setahun, tak sebanding dengan usaha BBM, kelontong dan semua usaha yang dijalankan Bapak itu. Seminggu kemudian, Bapak itu ditegur Satpol PP. Ditanyai mana izin usahanya, IMBnya, kelengkapan surat-surat. Mereka datang ke Tapem (Tata Pemerintahan). Kata orang Tapem, datang dulu ke Dispenda minta bukti pelunasan semua tagihan retribusi, baru segala ijin bisa diurus. Nah, baru mereka datang ke kantor saya. Di Dispenda, gantian saya cuekin saja. Mereka minta-minta tolong meminta data retribusi saya tempo hari, untuk dilunasi di kasir. Saya bilang, tak mau saya keluarkan. Tunggu saja pendataan berikutnya. Kalau seandainya mereka dulu bersikap baik kepada saya, tentu saya bantu.&#8221;</p>
<p>Di tengah perjalanan, sebaris SMS datang dari rumah. &#8220;Ayah, kenapa tidak ada yang datang menawarkan bantuan? Padahal kita sudah menolong mereka ketika dibutuhkan.&#8221; Saya membalas, &#8220;Itulah tandanya beramal ikhlas kepada Allah. Barang siapa berharap kepada manusia maka bersiap-siaplah untuk kecewa, karena manusia yang diharapkan itu pasti tidak bisa memenuhi keinginan kita. Berharaplah pada pertolongan Allah semata, bukan pada pertolongan manusia.&#8221; Saya makin bertanya-tanya, separah apakah sakit anakku Yasmin?</p>
<p>Karena mengejar waktu, Amrullah hanya mengantar sampai ke pelabuhan Penajam. Dicarikannya saya speed boat untuk menyeberang ke Balikpapan. &#8220;Lebih baik menuju Semayang, karena lebih dekat ke Bandara Sepinggan daripada pelabuhan Kampung Baru&#8221;, jelasnya.</p>
<p><img title="Pelabuhan Penajam" src="http://farm2.static.flickr.com/1009/873505826_422fbd7955.jpg?v=0" alt="Pelabuhan Penajam" /></p>
<p>Amrullah yang berasal dari suku Bugis tidak kesulitan mencarikan speed boat untuk saya, karena kebanyakan pengemudi speed boat orang Bugis juga. Saya pun berpamitan, menitipkan rasa terima kasih saya kepada seluruh pimpinan dan rekan-rekan BPKD Pasir yang sudah membantu tugas saya.</p>
<p>Speed boat melaju membelah ombak selat Makassar. Di kanan kiri saya banyak terlihat kapal-kapal besar berlabuh di luar pelabuhan. Agak jauh ke tengah laut ada rig-rig kilang minyak. Kapal-kapal kecil berlalu lalang. Ramai sekali. Speed boat terangguk-angguk melompati ombak.</p>
<p><img title="Selat Makassar" src="http://farm2.static.flickr.com/1004/873505882_e45d5ba8f8.jpg?v=0" alt="Selat Makassar" /></p>
<p>Di tengah perjalanan, saya mencoba untuk berdiri. &#8220;Berdiri paling enak kalau laju pak,&#8221; kata juru mudi. Kecepatan pun ditambah. Speed boat makin terlompat-lompat. Kecepatannya cukup tinggi untuk membuat mata saya berair. Sama seperti ketika saya mengendarai motor. Sambil berpegangan satu tangan menjaga keseimbangan saya mencoba mengambil gambar dari speed boat yang melaju.</p>
<p align="center">*   *   *</p>
<p>Beberapa kali kejadian kurang mengenakkan terjadi ketika saya bertugas di luar kota. Akhir tahun kemarin ketika saya ke Lebong [link], Bengkulu, adik saya sakit dan akhirnya wafat. Kabar tak enak dari rumah yang menghantui ketika saya di luar kota, tentu menghabiskan pikiran dan energi lebih.</p>
<p>Di dalam agama kami, terdapat <a title="Rukun Iman" href="http://www.almanhaj.or.id/content/1544/slash/0" target="_blank">6 rukun iman</a> seperti yang disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 177, &#8220;Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi&#8230;&#8221;. Dan juga sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits &#8216;Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab. &#8220;Artinya : Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada qadar yang baik maupun buruk.&#8221;</p>
<p>Semua anak muslim di negara kami pasti sudah tahu akan hal ini. Hanya saja, dulu waktu saya SD, saya tidak paham apa yang dimaksud dengan iman kepada takdir. Apalagi jika dijabarkan iman kepada takdir baik dan buruk. Rukun iman pertama sampai kelima, saya sedkit banyak paham bagaimana cara dan rasanya. Tapi iman kepada takdir itu praktiknya bagaimana?</p>
<p>Belakangan saya baru paham. Penjabaran iman kepada takdir buruk dipaparkan dalam hadits Nabi. Tidak boleh berandai-andai jika mengalami keburukan. Contohnya, &#8220;Seandainya ruang ICU di Rumah Sakit Haji tidak penuh tentu adik saya mendapatkan perawatan yang lebih baik.&#8221; Kata-kata seperti itulah yang dilarang. Dan kesabaran untuk tidak mengeluarkan kata-kata seperti itu menjadi amalan hati dalam praktik iman kepada takdir.</p>
<p>Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa kematian sudah ditentukan bagi tiap manusia. Tidak akan dimajukan dan dimundurkan sedikit pun. Walaupun nanti ada intervensi doa dalam penulisan takdir. Itu dijelaskan lain kali saja.</p>
<p>Sesampainya di Jakarta, saya membawa Yasmin ke dokter dan dilanjutkan dengan pemeriksaan lab. Alhamdulillah, kondisi Yasmin berlangsung membaik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
