<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>uliansyah.or.id</title>
	<atom:link href="http://www.uliansyah.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.uliansyah.or.id</link>
	<description>kegelisahanku adalah untuk berkarya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Oct 2009 19:01:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengejar Kesempurnaan (Pursuit of Excellence)</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2009/10/19/mengejar-kesempurnaan-pursuit-of-excellence/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2009/10/19/mengejar-kesempurnaan-pursuit-of-excellence/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 19:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[maksi]]></category>
		<category><![CDATA[managerial accounting]]></category>
		<category><![CDATA[ugm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Kita tentu sudah sering mendengar tentang TQM (Total Quality Management). Sebuah pendekatan manajemen yang menitikberatkan pada kesempurnaan kualitas. Salah satu dimensi kesempurnaan kualitas adalah kesempurnaan proses produksi. Proses produksi yang sempurna menurut TQM adalah proses produksi yang tidak membuat kesalahan. TQM tidak mentolelir adanya produk cacat. Mengadopsi TQM berarti berkomitmen penuh dengan zero-defects.
Pandangan ini telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita tentu sudah sering mendengar tentang TQM (<em>Total Quality Management</em>). Sebuah pendekatan manajemen yang menitikberatkan pada kesempurnaan kualitas. Salah satu dimensi kesempurnaan kualitas adalah kesempurnaan proses produksi. Proses produksi yang sempurna menurut TQM adalah proses produksi yang tidak membuat kesalahan. TQM tidak mentolelir adanya produk cacat. Mengadopsi TQM berarti berkomitmen penuh dengan <em>zero-defects</em>.</p>
<p>Pandangan ini telah merevolusi keyakinan manajemen terdahulu. Dalam kurun waktu yang cukup panjang, telah terpatri di hati dan kepala manajer bahwa adanya sebuah <em>acceptable tolerance</em> dalam proses produksi. Dengan keyakinan ini para manajer beranggapan bahwa, &#8220;yaah.. wajarlah kalo ada produk reject. Dari satu juta produk mosok nggak ada yang cacat.&#8221; Sebuah keyakinan yang masih memiliki penganut sampai saat ini.</p>
<p>Di era persaingan gila-gilaan ini, kompetisi telah menuntut adanya suatu diskrepansi nilai yang signifikan di antara produk-produk yang beredar. Para manajer pun berlomba-lomba mengejar keunggulan. Salah satu inovasi terbesar dalam perkembangan ilmu manajemen di era 1990-2000 adalah dikembangkannya konsep TQM. Para manajer tidak cukup lagi berasumsi bahwa ada sedikit produk cacat adalah hal yang wajar. Proses penciptaan nilai bagi produk digenjot pol mulai dari pabrik. Produk cacat tidak hanya menandakan proses produksi yang berjalan telah gagal dalam mengolah seluruh bahan baku, namun juga menunjukkan ada sesuatu yang salah pada perencanaan produksi. Apa bisa dikatakan masuk akal bila perusahaan merencanakan untuk gagal?<br />
<span id="more-244"></span>Keberadaan produk cacat seringkali membutuhkan penanganan ekstra dibandingkan produk sempurna. Biaya tambahan yang muncul untuk mengolah kembali (<em>re-work</em>) ataupun membuang (<em>dispose</em>) produk tersebut bisa membuat total ongkos produksi membengkak. Hal ini yang akhirnya akan menurunkan value yang diterima oleh pelanggan.</p>
<p>Ah.. saya tak ingin berlama-lama membahas hal ini. Singkatnya berbagai metode dan pendekatan berbasis pandangan TQM ini hadir sebagai alternatif. Anda tentu sudah mengenal (bahkan mungkin mempraktikkan) Kaizen, Six Sigma, Malcolm Balridge, Deming System, Management by Objective, dll. Kita bebas untuk mengadopsi metode mana saja.</p>
<p>Satu pertanyaan menyeruak di kepala saya. Metode mana pun yang Anda pilih, selalu menyebutkan Kaizen sebagai praktik awal sejarah TQM. Hal ini menandakan, bangsa Jepang adalah bangsa yang pertama kali sadar mengenai TQM. Pertanyaannya, <strong>kenapa harus berawal di Jepang?</strong></p>
<p>Bangsa Jepang dikenal memiliki keterkaitan yang kuat dengan budayanya. Kondisi geografis sebagai kepulauan yang terpencil dari daratan, telah menumbuhkan sikap primordialisme yang kuat. Kondisi ini mirip seperti kepulauan Inggris di Eropa. Bahkan sampai saat ini, orang Jepang dikenal tidak mampu berbahasa asing.</p>
<p>Entah bagaimana sebabnya, bangsa Jepang dikenal pula karena kesempurnaan dalam kesehariannya. Orang Jepang terbiasa mengerjakan semua hal dengan sempurna. Mungkin karena sumber daya alam yang terbatas, membuat mereka mengembangkan sikap efisiensi dan efektivitas dalam mengolahnya menjadi barang konsumsi.</p>
<p>Mari kita lihat lebih detil. Orang Jepang memiliki acara minum teh yang disebut <em>Chado</em>. Dalam acara ini, seluruh aktivitas telah direncanakan dengan detil. Kelengkapan peralatan berupa teko, cawan, wadah gula, sendok, dan pengaduk merupakan persiapan standar yang wajib tersedia. Selanjutnya, prosesi acara mulai dari menyiapkan peralatan, menyeduh dan meminum teh sampai membersihkan peralatan, memiliki ritual tersendiri. Tidak boleh ada satu bagian pun yang terlewat atau salah. Harapannya tentu agar hasil seduhan teh bisa dinikmati dengan sempurna.</p>
<p>Ada lagi budaya Jepang yang populer yang disebut Ikebana. Seni merangkai bunga ini telah dimulai sekitar 14 abad yang lalu. Seluruh usaha untuk menempatkan harmoni berbentuk warna, ritme, dan desain, dituangkan dalam sebuah tanaman dalam pot. Tanaman yang sudah dipisahkan dari alam (baca: dipetik) haruslah diberi wadah yang memiliki keharmonisan seperti alam aslinya. Ikebana tak lain adalah bentuk menuangkan kesempurnaan dalam wujud eksploitasi keindahan tumbuhan.</p>
<p>Dalam bentuk yang lebih besar dibandingkan dua contoh di atas, bangsa Jepang pernah memiliki samurai sebagai suatu sistem budaya. Sebuah kelompok yang dibentuk untuk setia dan melindungi kekaisaran telah berkembang menjadi suatu sistem budaya yang kompleks. Tidak hanya aspek spiritual yang mampu membuat seorang samurai rela mengorbankan nyawanya, namun aspek teknis dalam proses menempa diri telah dirancang, dipraktikkan dan disempurnakan secara turun-temurun. Dalam gerakan seorang samurai, tidak ada hal yang sia-sia. Seluruh tarikan nafas, kontraksi otot dan konsentrasi pikiran, bersinergi untuk tujuan yang sama. Sebuah sabetan pedang yang secara sempurna mematikan musuh yang dihadapinya.</p>
<p>Melihat beberapa contoh di atas, saya rasa cukup mewakili potret budaya Jepang yang menjadi latar belakang munculnya konsep Kaizen (<em>continuous improvement</em>) yang nantinya diadopsi menjadi dasar filosofi TQM. Tidak heran inovasi itu terlahir di sana. Bangsa Jepang terbiasa mengejar kesempurnaan dalam setiap detil aktivitas sehari-hari. Sikap ini yang terus terbangun mulai dari hal kecil sampai menjadi kompleks, dan akhirnya digunakan dalam dunia manajemen.</p>
<p>Jadi, tidak terlalu mengherankan kalau dari daratan Jepang muncul Kaizen, Demings System (1), Toyota Ways, legenda Honda, raja inovasi Sony, raksasa bisnis Mitsubishi dan berbagai macam keajaiban bisnis lainnya. Mereka adalah buah dari kerja keras serta budaya yang telah mencetak cara pandang orang Jepang dalam mengejar kesempurnaan.</p>
<p style="text-align: center;">-o0o-</p>
<p>Notes:<br />
(1) Ingat, walaupun Edward Demings berasal dari Amerika, buah pikirannya justru berkembang di Jepang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2009/10/19/mengejar-kesempurnaan-pursuit-of-excellence/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berburu Lalat</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2009/07/26/berburu-lalat/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2009/07/26/berburu-lalat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 23:46:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngemong]]></category>
		<category><![CDATA[berburu lalat]]></category>
		<category><![CDATA[berdarah dingin]]></category>
		<category><![CDATA[home education]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[menangkap lalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan di suatu akhir pekan, keluarga kami menghabiskan waktu di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika waktu sholat tiba, kami pun menuju ke musholla. Nah, di sini lah petualangan berburu lalat dimulai&#8230;
Musholla di mall itu memiliki AC, sehingga ruangannya jadi dingiiin sekali. Di musholla ini, Abbas dan Yasmin bisa berburu lalat sepuasnya. Lalat-lalat di musholla ini mudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syahdan di suatu akhir pekan, keluarga kami menghabiskan waktu di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika waktu sholat tiba, kami pun menuju ke musholla. Nah, di sini lah petualangan berburu lalat dimulai&#8230;</p>
<p>Musholla di mall itu memiliki AC, sehingga ruangannya jadi dingiiin sekali. Di musholla ini, Abbas dan Yasmin bisa berburu lalat sepuasnya. Lalat-lalat di musholla ini mudah sekali ditangkap. Yasmin, yang berumur dua tahun saja, bisa lho menangkap lalat di mushola ini. Lho kok bisa?</p>
<p>Ternyata, lalat termasuk binatang berdarah dingin. Abbas sudah belajar mengenai binatang berdarah panas dan berdarah dingin. Binatang yang berdarah panas, suhu tubuhnya tetap, tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Sementara binatang berdarah dingin, suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan di sekitarnya. Contoh binatang berdarah dingin adalah kadal dan lalat.</p>
<p>Nah, hewan yang berdarah dingin jika berada di tempat yang dingin, suhu tubuhnya akan turut menjadi dingin pula. Jika suhu tubuhnya terlalu rendah, hewan berdarah dingin menjadi sulit bergerak karena tubuhnya kaku kedinginan. Itulah sebabnya, kadal sering kita jumpai sedang berjemur di atas batu. Karena jika kadal kedinginan, tubuhnya akan menjadi kaku dan tidak bisa bergerak. Kalau kadal tidak bisa bergerak, ia dengan mudah dapat ditangkap oleh pemangsanya.</p>
<p>Demikian pula dengan lalat. Lalat-lalat yang berada di musholla yang dingin itu, tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa terbang. Abbas dan Yasmin dapat dengan mudah menangkap lalat-lalat yang sedang kedinginan di sana. Wah, Abbas bisa menangkap sampai sepuluh ekor lalat lho! Lalat-lalat itu digenggam kuat-kuat. Karena ketika lalat yang kedinginan itu bersentuhan dengan tangan kita yang hangat, ia bisa bergerak dan terbang lagi!</p>
<p>Boleh deh Abbas dan Yasmin berburu lalat sambil menunggu Ayah dan Ummi melaksanakan sholat. Tapi nanti setelah selesai berburu lalat, jangan lupa cuci tangan yang bersih ya.. supaya kuman dan kotoran yang dibawa lalat tidak masuk ke dalam tubuh kita.</p>
<p>Begitulah keseharian <a class="wp-caption" title="Blog Tarbiyatul Abna" href="http://tarbiyatulabna.wordpress.com/" target="_blank">anak Homeschooling</a>, bisa belajar tentang apa saja di mana saja. Belajar jadi mengasyikkan dan mudah dipahami. Eksperimen biologi tidak harus dilakukan di dalam laboratorium yang mahal, tapi bisa dilakukan di mana saja. Topik-topik yang sudah dipelajari tidak menguap terlupakan begitu saja, tapi dicari aplikasinya di kehidupan di sekitar kita.</p>
<p>Untuk teman-teman pembaca, selamat berburu lalat juga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2009/07/26/berburu-lalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mail Merge di Microsoft Excel 2007</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2009/04/12/mail-merge-di-microsoft-excel-2007/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2009/04/12/mail-merge-di-microsoft-excel-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 17:26:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[A little bit Techie]]></category>
		<category><![CDATA[excel]]></category>
		<category><![CDATA[mail merge]]></category>
		<category><![CDATA[microsoft excel]]></category>
		<category><![CDATA[ms excel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Fasilitas mail merge sudah kita kenal pada Microsoft Words. Fasilitas ini memungkinkan kita untuk mencetak sekumpulan dokumen yang memiliki format yang sama, dengan data yang berbeda-beda. Contoh penggunaan mail merge yang sering kita temui adalah ketika kita mencetak amplop dengan tujuan yang berbeda-beda. Biasanya, format dokumen mail merge diletakkan di sebuah file Words, dan data-datanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fasilitas mail merge sudah kita kenal pada Microsoft Words. Fasilitas ini memungkinkan kita untuk mencetak sekumpulan dokumen yang memiliki format yang sama, dengan data yang berbeda-beda. Contoh penggunaan mail merge yang sering kita temui adalah ketika kita mencetak amplop dengan tujuan yang berbeda-beda. Biasanya, format dokumen mail merge diletakkan di sebuah file Words, dan data-datanya diambil dari file Microsoft Excel.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/teaser.png?t=1239766056" border="0" alt="" width="430" height="168" /></p>
<p>Namun, terkadang kita memerlukan fasilitas mail merge ini pada Microsoft Excel. Saya dan rekan-rekan di kantor telah lama mendambakan keberadaan fasilitas ini di Microsoft Excel. Di kantor saya, banyak pekerjaan yang dikerjakan menggunakan Excel. Bahkan Excel sudah menjadi aplikasi andalan untuk segala kondisi. Pernahkah Anda menemui sebuah aplikasi penilaian proyek sebesar 300 triliun menggunakan Excel? Hehehe.. di kantor saya, ada yang demikian itu. (Padahal di kantor-kantor swasta untuk menangani proyek di atas 5 M saja sudah menggunakan aplikasi taylor-made senilai puluhan sampai ratusan juta).</p>
<p>Dengan bantuan VLOOKUP, Spin Button dan sebaris script VBA kita sudah dapat membuat mail merge di Microsoft Excel 2007.<br />
<span id="more-192"></span><br />
Kita mulai dengan membuat satu file Excel yang terdiri dari dua sheet. Sheet pertama untuk format dokumen, serta sheet kedua sebagai penampung data. Untuk memudahkan penjelasan selanjutnya, kita namai sheet yang digunakan sebagai format dokumen dengan nama <strong>Tampilan</strong>, dan sheet tempat data diletakkan dengan nama <strong>Database</strong>.</p>
<p><strong>Ada syarat penting yang harus tersedia pada sheet Database</strong>, yaitu kolom terkiri (kolom A) harus berisi id unik atau primary key. Pokoknya, isi aja kolom A dengan angka 1, 2, 3, dst sampai dengan baris data yang terakhir. Tidak boleh ada angka yang sama.</p>
<p>Setelah itu, <strong>di sheet Tampilan sediakan sebuah cell di luar Print Area yang akan digunakan sebagai Reference. </strong>Misalnya, print area pada sheet Tampilan yang saya miliki adalah dari kolom A sampai G. Maka saya jadikan cell H1 sebagai cell referensi. Dengan demikian, cell ini tidak akan ikut tercetak di kertas. Cell ini berfungsi sebagai referensi ke kolom Primary Key yang kita telah buat pada sheet Database. Isi cell ini berupa angka satu sampai dengan angka terakhir yang ada pada kolom A sheet Database.</p>
<p>Pada sheet Tampilan, munculkanlah data dari sheet Database menggunakan <strong>fungsi VLOOKUP</strong>. Gunakan angka pada cell Referensi sebagai trigger VLOOKUP. Misalnya, pada cell yang menampilkan data dari kolom ke 10 sheet Database, formulanya akan berbunyi: =VLOOKUP($H$1;Database!$A$1:$AC$520;10;FALSE). Jika Anda masih belum paham fungsi VLOOKUP, <a href="http://www.google.co.id/search?q=excel+vlookup+tutorial&amp;ie=utf-8&amp;oe=utf-8&amp;aq=t&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;client=firefox-a">banyak tutorial yang bisa Anda pelajari</a>.</p>
<p>Sampai di sini kita akan masuk pada kunci terpenting pembuatan mail merge pada Excel. Kita akan membuat supaya cell Referensi di sheet Tampilan bisa bekerja os-tos-mas-tis seperti pada fasilitas mail merge yang tersedia di Microsoft Words. Caranya, <strong>dengan memanfaatkan Spin Button sebagai pemicu bergeraknya cell Referensi</strong>, serta jika Anda mau kita bisa menambahkan sebaris skrip VBA untuk mengotomatisasi pencetakan.</p>
<p>Untuk mewujudkan hal ini, kita <strong>munculkan dulu Control Toolbox dan Design Mode</strong>. Bagi yang sudah tahu caranya, silahkan lanjut ke alinea berikutnya. Bagi yang belum tahu, lakukan langkah berikut. Pada menu Excel 2007, yang masih juga membingungkan saya itu, klik pada drop down menu di sebelah kanan ribbon. Klik pada More Commands, sehingga muncul jendela Excel Options. Klik pada tab Customize di menu sebelah kiri jendela tersebut. Kemudian pada jendela Customize the Quick Access Toolbar yang muncul, pada Choose commands from pilih All commands. Carilah Insert Control dan Design Mode, lalu klik tombol Add. Pastikan <a href="http://spreadsheetpage.com/index.php/tip/using_controls_on_worksheets/">Insert Control dan Design Mode</a> telah muncul di jendela sebelah kanan. Lalu klik OK.</p>
<p><a href="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/1.png?t=1239601130"><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/1.png?t=1239601130" border="0" alt="" width="434" height="294" /></a></p>
<p><a href="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/3.png?t=1239601125"><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/3.png?t=1239601125" border="0" alt="" width="437" height="356" /></a></p>
<p>Setelah Control Toolbox dapat dimunculkan, <strong>buatlah sebuah tombol Spin Button di sheet Tampilan</strong>. Klik pada Control Toolbox dan pilih button yang memiliki dua tanda panah berlawanan arah. Tombol itu jika kita hovering di Toolbox akan memunculkan nama Spin Button. Tempatkan di area yang nyaman bagi Anda. Saya menempatkan Spin Button di sebelah cell Referensi (H1).</p>
<p><a href="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/4.png?t=1239891737"><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/4.png?t=1239891737" alt="" /></a></p>
<p>Setelah itu, klik kanan pada Spin Button, pilih Properties. Pada jendela Properties yang muncul, <strong>ada tiga properties yang harus disesuaikan</strong>, yaitu LinkedCell, Min dan Max. Cari property LinkedCell dan isikan dengan alamat cell Referensi, dalam file yang saya buat alamatnya di H1. Kemudian, isi property Min dengan 1 dan property Max dengan angka terakhir di kolom A sheet Database. Setelah itu, tutup jendela Properties.</p>
<p><a href="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/6.png?t=1239766021"><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/6.png?t=1239766021" border="0" alt="" width="144" height="512" /></a></p>
<p>Langkah terakhir adalah <strong>menonaktifkan Design Mode</strong>, agar Spin Button yang baru saja kita oprek dapat digunakan. Klik pada icon Design Mode di sebelah kanan ribbon. Setelah Design Mode pada posisi off, cobalah mengklik Spin Button dan perhatikan efeknya pada cell Referensi. Angka pada cell tersebut dapat bergerak maju mundur sesuai klik yang kita lakukan pada SpinButton. Jika cell-cell pada sheet Tampilan sudah kita sematkan fungsi VLOOKUP, maka cell-cell tersebut juga akan berubah sesuai klik pada Spin Button. Selain melakukan klik pada SpinButton, kita juga bisa mengubah secara manual isi cell Referensi. Kita bisa memasukkan langsung angka berapa pun pada cell ini.</p>
<p>Sampai di sini <strong>mail merge pada Excel 2007 sudah bisa digunakan</strong> seperti pada Microsoft Words. Tapi jika Anda adalah seorang pemalas seperti saya, kita bisa meningkatkan mail merge excel ini agar kerjaan dapat diselesaikan lebih efisien. Cukup dengan satu klik, ganti field merge dan pencetakan bisa dilakukan bersamaan. Caranya sbb.</p>
<p>Kita aktifkan dulu Design Mode dengan mengklik tombol Design Mode, agar kita bisa mengedit Spin Button. Kemudian, klik ganda pada Spin Button sampai muncul jendela VBA. Tambahkan skrip<br />
ActiveSheet.PrintOut di tengah dua skrip yang sudah ada. Sehingga skrip selengkapnya menjadi:</p>
<pre class="html">Private Sub SpinButton1_Change()
ActiveSheet.PrintOut
End Sub</pre>
<p>Tutup jendela VBA dengan File | Close and Return to Microsoft Excel (Alt Q). Lalu non-aktifkan lagi<br />
Design Mode. Nah, setelah langkah ini dilakukan, setiap kali kita mengklik Spin Button, kita akan langsung berpindah field merge sekaligus melakukan pencetakan. Dengan cara ini, tugas saya mencetak dokumen untuk dikirim kepada 510 pemerintah daerah se-Indonesia setiap bulan itu bisa dilakukan dengan jauh lebih mudah.</p>
<p><a href="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/7.png?t=1239601127"><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/7.png?t=1239601127" border="0" alt="" width="443" height="276" /></a></p>
<p>Ketika membuka kembali file mail merge ini, jangan lupa untuk <strong>meng-enable macro</strong>. Karena jika tidak di-enable, maka macro secara default akan dinonaktifkan sehingga tombol Spin Button tidak dapat digunakan. Caranya dengan meng-klik pada jendela Security Warning yang muncul, kemudian klik pada Enable.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/open-1.png?t=1239767178" border="0" alt="" width="366" height="148" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/open-2.png?t=1239767272" border="0" alt="" width="386" height="347" /></p>
<p>Untuk mempermudah memahami tutorial ini, Anda dapat mengunduh <a href="http://rapidshare.com/files/221474281/contoh_mail_merge_excel.xls.html">contoh file mail merge Excel</a> yang saya gunakan.</p>
<p>Saya dedikasikan tulisan ini untuk rekan-rekan kerja di Subdit Pelaksanaan Transfer II, dan seluruh rekan-rekan DJPK. Terimakasih juga pada <a href="http://groups.yahoo.com/group/xl-mania">milis</a> <a href="http://www.xl-mania.com">xl-mania</a>. Semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat mencoba!</p>
<p><strong>Update!<br />
</strong>Saya menambahkan<strong> CheckBox </strong>untuk mengendalikan pencetakan. Jika CheckBox di-check, maka ketika kita menekan tombol SpinButton, maka pencetakan akan berjalan otomatis. Data yang tampil akan berpindah dari nomor referensi sebelumnya, plus data yang baru akan langsung dicetak.</p>
<p>Jika CheckBox tidak di-check, maka ketika kita menekan tombol SpinButton, perpindahan tampilan data tidak diikuti dengan pencetakan otomatis.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/update-excel-trik.png" border="0" alt="" width="430" height="168" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/update-vba-trik.png?t=1244196921" border="0" alt="" width="430" height="168" /></p>
<p>Skrip VBA yang digunakan menjadi:<br />
<code>Private Sub SpinButton1_Change()<br />
If CheckBox1.Value = True Then ActiveSheet.PrintOut<br />
End Sub</code></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2009/04/12/mail-merge-di-microsoft-excel-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan: Hidden Side of A Sindhen</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2009/02/13/bacaan-hidden-side-of-a-sindhen/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2009/02/13/bacaan-hidden-side-of-a-sindhen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 04:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar profesi Sindhen? Pernah mengrenyitkan kening ketika ada seseorang yang memilih jalan hidup sebagai pesinden? Pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi anak seorang sinden?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditemukan di buku ini. Sebuah roman yang menceritakan jalan hidup seorang sinden. Sebuah profesi yang sering dipandang miring oleh masyarakat.
Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Bahkan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar profesi <a title="Definisi Sinden" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pesinden" target="_blank">Sindhen</a>? Pernah mengrenyitkan kening ketika ada seseorang yang memilih jalan hidup sebagai pesinden? Pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi anak seorang sinden?</p>
<p><img src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/sindhen.png" border="0" alt="Hidden Side of A Sindhen" /></p>
<p>Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditemukan di buku ini. Sebuah roman yang menceritakan jalan hidup seorang sinden. Sebuah profesi yang sering dipandang miring oleh masyarakat.</p>
<p>Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Bahkan yang membuat buku ini sangat istimewa, adalah bahwa ia ditulis oleh anak dari tokoh utama buku ini. Ya, buku ini ditulis oleh anak seorang sindhen.<span id="more-86"></span></p>
<p>Sindhen, bagi yang belum tahu, adalah sebutan bagi penyanyi wanita sebuah orkestra Jawa. Sindhen bisa muncul di pagelaran wayang yang akan menyanyikan syair-syair sesuai pesan yang tersimpan dalam adegan yang dibawakan oleh sang Dalang. Sinden bisa juga sebagai bagian dari sebuah pertunjukan karawitan, pertunjukan yang semata-mata hanya melantunkan lagu-lagu Jawa.</p>
<p>Sinden berbeda dengan ledek. Ledek adalah penari wanita yang muncul dalam pertunjukan ronggeng. Walaupun berbeda dengan ledek, sinden tetap dipandang sebagai profesi wanita yang kurang baik. Penampilan dan suara yang menarik, serta frekuensi bertemu dengan lelaki lain yang sangat tinggi, membuat sinden sering dianggap sebagai perebut suami orang.</p>
<p>Saya sangat beruntung bisa mendapatkan buku ini, bahkan sebelum didistribusikan di toko buku. Saya mendapat buku ini dari seorang teman kantor. Ia ternyata adalah kakak dari sang penulis buku. Bahkan kawan saya ini masuk sebagai  tokoh cerita dalam buku ini.<br />
<img style="border: 0px initial initial;" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/Myrie-0118.jpg" border="0" alt="Salam dari Penulis" width="430" height="574" /></p>
<p>Buku Hidden Side of A Sindhen adalah novel kesekian yang saya baca yang mengangkat latar budaya Jawa sebagai wadah terjadinya konflik. Sebelumnya ada beberapa karya lain yang memotret konflik yang muncul karena kultur Jawa dan terjadi di tengah kultur Jawa. <strong>&#8220;Para Priyayi&#8221;</strong>, misalnya. Novel karangan <a title="Umar Kayam @ wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Umar_Kayam" target="_blank">Umar Kayam</a> ini memiliki alur cerita yang rumit namun logis, lengkap dengan melompat-lompatnya tokoh utama yang diceritakan, serta penggambaran yang kuat adanya perbedaan pola pikir masing-masing tokoh. Ada pula trilogi <strong>&#8220;Ronggeng Dukuh Paruk&#8221;</strong> karya <a title="Ahmad Tohari @ wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Tohari" target="_blank">Ahmad Tohari</a>. Juga <strong>&#8220;Burung-burung Manyar&#8221;</strong> karya YB Mangunwijaya atau Romo Mangun.</p>
<p>Kesamaan dari buku-buku di atas, selain karena latar budaya Jawa, adalah terperangkapnya sang tokoh dalam suatu situasi dan kondisi yang membuat ia terpaksa atau dipaksa mengambil pilihan hidup yang sulit.</p>
<p>Buku Hidden Side of A Sindhen ini menceritakan tentang kehidupan seorang wanita Jawa yang berasal dari sebuah dusun. Ia dibentuk oleh lingkungan dengan pola pikir yang nJawani (khas Jawa), mulai dari Ayahnya, Simbahnya (nenek), Ibu Tirinya, sampai pada keluarga besar, puak dan lingkungannya. Kungkungan pola pikir ini amat jender, seperi misalnya: wanita tidak punya hak pilih dalam jodoh, wanita berorientasi pada pengabdian, wanita tidak boleh berbicara mengungkapkan pendapat, wanita tempatnya hanya di dapur dan kasur, dll. Pria didudukkan pada posisi supreme ultimate super power. Apa yang disabdakannya pasti benar dan wajib diterima. Siapapun yang menentangnya pasti salah dan harus dihukum.</p>
<p>Kungkungan pola pikir ini membawa sang tokoh bernama Sayem alias Slumpring untuk mengakhiri dua pernikahannya secara tragis. Penggambaran fragmen tersebut disampaikan dengan amat baik oleh penulis. Lengkap dengan konflik batin yang dialami sang tokoh. Sepintas, alur hidup tokoh ini tidak akan jauh berbeda dengan takdir yang dijalani berjuta wanita Jawa lainnya. Dipersunting, melahirkan anak, mengurus dapur, dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi para suami. Semua itu dijalani tanpa adanya pengakuan dari dunia bahwa wanita adalah seorang manusia. Wanita tak pernah dianggap sebagai seorang manusia secara utuh. Seorang manusia yang memiliki cara berpikir yang unik. Seorang manusia yang memiliki perasaan. Semua dikebiri dengan dogma-dogma khas Jawa seperti: ora ilok, ora pantes cah wadon kaya ngono kuwi, dst dst dst.</p>
<p>Kungkungan pola pikir ini juga dibenturkan dengan kemiskinan. Sebuah benturan yang benar-benar menimbulkan posisi yang sulit bagi pelaku wanita. Pilihan apapun yang ia ambil, ia tidak melihat pilihan tersebut dapat membawanya ke kehidupan yang lebih baik.</p>
<p>Pesan yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan buku ini adalah bahwa masih banyak lapisan masyarakat kita yang belum tersentuh dakwah Islam. Masih banyak yang memilih jalan bukan Islam dalam hidupnya. Yang mengkhawatirkan, pilihan itu mereka jatuhkan karena memang tidak mengenal Islam. Sehingga tidak tahu, apa dan bagaimana bentuk jalan hidupnya serta konsekuensi yang akan dihadapi di akhirat kelak.</p>
<p>Karena itu pendekatan nasihat haruslah lebih dahulu dikedepankan sepanjang orang yang didakwahi bukan seorang yang dikenal karena kampanyenya untuk menolak syariah.</p>
<p>Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang sangat menjaga asupan makanannya? Misalnya seseorang yang menolak memakan jeroan karena takut kolesterol. Ada pula orang yang tidak mau makan kacang-kacangan karena khawatir terkena asam urat. Juga orang yang berhati-hati dengan makanan manis karena punya sejarah keluarga berpenyakit diabetes. Ada pula orang yang gemar berolahraga untuk menjaga kesehatan di hari tua. Meninggalkan rokok untuk menjaga paru-paru yang tinggal 35% berfungsi. Atau menjaga aktivitas karena fungsi hatinya sudah tergerogoti. Orang-orang ini paham betul ancaman yang akan menghampiri di masa tua.</p>
<p>Mirip seperti itu pulalah orang yang meninggalkan larangan Allah dan rajin mengerjakan perintah-Nya. Hanya saja, visi hidupnya melebihi kehidupan dunia. Mereka meninggalkan sesuatu dan mengerjakan sesuatu karena pertimbangan akhirat. Orang-orang seperti ini memiliki ketakutan akan kemurkaan Tuhannya di hari akhir nanti. Mereka khawatir hidupnya akan sia-sia di mata Tuhannya.</p>
<p>Dan terakhir, bagi orang-orang yang tidak sempat tersentuh dakwah di masa hidupnya, kami mintakan ampunan dari Al-Ghoffar Yang Maha Pengampun sepanjang ia masih menyatakan keislamannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2009/02/13/bacaan-hidden-side-of-a-sindhen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Poster KPK di Koran Tempo 10 November 2008</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/11/11/175/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/11/11/175/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 11:24:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Di Koran Tempo edisi Senin, Hari Pahlawan 10 November 2008, ada iklan yang saya anggap nendang banget. Iklan tersebut dimuat oleh KPK. KPK menggugah semangat Hari Pahlawan untuk melawan korupsi. Saya juga sadar, perdjoeangan melawan korupsi itu hampir sama berat dengan perdjoeangan revolusi fisik jaman orang-orang tua kita dulu.
Penggunaan profil Bung Tomo dalam iklan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Koran Tempo edisi Senin, Hari Pahlawan 10 November 2008, ada iklan yang saya anggap nendang banget. Iklan tersebut dimuat oleh KPK. KPK menggugah semangat Hari Pahlawan untuk melawan korupsi. Saya juga sadar, perdjoeangan melawan korupsi itu hampir sama berat dengan perdjoeangan revolusi fisik jaman orang-orang tua kita dulu.</p>
<p>Penggunaan profil Bung Tomo dalam iklan ini juga sangat relevan, khususnya karena Bung Tomo <a title="Gelar Pahlawan Nasional untuk Bung Tomo" href="http://www.antara.co.id/arc/2008/11/2/bung-tomo-dapat-gelar-pahlawan-nasional-kata-menkominfo/" target="_blank">dianugerahi gelar Pahlawan</a> pada tahun 2008 ini.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 449px"><img title="Perjuangan Belum Berakhir" src="http://img78.imageshack.us/img78/6646/10112008006001wr1.jpg" alt="Perjuangan Bung Tomo Belum Berakhir, Masih ada perjuangan melawan Korupsi!" width="439" height="300" /><p class="wp-caption-text">Perjuangan Bung Tomo Belum Berakhir, Masih ada perjuangan melawan Korupsi!</p></div>
<p>Satu lagi yang saya suka dari poster ini, nggak ada gambar makhluk hidupnya <img src='http://www.uliansyah.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Sayangnya di web <a title="Komisi Pemberantasan Korupsi (kenapa sih nggak pake istilah Komisi Anti Korupsi?)" href="http://www.kpk.go.id" target="_blank">KPK</a> sendiri, poster ini tidak tersedia untuk diunduh. Padahal kan keren kalo dibuat wallpaper..</p>
<p>&#8212;</p>
<p>[+] Poster anti Korupsi lainnya yang bisa saya temukan:</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 297px"><a href="http://lodhithurnasel.blogspot.com/"><img title="(Bukan) Surat Kaleng" src="http://bp3.blogger.com/_bma4VdkYzaQ/R2j9P4s-jKI/AAAAAAAAAFI/E8knGc0xMgM/s400/surat+kaleng+b.jpg" alt="(Bukan) Surat Kaleng karya mas Lodhi Thurnasel" width="287" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">(Bukan) Surat Kaleng karya mas Lodhi Thurnasel</p></div>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 296px"><a href="http://digicoll.manoa.hawaii.edu/seasiaposters/Pages/viewtext.php?s=browse&amp;tid=108&amp;route=browseby.php&amp;start=12&amp;by=title&amp;view=list&amp;s=browse#"><img title="Bongkar Korupsi" src="http://digicoll.manoa.hawaii.edu/seasiaposters/Libraries/imagelibrary/108-336low.jpg" alt="Bongkar Korupsi karya ICW" width="286" height="355" /></a><p class="wp-caption-text">Bongkar Korupsi karya ICW</p></div>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 259px"><a href="http://hendroplered.com/?p=119"><img title="Pendidikan Murah" src="http://hendropler.files.wordpress.com/2007/11/poster-2-paint.jpg" alt="Ingin Pendidikan Murah, Ayo Dukung Transparansi" width="249" height="351" /></a><p class="wp-caption-text">Ingin Pendidikan Murah, Ayo Dukung Transparansi</p></div>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 243px"><a href="http://thesigeet.blogspot.com/2007/08/1st-winner-print-ad-competition-anti.html"><img title="Whistleblower" src="http://bp1.blogger.com/_JRVFiB9RmpU/RssN8MF0EiI/AAAAAAAAAAk/AiDoKHyWF-k/s320/kpk2005.jpg" alt="Whistleblower karya thesigeet" width="233" height="320" /></a><p class="wp-caption-text">Whistleblower karya thesigeet</p></div>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 239px"><a href="http://thesigeet.blogspot.com/2007/08/1st-winner-bangkit-lawan-korupsi-poster.html#links"><img title="KPK Harus Mati" src="http://bp3.blogger.com/_JRVFiB9RmpU/RssXWsF0EnI/AAAAAAAAABM/uelpa1gq_NI/s320/kpk2006.jpg" alt="KPK Harus Mati karya thesigeet" width="229" height="320" /></a><p class="wp-caption-text">KPK Harus Mati karya thesigeet</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/11/11/175/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bila Julliette Lahir Prematur</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/09/04/bila-julliette-lahir-prematur/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/09/04/bila-julliette-lahir-prematur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 03:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="Shakespeare" src="http://i235.photobucket.com/albums/ee147/uliansyah/blog/22-07-08_1315.jpg?t=1220497468" alt="" width="443" height="332" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/09/04/bila-julliette-lahir-prematur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untaian Permata Hijau Tidore dan Ternate</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/07/11/untaian-permata-hijau-tidore-dan-ternate/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/07/11/untaian-permata-hijau-tidore-dan-ternate/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 08:24:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turis Dinas]]></category>
		<category><![CDATA[ternate]]></category>
		<category><![CDATA[tidore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/07/11/untaian-permata-hijau-tidore-dan-ternate/</guid>
		<description><![CDATA[Punya uang seribu rupiah? Oow.. tenang aja. Saya bukannya mau minta duit. Bukan.. bukan itu permintaan saya. Saya ingin Anda memperhatikan gambar pada uang seribu rupiah yang sedang Anda pegang. Lihatlah pada gambar dua buah pulau yang berada di latar sebuah perahu nelayan. Ada keterangan di sudut kiri atas. Bunyinya, “Pulau Maitara dan Tidore”. Nah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Punya uang seribu rupiah? Oow.. tenang aja. Saya bukannya mau minta duit. Bukan.. bukan itu permintaan saya. Saya ingin Anda memperhatikan gambar pada uang seribu rupiah yang sedang Anda pegang. Lihatlah pada gambar dua buah pulau yang berada di latar sebuah perahu nelayan. Ada keterangan di sudut kiri atas. Bunyinya, “Pulau Maitara dan Tidore”. Nah, selama tiga hari yang lalu, saya berkesempatan berada di pulau yang muncul sebagai ilustrasi pada alat  tukar keluaran Bank Indonesia itu.</p>
<p><img title="Uang Seribu Rupiah" src="http://i213.photobucket.com/albums/cc258/fiona_angelina/1000rupiahperahu.jpg" alt="Uang Seribu Rupiah" width="412" height="187" /><br />
Image courtesy <a title="Fiona Angelina" href="http://fionaangelina.dagdigdug.com/2008/04/07/rahasia-uang-seribu-rupiah/" target="_blank">Fiona Angelina</a> (c)</p>
<p>Tapi dari tempat saya menginap di Ternate, pandangan pada posisi pulau-pulau tersebut terbalik. Pulau Maitara di sebelah kanan, dan Pulau Tidore di sebelah kiri. Saya sempat mendiskusikannya bersama teman perjalanan. Kesimpulan kami, gambar di uang tersebut diambil dari laut lepas, bukan dari daratan Ternate. Dugaan ini dikuatkan juga dengan foto yang saya lihat di <a title="Indahnesia.Com: Pulau Maitara dan Tidore" href="http://indahnesia.com/picture/MAL/001/maitara_and_tidore.php">indahnesia.com</a>, <a title="superbayek: Pulau Maitara dan Tidore" href="http://superbayek.multiply.com/photos/album/28/Pulau_Maitara_dan_Tidore">superbayek@MP</a> serta <a title="Yoanes: Maitara dan Tidore" href="http://ybandung.wordpress.com/2008/04/15/pulau-maitara-dan-tidore/">pengakuan Pak Yoanes</a>. Posisi pulau Maitara dan Tidore pada foto itu sudah hampir mirip dengan uang seribu rupiah, tapi untuk mendapatkan persepsi yang sesuai sepertinya memang harus dilihat dari sisi laut lepas.</p>
<p><img title="Maitara dan Tidore" src="http://lh4.ggpht.com/ybandung/R_WpblEEPfI/AAAAAAAAAlc/qx4NwJlJrD4/s400/Pulau%20Maitara%20dan%20Tidore.JPG" alt="Maitara dan Tidore" width="400" height="266" /><br />
Image courtesy <a title="Yoanes: Maitara dan Tidore" href="http://ybandung.wordpress.com/2008/04/15/pulau-maitara-dan-tidore/">Yoanes Bandung</a> (c)</p>
<p>Sayang, <a title="Bang Pay" href="http://bangpay.org/" target="_blank">Bang Pay</a> yang <a title="Babu Negara" href="http://mbnw.blogspot.com/" target="_blank">babu negara</a> seperti saya itu , sudah pindah penempatan ke Manado. Padahal dari orang yang sudah tinggal selama <a title="Bang Pay 3 Tahun di Ternate" href="http://kalangkabut.wordpress.com/2008/05/07/hari-ini-3-tahun-sudah-saya-di-ternate/" target="_blank">3 tahun di Ternate</a>, saya mengharapkan cerita pengalaman dan guide ke tempat-tempat yang menarik. Ah cukuplah blog-blogmu itu menceritakan duka dan kesedihanmu bang.. hehehe..<br />
<span id="more-89"></span><br />
Seumur-umur nggak pernah kebayang deh bakalan melakukan perjalanan sejauh ini. Apalagi status saya yang cuman Turis Dinas kelas rendahan yang nggak bisa memilih tujuan dinas. Kalau diingat-ingat, saya lebih sering ditugaskan ke daerah yang relatif sulit dijangkau. Tahun lalu saja saya berkesempatan bertugas mengunjungi lokasi-lokasi yang butuh perjuangan ekstra untuk mencapainya: <a title="Travelling: Tanah Bumbu" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/tanah-bumbu-yang-indah/">Tanah Bumbu</a>, <a title="Pangkalan Bun" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/09/12/pangkalan-bun-kota-manis/">Pangkalan Bun</a>, <a title="Ketapang" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/08/21/perjalanan-nekad-ke-ketapang/">Ketapang</a> dan <a title="Paser" href="http://www.uliansyah.or.id/2007/07/23/kabupaten-pasir/">Paser</a> .</p>
<p>Nah kali ini, saya ditugaskan ke Kota Tidore. Tanah kelahiran Sultan Nuku dan Sultan Baabullah. Tanah air para pejuang. Bahkan Kesultanan Tidore pada masa kejayaannya memiliki kekuasaan sampai dengan Papua. Sampai-sampai terlontar <a title="Andreas Harsono" href="http://andreasharsono.blogspot.com/2005/11/perjalanan-ternate-tidore.html" target="_blank">pujian kebanggan</a> dari Bung Karno, &#8220;Kalau bukan karena Tidore, tidak ada lagu dari Sabang sampai Merauke&#8221;.</p>
<p>Perjalanan kali ini memang berat. Bahkan sejak keberangkatan dari Jakarta. Saya harus berangkat pagi buta ke bandara untuk mengejar penerbangan jam 5. Jadwal penerbangan jam 5 itu menurut saya paling berat. Lebih berat dari penerbangan ke Papua jam 2 pagi. Kalau penerbangan jam 2, kita bisa berangkat dari rumah jam 9. Saat taksi dan angkutan umum lainnya masih beroperasi. Lha ini penerbangan jam 5, kalau berangkat jam 9 masih terlalu lama menunggu. Tapi berangkat jam 3 pagi butuh niat ekstra untuk bangun, dan usaha ekstra mendapatkan transportasi umum.</p>
<p>Setelah transit sebentar di Makassar, rombongan kami yang terdiri dari 3 orang itu, melanjutkan penerbangan ke Bandara Sultan Baabullah di Ternate dengan pesawat Foker. Dan saat-saat menjelang pendaratan benar-benar memukau. Rasa penat penerbangan selama 3,5 jam (plus waktu transit, total 6 jam perjalanan) terbayar sudah. Kami disuguhi pemandangan untaian pulau-pulau bak permata berbalut jernihnya laut biru. Semakin mendekati pantai, gradasi warna air laut turut menyambut pesawat kami. Dimulai dari biru pekat, memudar menjadi biru muda, dan terus semakin kehilangan pigmen hingga menjadi putih pasir.  Suasana tambah memikat hati karena semua keindahan itu saya lihat diiringi alunan suara murottal Musyari Rasyid.</p>
<p>Kota Ternate mencakup seluruh pulau Ternate. Luasnya tak kurang dari setengah juta kilometer persegi. Semua aktivitas warga dilakukan di kaki gunung Gamalama. Dari nama gunung inilah Dorce mengambil nama. Gunung yang sempat meletus pada tahun 2003  ini, berdiri angkuh mengawasi semua kegiatan di bawahnya. Diliputi <a title="Bagaimana Awan Terbentuk" href="http://lianaindonesia.wordpress.com/2006/12/18/bagaimana-awan-terbentuk/" target="_blank">awan-awan stratus</a> tipis, Gamalama turut menjadi saksi perebutan kursi Gubernur Maluku Utara.</p>
<p>Di sini, mayoritas wanita berjilbab. Bahkan seorang wanita bercadar ala burqa duduk tepat di belakang saya dalam penerbangan ini. Jejak syiar Islam terlihat di mana-mana. Sebuah masjid besar di pinggir pantai sedang dibangun oleh Pemda Kota Ternate. Di depan masjid-masjid yang tersebar di seluruh pulau, biasanya terdapat papan peringatan untuk menghormati orang yang sedang beribadah.</p>
<p>Malamnya, kami menikmati deretan penjaja makanan yang berjajar di tepi pantai Swering. Usai makan, kami menikmati sejenak sepoi angin laut di Swering. Swering adalah semacam tanggul penahan ombak yang memanjang sampai beberapa kilometer. Di atasnya, terdapat lahan luas yang dimanfaatkan sebagai pusat kuliner di malam hari. Di tanggul itu pula orang-orang bisa duduk dan menikmati laut. Bahkan sampai lewat tengah malam pun orang-orang masih bertahan di sana.</p>
<p>Hari kedua penugasan, kami menyeberang dari Ternate ke Tidore. Diantar sebuah speedboat yang bertolak dari Pelabuhan Bastiong, kami membelah laut yang memisahkan dua pulau itu hanya dalam tempo tujuh menit untuk kemudian merapat ke Pelabuhan Rum di Tidore. Di Rum, saya seolah melihat akuarium raksasa. Air laut di sana, Masya Allah, jernih sekali. Saking jernihnya saya bisa melihat dasar laut, dan juga ikan-ikan kecil yang berenang berkelompok melenggak-lenggok membiarkan dirinya dibawa arus air laut.Pandangan menembus air itu sensasinya bak melihat akuarium raksasa yang rajin dikuras dan dibersihkan serta dirawat oleh Pemiliknya.</p>
<p>Tidore lebih sepi daripada Ternate. Konturnya tak jauh beda dengan Ternate, yaitu sebuah pulau dengan gunung di pusatnya. Gunung Tidore bukanlah gunung aktif seperti Gamalama. Karakternya yang tenang diwariskan pada penduduk pulau ini. Kami pun menyusuri jalan lingkar pulau yang lazim disebut jalan Round untuk menuju komplek pemerintahan di Soa Sio. Dari Pelabuhan Rum, Kota Soa Sio berada di sisi sebaliknya dari pulau Tidore dan dapat dicapai dalam waktu setengah jam bermobil.</p>
<p>Pemandangan dari rumah dinas dan kantor pemerintahan menghadap ke laut lepas.</p>
<p>Pulang dari Tidore, kami sempat terhalang oleh demonstrasi di Kantor Gubernur Maluku Utara. Konflik Pilkada yang berlarut-larut membuat roda pemerintahan Provinsi terhambat. Beberapa berpendapat, konflik ini gara-gara orang luar Maluku Utara. Tentu yang dimaksud adalah Pak Mendagri Mardiyanto. Kata orang-orang itu, kalau urusan diserahkan pada orang Makuku Utara sendiri, sudah selesai dari dulu.</p>
<p>Dalam penerbangan pulang, saya melihat pramugari sedang membuka ponsel di atas pesawat. Hehehe.. setuju! Belum ada pembuktian ilmiah mengenai pengaruh sinyal ponsel terhadap sistem navigasi atau apapun dari pesawat. Malah, pembuktian membuktikan amannya menggunakan ponsel. Hanya saja ketika kita terbang terlalu tinggi, tidak ada sinyal. Tapi saya baru berani menyalakan ponsel kalau menggunakan pesawat propeler alias berbaling-baling. Kalau menunggang pesawat jet yang alatnya canggih, saya masih mematikan ponsel.</p>
<p>Aaarrgghhh&#8230; perjalanan pulang ke Jakarta benar-benar melelahkan. Kami harus transit dua kali. Penerbangan connecting siang hari ternyata menuntut kami untuk mendarat di Manado dan Makassar. Hasilnya, badan pegal-pegal dan mood jadi buruk. Badan sudah terlalu capek untuk dibawa tidur, mata sudah terlalu lelah untuk membaca, batere mp3 player sudah terlalu lemah untuk memperdengarkan alunan murottal. Dan lagi di Jakarta kami tidak mendapati pemandangan indah seperti di Maluku, malah disambut dengan kemacetan sepulang kerja.</p>
<p>AAARRGGGGHHHHHHHHHHHH&#8230;&#8230;.!!!!!!!!!!!!!!!!!!</p>
<p><strong>Foto-foto menyusul. Lagi gak bisa upload.</strong></p>
<p>Update: Perspektif gambar uang seribu bisa didapat <a title="Andreas Harsono: Perspektif Seribu rupiah" href="http://andreasharsono.blogspot.com/2005/11/gambar-uang-rp-1000.html" target="_blank">dari arah Gambesi</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/07/11/untaian-permata-hijau-tidore-dan-ternate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidur di Kelas</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/13/tidur-di-kelas/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/13/tidur-di-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 14:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/04/13/tidur-di-kelas/</guid>
		<description><![CDATA[Hey, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang tidur di kelas? Pernahkah kamu tidur saat mengikuti KBM?
Jujur saja, dulu waktu di SMA saya sering tidur di kelas. Dan saya tidak sendirian. Ada beberapa kawan lain yang punya kendala yang sama. Tapi jangan salah sangka dulu. saya tidur bukan karena malas atau tidak menghormati guru. Harap maklum karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hey, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang tidur di kelas? Pernahkah kamu tidur saat mengikuti <abbr title="Kegiatan Belajar Mengajar">KBM</abbr>?</p>
<p>Jujur saja, dulu waktu di <a title="Situs Resmi SMA Taruna Nusantara" href="http://www.taruna-nusantara-mgl.sch.id/" target="_blank">SMA</a> saya sering tidur di kelas. Dan saya tidak sendirian. Ada beberapa kawan lain yang punya kendala yang sama. Tapi jangan salah sangka dulu. saya tidur bukan karena malas atau tidak menghormati guru. Harap maklum karena SMA saya punya <a title="Liat aja di keterangan tentang kegiatannya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/SMA_Taruna_Nusantara" target="_blank">kegiatan seabreg</a> yang kebanyakan menggunakan kekuatan fisik.</p>
<p>Bangun pagi-pagi langsung menuju ke lapangan. Untuk mengikuti latihan halang rintang. (ini sebenarnya syair yang dinyanyikan saat lari pagi). Dua kali seminggu, kami dijadwalkan lari pagi kira-kira sejauh 4 atau 5 kilometer. Ada pula latihan baris-berbaris, latihansenam militer, latihan senam balok kayu, dll. Ada juga latihan membaca peta topografi atau peta militer, tapi sambil mengikuti jalur yang tertera di peta. Ya lumayan, dengan berjalan kaki rute yang ditempuh bisa mencapai sekitar 10-15 kilometer. Plus melewati kontur yang tak tentu naik-turunnya.</p>
<p>Belum lagi acara-acara occasional yang lumayan besar seperti Latihan PraHulu Balang dan Hulu Balang. Hulu Balang sendiri dilaksanakan selama 3 hari di tengah hutan dengan kegiatan-kegiatan yang menguji berbagai keterampilan survival personal dan kelompok.</p>
<p>Jadi maklum saja kalau banyak siswa yang kelelahan saat mengikuti kelas formal. Masih nggak percaya? Tanya saja rekan se-angkatan saya, <a title="Rohmad, Alumni SMA TN Angkatan 6" href="http://rohmad.net/" target="_blank">Rohmad</a>. Atau anaknya SBY, yang <abbr title="Bang Agus Harimurti Yudhoyono">mantunya</abbr> pak Aulia Pohan itu.</p>
<p>Kenapa saya mengkambinghitamkan kegiatan fisik yang menyebabkan saya tertidur di kelas? Karena nyatanya kebiasaan itu tidak terbawa saat saya kuliah. Yaa.. memang terkadang kuliah itu membosankan. Tapi tidak sampai membuat saya jatuh tertidur. Apalagi waktu kuliah D-IV, saya malah bergairah mengikuti kegiatan perkuliahan yang memberikan pengalaman sangat berharga bagi kehidupan profesional saya.</p>
<p>Di beberapa negara di dunia, siswa yang tertidur di kelas dianggap wajar. Misalnya <a title="Panutannya bu Ines nih.." href="http://groups.yahoo.com/group/sekolahrumah/message/3548" target="_blank">di Finlandia</a> dan <a title="Pengalamannya si Diza" href="http://dizakhairina.multiply.com/journal/item/14/Tidur_di_kelas" target="_blank">di Jepang</a>. Justru kalau ada guru yang membangunkan siswa dengan cara yang tidak mendidik, dia bisa dituntut. Seperti kejadian di <a title="Student sued teacher for awakened him in class" href="http://www.freerepublic.com/focus/f-news/1985178/posts" target="_blank">Danbury</a>.</p>
<p>Ada juga kasus yang terbalik, <a title="Tapi ini kasus di Kroasia" href="http://plinplan.com/general/7380/2008/02/01/bukannya-mengajar-bu-guru-malah-tidur-di-kelas/" target="_blank">sang guru yang malah tidur di kelas</a>! Hehehe itu mah ngaco. Tapi seorang kawan pernah benar-benar merasakan pengalaman itu. Sebagai guru privat, ternyata anak didiknya bandel setengah mati. Kalau diajak belajar, sang anak didik justru main PS atau menghindar dengan alasan nggak jelas lainnya. Padahal sudah kelas 3 SMA mendekati ujian nasional dan ujian masuk PT. Akhirnya demi memenuhi kuota daftar hadir, sang guru pun numpang tidur di kamar sang anak didik. Sambil titip pesan, &#8220;Kalau sudah jam 6, bangunin gw yah!&#8221; Hehehe&#8230;</p>
<p>Seorang ustadz saya punya solusi yang bijak dan masuk akal kala melihat jamaahnya yang tertidur. Nasehat beliau, kalau ingin belajar di majelis taklim, ya harus mempersiapkan diri dengan baik. Termasuk dengan tidur yang cukup dan kesiapan fisik yang baik. Kalau memang lelah karena sebab-sebab tertentu (lembur, kejar setoran, sakit) lebih baik tidur di rumah. Kan lebih nyaman daripada tidur di pengajian. No offence gitu loh.</p>
<p>Tapi kalo tetep kantuk tak tertahan namun kita segan pada guru yang mengajar, bisa coba <a title="Tips Tidur di Kelas" href="http://lestiatmo.wordpress.com/2007/09/07/tips-tidur-di-kelas/" target="_blank">tips dari Lestian Atmopawiro</a>.</p>
<p>Tidur dalam suatu forum memang harus ditanggapi dengan bijak. Kalau memang forum yang mendidik seperti di Finlandia, Jepang  dan majelis taklim ustadz bijak itu ya gak masalah. Tapi kalau di forum yang penting dan diikuti action plan, ya nggak pantes dong. Kalau nggak percaya, tanya aja sama <a title="Jangan tidur waktu Presiden berbicara ya pak.." href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/09/time/082515/idnews/920533/idkanal/10" target="_blank">peserta Lemhanas yang bobo manis saat SBY berbicara</a>.</p>
<p>Dan terjaga di forum pun belum cukup, jangan-jangan hatinya sedang tidur. Untuk itu, kata Bu Guru Tia, <a title="Bangunkan yang tidur hatinya..." href="http://lestia.blogspot.com/2008/04/bangunkan-yang-sedang-tidur.html" target="_blank">perlu dibangunkan supaya mata hatinya terbuka</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/13/tidur-di-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wewenang Satu Juta Dollar</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/wewenang-satu-juta-dollar/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/wewenang-satu-juta-dollar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 11:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/wewenang-satu-juta-dollar/</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat kan salah satu adegan di film Austin Powers? Waktu itu si penjahat yang baru saja lolos dari penjara es membuat makar baru terhadap dunia. Karena berasal dari masa lalu, dia minta tebusannya cuman satu juta dollar. Para pemimpin dunia yang jadi korban pemerasan pada bingung, kok mintanya dikit amat?
Yah, kata-kata satu juta dollar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih ingat kan salah satu adegan di film Austin Powers? Waktu itu si penjahat yang baru saja lolos dari penjara es membuat makar baru terhadap dunia. Karena berasal dari masa lalu, dia minta tebusannya cuman satu juta dollar. Para pemimpin dunia yang jadi korban pemerasan pada bingung, kok mintanya dikit amat?</p>
<p>Yah, kata-kata satu juta dollar memang seksi. Jumlah itu menjadi satu parameter jumlah yang sangat besar. Walaupun saat ini karena inflasi nilainya tak lagi sebesar satu juta dollar jaman dulu, tapi bagaimanapun juga satu juta dollar terlanjur mewakili batas pengakuan kaum kaya.</p>
<p>Untuk mendapatkan efek fenomenal ini pulalah kita dulu mengenal ada film berjudul The Six Million Dollar Man. Enam kali satu juta dollar! Bayangkan teknologi apa saja yang bisa ditanamkan dalam tubuh manusia, dengan investasi sedemikian besar.</p>
<p>Nah, ternyata wewenang memegang kekuasaan atas satu juta dollar itu akhirnya mampir ke saya juga. <em>Lho? Gimana tuh ceritanya?</em> Gini boss. Sejak bendahara penerima iuran Dana Reboisasi membuka rekening valas, semua wajib bayar kehutanan sekarang diwajibkan menyetor iuran Dana Reboisasi menggunakan valas. Dulu kan dikurskan dulu ke rupiah baru disetor.</p>
<p>Uang valas tersebut ujung-ujungnya mampir ke kantor saya. Tentunya dalam bentuk Bagian Daerah untuk Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Kehutanan. Nah, jumlah valas yang akan dibagikan itu sudah melebihi satu juta dollar.</p>
<p>Hehehe, percaya atau tidak, waktu saya membaca surat dari Dephut yang isinya menyerahkan (sebenarnya menyerahkan bukan istilah yang tepat ya, wong tidak disertai dengan penyerahan uang, tapi wewenangnya memang berpindah. mungkin lebih tepatnya mengusulkan) uang satu juta dollar (+lebih) itu ke kantor saya, saya ingin memegang surat itu tinggi-tinggi sambil berteriak histeris, &#8220;Satu juta dollar!  Satu juta dollar! Satu juta dollar, man!&#8221;. Hehehe norak.</p>
<p>Yah maklum lah. Wong Mister Krab aja gelo kecewa waktu dollar pertamanya hilang. Itu kan menandakan penghargaannya terhadap uang. <em>Bukan uang sendiri kok bangga sih?</em> Ya gitu deh saya kalo lagi kumat noraknya. Harap maklum ya..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/wewenang-satu-juta-dollar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kondisi Keuangan Negara Pra APBN Perubahan 2008</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/kondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008/</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/kondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 23:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Abbas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isi Kepala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/kondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau membicarakan Keuangan Negara, pastilah tak lepas dari menyoroti APBN. Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi, APBN sering dipandang sebagai indikator sekaligus solusi. Walaupun besarnya bahkan tidak mencapai separuh dari jumlah konsumsi sektor privat, APBN dianggap memiliki multiplier effect karena bermain di area publik yang strategis.
Banyak pengamat yang memperkirakan tahun 2008 ini adalah tahun terburuk dalam sejarah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau membicarakan Keuangan Negara, pastilah tak lepas dari menyoroti APBN. Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi, APBN sering dipandang sebagai indikator sekaligus solusi. Walaupun besarnya bahkan tidak mencapai separuh dari jumlah konsumsi sektor privat, APBN dianggap memiliki multiplier effect karena bermain di area publik yang strategis.</p>
<p>Banyak pengamat yang memperkirakan tahun 2008 ini adalah tahun terburuk dalam sejarah perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi 1998. Beberapa peristiwa keuangan dunia tak hanya menyebabkan hantaman krisis di Amerika, namun juga menebar ancaman di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan perekonomian Indonesia.</p>
<p>Hal itu dibenarkan dengan adanya instruksi penghematan anggaran oleh Menteri Keuangan. Tidak tanggung-tanggung, surat edaran Menkeu itu dikeluarkan dengan nomor surat satu. Jadi logikanya, perintah pertama Menkeu di tahun 2008 ini adalah penghematan. Jauh-jauh hari Bu Menkeu sebenarnya sudah mewaspadai mengamuknya badai krisi ini sejak tahun lalu. Hanya saja waktu itu Bu Anik (nama kecil Menkeu) masih optimis, &#8220;Krisis kali ini berbeda dengan krisis moneter 1998.&#8221; Beliau juga berkeyakinan Indonesia tidak akan banyak terpengaruh.</p>
<p><strong>Enam Masalah APBN 2008</strong></p>
<p>Namun kenyataan harus berkata lain. APBN digoyang berbagai isu yang melambungkan defisit. Tidak hanya itu, tidak tercapainya target pajak 2007 juga mengancam kekosongan uang kas negara. Birokrat di Depkeu pun segera mengidentifikasi masalah. Ada 6 masalah yang menjadi ancaman dan tantangan bagi APBN.</p>
<p>Enam masalah itu mencakup:</p>
<ol>
<li>Krisis subprime mortgage di Amerika;</li>
<li>Kenaikan harga minyak dunia;</li>
<li>Meningkatnya harga pangan dunia;</li>
<li>Melemahnya nilai tukar rupiah;</li>
<li>Tidak tercapainya produksi minyak Indonesia;</li>
<li>Adanya Paket Kebijakan Stabilisasi Harga Pangan (PKSH) yang terhantam kenaikan komoditas pangan (minyak goreng, dkk) .</li>
</ol>
<p>Meleset dari perkiraan Bu Anik, krisis perkreditan Amerika mau tak mau membuat Indonesia meradang juga.</p>
<p>Berbeda dengan kenaikan harga minyak dunia tahun 1980-an, waktu itu Indonesia sebagai net eksportir masih merasakan manisnya surplus anggaran. Kebijakan surplus itu pula yang banyak dikritisi. Waktu itu Indonesia masih menggunakan anggaran dinamis dan berimbang. Artinya, setiap defisit pengeluaran harus dicarikan pembiayaannya. Seharusnya ketika penerimaan berlebih, harus segera spending dalam pembangunan. Namun Menkeu waktu itu (mungkin atas perintah Pak Harto) justru memilih saving sebagai penampung lebihan dana.</p>
<p>Kenaikan harga minyak tahun 2008 ini justru membuat Indonesia meradang. Kenaikan harga minyak tidak diikuti dengan kenaikan penerimaan. Pertama, karena Indonesia sudah menjadi net importir. Dari kebutuhan 1,3 juta barel per hari, produksi minyak Indonesia hanya dipatok 1,034 juta barel di APBN 2008. Target itu pun tidak tercapai. Hanya 980 ribu barel yang dapat dicapai. Alasan kedua, Indonesia tidak memiliki skema windfall profit tax (pajak durian runtuh). Pajak ini dikenakan ketika sebuah keadaan luar biasa membuat suatu pihak mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Windfall profit tax sudah umum diterapkan di negara-negara produsen minyak, seperti Aljazair. Alasan ketiga datang dari kontraktor, kenaikan harga minyak juga membuat biaya produksi membengkak. Entah bagaimana rasionalisasinya, yang pasti Cost Recovery dan faktor pengurang yang menjadi tanggungan pemerintah membuat penerimaan bersih dari minyak bumi tidak sebesar kenaikan harganya.</p>
<p>Efek dari kenaikan harga minyak lainnya adalah membuat beban subsidi makin besar.</p>
<p><strong>Sembilan Langkah Pengamanan APBN</strong></p>
<p>Untuk menjawab enam masalah di atas, dirumuskanlah langkah-langkah yang dipercaya bisa mengamankan APBN. Pemilihan istilah &#8216;pengamanan&#8217; juga membuat orang mengira-ira, apakah kondisi APBN sudah sedemikian gawat? Kesembilan langkah tersebut meliputi:</p>
<ol>
<li>Optimalisasi penerimaan negara, dari Pajak, PNBP dan dividen BUMN;</li>
<li>Penggunaan dana cadangan (contingency  policy measures);</li>
<li>Penghematan dan penajaman prioritas belanja KL;</li>
<li>Perbaikan parameter produksi dan subsidi BBM dan listrik;</li>
<li>Efisiensi di Pertamina dan PLN;</li>
<li>Pemanfaatan dana kelebihan (windfall) di daerah penghasil migas melalui instrumen utang;</li>
<li>Penerbitan obligasi/SBN dan optimalisasi pinjaman program;</li>
<li>Pengurangan beban pajak atas dan bea masuk atas komoditas pangan strategis;</li>
<li>Penambahan subsidi pangan.</li>
</ol>
<p>Sembilan langkah ini dipercaya bisa memperlambat laju kehancuran ekonomi.</p>
<p>Pembahasan selanjutnya nanti kita lanjutkan lagi.  Yang jelas, hari Rabu (9 April 2008) lalu, <a title="Koran Tempo: APBN Perubahan 2008 Disepakati" href="http://tempointeraktif.com/read.php?NyJ=cmVhZA==&amp;MnYj=MTIwODY3" target="_blank">APBN-P sudah disepakati</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2008/04/10/kondisi-keuangan-negara-pra-apbn-perubahan-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
