<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Uliansyah.Or.Id &#187; bacaan</title>
	<atom:link href="http://www.uliansyah.or.id/tag/bacaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.uliansyah.or.id</link>
	<description>kegelisahanku adalah untuk berkarya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 10:13:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bacaan: Student Indonesia di Eropa</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/bacaan-student-indonesia-di-eropa.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/bacaan-student-indonesia-di-eropa.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 04:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/11/30/bacaan-student-indonesia-di-eropa/</guid>
		<description><![CDATA[Buku ini bercerita tentang kisah sukses dunia pendidikan. Sukses besar karena telah mempersembahkan hadiah terbaik bagi bangsa ini, yaitu kemerdekaan. DR. Abdul Rivai adalah salah seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa pada era 1920-an. Kesempatan belajar bagi inlander (pribumi) &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/11/bacaan-student-indonesia-di-eropa.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Student Indonesia di Eropa" src="http://farm3.static.flickr.com/2068/2051106845_8f83b806ef.jpg?v=0" alt="Student Indonesia di Eropa" width="320" height="240" /></p>
<p>Buku ini bercerita tentang kisah sukses dunia pendidikan. Sukses besar karena telah mempersembahkan hadiah terbaik bagi bangsa ini, yaitu kemerdekaan.<span id="more-46"></span></p>
<p>DR. Abdul Rivai adalah salah seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa pada era 1920-an. Kesempatan belajar bagi <em>inlander</em> (pribumi) didapat akibat politik etis yang diterapkan Belanda. Namun Kebijakan Politik Etis bukan tanpa halangan. Praktik kebijakan ini mendapat tentangan yang luar biasa besar dari kalangan Politik Kolonial. DR. Abdul Rivai termasuk generasi awal Indonesia yang mengecap pendidikan di Eropa. Dengan cermat dan detil, Rivai mendeskripsikan semua petualangannya dalam tulisan bergaya Melayu. Mungkin catatan ini adalah jurnal yang dipublikasikan pertama yang dibuat oleh orang Indonesia. Serial tulisan ini dimuat di Harian Bintang Timoer.</p>
<p>Perjalanan menuju Eropa sendiri sudah merupakan pengalaman yang luar biasa. Di atas kapal yang membawanya ke Belanda, Rivai terheran-heran melihat orang-orang bule yang menjadi kelasi. Dan dia sendiri menjadi penumpang yang terhormat. Selama ini, yang ditemuinya adalah kelasi orang-orang pribumi yang selalu dibentak-bentak oleh Belanda sok kuasa.</p>
<p>Sesampainya di Eropa, para mahasiswa Indonesia terkejut luar biasa. Di sana mereka tidak menemukan adanya perbedaan perlakuan bagi setiap orang. Setiap orang adalah manusia utuh, yang layak dihormati, didengar pendapatnya dan mendapat hak-hak sosial yang diakui negara.</p>
<p>Para pendukung Politik Kolonial mengambil langkah apapun untuk menghalangi dan mempersulit keberadaan mahasiswa Indonesia di Eropa. Awalnya, mereka menyebarkan isu bahwa Pergerakan Mahasiswa Indonesia adalah gerakan komunis yang dibiayai oleh Moscow. Mereka juga menakuti-nakuti para orang tua di Indonesia (yang kebanyakan priyayi dan pegawai pemerintahan) bahwa anak-anak mereka telah menjadi progresif dan dapat mengancam kedudukan mereka di Hindia Timur.</p>
<p>Buku ini wajib dibaca bagi pejuang anti-kemapanan. Penggerak pendidikan. Supaya lebih memahami arti penting pendidikan dalam membentuk kelas menengah yang siap menerima estafet kepemimpinan bangsa.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F11%2Fbacaan-student-indonesia-di-eropa.html&amp;title=Bacaan%3A%20Student%20Indonesia%20di%20Eropa" id="wpa2a_2"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/bacaan-student-indonesia-di-eropa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan: Bank Kaum Miskin</title>
		<link>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/bacaan-bank-kaum-miskin.html</link>
		<comments>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/bacaan-bank-kaum-miskin.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 09:47:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uliansyah.or.id/2007/11/13/bacaan-bank-kaum-miskin/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya sudah mendengar tentang Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya. Saya membaca berita di koran, beliau memenangkan Nobel Perdamaian 2006. Guru saya juga pernah sedikit menyebut2 tentang beliau kala kami berdiskusi. Namun, baru dari buku yang diterbitkan oleh &#8230; <a href="http://www.uliansyah.or.id/2007/11/bacaan-bank-kaum-miskin.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Marjin Kiri: Bank Kaum Miskin" href="http://marjinkiri.com/books/yunusbank.htm" target="_blank" rel="external nofollow"><img title="Bank Kaum Miskin" src="http://farm3.static.flickr.com/2332/1819040705_d753ccb732.jpg?v=0" alt="Bank Kaum Miskin" /></a></p>
<p>Beberapa waktu lalu, saya sudah mendengar tentang Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya. Saya membaca berita di koran, beliau memenangkan Nobel Perdamaian 2006. Guru saya juga pernah sedikit menyebut2 tentang beliau kala kami berdiskusi. Namun, baru dari buku yang diterbitkan oleh <a title="Marjin Kiri" href="http://marjinkiri.com/" target="_blank" rel="external nofollow">Penerbit Marjin Kiri</a> inilah saya bisa menyerap pelajaran dari pengalaman beliau mendirikan Grameen Bank. <span id="more-37"></span></p>
<p>Sayangnya, ketika membaca pengantar dari Robert Lawang, ilmu dan otak saya nggak sampai untuk bisa mencerna apa yang beliau tulis. Begitulah beda pemahaman seorang guru besar dengan anak kecil kemarin sore yang baru mulai belajar. Istilah seorang kawan dari Medan, &#8220;Buang air pun kau belum lurus!&#8221;</p>
<p>Latar belakang Muhammad Yunus  diulas pada dua bab pertama buku ini. Beliau dilahirkan di sebuah kota kumuh bernama Chittagong. Semasa kuliah dengan beasiswa Fullbright di Amerika, Yunus muda aktif dalam gerakan mendukung kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan. Kembali ke Bangladesh, Prof. Yunus memilih menjadi dosen ekonomi di Universitas Chittagong. Masa-masa itu Bangladesh dilanda kemiskinan yang sangat parah. Prof. Yunus melihat kontradiksi yang hanya dibatasi dengan dinding kampus. Di kelas diajarkan teori-teori ekonomi yang kabarnya mampu mengangkat harkat hidup manusia. Namun ketika menginjakkan kaki keluar kampus, Prof. Yunus melihat banyak nyawa manusia yang dipertaruhkan akibat kemiskinan.</p>
<p>Buku ini sedemikian menarik perhatian saya. Kepiawaian <a title="Obituary International Herald Tribune: Alan Jolis" href="http://www.iht.com/articles/2000/01/04/obit.2.t_3.php" target="_blank" rel="external nofollow">Alan Jolis</a> membuat cerita ini mengalir. Kata-katanya mudah dicerna dan sedemikian inspiratif. Tapi tetap membumi, menyadarkan saya bahwa semua yang saya baca bukanlah dongeng belaka. Dan saya tinggal mencomot mutiara-mutiara hikmah dari susunan kereta kata-kata yang melaju melewati stasiun pikiran.</p>
<p>Sebagai seorang pembelajar, tentu banyak pelajaran yang bisa saya dapat dari buku ini. Apalagi tentunya dengan latar belakang ekonomi, otak saya sudah terlalu bebal disesaki teori-teori kuno, langitan, dan tidak cocok dengan kondisi negara berkembang. Sebenarnya sudah sejak kuliah saya menyadari hal itu, tapi karena saya terlalu pengecut untuk mengorbankan nilai, mau tak mau teori dari pak dosen pun terpaksa ditelan. (Untuk beberapa dosen yang berpikiran terbuka, saya masih mau berdebat. Tapi untuk dosen bergaya setengah dewa, percuma).</p>
<p>Pelajaran pertama: perlu dicari solusi baru untuk mengatasi kemiskinan. Program yang ditawarkan oleh donor asing biasanya hanya menyasar pada golongan yang relatif tidak miskin. Sehingga golongan ini menggeser golongan miskin mutlak dari program pengentasan kemiskinan. Belum lagi yang namanya capacity building. Program ini biasanya justru mengembalikan dana pinjaman atau hibah kepada tenaga ahli yang berasal dari negara donor.</p>
<p>Saya akui, dari beberapa proyek pelatihan, konsultasi, rehabilitasi, restrukturisasi atau apapun namanya yang pernah saya pantau, sedikit sekali yang menyentuh sasaran akar rumput. Coba perhatikan program-progam dari <a title="World Bank's Justice for The Poor Programs in Indonesia" href="http://www.justiceforthepoor.or.id/" target="_blank" rel="external nofollow">Bank Dunia</a>, <a title="EC-funded projects in Indonesia" href="http://www.delidn.ec.europa.eu/en/newsroom/newsroom_5.htm" target="_blank" rel="external nofollow">Uni Eropa</a>, dan donor-donor lain. Dari sisi topik memang oke, tapi coba lihat implementasinya. Setidaknya baca laporan hasil pelaksanaannya. Tanyakan ke hati nurani Anda, apakah kaum miskin memerlukan bantuan program itu? Kapan kaum miskin bisa menikmati hasil program itu? Padahal mereka membutuhkan hasilnya segera.</p>
<p>Guru saya kerap menekankan bahwa permasalahan itu kompleks, namun sumberdaya untuk mengatasinya terbatas. Kita harus mencari kunci permasalahan dan menyelesaikannya. Teori inilah yang saya lihat praktiknya pada kasus Grameen Bank. Akar permasalahannya adalah kemiskinan, dan Grameen Bank mencurahkan segala upaya untuk fokus pada hal itu.</p>
<p>Pelajaran kedua: untuk dapat merumuskan solusi yang tepat, perlu mempelajari perilaku sasaran masalah. Inilah yang disebut-sebut sebagai pendekatan mata cacing. Pendekatan yang selama ini dilakukan lebih banyak menangkap gambaran dengan helicopter view. Kelaparan digambarkan dengan inflasi dan tingkat kematian. Kemiskinan dipandang sebagai elemen HDI, Pendapatan per Kapita, dan indeks kemiskinan yang <a title="Data yang Mematikan" href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/22/opini/2894501.htm" target="_blank" rel="external nofollow">menghebohkan</a> itu. Seluruh omong kosong mengenai tinggal landas hanya akan berujung pada jatuhnya korban dari kalangan marjinal. Seluruh elemen kehidupan digeneralisir menjadi faktor pengungkit indikator. Manusia hanya dilihat dari angka. Kita telah kehilangan arti hakiki dari kehidupan dan nilai nyawa manusia. Menyedihkan sekali..</p>
<p>Metodologi yang diambil Muhammad Yunus dalam pengentasan kemiskinan ini mengguncang kalangan ahli di seluruh dunia. Profesor Yunus membuktikan bahwa solusi mikro mampu menjungkalkan analisis makro. Saya pikir ini hanyalah buah perjuangan saja. Prof. Yunus paham arti kehidupan. Prof. Yunus sangat menghargai nyawa manusia. Untuk itulah dia berjuang. Kemiskinan adalah hal kongkrit yang ada di depan mata. Bagaimana mungkin hal itu dipandang sebagai penghambat?</p>
<p>Hasil dari metodologi mata cacing ala Prof. Yunus , bisa dikatakan menjungkalkan mitos yang selama ini ada di kalangan ahli ekonomi dan pembangunan. Diantaranya:</p>
<ol>
<li><strong>Orang menjadi miskin karena tidak terampil, karena itu orang miskin memerlukan pelatihan.</strong> Nyatanya, kaum miskin justru lebih kreatif dalam mempertahankan hidup. Mereka telah mengalami kondisi seberat apapun yang pernah kita bayangkan. Bedanya, mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan faktor atau modal produksi. Satu-satunya jalan adalah dengan memberi mereka kredit. Tanpa kredit, mereka hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga demi keuntungan pemilik faktor produksi. Dan mereka tidak akan pernah keluar dari kemiskinan selamanya. (halaman 136, paragraf 2)</li>
<li><strong>Untuk mendirikan sebuah bank, perlu waktu yang lama. </strong>Faktanya, usaha untuk memberantas kemiskinan bisa dimulai secepatnya. Ketika Prof. Yunus diundang Bill Clinton (waktu itu Gubernur Arkansas) untuk membiarakan program mengatasi masalah kemiskinan, Clinton mengeluhkan waktu yang lama untuk mendirikan bank bagi kaum miskin. Prof. Yunus menawarkan solusi, &#8220;Saya bisa mulai besok pagi.&#8221; (halaman 169)</li>
</ol>
<p>Pelajaran ketiga: desa adalah asal sumber daya penopang negara. Dari desalah cerita tentang kemiskinan bermula. Desa adalah penampung populasi terbesar, dengan wilayah terbesar, memiliki sumber daya yang besar pula. Namun, perputaran ekonomi justru berpusat di kota. Uang mengalir dari tangan-tangan juragan faktor produksi ke saku-saku penguasa. Dibelanjakan sebagian ke luar negeri. Desa yang menopang akibat itu semua. Ambruk karena tak didukung money velocity dan dihambat jalur distribusi. Menyebabkan banyak kejatuhan dan pengangguran. Lalu melonjakkan arus urbanisasi. Penyebabnya cuma satu, lapar.</p>
<p><strong>Replikasi Grameen Bank di Dunia</strong></p>
<p>Konsep kredit mikro telah menarik hati masyarakat dunia sebagai cara alternatif pengentasan kemiskinan. Grameen Bank pun telah menyiapkan dukungan replikasi di negara lain. Memang di awal ada banyak keraguan. Para bankir dan ahli ekonomi menilai kesuksesan Grameen Bank lebih disebabkan oleh figur Muhammad Yunus dan budaya Bangladesh. Tapi ternyata, perilaku dasar kaum miskin di seluruh negara di dunia pada dasarnya sama. Mereka lebih membutuhkan kredit mikro ketimbang pelatihan.</p>
<p>Program replikasi Grameen Bank dijalankan dibawah proyek bertajuk <a title="Grameen Bank Replication Program" href="http://www.grameen-info.org/grameen/gtrust/index.html" target="_blank" rel="external nofollow">Grameen Bank Replication Program</a> (GRBP). Program ini telah berhasil dilaksanakan di lebih dari 40 negara termasuk Malaysia, Kanada, dan Australia. Bahkan di Amerika, terdapat beberapa jenis program replikasi yang berjalan. Di Indonesia pun telah ada <a title="Misykat terinspirasi Grameen Bank" href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/16/ramadan02.htm" target="_blank" rel="external nofollow">program yang terinspirasi Grameen Bank</a>. Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT) meluncurkan Microfinance Syariah berbasis Masyarakat (Misykat) dalam rangka pemberdayaan umat berbasis zakat, infak dan shoaqoh. Program ini menjaring anggota melalui masjid dan musholla di Jawa Barat yang kemudian telah diperluas hingga ke Aceh.</p>
<p><strong>Kritik Bagi Grameen Bank</strong></p>
<p>Saya mengekor <a title="Alternative Credit Models in Bangladesh: A Comparative Analysis Between Grameen Bank and Social Investment Ltd: Myths and Realities" href="http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=303192&amp;kat_id=16" target="_blank" rel="external nofollow">banyak</a> <a title="Tidak Makan Bunga dari Grameen Bank" href="http://marjinkiri.com/reviews/yunuspr.htm" target="_blank" rel="external nofollow">kritikus lain</a>, bahwa sistem perbankan Grameen Bank belum mengadopsi sistem perbankan syariah. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk bergama Islam, alangkah baiknya bila Grameen Bank beroperasi atas dasar prinsip-prinsip syariah. Sayangnya, prinsip ini belum diakomodasi dalam konversi metode operasi menjadi Grameen Generalised System (GGS) atau lebih dikenal dengan Grameen Bank II. Tampaknya, Prof. Yunus lebih berpegang pada teori perbankan yang ia dapatkan di Barat.</p>
<p>Kritikan ini terungkap salah satunya oleh M. A. Mannan di acara <a title="First International Conference on Inclusive Islamic Financial Sector Development" href="http://www.ubd.edu.bn/news/conferences/1islamicfin/confprog.htm" target="_blank" rel="external nofollow">First International Conference on Inclusive Islamic Financial Sector Development</a> yang dilaksanakan di Brunei Darussalam, April 2007 lalu. Melalui pemaparannya yang berjudul, &#8220;Alternative Micro-Credit Models in Bangladesh: A Comparative Analysis between Grameen Bank and Social Investment Bank Ltd.: Myths and Realities&#8221;, Mannan mengkritisi kredit mikro sebagai <a title="Mengkritisi Grameen Bank" href="http://masarcon.multiply.com/journal/item/172" target="_blank" rel="external nofollow">bentuk baru ekonomi feodal</a>.<br />
Namun saya ada permintaan bagi para kritikus itu, &#8220;Tolong carikan solusi syariah dengan pendekatan yang setara dengan Grameen Bank&#8221;. Dari daftar pemapar di acara konferensi ahli-ahli keuangan syariah tersebut, memang hampir seluruh pemapar mengangkat tema mikro kredit dan kemiskinan. Sayangnya, saya belum mendapatkan publikasi dari hasil konferensi tersebut.</p>
<p>Next: <a href="http://www.uliansyah.or.id/2008/01/29/pelajaran-yang-bisa-diambil-perbankan-syariah-dari-grameen-bank/">Pelajaran yang bisa diambil Ekonomi Syariah dari Grameen Bank</a>.</p>
<p>Isi buku bisa diintip di <a title="Banker To The Poorer" href="http://www.grameen-info.org/book/index.htm" target="_blank" rel="external nofollow">sini</a>.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.uliansyah.or.id%2F2007%2F11%2Fbacaan-bank-kaum-miskin.html&amp;title=Bacaan%3A%20Bank%20Kaum%20Miskin" id="wpa2a_4"><img src="http://www.uliansyah.or.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uliansyah.or.id/2007/11/bacaan-bank-kaum-miskin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

