Tag Archives: Google Translate

سنة : Dibaca Sanah, Sinah atau Sunnah?

Lika Liku Pembentukan Kata (Sharaf)

Belajar bahasa Arab memang menyenangkan. Selalu ada saja hal-hal unik yang bisa dipelajari. Ada kaidah-kaidah yang terus konsisten dipergunakan, dan ada pula pengecualian-pengecualian yang datang dan pergi sesuka hati :D (sesuka hati dan lidah orang Arab, maksudnya).

Materi tulisan ini saya dapatkan dari sesi pelajaran bahasa Arab yang diasuh Bapak M. Zaini (Bintal Islam, Setjen Kemenkeu). Mudah-mudahan kami dan beliau diberi kemudahan untuk selalu menuntut ilmu, dan diberkahi pula ilmu itu.

Belajar Arab Gundul

Dalam Alquran dan Hadits, terdapat 3 kata yang tulisannya sama namun berbeda cara membaca dan berbeda pula artinya. Untungnya, saat ini mushaf Alquran dan beberapa kitab hadits sudah tidak gundul lagi. Tulisan Arab gundul memang lazim digunakan agar penulis buku tidak direpotkan dengan menuliskan harakat. Bahkan pada fase awal penulisan Quran dan Hadits, tanda titik pada beberapa huruf pun tidak ada. Pada saat itu, hanya orang Arab yang tahu apakah س dalam suatu kata adalah sin  atau syin. Demikian pula dengan huruf ba, ta, tsa dan nun. Semua ditulis tanpa titik.

Dalam kondisi demikian, ada beberapa kata yang penulisannya sama, namun cara membaca berbeda. Demikian pula artinya akan menjadi berbeda sesuai cara membacanya. Cara membaca yang saya maksud adalah berkaitan dengan kaidah sharaf atau perubahan bentuk kata bahasa Arab.

Kata yang dibahas pada kesempatan kali ini adalah:

سنة

Apakah kata tersebut akan dibaca Sanah, Sinah atau Sunnah? Dalam bahasa Arab, ketiga kata tersebut adalah valid. Ketiganya memiliki arti yang berbeda pula. Repot juga kalau kita salah membacanya dan lebih repot lagi kalau salah mengartikan.

Jika Anda meng-copas kata tersebut ke google translate, hanya satu terjemahan saja yang bisa ditebak. Sedangkan dua arti lainnya tersembunyi. Repotnya jika kita masukkan satu kalimat penuh yang mengandung kata سنة ke Google Translate, ternyata ia tetap diartikan dalam satu arti saja.  Artinya, Google Translate masih kalah fasih dibanding pelajar bahasa Arab :P

Baiklah, mari kita ikuti penjelasan dari ketiga cara membaca (sharaf) dan arti dari سنة sebagai berikut.

1. سَنَةٌ

Kata yang pertama adalah سَنَةٌ (sanah), dengan sin dibaca fathah, memiliki arti tahun atau paceklik. Contoh penggunaan kata ini dapat ditemui di Quran surat Al-Hajj ayat 47 dan Al-Ankabut ayat 14. Mari kita baca ayat tersebut:

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْماً عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Artinya: “Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan melanggar janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Al-Hajj, ayat 47).

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ *

Arti: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya,maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Mereka ditimpa banjir besar dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Ankabut, ayat 14).

Kata سَنَةٍ ini berasal dari fi’il  سَنَوَ, dengan mashdar سنوات.

Kata sanah yang berarti paceklik dapat ditemui pada hadits mengenai larangan makan dua-dua (disambung). Hadits tersebut artinya, dari Jabalah bin Sahim, bahwa dia berkata, “Kami pernah mengalami masa paceklik makanan bersama Ibnu Az-Zubair, lalu kami mendapatkan kurma, ketika kami sedang makan, Abdullah bin Umar melewati kami, lalu dia berkata ‘Janganlah kalian menyatukan (mengambil dua biji kurma sekali ambil dan memakannya sekaligus) karena Nabi SAW melarang hal seperti itu, kecuali jika seseorang itu meminta ijin kepada saudaranya’”

Kata sanah juga memiliki hubungan dengan kata sinnun (سِنٌّ) yang berarti gigi. Hal ini karena orang Arab biasa memeriksa umur melalui gigi (misalnya ketika memeriksa usia kambing).

2. سِنَةٌ

Kata yang kedua adalah سِنَةٌ (sinah), dengan sin dibaca kasrah. Artinya adalah mengantuk. Contoh yang populer dapat ditemui di ayat kursi.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Arti: “(Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagu terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (Al-Baqarah, ayat 255).

Kata ini berasal dari fi’il وَسَنَ , dengan bentuk mashdar سِنَةّ. Sharafnya mengikuti wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ hanya saja karena ia termasuk fiil mu’tal mitsaal (diawali dengan huruf ilat و ) maka bentuk mashdarnya dengan membuang huruf ilat dan menambah ta’ marbuthoh di belakang fiil. Contoh kata lain yang mengikuti wazan ini adalah وَصَلَ – يَصِلً – صِلَةً (sampai, menyambung).

3. سُنَّةُ

Kata yang ketiga adalah سُنَّةُ (sunnah), dengan sin dibaca dhommah dan nun di-tasydid. Artinya adalah kebiasaan. Dapat ditemui di banyak ayat dan hadits. Contohnya pada Al Hijr ayat 17 berikut ini.

لَا يُؤْمِنُونَ بِهِ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ

Arti: “Mereka tidak beriman kepadanya (Alquran) dan sesungguhnya telah berlalu sunatullah terhadap orang-orang terdahulu.” (Al Hijr ayat 14).

Contoh lain adalah hadits berikut ini.

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

Artinya: “Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.”

Kata ini berasal dari fi’il سَنَّ , dengan bentuk mashdar سُنَّةً .

Penutup

Hmm.. mabok juga nih mengikuti penjelasan pak ustadz Zaini tentang sharaf. Belum lagi kosa kata Arab yang saya pahami masih sangat sedikit. Tulisan ini memang saya buat dalam rangka memahami apa yang disampaikan pak Zaini pada saya. Mudah-mudahan bisa lebih baik lagi.

Mohon maaf hanya bisa sharing sedikit mengenai bahasa Arab, karena memang yang saya miliki baru sedikit. Kalo kata pak Ustadz Abdul Hakim: اقل من قليل (lebih sedikit dari yang sedikit). Harapannya supaya Anda yang ilmunya lebih banyak bisa tersulut semangatnya untuk berbagi. Dan bagi Anda yang baru mulai belajar bisa bertambah wawasannya.

Ilustrasi nyomot dari Tribunnews Makassar.